Ukuran Kemuliaan 

Kemuliaan (Ilustrasi)/Pinterest

Dalam Islam, kelapangan harta tidak mesti ekuivalen dengan kemuliaan. Bisa jadi keadaan tersebut justru menjadi alat bagi Allah untuk “menjerumuskan” manusia-manusia pembangkang pada jurang kehinaan. Hal ini tertutama ditujukkan bagi orang-orang yang enggan mengakui kebesaran Tuhan, meskipun telah dianugerahi oleh-Nya kenikmatan yang sangat besar. 

Continue reading

Terbuka terhadap Kebenaran

Cendikiawan muslim pada abad pertengahan sangat terbuka dengan perkembangan ilmu pengetahuan (Pinterest)

Kita harus memiliki pikiran terbuka; memberikan kemungkinan-kemungkinan terhadap kebenaran yang masih terserak di luar sana sambil memasang sikap kritis dan memancangkan worldview Islam sehingga kita bisa lebih jernih dan selamat dalam melihat. 

Kejumudan berpikir seringkali bermula dari ketertutupan. Kaum Nabi Nuh as harus dibinasakan oleh Allah swt karena sikap mereka yang sangat tertutup terhadap kebenaran yang dibawa oleh salah satu Rasul-Nya. Begitupun dengan kaum-kaum lainnya yang tidak mau bersikap terbuka terhadap kebenaran-kebenaran yang dibawa oleh para nabi/rasul/ulama pencerah. 

Baca juga: Belajar dari Perjalanan Dakwah Nabi Nuh a.s. 

Sikap terbuka seringkali melahirkan peradaban yang maju. Umat Islam memutuskan untuk memasang sikap terbuka terhadap pemikiran-pemikiran Bangsa Yunani sambil tetap menggunakan sikap kritis terhadap hal-hal yang menyimpang dari akidah Islam. Bangsa Eropa tidak menutup diri untuk memungut reruntuhan peradaban dari komunitas Muslim sehingga mereka bisa berkembang sampai saat ini. 

Saya sangat setuju dengan salah satu prinsip yang digaungkan oleh pendiri Pondok Modern Gontor dalam panca jiwa dan moto lembaga; “berpikiran bebas”, setelah sebelumnya disebutkan prasyaratnya, yaitu sikap “berbudi tinggi, berbadan sehat dan berpengetahuan luas”. Ini mengindikasikan bahwa setelah kita mampu menempa budi kita dengan akhlak yang baik, jasad kita dengan kesehatan yang prima, dan otak kita dengan pengetahuan yang luas, maka saatnya kita bersikap terbuka untuk menerima kebenaran-kebenaran yang ada di luar sana. Pikiran kita tidak jumud, kaku dan berorientasi dengan masa lalu tapi luwes dan adaptif dengan hal-hal yang baru, – sekali lagi – selagi itu selaras dengan pakem-pakem yang ada. Di kalangan nahdliyin sikap ini terejawantahkan dalam sebuah ungkapan masyhur “al-muhafadzah ‘ala qodimi as-sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah,” memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. 

Dengan sikap seperti ini, Insya Allah diri kita kaya dengan hikmah/kebenaran yang terserak di luar sana. Seperti kata Rasulullulah saw, “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” Wallahu a’lam. [] 

Podcast Inspirasi Al-Quran: Terbuka terhadap Kebenaran

Menjaga Kehormatan

sumber foto: pinterest

MANUSIA diberikan fitrah dengan memiliki hasrat biologis berupa kehidupan seks. Namun, Islam mengatur hal ini sedemikian rupa sehingga berimplikasi pada tertibnya kehidupan sosial (social order) manusia. Kegiatan seks di luar nikah sangat dilarang dan aksi pornografi mendapatkan kritikan tajam.  

Ini adalah keindahan dari ajaran Islam: dia tidak bertentangan dengan fitrah penciptaan, namun tetap memberikan batasan-batasan demi ketertiban kehidupan sosial manusia di muka bumi. 

Sudah mafhum, seks bebas (free sex) menimbulkan banyak ekses negatif pada kehidupan sosial manusia. Salah satunya adalah efek psikologis yang muncul dari tindakan tercela ini. Al-Qur’an (dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 29 – 31) mengingatkan bahwa kebiasaan ini dapat menyebabkan sikap halu’, selalu gelisah ketika mendapatkan kesulitan hidup, dan rakus serta bakhil ketika mendapatkan rezeki lebih. Ini menunjukan tidak stabilnya kondisi psikologis orang yang terbiasa dengan seks bebas. 

Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa agar hidup kita tenang maka sebaiknya kita tinggalkan praktek seks di luar nikah. Sebagai solusinya, Islam menawarkan institusi keluarga yang memberikan ketentraman hidup yang lebih komprehensif dan menyentuh hampir seluruh aspek psikologis setiap individu. Solusi ini akan menjaga manusia agar tidak terjerumus dalam degradasi moral yang akut. Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar menulis, “Sudah jadi salah satu syarat menjaga hidup manusia di atas dunia ialah apabila dia mengatur persetubuhan dengan pernikahan.” 

Dalam wadah pernikahan, seseorang tidak hanya bisa menyalurkan nafsu biologisnya saja, tapi dia dapat berkolaborasi dengan partner menikah (baca: suami/istri) untuk mendapatkan target-target hidup. Mereka bisa bekerjasama untuk menciptakan kebahagiaan yang tidak mungkin didapat ketika hidup melajang. 

Hal penting lainnya dari institusi pernikahan adalah melestarikan keturunan. Legacy kita bisa abadi ketika dilanjutkan oleh anak cucu kita. Jika hari ini kita konsisten dalam menekuni tugas-tugas dakwah, misalnya, maka perjuangan ini bisa dilanjutkan oleh anak-anak masa depan yang dilahirkan sebagai buah cinta antara kita dan pasangan. 

Persetubuhan di luar nikah jelas menimbulkan efek sosial yang negatif. Di negara-negara Barat, banyak anak yang lahir tanpa sentuhan kasih sayang bapak dan/atau ibu, sehingga menyebabkan patologi sosial yang cukup akut. Masyarakat modern sangat gersang, dan dihantui oleh penyakit-penyakit jiwa yang beragam. Hidup mereka nampak baik sebagai buah dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, di balik itu, banyak dari mereka tersiksa karena tidak bisa mendapatkan ketentraman hidup yang hakiki. 

Islam mengatur kehidupan seks dan menyandingkannya dengan institusi pernikahan yang mulia. Ini tidak lain adalah resep atas kondisi psikologis masyarakat modern dibangun atas fondasi yang rapuh: nilai-nilai yang jauh dari ajaran agama. Dengan menghindari seks bebas, kehormatan manusia dijaga pada posisinya yang mulia. [] 

Percaya pada Hari Akhir – Kandungan Q.S. Al-Ma’arij ayat 26

dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,

Al-Ma’arij: 26

SIFAT keempat yang mengeluarkan seseorang dari fitrahnya yang selalu gelisah dan tamak adalah kesediaan untuk percaya atas kabar gaib tentang hari pembalasan. Nalar rasional selalu menolak eksistensi kehidupan setelah kematian, akan tetapi berita dari “langit” memberitahukan hal yang berbeda. Dan ternyata, kepercayaan ini berimplikasi pada bagaimana kita bersikap di kehidupan sekarang. 

Baca juga: Agar Terhindar dari Kegelisahan dan Ketamakan

Buya Hamka menyampaikan kepercayaan ini akan menjadi control system yang mengerem kehendak bebas yang dimiliki manusia. Manusia model ini akan sadar bahwa apa yang dia perbuat di dunia akan berimplikasi pada nasib mereka di kehidupan yang kedua. Untuk itu, dia akan selalu menyelaraskan hidupnya supaya tidak masuk dalam kubangan perbuatan-perbuatan maksiat yang desktruktif. 

Pernyataan Hamka tersebut sesuai dengan pernyataan Maroghi yang melihat bahwa keimanan sejati adalah keselarasan antara apa yang dikerjakan dengan apa yang dikatakan dan diyakini. Orang yang beriman pada hari pembalasan akan mengerjakan amalan yang berimplikasi baik dan menjauhi hal-hal yang bisa menghadirkan azab di akhirat. Ini adalah sebuah harmoni indah: keselarasan antara keyakinan, pikiran dan amalan. 

Manusia yang percaya akan adanya hari pembalasan berusaha bagaimana mengembalikan semuanya pada tuntunan Ilahi. Seberat apapun beban yang harus dia pikul, dia akan yakin bahwa itu berasal dari-Nya. Maka kegelisahan yang berlebih adalah sesuatu yang sia-sia. 

