Pertarungan Wacana – Inspirasi Alquran

sumber foto: pinterest

PERTARUNGAN wacana senantiasa menghiasi ruang publik kita. Dulu, ketika Nabi saw sedang fokus menyebarkan dakwah, dan hal itu dirasa mengancam eksistensi kaum kafir Quraisy – terutama para pembesarnya, beliau mendapatkan serangan baik secara fisik maupun psikis.

Khusus serangan psikis, itu ditujukan untuk menyerang Rasul saw secara psikologis melalui pelemparan wacana kepada khalayak ramai, agar dia saw dan pengikutnya merasa terpojok dalam ruang publik. Salah satu serangan yang gencar dilakukan adalah penyebaran isu bahwasanya Nabi saw memiliki cacat mental. Serangan ini nampaknya cukup efektif. Buktinya beberapa kali Rasul saw down, dan secara khusus harus mendapatkan motivasi dari Allah swt melalui wahyu yang diturunkan.

Namun, tidak ada yang bisa menahan laju kehendak Allah swt. Beberapa counter-attack dilakukan melalui turunnya wahyu yang merespon serangan ini. Wahyu tersebut memiliki dua fungsi: sebagai healing bagi Nabi saw dan pengikutnya sekaligus menjadi serangan balik bagi kaum Kafir Quraisy.

Dan nyatanya Alquran melakukan hal ini dengan sangat baik; memberikan fakta-fakta logis yang memperkuat argumen serangan.  Pertama, Alquran menjelaskan bahwa bagaimana mungkin orang yang baik akhlaknya dan luhur budinya – seperti halnya Rasul saw – bisa dicap sebagai orang gila. Tentu ini sangat bertentangan dengan akal sehat. Kedua, argumen yang menunjukan bahwa justru serangan tanpa tedeng-aling tersebut mempertontonkan keputus-asaan mereka dalam menahan laju dakwah Rasul saw, sehingga tuduhan tentang cacat mental justru dengan mudah kembali kepada mereka.

***

Fakta sejarah di atas menunjukan bahwa perebutan wacana dalam ruang publik sudah lumrah dilakukan sebagai salah satu strategi dalam menyerang lawan secara psikologis. Ini juga yang kita lihat dalam proses berbangsa di negeri ini, terutama ketika menghadapi hajat limat tahunan pemilihan umum.  

Dalam masa kampanye ruang publik kita penuh dengan saling lempar tuduhan antar pendukung paslon: antek PKI, antek-asing, anti-ulama, antek-hizbut tahrir, radikal, dan tuduhan peyoratif lainnya yang berfungsi untuk menghancurkan karakter lawan. Dan ini berhasil: publik mengonsumsi mentah-mentah isu ini sehingga menimbulkan kecurigaan antar anak bangsa.

Paska pencoblosan, hiruk pikuk tak otomatis berhenti. Kedua kubu saling klaim kemenangan dan melancarkan wacana-wacana yang memengaruhi publik. Beberapa saluran komunikasi massa dimanfaatkan untuk melancarkan usaha ini sehingga setiap detik ruang publik kita senantiasa riuh dengan bahasa perpolitikan tanpa ujung ini.

Entah siapa yang benar, akan tetapi hal ini jelas kontra-produktif mengingat yang sedang berkelahi adalah sama-sama anak bangsa, bukan antara kafir dengan muslim seperti yang terjadi di zaman Rasul saw. Atau antara kolonial dengan pribumi seperti yang terjadi pada masa pra-kemerdekaan.

Dalam pandangan picik saya sudah saatnya kita mengakhiri konflik horizontal tak berkesudahan ini. Energi bangsa ini insya Allah akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk perbaikan umat ke depan. Semoga Allah swt senantiasa melindungi seluruh bangsa Indonesia. Wallahu a’lam. []

Advertisements

Istidraj – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 44-45

pinterest

Apakah nikmat yang Allah swt berikan adalah anugrah kemuliaan dari-Nya? Belum tentu. Bisa jadi justru itu adalah bentuk penghinaan-Nya sebagai balasan atas pengingkaran pada syariat-Nya dan pembangkangan terhadap-Nya.

