Dakwah dan Hidayah

Dakwah dan hidayah adalah dua hal yang berbeda (Google Images).

BANYAK pendakwah, pendidik dan orang-orang yang menyerukan kebenaran tidak memiliki cukup kesabaran untuk menerima kegagalan dalam perjuangan. Mereka enggan menerima realitas bahwa hasil jerih payah yang telah mereka lakukan tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

Ketika para pendakwah melihat masyarakat tetap berkubang dalam tradisi syirik, padahal mereka telah berbusa-busa memperingatkan tentang hal halal dan haram, banyak yang putus asa terus keluar sumpah serapah yang tidak pantas. 

Tatkala guru melihat anak didiknya tetap bodoh dan tidak mau mendengarkan nasihat, banyak yang kemudian marah dan melampiaskan kekesalannya pada sang murid, hingga akhirnya muncul resistensi dari mereka, sehingga alih-alih mendapatkan hasil, justru malah semakin jauh dari ekspektasi. 

Padahal sudah sangat jelas bahwa bagi para dai dan sejenisnya tugas mereka terbatas pada mengajak dan menyampaikan risalah, sedangkan perkara hasil dikembalikan kepada keinginan Tuhan, apakah Tuhan sudi untuk memberikan hidayah pada orang-orang tersebut atau justru menambahkan kedengkian mereka pada syariat.

Suatu hari Rasulullah saw mendapati kaum kafir datang bergerombol dalam majelis beliau. Mereka hadir bukan untuk memahami dan menerima ajaran Nabi saw, tapi untuk menghina dan mengolok-olok. Anda bisa membayangkan bahwa ajakan Nabi saw terhadap Kaum Kafir Quraisy dibalas dengan hinaan dan olokan, apa kira-kira yang beliau rasakan? 

Tentu secara manusiawi, Nabi saw kecewa dengan feedback yang beliau dapat dari mereka, tapi Allah saw meminta beliau untuk tidak memusingkan dan mengembalikan perkara mereka pada Allah swt. Biarkan Dia swt menunaikan janji-Nya untuk melululantahkan mereka pada waktunya. 

Dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 40 – 41 Allah bersabda: 

Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka; (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia); dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.

Rasul saw juga diberikan cerita tentang perjuangan Nabi Yunus as yang sempat putus asa karena dakwah beliau tidak mendapatkan respons positif dari kaumnya. Rasul saw diminta untuk mengambil ibrah dari perjalanan dakwah Nabi Yunus as tersebut. 

Dalam Q.S. Al-Qalam ayat 48: 

Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih. 

Sebagaimana mafhum, Nabi Yunus a.s. meninggalkan medan perjuangan dengan penuh kekecewaan ketika melihat resistensi yang sangat kuat dari kaumnya. Untungnya, Allah swt yang Maha Rahim ‘menyelamatkan’ Nabi Yunus a.s. dengan sebuah kejadian yang membuat beliau sadar dan segera bertaubat.

Nabi Yunus a.s. dilempar dari perahu yang beliau tumpangi dalam masa pelarian. Di dalam derasnya ombak lautan, beliau dimakan oleh seekor ikan paus. Di dalam perut paus tersebut, qadarullah, terdapat sebuah perenungan mendalam atas perjalanan dakwah yang telah beliau lalui. Lalu, beliau tertaubat dan berdoa, “tidak ada Tuhan melainkan Engkau (Allah swt). Sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang zalim.”

Allah Maha Rahim. Dia menyelamatkan Nabi Yunus a.s. dengan mendamparkannya di sebuah pulau. Lalu, beliau bisa melanjutkan kembali tugasnya sebagai nabi sekaligus rasul yang telah dipilih oleh Allah swt.

Wallahu a’lam. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s