Akhirnya Orang Kafir Bertemu dengan Janji Allah swt – Q.S. Al-Ma’arij ayat 36 – 44: Ulasan Kitab Tafsir

FRAGMEN selanjutnya dari Q.S. Al-Ma’arij (pada ayat 36 – 44) menjelaskan tentang pengingkaran kaum kafir terhadap risalah yang dibawa oleh dari Nabi saw dan bantahan Allah swt atas kontradiksi keyakinan mereka tentang hari akhir: di satu sisi mereka menolak eksistensi hari akhir, tapi di sisi lain mereka berharap untuk tetap masuk surga jika memang akhirat itu ada. 

Setelah itu digambarkan kondisi kaum kafir di hari akhir, di mana mereka bersiap untuk mendapatkan hal yang dijanjikan yaitu siksa pedih di neraka. Mereka tertunduk malu dan ketakutan mengingat azab pedih yang akan mereka dapatkan di alam akhirat. 

Continue reading

Orang Kafir di Alam Akhirat

Orang-orang kafir berlari menuju hari penghitungan amalan (Pinterest).

PADA akhirnya orang-orang yang mengingkari risalah agama menemukan janji yang Allah swt sampaikan melalui para rasul-Nya adalah sebuah kebenaran dan mereka harus siap menghadapi kemungkinan terburuk dari sikap pengingkaran ini. 

Janji itu benar adanya, dan mereka hanya bisa menyesalinya, meskipun mereka tahu bahwa penyesalan adalah hal yang sia-sia. 

Beberapa dari mereka bergumam, “andai saja saya dulu adalah sebutir debu (maka tidak usah saya bersusah payah menghadapi konsekuensi siksa neraka yang pedih dan tidak berujung).” 

andai saja saya dulu adalah sebutir debu (maka tidak usah saya bersusah payah menghadapi konsekuensi siksa neraka yang pedih dan tidak berujung).

Di antara gambaran tentang kondisi orang kafir di alam akhirat tergambar dalam pengujung Q.S. Al-Ma’arij: 

Orang-orang kafir bangkit dari kubur dan bergegas lari menuju hari penghitungan amal (yaumul hisab). Mereka berlari kencang, sebagaimana dulu – semasa hidup di dunia – lari kepada tuhan-tuhan palsu mereka, menjauhi risalah kebenaran.  

Tentu saja pandangan mereka tertunduk hina, karena tahu apa yang akan mereka hadapi dalam fase kehidupan selanjutnya di alam akhirat. Mereka diliputi ketakutan akan siksa neraka, akan tetapi tidak ada yang bisa menolongnya, bahkan orang-orang terdekat yang dulu sering melindunginya ketika masih hidup di dunia. 

Yang semakin membuat hati mereka bersedih adalah fakta bahwasanya dulu mereka pernah mendapatkan kabar tentang hal ini, tapi mereka menolak untuk mengakuinya. Mereka pernah memiliki kesempatan untuk terhindar dari azab neraka, tetapi mereka memutuskan untuk tidak mengambilnya. 

Hari yang penuh dengan kegetiran ini (yaumul qiyamah) pernah dijanjikan oleh Allah swt bagi orang-orang seperti mereka, yang menolak eksistensi Tuhan dan hari akhir, yang tidak mau menerima syariat Allah tegak di muka bumi. Sayangnya, hati mereka terlalu gelap untuk menerima kebenaran ini. 

Saat itu penyesalan tidak ada gunanya, dan padi siap untuk dituai. Kebaikan akan mendapatkan ketenangan, sedangkan keburukan akan menghasilkan siksa yang pedih. Wallahu a’lam [] 

Di Balik Ancaman Siksa Neraka

Ancaman siksa neraka adalah bentuk kecintaan Allah swt untuk mengingatkan umat manusia agar beriman dan bertakwa (jokowarino.id)

SAYA melihat ancaman yang Allah swt sampaikan di dalam Al-Qur’an berupa gambaran siksa pedih di neraka bagi mereka yang tidak mau percaya dengan risalah-risalah agama (baca: orang-orang kafir) adalah bentuk kecintaan Allah swt kepada umat manusia. 

