Orang Kafir di Alam Akhirat

Orang-orang kafir berlari menuju hari penghitungan amalan (Pinterest).

PADA akhirnya orang-orang yang mengingkari risalah agama menemukan janji yang Allah swt sampaikan melalui para rasul-Nya adalah sebuah kebenaran dan mereka harus siap menghadapi kemungkinan terburuk dari sikap pengingkaran ini. 

Janji itu benar adanya, dan mereka hanya bisa menyesalinya, meskipun mereka tahu bahwa penyesalan adalah hal yang sia-sia. 

Beberapa dari mereka bergumam, “andai saja saya dulu adalah sebutir debu (maka tidak usah saya bersusah payah menghadapi konsekuensi siksa neraka yang pedih dan tidak berujung).” 

andai saja saya dulu adalah sebutir debu (maka tidak usah saya bersusah payah menghadapi konsekuensi siksa neraka yang pedih dan tidak berujung).

Di antara gambaran tentang kondisi orang kafir di alam akhirat tergambar dalam pengujung Q.S. Al-Ma’arij: 

Orang-orang kafir bangkit dari kubur dan bergegas lari menuju hari penghitungan amal (yaumul hisab). Mereka berlari kencang, sebagaimana dulu – semasa hidup di dunia – lari kepada tuhan-tuhan palsu mereka, menjauhi risalah kebenaran.  

Tentu saja pandangan mereka tertunduk hina, karena tahu apa yang akan mereka hadapi dalam fase kehidupan selanjutnya di alam akhirat. Mereka diliputi ketakutan akan siksa neraka, akan tetapi tidak ada yang bisa menolongnya, bahkan orang-orang terdekat yang dulu sering melindunginya ketika masih hidup di dunia. 

Yang semakin membuat hati mereka bersedih adalah fakta bahwasanya dulu mereka pernah mendapatkan kabar tentang hal ini, tapi mereka menolak untuk mengakuinya. Mereka pernah memiliki kesempatan untuk terhindar dari azab neraka, tetapi mereka memutuskan untuk tidak mengambilnya. 

Hari yang penuh dengan kegetiran ini (yaumul qiyamah) pernah dijanjikan oleh Allah swt bagi orang-orang seperti mereka, yang menolak eksistensi Tuhan dan hari akhir, yang tidak mau menerima syariat Allah tegak di muka bumi. Sayangnya, hati mereka terlalu gelap untuk menerima kebenaran ini. 

Saat itu penyesalan tidak ada gunanya, dan padi siap untuk dituai. Kebaikan akan mendapatkan ketenangan, sedangkan keburukan akan menghasilkan siksa yang pedih. Wallahu a’lam [] 

Di Balik Ancaman Siksa Neraka

Ancaman siksa neraka adalah bentuk kecintaan Allah swt untuk mengingatkan umat manusia agar beriman dan bertakwa (jokowarino.id)

SAYA melihat ancaman yang Allah swt sampaikan di dalam Al-Qur’an berupa gambaran siksa pedih di neraka bagi mereka yang tidak mau percaya dengan risalah-risalah agama (baca: orang-orang kafir) adalah bentuk kecintaan Allah swt kepada umat manusia. 

Ini bisa dilihat dari tafsiran beberapa ayat tentang sikap yang hendaknya Rasul saw lakukan ketika menghadapi cemoohan dan resistensi dari kaum kafir. Ketika penolakan semakin kentara, alih-alih melawan, Allah swt justru memerintahkan Rasul saw untuk tidak perlu ambil pusing, tetapi fokus pada tugas dakwah yang diemban. 

Q.S. Al-Ma’arij ayat 42 menggambarkan hal ini dengan baik, 

Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka,

Beberapa ulama ahli tafsir mengatakan bahwa pembiaran ini adalah bentuk penangguhan siksa bagi kaum kafir, di mana mereka akan terlena dalam kekufuran sampai datang hari yang dijanjikan. Dalam menafsirkan ayat ini, Syekh Abu Bakr Jabir Al Jazairi melihat sikap ini adalah bentuk “ancaman” tersembunyi dari Allah swt bagi kaum kafir, sehingga mereka terlena dalam kubangan kekufuran sampai tiba saat hari pembalasan. 

Begitu juga dengan Al-Maraghi yang melihat bahwa instruksi untuk membiarkan kaum Kafir – alih-alih melawan mereka – adalah suatu cara di mana Allah swt menghinakan mereka supaya tetap berada dalam kekufuran sampai tiba hari pembalasan. Dalam beberapa ayat hal ini dinamakan istidraj. 