Baca juga: Dahsyatnya Siksa Neraka 

Sebaliknya, ketika dia ditakdirkan dengan kehidupan yang lapang, maka dia tidak akan melihatnya sebagai sebuah alasan untuk hidup penuh kepongohan, karena sejatinya semua berasal dari kasih sayang Allah swt. Dia tidak akan berpikir panjang untuk menggunakan previlege yang dia miliki untuk melakukan kerja-kerja kemanusiaan sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah dan empati kepada sesama manusia. Wallahu a’lam. [] 

Podcast: Agar Terhindar dari Kegelisahan dan Ketamakan

Terapi Jiwa

ilustrasi terapi jiwa

@syahruzzaky

BAGI sebagian orang hidup ini berat; menyisakan pelbagai cobaan dan tantangan yang seringkali melukai jiwa dan batin, sehingga menyelesaikan misi hidup dianggap sebagai sebuah jawaban. 

Bisa jadi kondisi jiwa tersebut membuat kita tertekan yang berujung munculnya penyakit-penyakit mental; depresi (depressed), cemas (anxious), atau bahkan schizophrenia. 

Ada orang – yang menderita dengan salah satu penyakit jiwa di atas – mengeluh ketika dikata-katai, “Lu mah jadi kayak gini karena kurang agamanya.” Dia menolak dan berdalih bahwa penyakit ini adalah bagian dari mental illness dan hanya akan sembuh apabila diobati melalui pengobatan psikologi atau psikiatri modern. 

Apa iya? 

Lalu kenapa ada orang stress dengan tekanan hidup, lalu memilih meditasi dan yoga sebagai bentuk terapi? 

Atau kenapa orang model Anand Krishna semakin populer di masyarakat urban yang penuh dengan masalah yang kompleks? 

Saya pikir labelling bahwa orang yang stress kurang agamanya ada benarnya. Lebih tepatnya mereka kurang memiliki kekuatan spiritual transenden yang menghubungkan dia dengan Dzat yang Maha Memiliki Kekuatan. 

Banyak orang Muslim mencari asupan ruhani ini dengan memilih praktik-praktik yang berasal dari tradisi agama lain. Yoga, misalnya, adalah olahraga yang berasal dari tradisi agama Hindu, tapi sangat digandrungi oleh kalangan Muslim.  

Saya tidak melarang untuk melaksanakan Yoga – asal itu murni olahraga kesehatan dan tidak disusupi pengajaran nilai-nilai filsafat agama Hindu. Tapi sangat naif apabila kita justru lebih memilih praktik agama lain, daripada apa yang telah ditawarkan oleh agama kita dalam rangka pemenuhan jiwa? 

Islam memiliki seperangkat metode pemenuhan kebutuhan spiritualitas dalam bentuk ibadah ritual yang sudah baku. Asal kita tidak terjebak pada pemikiran fiqih-oriented, yang menganggap Islam hanya dari aspek pemenuhan syarat-syarat ibadah ritual, insya Allah agama kita kaya akan dimensi spiritualitas. 

Orang menyebutnya tasawuf. Ada juga yang mengatakan akhlak. 

Saya tidak akan berbicara tentang tasawuf, karena hal ini akan membutuhkan penjelasan yang cukup panjang. Tapi, mari kita ambil salah satu ritual ibadah yang sangat familiar dan sering dilakukan oleh seorang Muslim: shalat. 

Shalat memiliki dimensi spiritual yang sangat kaya. Dilihat dari makna harfiahnya, shalat adalah doa. Kita tahu bahwa doa adalah penghubung antara hamba dan Tuannya. Shalat menawarkan kesempatan bagi seorang hamba untuk secara intens berhubungan dengan Tuan-nya melalui lafal-lafal yang diucapkan. 

Coba resapi dahsyatnya makna doa iftitah, al-fatihah, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara sujud dua, tasyahud awal dan akhir. Doa-doa tersebut yang menghubungkan antara seorang Muslim dengan Tuhan-nya. Bayangkan dia melakukan ritual ini minimal lima kali sehari!

Sekali lagi, ini akan berhasil jika kita tidak melihat shalat sebagai ritual fisik saja, tapi lebih dari itu, sebagai ritual pemenuhan jiwa yang penuh makna. Banyak ulama yang telah memaparkan hal ini. Silahkan baca “Bidayatul Hidayah”-nya Al-Ghazali atau “Buat Apa Shalat”-nya Haidar Bagir untuk lebih mengeksplorasi lebih jauh tentang ini.