How come?

Kenikmatan jenis ini – yang sejatinya adalah penghinaan atau dalam bahasa Alquran dinamakan istidraj – entah itu berbentuk umur yang panjang, kesehatan yang prima, dan harta yang melimpah adalah bentuk penangguhan Allah swt atas azab yang akan Dia timpakan kepada penerimanya.

Limpahan nikmat tersebut akan membuat mereka terlena dan merasa percaya diri: everything’s fine with their life. Lalu, hal itu membuat mereka tidak perlu merasa bersalah, meskipun telah menjadi bagian terdepan dari mereka yang menentang syariat Allah swt.

Mereka percaya bahwa menyerang syariat-Nya tidak akan berdampak apa-apa, baik itu untuk kehidupan mereka di dunia maupun di akhirat. Buktinya, selama ini mereka baik-baik saja. Mereka tidak salat, misalnya, akan tetapi tetap bisa makan, bahkan melebihi dari apa yang didapat oleh orang-orang yang tunduk pada syariat-Nya.

Seperti yang telah saya ungkapkan di muka, sejatinya nikmat tersebut adalah tipu daya Allah swt terhadap mereka, sehingga mereka tidak sadar bahwa suatu saat nanti, secara perlahan, Allah swt akan menjerumuskan mereka pada jurang kehinaan. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah min zalik.


Allah swt menangguhkan azab bagi orang zalim – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 43 – 52

pinterest.

Seringkali Allah swt mengazab kaum zalim dalam arah yang tidak mereka sadari. Ujug-ujug terjadi bencana. Tanpa tedeng aling timbul resesi ekonomi.

Azab Allah swt sifatnya tidak cash and carry. Tapi seringkali ditangguhkan. Sehingga sangat mungkin ini membuat mereka merasa congkak dan aman dari konsekuensi pengingkaran terhadap kebenaran Alquran.

Lihat saja sekarang. Orang-orang yang melakukan kerusakan di muka bumi ini bisa hidup aman. Bahkan mereka mengolok-olok kaum beriman, “Lihatlah kami! Tanpa beriman kepada Tuhan pun, kita bisa hidup dengan aman dan tenteram.”

Namun, kita sebagai manusia beriman percaya bahwa azab Allah swt pastilah adanya. “Kami menangguhkan azab kepada mereka, tapi rencana Kami sangatlah dahsyat,” begitu firman Allah dalam Q.S. Al-Qalam ayat 45.

Ini adalah ancaman keras dari Allah swt kepada orang-orang yang mendustakan Alquran. Memang Allah swt kadang lembut dan demokratis, tapi di lain tempat bisa jadi sangat keras kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran Alquran. Tentu kita sebagai umat beriman harus bijak menyikapinya.

Alangkah baiknya peringatan ini, sebelum ditujukan kepada orang lain, diarahkan dulu pada diri kita pribadi, keluarga dan lingkungan di sekitar kita. Apakah kita sudah menjadi orang yang pertama kali mencintai dan mengamalkan Alquran? Apakah keluarga dan lingkungan kita sudah melakukan hal yang sama dengan kita? Saya kira itu lebih baik, dari sekedar menunjuk hidung orang lain dan merasa diri paling benar. Wallahu a’lam. []

Tentang resistensi kaum kafir, biarkan Allah swt menunaikan janji-Nya – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 44 – 52

Richard Dawkins. Pinterest.

SUDAH menjadi mafhum bahwa perjuangan menegakkan risalah Allah swt di muka bumi akan disertai jalan terjal berupa cemoohan, olok-olok bahkan ancaman pembunuhan.

Apalagi konteks sekarang, ketika ras manusia berada pada puncak kemajuannya, akan sangat sulit bagi mereka untuk menerima kebenaran yang berasal dari Tuhan yang termaktub dalam kitab suci yang dibawa oleh Nabi saw.