Ini bisa dilihat dari tafsiran beberapa ayat tentang sikap yang hendaknya Rasul saw lakukan ketika menghadapi cemoohan dan resistensi dari kaum kafir. Ketika penolakan semakin kentara, alih-alih melawan, Allah swt justru memerintahkan Rasul saw untuk tidak perlu ambil pusing, tetapi fokus pada tugas dakwah yang diemban. 

Q.S. Al-Ma’arij ayat 42 menggambarkan hal ini dengan baik, 

Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka,

Beberapa ulama ahli tafsir mengatakan bahwa pembiaran ini adalah bentuk penangguhan siksa bagi kaum kafir, di mana mereka akan terlena dalam kekufuran sampai datang hari yang dijanjikan. Dalam menafsirkan ayat ini, Syekh Abu Bakr Jabir Al Jazairi melihat sikap ini adalah bentuk “ancaman” tersembunyi dari Allah swt bagi kaum kafir, sehingga mereka terlena dalam kubangan kekufuran sampai tiba saat hari pembalasan. 

Begitu juga dengan Al-Maraghi yang melihat bahwa instruksi untuk membiarkan kaum Kafir – alih-alih melawan mereka – adalah suatu cara di mana Allah swt menghinakan mereka supaya tetap berada dalam kekufuran sampai tiba hari pembalasan. Dalam beberapa ayat hal ini dinamakan istidraj. 

Dari penjelasan di atas kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa gambaran tentang siksa pedih di neraka yang banyak diulas dalam Al-Qur’an tidak lain adalah bentuk kecintaan Allah swt kepada umat manusia, supaya mereka tersadar dari awal, sehingga akan lekas berlari menuju pada kebaikan. Bak seorang ibu yang mengingatkan anak-anak nya, peringatan Allah swt dalam Al-Qur’an adalah bentuk kecintaan kepada kita agar tidak terjerumus pada siksa neraka. Wallahu a’lam. [] 

Harapan Sia-sia – Kandungan Q.S. Al-Ma’arij ayat 36 – 38

Orang kafir berharap untuk bisa mencicipi kenikmatan surgawi, namun harapan mereka akan sia-sia.

Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu, dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan? sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani).

Q.S. Al-Ma’arij ayat 36 – 38

SUATU hari Kaum Kafir Quraisy datang berbondong-bondong untuk mendengarkan ceramah Nabi saw di dekat Ka’bah. Mereka bukan bermaksud mempelajari agama Islam dan mengimaninya, akan tetapi mencari beberapa kesalahan untuk dijadikan bahan olok-olok terhadap dakwah beliau saw. 

Satu hal yang menjadi salah satu bahan olok-olok mereka adalah sebuah jaminan dari Rasul saw bahwa umat beriman pasti akan masuk surga, dan kaum kafir tempatnya adalah neraka. Mereka berseloroh, bahwa jika memang Muhammad dan pengikutnya akan masuk surga, mereka yang akan masuk terlebih dahulu. 

Olok-olok ini dijawab langsung oleh Allah swt melalui Q.S. Al-Ma’arij ayat 36 – 48. Allah swt menyatakan bahwa sebuah kemustahilan bagi mereka untuk bisa merasakan kenikmatan surgawi. Mereka (seperti halnya manusia lain) tercipta dari sesuatu yang hina – yaitu air mani dalam proses persetubuhan antara laki-laki dan perempuan – maka tidak ada keistimewaan bagi mereka untuk masuk ke alam surgawi. 

Allah swt menegaskan bahwa untuk masuk ke surga diperlukan jiwa yang suci dan bersih – dan itu hanya bisa tercapai dengan keimanan yang disertai dengan ketakwaan. Maka klaim yang disampaikan oleh Kaum Kafir Quraisy adalah omong kosong dan harapan yang tak mungkin terjadi. [] 

Menjaga Amanat Kehidupan – Kandungan Q.S. Al-Ma’arij ayat 32-33

ALLAH s.w.t telah menganugerahi kita kehidupan untuk kita gunakan sebaik-baiknya dengan beribadah kepada-Nya; menjalankan perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Beribadah adalah bentuk penunaian kita akan amanat yang dititipkan kepada setiap manusia di muka bumi (Lihat Q.S. Al-Ma’arij ayat 32-33). 