Al-Qur’an (Q.S. 70, 19-23) sendiri berpesan bahwa shalat adalah salah satu obat agar kita terhindar dari penyakit halu’ – selalu mengeluh ketika tertimpa bencana dan enggan berbagi ketika sedang mendapatkan kelapangan hidup. Situasi yang sangat dekat dengan masyarakat urban modern sekarang. 

***

Saya tidak hendak menafikan peran psikologi atau psikiatri sebagai disiplin ilmu yang menawarkan pengobatan bagi penyakit-penyakit jiwa (mental illness), tapi sungguh naif apabila kita meninggalkan solusi yang ditawarkan agama kita sebagai obat bagi penyakit-penyakit tersebut. Apalagi jika kita lebih memilih praktik-praktik pengobatan tradisional yang berasal dari tradisi agama lain, padahal agama kita memiliki khazanah ritual yang sangat kaya yang berkaitan dengan problem ini. 

Mari kita bersama meresapi agama pada bentuknya yang lebih dalam, tidak berhenti di luarannya (surface) saja. [] 

Tentang Kesendirian di Alam Akhirat: Hanya Amal Saleh yang Mampu Menyelamatkan Kita

Ilustrasi kesendirian/Pinterest.

@syahruzzaky

Ketika hidup di dunia, banyak orang-orang terlibat membantu kita. Saat kecil, kita sangat tergantung dengan uluran tangan orang tua – entah itu orang tua biologis, maupun orang dewasa yang berperan sebagai pengasuh di rumah-rumah sosial. Kita tidak bisa hidup tanpa bantuan mereka. 

Guru-guru di sekolah membantu kita untuk mempersiapkan diri menuju fase kemandirian. Mereka melatih kita untuk membaca dan menulis – skill yang sangat fundamental untuk bertahan hidup. Selain itu, di sekolah kita belajar berinteraksi dengan orang lain – hal yang harus kita lakukan di sisa hidup kita, apabila ingin bertahan hidup. 

Sayangnya, sekolah tidak benar-benar membuat kita mandiri. Semandiri-mandirinya orang – bahkan orang yang mempraktekan hikikomori di Jepang – tetap membutuhkan orang lain untuk bisa melanjutkan hidup. Di dunia kerja, misalnya, kita bergantung dengan rekan kita dari divisi penjualan, agar produk yang kita kembangkan bisa terjual dengan baik di masyarakat. Bahkan, eksistensi masyarakat secara keseluruhan sebagai konsumen produk kita sangat membantu kita untuk bisa terus hidup. 

Kalau ada orang yang berseloroh dia dapat hidup mandiri, karena memiliki banyak uang yang dihasilkan hasil jerih payah kerjanya, maka itu adalah omong kosong. Orang terkaya di Indonesia, Bambang Hartono, pemilik Bank BCA dan perusahaan rokok Djarum, sangat bergantung pada karyawan-karyawannya – yang bekerja tak kenal lelah untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang dari hari ke hari membuat dia semakin kaya. Lucunya, kehidupan Hartono juga ditentukan oleh seorang penarik becak, yang sedang mengisap rokok Djarum Coklat di pojok jalan, di saat menunggu datangnya penumpang. Padahal sang penarik becak harus berjuang keras untuk bisa makan dalam sehari. Sungguh ironis. 

Maka sungguh tepat ketika Aristoteles menyimpulkan bahwa manusia itu adalah zoon politicon, makhluk yang membutuhkan sosialisasi untuk bisa bertahan hidup. Faktanya, tidak ada manusia yang benar-benar bisa hidup sendirian. Kalaupun ada, dia tetap harus meminta bantuan alam sekitarnya. 

Hal ini sangat kontras dengan kehidupan yang akan kita hadapi di akhirat. Di sana, tak ada satu orang pun yang bisa membantu kita, kecuali diri kita sendiri (melalui amal saleh yang kita kumpulkan selama hidup di dunia). 

Bahkan, orang-orang yang kita anggap dekat pun (mis., orang tua, anak, istri, sahabat karib) tidak bisa membantu kita. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Semua orang berubah menjadi egois, karena memikirkan apakah mereka akan hidup dengan penuh kebahagiaan atau kesengsaraan di fase kedua kehidupan berikutnya (alam akhirat). 