Dari penjelasan di atas kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa gambaran tentang siksa pedih di neraka yang banyak diulas dalam Al-Qur’an tidak lain adalah bentuk kecintaan Allah swt kepada umat manusia, supaya mereka tersadar dari awal, sehingga akan lekas berlari menuju pada kebaikan. Bak seorang ibu yang mengingatkan anak-anak nya, peringatan Allah swt dalam Al-Qur’an adalah bentuk kecintaan kepada kita agar tidak terjerumus pada siksa neraka. Wallahu a’lam. [] 

Dakwah dan Hidayah

Dakwah dan hidayah adalah dua hal yang berbeda (Google Images).

BANYAK pendakwah, pendidik dan orang-orang yang menyerukan kebenaran tidak memiliki cukup kesabaran untuk menerima kegagalan dalam perjuangan. Mereka enggan menerima realitas bahwa hasil jerih payah yang telah mereka lakukan tidak membuahkan hasil yang diharapkan.

Ketika para pendakwah melihat masyarakat tetap berkubang dalam tradisi syirik, padahal mereka telah berbusa-busa memperingatkan tentang hal halal dan haram, banyak yang putus asa terus keluar sumpah serapah yang tidak pantas. 

Continue reading

Menjaga Kehormatan

sumber foto: pinterest

MANUSIA diberikan fitrah dengan memiliki hasrat biologis berupa kehidupan seks. Namun, Islam mengatur hal ini sedemikian rupa sehingga berimplikasi pada tertibnya kehidupan sosial (social order) manusia. Kegiatan seks di luar nikah sangat dilarang dan aksi pornografi mendapatkan kritikan tajam.  

Ini adalah keindahan dari ajaran Islam: dia tidak bertentangan dengan fitrah penciptaan, namun tetap memberikan batasan-batasan demi ketertiban kehidupan sosial manusia di muka bumi. 

Sudah mafhum, seks bebas (free sex) menimbulkan banyak ekses negatif pada kehidupan sosial manusia. Salah satunya adalah efek psikologis yang muncul dari tindakan tercela ini. Al-Qur’an (dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 29 – 31) mengingatkan bahwa kebiasaan ini dapat menyebabkan sikap halu’, selalu gelisah ketika mendapatkan kesulitan hidup, dan rakus serta bakhil ketika mendapatkan rezeki lebih. Ini menunjukan tidak stabilnya kondisi psikologis orang yang terbiasa dengan seks bebas. 

Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa agar hidup kita tenang maka sebaiknya kita tinggalkan praktek seks di luar nikah. Sebagai solusinya, Islam menawarkan institusi keluarga yang memberikan ketentraman hidup yang lebih komprehensif dan menyentuh hampir seluruh aspek psikologis setiap individu. Solusi ini akan menjaga manusia agar tidak terjerumus dalam degradasi moral yang akut. Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar menulis, “Sudah jadi salah satu syarat menjaga hidup manusia di atas dunia ialah apabila dia mengatur persetubuhan dengan pernikahan.” 

Dalam wadah pernikahan, seseorang tidak hanya bisa menyalurkan nafsu biologisnya saja, tapi dia dapat berkolaborasi dengan partner menikah (baca: suami/istri) untuk mendapatkan target-target hidup. Mereka bisa bekerjasama untuk menciptakan kebahagiaan yang tidak mungkin didapat ketika hidup melajang. 

Hal penting lainnya dari institusi pernikahan adalah melestarikan keturunan. Legacy kita bisa abadi ketika dilanjutkan oleh anak cucu kita. Jika hari ini kita konsisten dalam menekuni tugas-tugas dakwah, misalnya, maka perjuangan ini bisa dilanjutkan oleh anak-anak masa depan yang dilahirkan sebagai buah cinta antara kita dan pasangan. 

Persetubuhan di luar nikah jelas menimbulkan efek sosial yang negatif. Di negara-negara Barat, banyak anak yang lahir tanpa sentuhan kasih sayang bapak dan/atau ibu, sehingga menyebabkan patologi sosial yang cukup akut. Masyarakat modern sangat gersang, dan dihantui oleh penyakit-penyakit jiwa yang beragam. Hidup mereka nampak baik sebagai buah dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, di balik itu, banyak dari mereka tersiksa karena tidak bisa mendapatkan ketentraman hidup yang hakiki. 

Islam mengatur kehidupan seks dan menyandingkannya dengan institusi pernikahan yang mulia. Ini tidak lain adalah resep atas kondisi psikologis masyarakat modern dibangun atas fondasi yang rapuh: nilai-nilai yang jauh dari ajaran agama. Dengan menghindari seks bebas, kehormatan manusia dijaga pada posisinya yang mulia. [] 

Percaya pada Hari Akhir – Kandungan Q.S. Al-Ma’arij ayat 26

dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,

Al-Ma’arij: 26

SIFAT keempat yang mengeluarkan seseorang dari fitrahnya yang selalu gelisah dan tamak adalah kesediaan untuk percaya atas kabar gaib tentang hari pembalasan. Nalar rasional selalu menolak eksistensi kehidupan setelah kematian, akan tetapi berita dari “langit” memberitahukan hal yang berbeda. Dan ternyata, kepercayaan ini berimplikasi pada bagaimana kita bersikap di kehidupan sekarang. 