Maka tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh kecuali patuh akan apa yang telah ditetapkan oleh Allah melalui ajaran-ajaran agama yang dibawa oleh para nabi. Segala bentuk penyimpangan akan ketetapan-Nya adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat yang diemban, sehingga konsekuensi terburuk adalah kehidupan pedih di neraka seperti yang dijanjikan Tuhan.   

Tunduk akan ketetapan Tuhan harus menjadi visi setiap manusia beriman. Setiap gerak langkah harus diarahkan padanya. Supaya visi ini menjadi konkret maka, setiap insan wajib mengejawantahkannya dalam bentuk misi, yaitu semua apa yang mereka lakukan di muka bumi.

Apakah itu artinya sepanjang waktu kita harus menunaikan shalat? Mengingat itu adalah ibadah yang sangat penting? 

Tentu tidak. 

Allah Maha Baik. Dia menggariskan bahwa bentuk penyembahan kepada-Nya tidak terbatas pada ibadah-ibadah ritual berbentuk shalat, haji, zikir, tapi juga mencakup semua apa yang kita lakukan yang didasarkan pada ketakwaan kepada-Nya. 

Untuk itu, Hadits Nabi s.a.w. tentang niat menjadi penting dalam konteks ini. Ketika kita berangkat meninggalkan rumah – untuk berdagang, ngantor, mengajar – asal itu dilaksanakan secara halal dan diniatkan sebagai ibadah kepada-Nya, maka itu sudah termasuk menunaikan amanat kehidupan. 

Hal yang terlihat sepele dan menyenangkan – misalnya tidur, bercengkrama dengan keluarga, ngobrol dengan teman-teman – apabila didasari dengan niat yang benar, maka itupun sudah diganjar sebagai amal saleh. 

Sungguh indah bukan? 

Ajaran Islam yang sangat flexible ini tentu akan memudahkan manusia untuk hidup di muka bumi. Ini selaras dengan hadits Nabi saw yang berbunyi: 

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah pertengahan (yaitu tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat”.

Menunaikan amanat kehidupan tidak pernah sesederhana seperti apa yang ada dalam ajaran Islam. [] 

Takut terhadap Azab Allah swt – Kandungan Q.S. Al-Ma’arij ayat 27 – 28

Langkah kelima agar terhindar dari penyakit halu’, adalah sikap takut dan percaya terhadap azab Allah swt. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindar dari siksa-Nya, kecuali berkat rahmat-Nya yang begitu luas. 

Seorang mukmin yang memiliki karakter ini tidak akan pernah gelisah dengan kesulitan hidup karena dia yakin bahwa dunia ini fana; yang abadi hanya kehidupan akhirat. Kesulitan di dunia hanyalah secuil bila dibandingkan dengan dahsyatnya siksaan di alam kubur maupun akhirat. 

Selanjutnya, ketakutan akan azab Allah akan mendorong seseorang pada ketaatan. Dalam terminologi Islam, hal ini dinamakan khauf. Tentunya, sikap ini dibarengi dengan raja’, harapan akan rahmat Allah swt. Dengan begitu, seorang muslim akan selalu mawas diri karena takut akan azab-Nya, sekaligus berharap akan kasih sayang-Nya yang besarnya melebihi samudra. 

Fakhruddin Ar-Razi mencatat bahwa sikap takut ini mencakup dua hal: pertama, takut akan meninggalkan kewajiban seperti shalat, zakat, puasa, dan amalan lainnya yang bernilai ibadah. Kedua, khawatir terjerumus pada hal-hal yang berbahaya yang dapat mengundang murka-Nya. Sikap ini akan memotivasi seorang muslim untuk menjalankan semua perintah Allah yang dibebankan (taklif), dan menjauhi semua larangan-Nya. 

