Ulasan Kitab Tafsir: Q.S. Al-Qalam Ayat 1 – 7: Nabi Muhammad saw tidaklah Gila Seperti yang Dituduhkan Kafir Quraisy

sumber: okezone.com

Ayat 1: Allah bersumpah dengan pena dan apa yang ditulisnya  

Para ulama berbeda pendapat tentang makna huruf “Nuun” yang ada di permulaan Q.S. Al-Qalam. Menurut Ibnu Hayyan, seperti yang dikutip oleh Wahbah az-Zuhaili, huruf ‘nuun’ adalah huruf asing yang tidak diketahui maknanya, kecuali oleh Allah swt. Tidak bisa dii’rabkan, meskipun ada yang berpendapat i’rabnya nasab karena menjadi maf’ul (obyek), atau datang sebelumnya sumpah.

Namun, masih menurut Wahbah az-Zuhaili, sebagian ulama berpendapat bahwa “nuun” bermakna tantangan atau peringatan akan pentingnya apa yang akan disampaikan dalam ayat-ayat setelahnya. Penafsiran ini juga lebih disukai oleh Al-Maroghi di mana dia mengatakan bahwa “nuun” adalah huruf tanbih (peringatan) yang diharapkan dapat menarik perhatian para pembaca untuk mempelajari lebih jauh apa yang ingin disampaikan.

Ar-Razi dalam tafsir al-Kabiir, mengutip pendapat ulama bahwa yang dimaksud dengan “nuun” adalah ikan paus yang memakan Yunus a.s. seperti yang tersurat dalam Q.S Ash Shaaffaat ayat 139-145. Namun, pendapat lain mengatakan bahwa “nuun” adalah tempat pena, di mana tinta disimpan di dalamnya. Inilah penafsiran yang disetujui oleh Hamka dalam kitabnya tafsir al-Azhar.

Namun, ada juga yang berpendapat bahwa huruf ini adalah lembaran di mana para malaikat menulis amalan di lauhul mahfudz. Yang lain berpendapat bahwa itu merupakan huruf terakhir dari kalimat “rahmaan” nya Allah swt.

Yang jelas, apapun pendapat para ulama, mereka memiliki argumen-nya masing-masing dan ini menunjukan bahwa hal ini bukanlah hal yang final karena tidak ada nash yang secara eksplisit menunjukan maknanya. Maka, kita kembalikan penafsiran yang sebenarnya kepada Ilmu Allah swt yang Maha Luas.

***

Isi dari penggalan ayat pertama Q.S. Al-Qalam ini adalah sumpah Allah dengan menggunakan pena yang digunakan untuk menulis. Pemilihan kata pena menunjukan akan keagungan benda ini dalam ajaran Islam.

Pena secara maknawi memiliki posisi penting dalam Islam.  Al-Maroghi berpendapat bahwa penggunaan diksi ini adalah untuk mendorong umat mendidik diri dan membangun peradaban supaya bisa menjadi umat terbaik (khair ummah).

Wahbah az-Zuhaili melihat bahwa pena yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah swt menunjukan agungnya nikmat menulis sebagai salah satu nikmat terbesar dari Allah, setelah berpikir/berbicara/menejelaskan sebagai wasilah dalam membangun peradaban dan penyebaran ilmu pengetahuan di antara umat manusia dan tentunya menjadi kunci bagi kemajuan suatu bangsa.

Tentang keutamaan pena, disebutkan dalam satu riwayat hadits, bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah swt adalah pena yang memiliki fungsi menulis takdir yakni amal perbuatan, sebab-akibat, rezeki, dan ajal semenjak awal mula kehidupan sampai datangnya hari kiamat. Lalu setelah itu diciptakanlah “nuun” (tempat tinta).

Ayat 2: Rasulullah saw tidaklah gila seperti yang disangkakan

Sontak setelah Kaum Kafir Quraisy mendengar kabar kenabian dari Rasulullah saw, langsung menuduhnya sebagai orang gila. Lebih keji lagi, mereka menyebut nabi saw sebagai setan.