***

Menyadari bahwa dirinya tidak akan selamat dari azab neraka, orang kafir membuat penawaran dengan Allah swt. Mereka ingin membuat penebusan dosa dengan memberikan jaminan, yaitu  anak-anak mereka, isteri dan saudara mereka, kaum famili yang terbiasa melindungi mereka, bahkan seluruh umat manusia yang pernah ada. Sebagai imbalan, mereka berharap bisa selamat dari azab neraka yang pedih. Hal ini seperti yang terdokumentasikan dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 11 – 15: 

“… Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” 

Q.S. Al-Ma’arij ayat 11 – 14

Tentu saja jaminan itu tidak dapat diterima. Allah swt terang-terangan menyatakan tidak. Dia swt berfirman,

Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak,

Q.S. Al-Ma’arij ayat 15


“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”

Q.S. Abbasa ayat 34 – 37 

Bahkan seperti yang disinggung dalam artikel tentang Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij bagian pertama, Fakhruddin Ar-Razi menyatakan bahwa kebijaksanaan mewajibkan Allah s.w.t untuk tidak mencegah datangnya azab bagi orang-orang kafir.  

Begitulah, di alam akhirat, hanya amalan kita – yang diliputi rahmannya Allah – yang bisa menyelamatkan kita dari azab neraka. Tidak ada koneksi dalam, atau hal lainnya yang bisa kita sogok seperti di dunia. Wallahu a’lam. []

Condong, 18 Juni 2020

06:28

Kenikmatan Ukhrowi

Banyak orang yang berlomba untuk meraih kebahagiaan di dunia dengan mengeluarkan segenap upaya yang mereka miliki. Tak jarang, untuk meraih itu, mereka harus mengorbankan kehidupan keluarga, masa muda, bahkan kesempatan beribadah sebagai bekal menuju alam akhirat. 

Tentunya, Islam tidak melarang setiap manusia bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup di dunia. Namun, seyogyanya itu dilakukan secukupnya, tidak menunjukkan sikap berlebih-lebihan. “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela; yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung; dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya; sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthomah,” Allah s.w.t mengingatkan kita dalam Q.S. Al-Humazah ayat 1 – 4. 

Tidak jarang dari mereka yang tidak bisa membedakan mana kenikmatan yang semu dan mana yang sebenarnya. Paham empirisme dan materialisme membutakan mata kita dengan membuat sebuah pemahaman bahwa yang real adalah apa yang kita temukan sekarang di dunia. Itulah yang konkret. Sedangkan surga dan neraka adalah sesuatu yang belum pasti kebenarannya, karena tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. 

Pandangan hidup Islam menolak pemahaman ini. Tentu, dalam satu sisi, kita bisa menerima empirisme, tapi itu bukanlah satu-satunya sumber kebenaran. Dalam perspektif Islam, akhirat adalah lebih baik dari dunia. Allah s.w.t menjelaskannya dalam Q.S. Ad-Duha ayat 4, “Dan sesungguhnya hari kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan/dunia).”

Lebih jauh Al-Quran memberikan gambaran perbandingan dunia dan akhirat. Dari segi waktu, misalnya, satu hari di akhirat berbanding dengan lima puluh ribu tahun di dunia. Tentu, ini tidak berpretensi menunjukan gambaran spesifik perbandingan waktu antara dunia dan akhirat, akan tetapi dari sini kita bisa mengetahui bahwa perbandingan dunia dan akhirat dari perspektif waktu bak sumur dan langit, sangat jauh menganga. 

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.  

Q.S. Al-Ma’arij ayat 4.

Jika kita telah memahami bahwa kehidupan dunia sangat kecil bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat, tentu kita akan menentukan prioritas yang tepat. Kita tidak akan dibutakan oleh kenikmatan dunia, akan tetapi akan menjadikannya sebagai bekal supaya kita bisa menikmati indahnya kehidupan di akhirat kelak. 

Lalu kenikmatan ukhrowi apa yang sesungguhnya kita idam-idamkan? 

Apakah itu bidadari yang cantik dan perawan? Atau khamr yang nikmat dan memabukkan? Atau bisa jadi rumah yang megah dan indah? 