Saat ini pertentangan ideologi dan nilai-nilai semakin keras di saat tumbuh subur isme-isme hasil dialektika manusia dengan alam pikirannya dan realitas sosial. Paham-paham yang mengingkari eksistensi Tuhan dan menolak syariat-Nya semakin beragam dan berevolusi menjadi sebuah gerakan kesadaran terutama dukungan terhadap humanisme dan penyelidikan ilmiah.

Orang model Richard Dawkins tidak hanya mendeklarasikan diri sebagai seorang ateis, akan tetapi juga menjadi ‘nabi’ bagi orang-orang yang menolak eksistensi Tuhan. Selayaknya nabi pada umumnya, dia membuat sebuah gerakan masif untuk memengaruhi masyarakat tentang betapa pentingnya penyelidikan ilmiah dan bahaya ‘tahayul’ agama dalam gerakan ini.

Usaha yang dilakukan Dawkins yang didukung oleh para pesohor dunia maupun lokal akan terus berbenturan dengan para agamawan yang menjalankan misi mereka untuk melanjutkan perjuangan para nabi dalam menyebarkan risalah Tuhan.

‘Perang’ ini tidak hanya terjadi dalam ruang fisik, akan tetapi muncul juga dalam ruang non-fisik (maya) yaitu perseteruan di media sosial, bahkan dalam eskalasinya dalam titik tertentu melebihi dunia nyata.

Maka wajar apabila muncul olokan dari mereka kepada kaum agamawan dan manusia beragama lainnya sebagai kaum delusional yang tertipu sihir kitab suci, seperti halnya Nabi Muhammad saw dicap sebagai orang gila oleh pembesar Kafir Quraisy.

Dalam merespon serangan terhadap misi Nabi saw dan para penerusnya, Allah swt menegaskan kepada mereka untuk tidak terlalu memikirkannya. Apapun cobaan yang mereka hadapi, dakwah harus terus berjalan. The show must go on. Kita tidak boleh selangkah pun mundur dari perjuangan ini.

Allah swt menyuruh kita untuk mengambil pelajaran dari pertaubatan Nabi Yunus as yang meninggalkan misi perjuangan hanya karena mendapatkan resistensi dari kaumnya. Untungnya, beliau menyadari kesalahannya dan diangkat derajatnya oleh Allah swt sebagai orang-orang yang salih dalam barisan para nabi dan rasul.

Adapun perhitungan bagi mereka yang konsisten menentang misi ini, kita kembalikan kepada Allah swt. Dia swt berjanji bahwa mereka akan setahap demi setahap menerima balasan dari-Nya dari arah yang mereka tidak ketahui. Kalaupun tidak sekarang, suatu saat nanti, mereka akan menerima konsekuensinya. Kalau tidak dunia, tentu mereka tidak akan mengelak dari siksa Allah di akhirat kelak.

Tentang hinaan dan olokan kaum sekuler yang tidak suka Islam menyebar di muka bumi, kita harus menahan diri. Jangan itu membuat kita kalap, sehingga kita membalasnya dengan serupa olokan yang jauh dari akhlak Islam. Atau menjadi merasa letih dan memutuskan untuk berhenti dalam berjuang. Kita kembalikan semuanya kepada Allah swt. Wallahu a’lam. []

Jalan Tobat

Jalan Tobat

SAAT kiamat nanti, kaum Kafir diminta untuk bersujud di hadapan Allah swt, tapi mereka tak akan mampu (Q.S. Al-Qalam: 42). Terlalu berat bagi mereka untuk melakukan itu karena terbiasa dengan kekufuran selama hidup di dunia.

Beberapa ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sujud di sini adalah penghormatan kepada Allah swt.

Tersibak dalam pandangan mereka balasan atas konsistensi ingkar saat mereka masih hidup di kehidupan sebelumnya. Bulu kuduk mereka merinding membayangkan sulitnya fase kehidupan yang akan mereka hadapi. Tapi apa daya, pertobatan pada saat itu tidak dimungkinkan lagi. Oleh sebab itulah, hari itu dinamakan sebagai ‘Hari Pembalasan”.