Tentu tuduhan tak berdasar ini membuat Rasul saw dirundung kesedihan, karena ajakan untuk bertauhid kepada-Nya, ternyata harus dibayar dengan fitnah yang keji.

Menurut Hamka turunnya ayat ini merupakan hiburan bagi Rasul saw yang sedang mendapatkan ujian yang cukup berat dalam masa-masa awal tugas kenabiannya.

Ayat ini yang menerangkan bahwasanya Nabi saw tidaklah gila seperti yang dituduhkan oleh kafir Quraisy. Bagaimana mungkin orang yang diberkati kedudukan yang tinggi di mata masyarakat saat itu karena memiliki akhlak dan pekerti yang luhur bisa disebut gila. Tentu, sifat gila tidak bisa disematkan pada orang yang memiliki karakteristik mulia seperti Rasul saw.

Al-Maroghi mengatakan kenikmatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kenabian, keimanan, kebijaksanaan dan budi pekerti yang melekat dalam pribadi Rasul saw.

Dewasa ini, tuduhan miring tentang Nabi saw masih gencar dilancarkan oleh kaum kafir yang tidak suka dengan perkembangan dakwah Islam di dunia. Sebut saja misalnya kontroversi film besutan sutradara Yahudi penganut Kristen Koptik, Sam Bacile, “The Innocent of Muslims” yang menggambarkan Nabi saw sebagai sosok pria yang haus darah, penganut pedofilia, dan gila seks.

Cerita miring tentang Rasul saw sejatinya terbantahkan dengan narasi sirah nabawiyah yang menunjukan keagungan akhlak beliau saw.

Ayat 3: Kemenangan Umat Islam menjadi balasan setimpal atas pengorbanan Nabi saw

Ujian bertubi-tubi yang Rasul saw dapatkan ketika mengemban misi dakwah tidaklah berujung sia-sia. Allah swt membalasnya dengan kemenangan gemilang dan lestarinya risalah tauhid sampai detik ini.

Saat ini Islam menjadi salah satu agama besar di dunia, dan ajarannya meresap dalam setiap relung sanubari penganutnya. Dalam survei The 2015 Global Attitudes dari Pew Research Center, ditemukan bahwa umat Islam termasuk yang paling komitmen dalam menjalankan ajaran mereka.

Tentunya menyebarnya ajaran Islam menjadikan pahala yang tak pernah berhenti bagi Rasul saw, karena beliau saw menjadi wasilah distribusi hidayah bagi umat Islam di seluruh dunia. Menurut Hamka, perjalanan sejarah peradaban umat Islam yang cukup lama dan gemilang menjadi balasan setimpal atas pengorbanan Nabi saw dalam menjalankan misi kerasulan.

Ayat 4: Keagungan Akhlak Rasul saw

Bantahan Allah swt terhadap tudingan Kafir Quraisy diperkuat dengan penjelasan dalam ayat ini, di mana Rasul saw dianugerahi sifat mulia oleh-Nya. Sekali lagi, mana mungkin, orang yang memiliki perangai agung disematkan sifat “gila” dan “setan” terhadapnya. Otomatis, tuduhan ini menjadi terbantahkan.

Dalam beberapa redaksi hadits, diketahui bagaimana keluhuran akhlak Rasul saw; seperti tidak pernah mengatakan “huss” atau menghardik / memukul pembantu, perempuan, dan anak kecil. Beliau saw hanya memukul dalam kondisi peperangan.

Menurut  Wahbah az-Zuhaili, dalam pribadi Rasul saw terkumpul ragam pekerti agung seperti rasa malu, kedermawanan, kebijaksanaan, kelembutan, pemaaf, dan akhlak baik lainnya. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Q.S. A’raf (199), “jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”

Keluhuran akhlak menjadi inti daripada agama Islam. Bahkan, sebagian ulama menyandingkan agama dengan akhlak. Dalam sebuah hadits masyhur diriwayatkan bahwa Rasul Saw diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak. Para ulama berpendapat bahwasanya makna akhlak di sini adalah agama.