Alangkah rendahnya derajat kita apabila kenikmatan ukhrowi diukur oleh hal-hal berbau materialis tersebut. Memang, surga menyediakan hal itu semua – seperti yang termaktub dalam ratusan ayat al-Qur’an tentang deskripsi kenikmatan surgawi. Namun, dibalik itu semua ada kenikmatan yang lebih tinggi dan seharusnya menjadi dambaan seorang Mukmin hakiki. Yaitu, kenikmatan musyahadah melihat Allah s.w.t (rukyatullah) secara langsung – sesuatu hal yang musykil kita dapatkan ketika masih hidup di dunia. Allah s.w.t bersabda, “Wajah orang-orang yang berbahagia pada Hari Kiamat akan berbinar, bersuka cita dan bergembira, wajah-wajah itu akan melihat Penciptanya dan pemegang urusannya, maka wajah-wajah itu mendapatkan kenikmatan karenanya.” Q.S. Al-Qiyamah 22-23. 

Wallahu a’lam bisshawab. []

Nadhir bin Haris – Inspirasi Q.S. Al-Ma’arij Ayat 1 – 7

Ejekan tentang neraka yang tertempel di kaos oblong. (Google)

Komunitas Al-Muhajirin

SIKSA neraka tampak mustahil apabila dilihat dari perspektif ilmu modern yang bertumpu pada perkawinan antara empirisme dan positivisme. Sudah maklum kedua aliran filsafat ini terang-terangan menolak metafisika, termasuk penjelasan tentang surga dan neraka seperti yang disampaikan oleh para teolog. 

Maka jangan jengah, ketika mengetahui mayoritas ilmuwan Barat, bahkan pada titik tertentu sudah menjangkit masyarakat awamnya – tidak percaya hal-hal yang bersifat gaib, baik itu kabar tentang alam akhirat, moralitas keagamaan, bahkan pada puncak tertinggi menolak eksistensi Tuhan. 

Tidak sedikit dari mereka menjadikan agama sebagai bahan olok-olok, termasuk ketika meminta agar azab yang dijanjikan oleh teks-teks keagamaan (religious scriptures) kepada golongan mereka segera menghampiri. Ketika permintaan mereka tidak terpenuhi, itu menjadi lahan bagi mereka untuk mengafirmasi bahwa ajaran agama adalah khayalan manusia belaka. 

Perilaku ini bukanlah monopoli para sapiens abad ke-21, akan tetapi juga sudah terjadi ketika zaman Rasul saw masih hidup. 

Suatu saat Nadhir bin Haris, seorang pemuka Suku Quraisy, meminta kepada Nabi saw agar segera mendatangkan azab yang Dia s.a.w janjikan seperti yang termaktub dalam Al-Quran. Dia berkata,

Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih

(Q.S. Al-Anfaal: 32)

Tentunya, ini bukanlah permintaan yang tulus, akan tetapi bentuk kepongahan dan olok-olok atas ajaran yang dibawa oleh Nabi s.a.w; supaya dia bisa mengejek beliau ketika permintaannya tidak dapat terpenuhinya. Untungnya, Allah s.w.t menunjukan kuasa-Nya dengan menghinakan dia di Perang Badar. Nadhir tewas dengan naas dalam tragedi tersebut. 

Karena sifatnya yang gaib, banyak orang kafir tidak mau percaya azab yang telah dijanjikan oleh Allah s.w.t melalui risalah kenabian. Mereka berpegang pada fakta empiris bahwa pembangkangan tidak ada korelasinya dengan hidup sengsara di dunia. 

Dulu, ada seorang dosen UIN yang membuat eksperimen dengan tidak shalat selama tiga bulan lamanya. Ia ingin membuktikan bahwa bahwa hidupnya akan tenang-tenangnya meskipun membangkang perintah-Nya. Ketika tidak terjadi apa dalam hidupnya, ia menyimpulkan bahwa tidak ada korelasi antara kekufuran dengan azab yang dijanjikan Allah s.w.t.

Lalu, bagaimana Al-Qur’an mengomentari fenomena ini? 

Dalam Q.S. Ali Imran: 178, Allah s.w.t bersabda,  

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.

Q.S. Ali Imran: 178

Itu artinya, Allah s.w.t sengaja menangguhkan azab mereka di dunia supaya mereka tetap terlena dengan dosa-dosa mereka, sehingga ketika azab itu datang (baca: kematian), mereka tidak pernah siap untuk menghadapinya. 

