Jalan Lurus vs. Jalan Berliku – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk Ayat 22

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

Menurut Jalaluddin dan Jalaluddin ayat ini membandingkan antara kaum beriman dan kaum kafir – mana di antara mereka yang lebih layak untuk mendapatkan hidayah dari Allah swt. Dalam hal ini kaum kafir dianalogikan sebagai orang yang berjalan merangkak dengan wajah tertelungkup, sedangkan orang beriman dimisalkan sebagai orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus.

Buya Hamka mendeskripsikan orang kafir sebagai orang yang lupa dari mana dia datang, di mana dia sekarang dan ke mana perjalanan hidupnya ini akan diteruskannya. Dia berjalan di muka bumi sambil menjungkir balik, ataupun menelungkup; dan mukanya menghadap ke bumi. Orang seperti ini meskipun mencoba berdiri, dia akan terjatuh kembali karena kakinya linglung, menggigil menginjak bumi, karena tidak tahu ke mana akan diarahkan. Gambaran ini kontras dengan orang mukmin yang berjalan tegak lurus, langkah tetap, mata memandang ke muka, memikirkan tujuan yang jauh tetapi pasti dan tidak pernah mengencong ke luar garis yang ditentukan.

Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa orang mukmin yang berjalan tegak lurus karena telah memiliki pegangan hidup akan lebih memiliki peluang untuk hidup selamat dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat daripada orang kafir yang berjalan merangkak sambil menelungkup ke bumi karena tidak memiliki tujuan hidup.

Tafsir al-Qur’am terbitan Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa perjalanan hidup orang-orang kafir itu adalah perjalanan hidup menuju kesengsaraan dan penderitaan yang sangat. Mereka akan mudah tersesat dalam perjalanannya mengarungi samudera hidup di dunia fana ini, sedang di akhirat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebaliknya, orang-orang mukmin menempuh jalan yang baik dan lurus, yaitu jalan yang diridai Allah, tidak akan tersesat dalam perjalanan hidupnya di dunia ini dan pasti akan sampai kepada tujuan yang diinginkannya. Di akhirat nanti, mereka akan menempati surga yang penuh kenikmatan yang disediakan Allah bagi mereka yang bertakwa.(*)

Advertisements

Al-Mulk 15: Menjemput Rezeki

(15. Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.)

Syukur alhamdulillah, dan ini memang bentuk kuasa-Nya, bahwasanya Dia menciptakan bumi mudah untuk digarap. Dalam pemaknaan kata “dzalula: mudah” ada beberapa pendapat seperti yang ditulis oleh Ar-Razi;

Pertama, bahwasanya Allah swt tidak menjadikan bumi keras seperti gurun yang membuat kita susah untuk berjalan di atasnya.

Kedua, Allah swt menjadikan bumi lembut sehingga memungkinkan untuk digali, dan dibangun bangunan di atasnya. Kalau misalnya keras, maka akan sangat sulit untuk mengolahnya.

Ketiga, Kalau misalnya keras seperti batu, atau seperti emas dan besi, maka akan panas ketika musim panas, dan sangat dingin ketika musim dingin, dan hal ini akan sulit untuk ditanami.

Keempat, Allah swt membentangkan bumi ini dengan mengontrol pergerakan udaranya, sehingga, meskipun pada hakikatnya selalu bergerak dan berputar,  dia akan tetap terkontrol.

Ayat ini menganjurkan kita untuk meninggalkan rumah ke tempat kerja, entah itu kantor, lapak, ladang, hutan atau yang lainnya dengan maksud menjemput rezeki yang memang telah disiapkan oleh Allah swt.

Para ahli tafsir berselisih pendapat ketika menafsirkan kata “manakib”. Ada yang mengartikan gunung-gunung, pelosok-pelosok, pinggir-pinggir, dan ujung-ujungnya. Dalam konteks dunia modern saat ini – menurut hemat saya – tentu hal itu bisa ditafsirkan sebagai macam-macam lapangan pekerjaan yang memiliki medan berbeda-beda. Bisa jadi kantor untuk para pekerja kantoran, lapak untuk para pedagang, ladang untuk para petani, bahkan bisa juga rumah untuk mereka yang bergerak dalam bidang internet marketing. Yang penting, untuk menjemput rezekinya, kita harus bergerak dan terus berusaha.  

Apabila kondisi kampung kita tidak kondusif untuk menjemput rezeki-Nya, maka kita dianjurkan untuk pergi merantau, mencarinya di tempat lain, yang memang masih merupakan bumi Allah yang mudah untuk digarap.