Aisyah Ra ketika ditanya oleh sahabat tentang keperibadian/akhlak Rasul Saw, beliau Ra menyatakan bahwa akhlak Rasul Saw adalah al-Qur’an. Padahal kita tahu bahwasanya al-Qur’an adalah rujukan utama dalam beragama. Maka dapat dikatakan bahwa salah inti esensial dari agama itu adalah akhlak.

Menurut Hamka, salah satu kunci keberhasilan dakwah Rasul saw adalah kesanggupan menahan hati dalam menerima celaan dan makian yang semena-mena dari orang-orang yang tidak paham. Perbuatan tercela dibalas dengan kebaikan, sehingga tidak jarang banyak orang kafir menjemput hidayahnya dengan wasilah akhlak Rasul saw yang mulia.

Ayat 5 – 7: Siapa sebenarnya yang gila?

Kaum kafir – dari dulu sampai sekarang – merasa yakin akan kebenaran langkah mereka dalam mengingkari eksistensi Allah swt. Mereka melabeli kaum beragama sebagai orang gila, fanatik, barbar, bahkan teroris. Seperti halnya yang dilakukan oleh Kaum Kafir Quraisy terhadap misi kenabian yang dijalankan oleh Rasul saw. Mereka mencap beliau saw sebagai gila, setan bahkan dukun / tukang sihir.

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt menantang mereka untuk melihat kelak di hari kiamat siapakah yang sebenarnya mendapatkan ujian gila; Rasul saw atau justru mereka sendiri.

Di beberapa tempat dalam al-Quran (seperti yang tersurat dalam Q.S. Al-Mulk ayat 9 – 11), dijelaskan pada akhirnya, kaum kafir akan menyadari bahwa merekalah yang tersesat; dan menyesali atas apa yang mereka ingkari selama hidup di dunia.

Menurut Wahbah az-Zuhaili, yang dimaksud dengan kesesatan dalam penggalan ayat 7 adalah sesat dalam hal agama dan akidah, sedangkan makna hidayah adalah hidayah agama.

***

Hamka menilai ayat ini merupakan janji Allah swt akan kemenangan orang-orang yang tertindas. Sejarah perjuangan nabi, rasul dan para pelanjutnya, selalu diliputi keadaan lemah, miskin, tertindas, dan tidak memiliki kekuasaan.

Para penentang mereka selalu memiliki kekuasaan yang digunakan untuk berbuat kezaliman terhadap jalan dakwah mereka, namun pada akhirnya Allah swt selalu memberikan kemenangan pada orang-orang yang tertindas.

Inilah juga yang terlihat dalam kemenangan umat Islam di Perang Badar.

Menurut Hamka, ayat ini ingin memberikan petunjuk bahwa kebenaran akan menang, dan kezaliman tidak akan bertahan lama. Saya kira penafsirannya bisa dibuat dengan konteks yang berbeda-beda.

***

Penggalan terakhir dalam ayat ketujuh menyisakan cerita yang menarik. Di sini, Allah swt menantang mereka untuk melihat kelak di hari kiamat siapakah yang sebenarnya mendapatkan ujian gila; Rasul saw atau justru mereka sendiri. Namun, Allah swt menggarisbawahi bahwasa satu-satunya Dzat yang mengetahui hal ini hanyalah Dia semata dengan sifatnya yang Maha Mengetahui dan Maha Memberi Petunjuk.

Jangan sampai – dengan dalih ayat ini – kini terperangkap pada kebiasaan mencap sesat pada kelompok lain yang memiliki pemahaman keagamaan yang berbeda dalam tataran furu’iyyah. Wallahu a’lam. [*]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s