Meskipun secara fisik tidak terjadi apa-apa pada dosen UIN tadi, secara non-fisik telah terjadi ‘azab’ pada aspek rohaninya, di mana hidayah Allah s.w.t yang telah ia dapatkan semenjak kecil, harus terlepas dalam genggaman. Dalam perspektif kita, itu adalah azab terberat yang Allah s.w.t berikan pada setiap insan di muka bumi. Wallahu a’lam. [] 

Surga, Neraka, dan Wujud Cinta Hamba kepada Tuhannya

Komunitas Al-Muhajirin

SEPENDEK pengetahuan saya, Islam adalah agama rasional; ajaran-ajarannya mudah dicerna oleh akal manusia dan selaras dengan fitrah penciptaan manusia, sebagai salah satu makhluk yang dibebankan taklif oleh Allah s.w.t.

Fitrah manusia adalah suka dengan kesenangan dan takut akan penderitaan. Oleh karena itu, Islam – sebagai agama yang selaras dengan fitrah – memiliki konsep targhib, janji terhadap kesenangan dan kenikmatan akhirat yang disertai bujukan; dan tarhib, ancaman yang menimbulkan ketakutan secara mendalam kepada orang yang diancam.

Konsep ini relevan dengan peran Alquran sebagai tabsyir, pembawa kabar gembira sekaligus indzar, pembawa peringatan. Kabar gembira ditujukan bagi orang-orang mukmin, sedangkan ancaman disodorkan bagi orang-orang kafir, musyrik dan munafik. 

"Sungguh, Al-Qur'an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar." (Q.S Al-Isra' ayat 9).
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (QS. Asy-Syuro:7)

Lebih spesifik lagi, Islam menawarkan surga (targhib) bagi mereka yang memanfaatkan kesempatan hidup di dunia dengan ketaatan dan ketakwaan kepada Allah s.w.t. dan neraka (tarhib) bagi mereka yang enggan mengikuti jalan  kebenaran – yaitu risalah tauhid. 

Uniknya, Alquran menggambarkan surga dan neraka dengan bahasa yang dapat dicerna oleh manusia. Misalnya, surga digambarkan sebagai tempat berkumpulnya semua jenis kesenangan seperti bidadari cantik yang masih perawan, arak yang menyegarkan, sungai-sungai indah yang tidak pernah surut, bantalan-bantalan hijau permadani, dan gambaran sempurna lainnya – yang tentu akan menarik manusia untuk meraihnya.  

Sebaliknya, Alquran mendeskripsikan neraka sebagai hal yang kontras dari kenikmatan surgawi; kepedihan dan kesengsaraan yang tak berujung. Neraka digambarkan sebagai tempat yang berisi api yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, makanan dan minumannya sangat tidak enak dan beracun seperti pohon zaqum yang pahit, pohon dhori’ yang berduri, ghislin cairan berupa darah dan nanah, air hamim yang mendidih, air shodid dari nanah dan gambaran negatif lain yang mungkin akan membuat manusia sangat takut untuk membangkang dan lari pada kebenaran.  

Meskipun demikian, kita mafhum, bahwasanya kita tidak akan mampu untuk mengetahui gambaran surga dan neraka yang sesungguhnya, karena apa yang digambarkan oleh Al-Qur’an hanyalah media untuk mamahamkan manusia. Tentang deskripsi surga yang sebenarnya, Allah s.w.t bersabda dalam hadits qudsi,

"Aku telah menyediakan buat hamba-hamba-Ku yang shalih (kenikmatan) yang belum pernah mata melihatnya, telinga mendengarnya dan terbetik dari lubuk hati manusia".

Maka dari itulah, para ulama ahli tafsir berpendapat bahwa Al-Qur’an turun dengan bahasa yang bisa dipahami oleh manusia (Bahasa Arab), meskipun secara hakikat, Al-Qur’an bersifat qadim, karena menjadi bagian tidak terpisahkan dari Kalam Allah s.w.t.

Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). (Q.S. Az-Zukhruf:3)

Dalam pandangan saya, konsep targhib dan tarhib yang telah diulas di muka, adalah bukti lain bahwa ajaran Islam relevan dengan fitrah manusia. Konsep ini sangat mirip dengan salah mazhab psikologi yang sangat terkenal, behaviorisme. Meskipun kontroversial, teori ini cukup mendapatkan perhatian para ahli dan banyak diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Beribadah dengan pamrih surga dan neraka memang dibenarkan, karena selaras dengan nash Al-Qur’an. Akan tetapi, dalam perspektif tasawuf, hal ini dianggap tidak etis. Tasawuf yang melandaskan ajarannya pada konsep cinta, menempatkan Allah s.w.t sebagai puncak alasan bagi seluruh gerak nadi kita di dunia.