Percaya pada Hari Akhir – Kandungan Q.S. Al-Ma’arij ayat 26

dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,

Al-Ma’arij: 26

SIFAT keempat yang mengeluarkan seseorang dari fitrahnya yang selalu gelisah dan tamak adalah kesediaan untuk percaya atas kabar gaib tentang hari pembalasan. Nalar rasional selalu menolak eksistensi kehidupan setelah kematian, akan tetapi berita dari “langit” memberitahukan hal yang berbeda. Dan ternyata, kepercayaan ini berimplikasi pada bagaimana kita bersikap di kehidupan sekarang. 

Baca juga: Agar Terhindar dari Kegelisahan dan Ketamakan

Buya Hamka menyampaikan kepercayaan ini akan menjadi control system yang mengerem kehendak bebas yang dimiliki manusia. Manusia model ini akan sadar bahwa apa yang dia perbuat di dunia akan berimplikasi pada nasib mereka di kehidupan yang kedua. Untuk itu, dia akan selalu menyelaraskan hidupnya supaya tidak masuk dalam kubangan perbuatan-perbuatan maksiat yang desktruktif. 

Pernyataan Hamka tersebut sesuai dengan pernyataan Maroghi yang melihat bahwa keimanan sejati adalah keselarasan antara apa yang dikerjakan dengan apa yang dikatakan dan diyakini. Orang yang beriman pada hari pembalasan akan mengerjakan amalan yang berimplikasi baik dan menjauhi hal-hal yang bisa menghadirkan azab di akhirat. Ini adalah sebuah harmoni indah: keselarasan antara keyakinan, pikiran dan amalan. 

Manusia yang percaya akan adanya hari pembalasan berusaha bagaimana mengembalikan semuanya pada tuntunan Ilahi. Seberat apapun beban yang harus dia pikul, dia akan yakin bahwa itu berasal dari-Nya. Maka kegelisahan yang berlebih adalah sesuatu yang sia-sia. 

Baca juga: Dahsyatnya Siksa Neraka 

Sebaliknya, ketika dia ditakdirkan dengan kehidupan yang lapang, maka dia tidak akan melihatnya sebagai sebuah alasan untuk hidup penuh kepongohan, karena sejatinya semua berasal dari kasih sayang Allah swt. Dia tidak akan berpikir panjang untuk menggunakan previlege yang dia miliki untuk melakukan kerja-kerja kemanusiaan sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah dan empati kepada sesama manusia. Wallahu a’lam. [] 

Podcast: Agar Terhindar dari Kegelisahan dan Ketamakan

Terapi Jiwa

ilustrasi terapi jiwa

@syahruzzaky

BAGI sebagian orang hidup ini berat; menyisakan pelbagai cobaan dan tantangan yang seringkali melukai jiwa dan batin, sehingga menyelesaikan misi hidup dianggap sebagai sebuah jawaban. 

Bisa jadi kondisi jiwa tersebut membuat kita tertekan yang berujung munculnya penyakit-penyakit mental; depresi (depressed), cemas (anxious), atau bahkan schizophrenia. 

Ada orang – yang menderita dengan salah satu penyakit jiwa di atas – mengeluh ketika dikata-katai, “Lu mah jadi kayak gini karena kurang agamanya.” Dia menolak dan berdalih bahwa penyakit ini adalah bagian dari mental illness dan hanya akan sembuh apabila diobati melalui pengobatan psikologi atau psikiatri modern. 

Apa iya? 

Lalu kenapa ada orang stress dengan tekanan hidup, lalu memilih meditasi dan yoga sebagai bentuk terapi? 

Atau kenapa orang model Anand Krishna semakin populer di masyarakat urban yang penuh dengan masalah yang kompleks? 

Saya pikir labelling bahwa orang yang stress kurang agamanya ada benarnya. Lebih tepatnya mereka kurang memiliki kekuatan spiritual transenden yang menghubungkan dia dengan Dzat yang Maha Memiliki Kekuatan. 

Banyak orang Muslim mencari asupan ruhani ini dengan memilih praktik-praktik yang berasal dari tradisi agama lain. Yoga, misalnya, adalah olahraga yang berasal dari tradisi agama Hindu, tapi sangat digandrungi oleh kalangan Muslim.  