Sebenarnya, tidak usah jauh-jauh menunggu bukti dari kebenaran ayat ini; bahwa konsistensi kekufuran akan membuat kita sulit untuk beriman, meskipun ancaman siksaan sudah ada di pandangan mata. Di dunia, seringkali kita sulit untuk berbelok pada arah jalan benar, ketika kita sudah terbiasa dengan jalan kemungkaran.

Misalnya, ada orang yang sudah terbiasa dengan pergumulan dosa. Terus dia mendapatkan balasan atas usahanya dengan ditimpakan kesusahan yang sangat pedih. Bisa jadi dia punya harta melimpah, tapi hati tetap tidak tenang. Bisa jadi ketenaran berada di gengaman, akan tetapi keluarga hancur berantakan.

Ingin rasanya kembali ke Haribaan Yang Maha Kuasa, tapi usaha itu sangat terasa sulit. Seakan ada seutas tali yang direkatkan pada sebongkah batu dan membebani kita untuk berlari menuju jalur pertobatan. Hanya usaha yang keras dan hidayah Allah yang mampu melepaskan kita dari jeratan tali tersebut.

Kabar baiknya, selama di dunia, sebelum ajal sudah ada di urat leher, Allah swt masih membuka pintu tobat bagi hamba-Nya. Maka sangat tidak elok apabila kita menunda-nunda usaha kita untuk kembali ke jalan yang diridhai-Nya. []

Kebohongan dan Sumpah Palsu – Inspirasi al-Qur’an Q.S. Al-Qalam (68: 10)

ufunk.net / pinterest

DI negeri antah berantah sana, jutaan manusia geger dengan pengakuan seorang insan akan sebuah kejadian yang ternyata hanya sebuah kebohongan yang dibuat-buat. Bagaimana tidak, beberapa hari sebelumnya mereka merasa iba dan simpati atas musibah yang menimpanya, tapi di kemudian hari dia melakukan sebuah pernyataan bahwa pengakuannya tersebut hanya bohong belaka.

Kawan-kawan karib mereka, yang terkadung percaya dengan pernyataannya, kecewa dan malu karena harkat dan martabat mereka direndahkan. Bukan hanya kawan mereka tapi seluruh manusia yang mengikuti proses ini dari awal merasa direndahkan akal sehatnya; bagaimana mungkin seseorang bisa berbohong dengan sempurna dan disaksikan jutaan pasang mata.

Padahal sebelumnya kita mengenalnya sebagai seorang pengkritik ulung, pembela HAM dan demokrasi, dan penolong kaum termarjinalkan. Dia menggambarkan diri sebagai orang yang kuat di saat mayoritas manusia memandang kaumnya sebagai golongan yang lemah.

Dia bak pahlawan bagi rekan-rekannya, karena berani menyerang pemimpinnya. Dia memberanikan diri menjadi corong bagi rakyat yang tersumpal mulutnya untuk menyuarakan keluh kesah atas keadaan yang ada.

Tapi ternyata, kemarin kita tahu, bahwa itu adalah sebuah kebohongan belaka.

***

SUNGGUH kebohongan dan sumpah palsu adalah sumber dari segala keburukan dan pangkal dari semua aib.

Betapa banyak dari kita menjadikan sumpah – baik terhadap yang hak dan batil – sebagai tameng untuk menutupi kelemahan dan kehinaan kita. Busuk dan kotornya perangai diri kita poles dengan luaran yang sempurna; baju yang indah, wajah nan rupawan, dan pernyataan lugas dari perkataan kita, sehingga banyak orang tertipu dan terkagum-kagum.

Kebohongan dan sumpah palsu adalah sikap pengecut yang tidak mau menghadapi realitas dengan gentle. Alih-alih menghadapinya dengan tegak, kita justru ‘menghinakan’ Sang Pencipta dengan lebih memilih tepuk tangan manusia daripada keridaan-Nya yang notabene dapat menyelamatkan diri kita dari dahsyatnya api neraka.