Baca juga: Agar Terhindar dari Kegelisahan dan Ketamakan

Buya Hamka menyampaikan kepercayaan ini akan menjadi control system yang mengerem kehendak bebas yang dimiliki manusia. Manusia model ini akan sadar bahwa apa yang dia perbuat di dunia akan berimplikasi pada nasib mereka di kehidupan yang kedua. Untuk itu, dia akan selalu menyelaraskan hidupnya supaya tidak masuk dalam kubangan perbuatan-perbuatan maksiat yang desktruktif. 

Pernyataan Hamka tersebut sesuai dengan pernyataan Maroghi yang melihat bahwa keimanan sejati adalah keselarasan antara apa yang dikerjakan dengan apa yang dikatakan dan diyakini. Orang yang beriman pada hari pembalasan akan mengerjakan amalan yang berimplikasi baik dan menjauhi hal-hal yang bisa menghadirkan azab di akhirat. Ini adalah sebuah harmoni indah: keselarasan antara keyakinan, pikiran dan amalan. 

Manusia yang percaya akan adanya hari pembalasan berusaha bagaimana mengembalikan semuanya pada tuntunan Ilahi. Seberat apapun beban yang harus dia pikul, dia akan yakin bahwa itu berasal dari-Nya. Maka kegelisahan yang berlebih adalah sesuatu yang sia-sia. 

Baca juga: Dahsyatnya Siksa Neraka 

Sebaliknya, ketika dia ditakdirkan dengan kehidupan yang lapang, maka dia tidak akan melihatnya sebagai sebuah alasan untuk hidup penuh kepongohan, karena sejatinya semua berasal dari kasih sayang Allah swt. Dia tidak akan berpikir panjang untuk menggunakan previlege yang dia miliki untuk melakukan kerja-kerja kemanusiaan sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah dan empati kepada sesama manusia. Wallahu a’lam. [] 

Podcast: Agar Terhindar dari Kegelisahan dan Ketamakan

Sedekah Menyucikan Jiwa

photo source: pinterest

@syahruzzaky 

Hal lain yang dapat menyucikan jiwa kita selain shalat menurut Q.S. Al-Ma’arij adalah mengeluarkan sebagian harta kita untuk orang-orang yang membutuhkan dan terlantar, baik itu bentuknya zakat, sedekah, nafkah, atau lainnya. Menurut Maroghi, ini merupakan unsur sosial dari ajaran agama Islam yang mewajibkan penganutnya untuk mengeluarkan sebagian harta mereka sebagai kerja-kerja kemanusiaan selepas menunaikan ibadah badaniyah seperti shalat, dzikir dan yang lainnya. 

Menurut Buya Hamka, kesediaan mengeluarkan zakat adalah bentuk pengejawantahan iman terhadap Allah swt dan buah dari pelaksanaan ibadah shalat. Orang yang benar shalatnya akan meningkat kadar keimanan dan ketakwaannya dan akan siap untuk menjalankan perintah-perintah-Nya, termasuk kewajiban dalam mengeluarkan sebagian harta dalam bentuk zakat, infak, sedekah, nafkah dan yang lainnya. 

Para ulama ahli tafsir bebeda pendapat tentang makna haqqun maklum seperti yang termaktub dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 24. Namun, Fakhruddin Ar-Razi menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan haqqun maklum di sini adalah zakat. Dia memberikan  dua argumen: 

  1. Haqqun maklum bermakna hak yang sudah ditetapkan. Artinya, ini merujuk pada ibadah zakat yang memang sudah memiliki takaran yang ditetapkan oleh nash. 
  2. Ayat ini mengeluarkan seseorang dari perbuatan tercela yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya – yaitu halu’. Untuk itu, ibadah ini lebih tepat ditujukan kepada zakat, dibanding dengan ibadah lain yang sifatnya sunnah seperti infak dan sedekah. 

Ulama yang berpendapat tentang ini adalah Ibnu Abbas, Hasan Ibnu Sirrin dan Qotadah. Sebaliknya, Mujahid, Atho’ dan An-Nakhoi berpendapat berbeda. Mereka melihat bahwa yang dimaksud dengan terma ini merujuk pada ibadah bukan zakat, tapi sedekah yang disunnahkan. 

Apapun itu, ayat ini memberikan kita satu resep untuk mengobati sifat fitrah manusia yang selalu gelisah ketika dilanda kekurangan dan kikir ketika dianugerahi kelapangan, yaitu dengan mengeluarkan sebagian harta kita baik itu melalui zakat, infak, sedekah, wakaf, nadzar, nafkah, dll sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dan empati kepada sesama manusia. [] 

Sumber kutipan: 

  1. Tafsir Al-Maroghi 
  2. Tafsir Al-Azhar 
  3. Tafsir Mafatihul Ghaib