Namun tentunya hal ini harus dibarengi dengan sikap tawakkal kepada Allah swt. Usaha harus tetap dibarengi dengan tawakkal, karena pada hakikatnya semua rezeki itu adalah milik Allah. Hal ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan oleh Umar Bin Khattab RA ”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

Ibnu Katsir mengatakan, “bepergianlah semau kamu di seluruh penjuru bumi dengan berbagai macam pekerjaan dan perdagangan, dan ketahuilah bahwasanya usaha kamu akan sia-sia, kecuali Allah swt. memudahkan urusanmu.”

(… Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.)

Ar-Razi menulis, “Kehidupan dunia yang dipenuhi rezeki dari-Nya adalah kehidupan orang yang tahu bahwasanya tempat kembali-Nya adalah Allah swt, yakin bahwa perjalanan-Nya adalah menuju Allah.”

Penggalan ayat ini, pada hakikatnya, merupakan peringatan untuk menjauhi kekufuran dan kemaksiatan, baik di kala sendiri maupun di depan umum. Keselamatan kita di dunia merupakan kehendak dan rahmat-Nya, dan kalau saja Dia berkehendak maka bisa saja Dia membalikkan keadaan; seketika menurunkan hujan yang merusak dari awan yang dipaksa atas kehendak-Nya.

Azab Neraka Bagi Orang Kafir – Q.S. Al Mulk (67/ 6-11) – Ulasan Kitab Tafsir

Ayat 6

Orang-orang yang mendustakan eksistensi Allah, niscaya mereka akan mendapatkan neraka jahannam, yang mana itu adalah sejelek-jeleknya tempat kembali. Semenjak dahulu sampai sekarang, selalu ada golongan manusia yang secara terang-terangan mengingkari ketuhanan Allah swt dan menyerang orang-orang yang menyeru masyarakat kepada-Nya. Bahkan mereka membangun organisasi non-pemerintah (non-government organization) yang memfokuskan diri pada kampanye pengingkaran kepada Tuhan. Richard Dawkins, seorang biolog asal Inggris, misalnya, menulis banyak buku (salah satunya “God Delusion”) dan artikel yang mengkampanyekan ateisme dan mengolok-olok kaum beragama dan mendirikan sebuah NGO bernama Richard Dawkins Foundation for Reason and Science (RDFRS) untuk membantu menjalankan misinya ini. Dia menggandeng para public figure terutama dari kalangan selebriti barat untuk menarik masyarakat awam supaya bergabung dalam gerakannya. Sampai saat ini usahanya terbilang sukses karena mendapatkan pendanaan yang cukup.

Terhadap orang-orang seperti ini, Allah swt telah menjanjikan neraka jahannam sebagai tempat kembali mereka. Balasan ini disiapkan karena mereka tetap tidak mau beriman, meskipun Allah swt telah memperingati mereka dalam berbagai risalah yang disampaikan oleh utusan-utusan-Nya.

Dalam ayat-ayat selanjutnya, Allah swt menggambarkan neraka sebagai suatu hal yang mengerikan.

Ayat 7

Ketika kaum tidak beriman dilemparkan ke dalam api neraka, mereka mendengar suara yang mengerikan dan neraka menggelegak panas membara. Dalam ayat ini, terdapat dua sifat neraka; a) memiliki suara menggelegar yang memekakan telinga, dan 2) menggelegak karena saking panasnya.

Menurut Jalaluddin & Jalaluddin suara mengerikan yang terdengar ketika kaum kafir dilemparkan ke dalam api neraka menyerupai suara keledai yang berteriak dan memekakan telinga. Dalam konteks budaya Arab, suara keledai dianggap sebagai sejelek-jeleknya suara di seantro alam semesta. Di sini, Allah seakan ingin menunjukan betapa hinanya orang yang dimasukkan ke dalam neraka akibat perbuatannya di dunia.

Menurut ar-Razi kaum kafir dimasukkan ke dalam neraka bak kayu bakar yang dilemparkan ke dalam api yang besar dan menggelegak. Setiap hal yang mendidih, pasti mengeluarkan bunyi yang menggelegak. Gelegak ini berasal dari kuali yang didalamnya terdapat campuran asap, kemarahan, dan air mata. Deskripsi ini menggambarkan ekspresi kemarahan neraka kepada orang-orang yang menyiakan hidup mereka di dunia dengan menafikan eksistensi Tuhan setelah datang penerangan dari para rasul.

Hal ini diperkuat dengan penjelasan pada ayat-ayat selanjutnya;

Ayat 8

Neraka hampir pecah disebabkan kemarahannya kepada orang-orang yang dimasukkan ke dalamnya. Dia merasa nyinyir karena kaum kafir tidak mendengarkan seruan dari para rasul dan ulama selama mereka masih hidup di muka bumi.