Al-Qur’an memiliki sikap jelas terhadap tipikal manusia seperti ini: jangan mengikutinya! []


Melabeli Sesat – Inspirasi al-Qur’an – Q.S. Al-Qalam ayat 7

chicago tribune

 

DALAM rentang panjang sejarah umat Islam, selalu muncul golongan yang merasa paling benar dalam keislaman mereka dan sayangnya menuduh salah, sesat, dan kafir pada golongan lain yang tidak sejalan dengan pemahaman keislaman mereka. Dalam titik ekstrim, golongan ini menggunakan kekerasan seperti pembunuhan, penyerangan, pemboman, bahkan yang hangat menjadi perbincangan saat ini adalah bom bunuh diri untuk menyerang kelompok yang mereka anggap merusak dan menghalangi cita-cita keagamaan mereka.

Tentunya, merasa benar atas keyakinan kita adalah prasyarat mutlak sahnya keimanan kita. Namun, yang menjadi masalah adalah tudingan sesat dan kafir kepada golongan umat Islam arus utama yang masih memegang syarat minimal keislaman dan keimanan seperti tetap memegang teguh rukun iman dan menjalankan rukun Islam. Apalagi kalau hal ini diiringi dengan cacian, gunjingan dan penggunaan kekerasan – dimana poin terakhir – sebenarnya merupakan opsi terakhir dari cara dakwah yang dilakukan oleh Rasul saw (Q.S. 16: 125)

Sikap eksklusifitas yang berujung pada kekerasan menjadi noda hitam dalam sejarah umat Islam yang tidak akan pernah terlupakan. Bahkan dalam beberapa segi, efek yang ditimbulkan masih terasa sampai saat ini berupa perpecahan tak berujung di kalangan kelompok-kelompok Islam.

Sebut saja misalnya pembunuhan Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW oleh Abdurrahman Ibnu Muljam, seorang Khawarij yang fasih dalam membaca al-Qur’an dan ahli ibadah. Tragedi pembunuhan ini menjadi salah satu pemicu terbelahnya faksi umat Islam menjadi dua golongan besar: Sunni dan Syiah. Sampai saat ini kedua faksi ini masih terus berselisih apalagi dibumbui persaingan politik dan ekonomi antara dua negara besar pengusung kedua ajaran tersebut; Kerajaan Saudi Arabia dan Republik Islam Iran.

Dalam hal ini, hendaknya kita merenungi sabda Allah swt dalam Q.S. 68: 7 yang mengingatkan kita bahwa hanya Dia lah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan yang mendapatkan petunjuk. Ayat ini bermula dari tuduhan yang dilontarkan oleh Kaum Kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad saw bahwasanya Dia saw adalah manusia gila, sesat dan setan berwujud manusia. Namun, Allah swt membantah tuduhan tersebut dengan turunnya Q.S. 68:  1-7.

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt menantang mereka untuk melihat kelak di hari kiamat siapakah yang sebenarnya mendapatkan ujian gila; Rasul saw atau justru mereka sendiri. Namun, Allah swt menggarisbawahi bahwasa satu-satunya Dzat yang mengetahui hal ini hanyalah Dia semata dengan sifatnya yang Maha Mengetahui dan Maha Memberi Petunjuk.

Berkaca dari ayat ini, seyogyanya kita tidak dengan mudah melabelkan sesat terutama pada orang-orang yang masih ada dalam batas-batas keimanan. Perbedaan pendapat dalam bingkai ilmiah dibolehkan, akan tetapi tudingan dan pelabelan adalah hal yang tidak bijak mengingat posisi kita tidak memiliki kuasa untuk menghakimi keimanan seseorang.

Sikap suudzan terhadap amalan kita dan husnuzan kepada amalan orang lain, sebenarnya merupakan sifat al-Qur’an yang selalu membuat kita mawas diri dalam menjalani kehidupan. Alih-alih menuding orang lain, lebih baik instrospeksi sejauh mana kita telah mengamalkan perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Wallahu a’lam. (*)