Tentang resistensi kaum kafir, biarkan Allah swt menunaikan janji-Nya – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 44 – 52

Richard Dawkins. Pinterest.

SUDAH menjadi mafhum bahwa perjuangan menegakkan risalah Allah swt di muka bumi akan disertai jalan terjal berupa cemoohan, olok-olok bahkan ancaman pembunuhan.

Apalagi konteks sekarang, ketika ras manusia berada pada puncak kemajuannya, akan sangat sulit bagi mereka untuk menerima kebenaran yang berasal dari Tuhan yang termaktub dalam kitab suci yang dibawa oleh Nabi saw.

Saat ini pertentangan ideologi dan nilai-nilai semakin keras di saat tumbuh subur isme-isme hasil dialektika manusia dengan alam pikirannya dan realitas sosial. Paham-paham yang mengingkari eksistensi Tuhan dan menolak syariat-Nya semakin beragam dan berevolusi menjadi sebuah gerakan kesadaran terutama dukungan terhadap humanisme dan penyelidikan ilmiah.

Orang model Richard Dawkins tidak hanya mendeklarasikan diri sebagai seorang ateis, akan tetapi juga menjadi ‘nabi’ bagi orang-orang yang menolak eksistensi Tuhan. Selayaknya nabi pada umumnya, dia membuat sebuah gerakan masif untuk memengaruhi masyarakat tentang betapa pentingnya penyelidikan ilmiah dan bahaya ‘tahayul’ agama dalam gerakan ini.

Usaha yang dilakukan Dawkins yang didukung oleh para pesohor dunia maupun lokal akan terus berbenturan dengan para agamawan yang menjalankan misi mereka untuk melanjutkan perjuangan para nabi dalam menyebarkan risalah Tuhan.

‘Perang’ ini tidak hanya terjadi dalam ruang fisik, akan tetapi muncul juga dalam ruang non-fisik (maya) yaitu perseteruan di media sosial, bahkan dalam eskalasinya dalam titik tertentu melebihi dunia nyata.

Maka wajar apabila muncul olokan dari mereka kepada kaum agamawan dan manusia beragama lainnya sebagai kaum delusional yang tertipu sihir kitab suci, seperti halnya Nabi Muhammad saw dicap sebagai orang gila oleh pembesar Kafir Quraisy.

Dalam merespon serangan terhadap misi Nabi saw dan para penerusnya, Allah swt menegaskan kepada mereka untuk tidak terlalu memikirkannya. Apapun cobaan yang mereka hadapi, dakwah harus terus berjalan. The show must go on. Kita tidak boleh selangkah pun mundur dari perjuangan ini.

Allah swt menyuruh kita untuk mengambil pelajaran dari pertaubatan Nabi Yunus as yang meninggalkan misi perjuangan hanya karena mendapatkan resistensi dari kaumnya. Untungnya, beliau menyadari kesalahannya dan diangkat derajatnya oleh Allah swt sebagai orang-orang yang salih dalam barisan para nabi dan rasul.

Adapun perhitungan bagi mereka yang konsisten menentang misi ini, kita kembalikan kepada Allah swt. Dia swt berjanji bahwa mereka akan setahap demi setahap menerima balasan dari-Nya dari arah yang mereka tidak ketahui. Kalaupun tidak sekarang, suatu saat nanti, mereka akan menerima konsekuensinya. Kalau tidak dunia, tentu mereka tidak akan mengelak dari siksa Allah di akhirat kelak.

Tentang hinaan dan olokan kaum sekuler yang tidak suka Islam menyebar di muka bumi, kita harus menahan diri. Jangan itu membuat kita kalap, sehingga kita membalasnya dengan serupa olokan yang jauh dari akhlak Islam. Atau menjadi merasa letih dan memutuskan untuk berhenti dalam berjuang. Kita kembalikan semuanya kepada Allah swt. Wallahu a’lam. []

Advertisements

Sejarah Pembangkangan Kaum Kafir: Kandungan Q.S. Al-Muthaffifin 7 – 17

richard-dawkins-007

Inspirasi Ayat:

tulisan-arab-alquran-surat-al-muthaffifiin-ayat-7-17

Sejarah seringkali terulang. Hanya orang dan kondisi saja yang berubah, tapi secara substansial apa yang terjadi pada masa lalu, kerap terjadi pada masa ini. Banyak orang tidak mau belajar sejarah, karena mengaggap kajian ini kuno di saat trend masa kini adalah serba futuristik. Padahal sejarah memberikan kita wawasan untuk melihat ke depan.

Begitu juga dengan sejarah pembangkangan manusia terhadap Tuhannya. Literatur-literatur keagamaan dan sejarah menunjukan siklus kehidupan yang mana di dalamnya terdapat golongan yang enggan tunduk kepada Sang Pencipta. Hati mereka tertutup, jiwa mereka buta dan akal waras mereka tak berfungsi ketika datang risalah dakwah di hadapan mereka. Mungkin, Allah pun enggan membukakan pintu hidayah kepada mereka, karena kesombongan dan kecongkakan tingkah mereka.

Zaman dahulu ada Fir’aun, intelektual aristokrat yang menolak seruan Nabi Musa AS untuk menyembah Tuhan Esa. Merasa dia kuat dan memiliki segalanya untuk mengontrol kehidupan, Tuhan pun dia lupakan. Dan kita melihat sejarah pun terus mencatat generasi keturunan Fir’aun. Lihat saja fenomena di Barat yang dikatakan maju dan memiliki kekuatan untuk mengontrol alam semesta. Mayoritas penduduknya sudah melupakan Tuhan dan merasa tidak memerlukanNya untuk menjalani kehidupan.

Tidak cukup di sana, mereka pun membuat program sistematis untuk menggatikan peran Tuhan di muka bumi. Lihat saja mereka menentang syari’at Tuhan tentang bagaimana kita hidup di muka bumi. Oke, tidak ada syariat Tuhan di muka bumi, tapi dia kan sudah memberikan gambaran prinsipal tentang bagaimana kita mengarungi kehidupan. Bisa kita katakan Tuhan sudah disingkirkan dan hanya menjadi komoditas pribadi saja.

Tidak cukup itu, mereka juga membuat sebuah kampanye untuk melupakan Tuhan. Anda tahu Richard Dawkins? Seorang biologist berkebangsaan Inggris melalui programnya RDF melakukan serangkaian acara dan advokasi untuk memurtadkan kaum beriman. Mereka pun membuat serangkaian kampanye sistematis untuk meninggalkan Tuhan di muka bumi. Tak jarang mereka melakukannya dengan menggunaan kata-kata sarkas. Mereka tertawakan para kaum beriman dan mengkategorikannya sebagai “savage”. Yang lebih serius, mereka justru mencap kaum beriman sebagai orang sesat, padahal merekalah yang sebenarnya sesat.

Tentunya, kita sebagai orang beriman tidak perlu lah terpancing dengan sikap dan ejekan mereka. Apa yang mereka lakukan tidak akan merusak keagungan Tuhan dan ajaran-Nya. Yang kita lakukan adalah tetap lurus, meskipun yang lain bengkok. Tentunya, kita juga harus menginfaqkan sebagian waktu kita untuk mengklarifikasi klaim kaum ateis terhadap orang beriman dengan cara yang lembut dan tidak menggunakan kekerasan.