Al-Maroghi mengutip pendapat Al-Razi menjelaskan deskripsi kemarahan neraka ini dengan analogi terhadap proses kemarahan anak manusia. Menurut dia, tatkala seseorang marah, maka akan menyebabkan bergejolaknya darah di dalam tubuh. Ketika itu, darah akan membesar melebihi ukurannya pada waktu normal. Pembuluh darah akan menegang, dan akan semakin kuat tegangannya tatkala kemarahan semakin memuncak. Bagi orang yang memiliki riwayat hipertensi, hal ini bisa mengakibatkan pecahnya pembuluh darah.

Al-Razi kemudian memberikan beberapa argumen apabila ada yang mempermasalahkan analogi pecahnya neraka dengan meledaknya kemarahan seseorang, karena neraka bukanlah makhluk hidup seperti halnya manusia. Menurut dia ada tiga argument; 1) Konstruksi suatu hal tidaklah menjadi syarat kehidupan sesuatu, bisa saja Allah swt menciptakan neraka sebagai makhluk hidup, 2) ini merupakan analogi gelegar suara api neraka dengan mendidihnya kemarahan seseorang, dan 3) mungkin saja ini merupakan analogi kemarahan seseorang dengan kemarahan malaikat penjaga neraka.

Tatkala golongan manusia dari kaum kafir dimasukkan ke dalam api neraka, malaikat penjaga neraka, yaitu malaikat Malik yang dibantu dengan para malaikat Zabaniah, bertanya dengan sindiran tentang apakah telah dating kepada mereka pemberi peringatan (para rasul, wali, ulama dsb.) selama hidup di muka bumi. Ayat ini merupakan keadilan Allah swt bahwasanya taklif hanya berlaku kepada seseorang ketika dia sudah mendapatkan informasi tentang risalah Islam. Menurut Ar-Razi beberapa ulama berpendapat bahwa ayat ini menunjukan bahwa Allah swt hanya akan mengazab seseorang jika telah sampai kepadanya seorang pemberi peringatan baik dari para rasul, wali, ulama, dsb. Maka apabila belum datang kepadanya informasi tentang Islam, maka Allah tidak akan memberi azab di akhirat kelak.

Dalam dua ayat selanjutnya, Allah swt menggambarkan jawaban sekaligus penyesalan dari kaum kafir tentang sikap kufur selama hidup di dunia.

Ayat 9

Mereka mengakui bahwa selama di dunia, mereka telah mendapatkan informasi tentang risalah Islam dari para rasul dan penggantinya dari golongan wali dan ulama. Sayangnya, alih-alih membenarkan dan mengikuti kebenaran ini, mereka mengingkarinya, bahkan menuduh para rasul dan ulama dalam kesesatan yang nyata.

Kaum kafir melihat bahwasanya apa yang dibawa oleh para rasul bukanlah berasal dari Tuhan, dan mereka melihat tidak ada keistimewaan yang didapat oleh mereka sebagai pembawa risalah-Nya di muka bumi. “Kamu bukanlah seseorang, melainkan manusia seperti kita,” tandas mereka kepada para rasul.

“Kamu adalah orang-orang yang mengaku membawa kebenaran, padahal apa yang kamu sampaikan jauh darinya,” tambah mereka di hadapan para rasul.

Jelaslah mereka mengakui pengingkaran mereka terhadap risalah yang dibawa oleh para rasul dan diteruskan oleh para wali dan ulama. Ini adalah sebuah kezaliman yang telah mereka perbuat karena mereka sebenarnya telah diperingati tentang hal ini sebelumnya. Akan tetapi hawa nafsu mereka telah menutupi hati mereka untuk menerima kebenaran. Maka, sungguh sangat adil apabila Allah swt mengazab mereka di negeri akhirat.

Ayat 10

Akhirnya kaum kafir mengungkapkan penyesalan mereka yang tidak memanfaatkan anugerah telinga untuk mendengar dan akal untuk berpikir dan mencerna mencerna kebenaran yang dibawa oleh para rasul dan penerusnya dari golongan wali dan ulama, sehingga mereka tertipu oleh kenikmatan dunia dan konsekuensinya harus merasakan pedihnya siksa neraka di negeri akhirat.

Sejatinya, terselip dalam lubuk hati mereka keyakinan akan kebenaran wahyu Tuhan. Namun, karena nafsu angkara menjadi pegangan, hal ini menutup hati mereka untuk menerima kebenaran tersebut. Walhasil penyesalan menjadi sia-sia, dan mereka harus siap menghadapi siksa neraka.

Ayat 11

Penyesalan terhadap pengingkaran eksistensi Tuhan selama hidup di dunia menjadi sia-sia, karena alam akhirat adalah waktu pembalasan. Maka kebinasaan akan menghampiri bagi orang-orang kafir selama hidup mereka di akhirat, sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan selama hidup di dunia. (*)