Saya tidak melarang untuk melaksanakan Yoga – asal itu murni olahraga kesehatan dan tidak disusupi pengajaran nilai-nilai filsafat agama Hindu. Tapi sangat naif apabila kita justru lebih memilih praktik agama lain, daripada apa yang telah ditawarkan oleh agama kita dalam rangka pemenuhan jiwa? 

Islam memiliki seperangkat metode pemenuhan kebutuhan spiritualitas dalam bentuk ibadah ritual yang sudah baku. Asal kita tidak terjebak pada pemikiran fiqih-oriented, yang menganggap Islam hanya dari aspek pemenuhan syarat-syarat ibadah ritual, insya Allah agama kita kaya akan dimensi spiritualitas. 

Orang menyebutnya tasawuf. Ada juga yang mengatakan akhlak. 

Saya tidak akan berbicara tentang tasawuf, karena hal ini akan membutuhkan penjelasan yang cukup panjang. Tapi, mari kita ambil salah satu ritual ibadah yang sangat familiar dan sering dilakukan oleh seorang Muslim: shalat. 

Shalat memiliki dimensi spiritual yang sangat kaya. Dilihat dari makna harfiahnya, shalat adalah doa. Kita tahu bahwa doa adalah penghubung antara hamba dan Tuannya. Shalat menawarkan kesempatan bagi seorang hamba untuk secara intens berhubungan dengan Tuan-nya melalui lafal-lafal yang diucapkan. 

Coba resapi dahsyatnya makna doa iftitah, al-fatihah, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara sujud dua, tasyahud awal dan akhir. Doa-doa tersebut yang menghubungkan antara seorang Muslim dengan Tuhan-nya. Bayangkan dia melakukan ritual ini minimal lima kali sehari!

Sekali lagi, ini akan berhasil jika kita tidak melihat shalat sebagai ritual fisik saja, tapi lebih dari itu, sebagai ritual pemenuhan jiwa yang penuh makna. Banyak ulama yang telah memaparkan hal ini. Silahkan baca “Bidayatul Hidayah”-nya Al-Ghazali atau “Buat Apa Shalat”-nya Haidar Bagir untuk lebih mengeksplorasi lebih jauh tentang ini.

Al-Qur’an (Q.S. 70, 19-23) sendiri berpesan bahwa shalat adalah salah satu obat agar kita terhindar dari penyakit halu’ – selalu mengeluh ketika tertimpa bencana dan enggan berbagi ketika sedang mendapatkan kelapangan hidup. Situasi yang sangat dekat dengan masyarakat urban modern sekarang. 

***

Saya tidak hendak menafikan peran psikologi atau psikiatri sebagai disiplin ilmu yang menawarkan pengobatan bagi penyakit-penyakit jiwa (mental illness), tapi sungguh naif apabila kita meninggalkan solusi yang ditawarkan agama kita sebagai obat bagi penyakit-penyakit tersebut. Apalagi jika kita lebih memilih praktik-praktik pengobatan tradisional yang berasal dari tradisi agama lain, padahal agama kita memiliki khazanah ritual yang sangat kaya yang berkaitan dengan problem ini. 

Mari kita bersama meresapi agama pada bentuknya yang lebih dalam, tidak berhenti di luarannya (surface) saja. [] 

Menjaga Shalat

Shalat. Sumber (pinterest)

@syahruzzaky 

Kehidupan modern bagaikan dua sisi koin yang berbeda; ia memudahkan kita untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, sekaligus mewajibkan kita untuk bekerja dalam tekanan apabila ingin mendapatkan privilege-nya.

Acap kali tekanan yang diberikan oleh modernitas membuat kita lelah dan cemas. Mungkinkah kita survive? Atau malah tersungkur menjadi pecundang? 

Mereka yang akhirnya menjadi pecundang banyak yang berujung pada kehidupan yang selalu dirundung keluh kesah. 