Demi mengungkapkan cintanya kepada Sang Pencipta, banyak sufi yang berkata, “saya rela masuk neraka, asal itu merupakan titah Allah s.w.t dan pengorbanan yang harus saya tempuh untuk mendapatkan cinta-Nya.” []

Pertarungan Wacana – Inspirasi Alquran

sumber foto: pinterest

PERTARUNGAN wacana senantiasa menghiasi ruang publik kita. Dulu, ketika Nabi saw sedang fokus menyebarkan dakwah, dan hal itu dirasa mengancam eksistensi kaum kafir Quraisy – terutama para pembesarnya, beliau mendapatkan serangan baik secara fisik maupun psikis.

Khusus serangan psikis, itu ditujukan untuk menyerang Rasul saw secara psikologis melalui pelemparan wacana kepada khalayak ramai, agar dia saw dan pengikutnya merasa terpojok dalam ruang publik. Salah satu serangan yang gencar dilakukan adalah penyebaran isu bahwasanya Nabi saw memiliki cacat mental. Serangan ini nampaknya cukup efektif. Buktinya beberapa kali Rasul saw down, dan secara khusus harus mendapatkan motivasi dari Allah swt melalui wahyu yang diturunkan.

Namun, tidak ada yang bisa menahan laju kehendak Allah swt. Beberapa counter-attack dilakukan melalui turunnya wahyu yang merespon serangan ini. Wahyu tersebut memiliki dua fungsi: sebagai healing bagi Nabi saw dan pengikutnya sekaligus menjadi serangan balik bagi kaum Kafir Quraisy.

Dan nyatanya Alquran melakukan hal ini dengan sangat baik; memberikan fakta-fakta logis yang memperkuat argumen serangan.  Pertama, Alquran menjelaskan bahwa bagaimana mungkin orang yang baik akhlaknya dan luhur budinya – seperti halnya Rasul saw – bisa dicap sebagai orang gila. Tentu ini sangat bertentangan dengan akal sehat. Kedua, argumen yang menunjukan bahwa justru serangan tanpa tedeng-aling tersebut mempertontonkan keputus-asaan mereka dalam menahan laju dakwah Rasul saw, sehingga tuduhan tentang cacat mental justru dengan mudah kembali kepada mereka.

***

Fakta sejarah di atas menunjukan bahwa perebutan wacana dalam ruang publik sudah lumrah dilakukan sebagai salah satu strategi dalam menyerang lawan secara psikologis. Ini juga yang kita lihat dalam proses berbangsa di negeri ini, terutama ketika menghadapi hajat limat tahunan pemilihan umum.  

Dalam masa kampanye ruang publik kita penuh dengan saling lempar tuduhan antar pendukung paslon: antek PKI, antek-asing, anti-ulama, antek-hizbut tahrir, radikal, dan tuduhan peyoratif lainnya yang berfungsi untuk menghancurkan karakter lawan. Dan ini berhasil: publik mengonsumsi mentah-mentah isu ini sehingga menimbulkan kecurigaan antar anak bangsa.

Paska pencoblosan, hiruk pikuk tak otomatis berhenti. Kedua kubu saling klaim kemenangan dan melancarkan wacana-wacana yang memengaruhi publik. Beberapa saluran komunikasi massa dimanfaatkan untuk melancarkan usaha ini sehingga setiap detik ruang publik kita senantiasa riuh dengan bahasa perpolitikan tanpa ujung ini.

Entah siapa yang benar, akan tetapi hal ini jelas kontra-produktif mengingat yang sedang berkelahi adalah sama-sama anak bangsa, bukan antara kafir dengan muslim seperti yang terjadi di zaman Rasul saw. Atau antara kolonial dengan pribumi seperti yang terjadi pada masa pra-kemerdekaan.

Dalam pandangan picik saya sudah saatnya kita mengakhiri konflik horizontal tak berkesudahan ini. Energi bangsa ini insya Allah akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk perbaikan umat ke depan. Semoga Allah swt senantiasa melindungi seluruh bangsa Indonesia. Wallahu a’lam. []