Hidup miskin di era modernitas membuat kita berada pada posisi yang tidak diuntungkan; tidak bisa menikmati kemudahan yang diberikan oleh zaman. Mau ikut tren fashion masa kini, misalnya, itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Kalau tidak bisa menahan hawa nafsu, maka kita akan memanfaatkan fasilitas hutang/kredit. Akan tetapi, semakin kita tidak bisa membendungnya, bukan tidak mungkin terjebak hutang yang menggunung. Debt Collector akan siap-siap menghantui hidup kita, sampai hotel predeo bisa jadi menjadi salah satu tempat yang akan kita singgahi. 

Dalam kondisi ini, keluh kesah akan menjadi suasana hati sepanjang hari. Dalam tahap yang lebih parah, muncul beberapa penyakit mental seperti stres, depresi, cemas, dan yang lainnya. Bahkan, tidak sedikit yang berujung pada menghabisi nyawa sendiri. 

Dalam posisi ini, manusia terbelah menjadi tiga kelompok: mereka yang percaya pada psikologi positif, kepada agama, dan kepada dua-duanya. Saya tidak hendak membenturkan antara agama dan sains, tapi sebagai seorang beriman, alangkah lebih baiknya melihat apa yang ditawarkan oleh Islam sebagai solusi atas permasalahan ini, di samping terapi berdasarkan ilmu psikologi modern. 

Al-Qur’an menawarkan shalat sebagai salah satu solusi atas permasalahan umum dari manusia modern ini (Q.S. Al-Ma’arij ayat 19-23). Namun, shalat yang dimaksud bukan sekedar gerakan rukuk, sujud dan i’tidal. Solusi yang ditawarkan adalah shalat yang terjaga. Apa dan bagaimana shalat yang terjaga tersebut – yang Insya Allah akan mengantarkan kita pada ketenangan jiwa? 

Para mufassirin (ahli tafsir) memberikan beberapa penjelasan tentang Q.S. Al-Ma’arij ayat 22 – 23. Di ayat ini, Allah s.w.t bersabda bahwa orang-orang yang menjaga shalat – dengan mendawamkannya – akan terbebas dari sifat keluh kesah yang dimiliki oleh manusia. Namun shalat tersebut bukanlah sekedar gerakan fisik nirmakna, tapi memiliki beberapa kriteria. 

Prof. Wahbah Az-Zuhaily, pakar tafsir ternama asal Suriah, menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah shalat fardhu lima waktu yang dikerjakan secara rutin, tanpa ada yang tertinggal dalam keadaan apapun. Meskipun kehidupan dunia memberikan kita ruang sedikit untuk rehat, jangan sampai kita berani meninggalkan shalat. Karena itu modal kita satu-satunya untuk merawat jiwa kita dari segala penyakit jiwa. 

Hal lain yang bisa kita lakukan dalam menjaga shalat adalah memperhatikan tata caranya: melaksanakan wudhu yang benar, menjaga aurat, memperhatikan kiblat, dan berusaha untuk senantiasa tepat pada waktunya. Ini adalah prasyarat standar dalam aspek fikih. 

Selanjutnya adalah memperhatikan aspek tasawuf dari shalat yaitu menjaga kekhusyuan, menjauhi riya’ dan melaksanakan hal-hal yang sunat dari shalat, termasuk mengerjakan shalat-shalat sunnah yang dianjurkan. Yang lebih penting dari aspek ini adalah bagaimana kita menjadikan shalat sebagai wahana penghubung (silah) kita dengan Tuhan, sehingga kita benar-benar merasa dekat dengan Dia. Jika ini tercapai, maka kita telah mendapatkan benefit psikologis dari ibadah shalat. 

Hal yang lebih penting lainnya dalam menjaga shalat adalah berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan hal sia-sia yang melanggar batasan agama. Karena kita tahu bahwa shalat itu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al Ankabut: 45). 

Apabila kita STMJ (shalat terus, maksiat jalan) maka itu tanda shalat kita belum diterima oleh-Nya. Tapi, dengan begitu bukan berarti kita berhenti dan menyerah. Yang bijak adalah bagaimana kita memperbaiki shalat sebagai wahana untuk menghentikan maksiat. 

Semoga Allah swt membantu kita untuk senantiasa menjaga shalat kita, sehingga mengantarkan kita pada ketenangan jiwa dan batin. Aamiin. []