Kuasa Tuhan di Hari Pembalasan – Q.S. Al-Infithaar ayat 17-19

hisab

Sejarah mencatat bahwasanya manusia adalah makhluk pembelajar; mereka berusaha berubah dari tidak tahu, menjadi tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa. Dengan sikap ini mereka terus berusaha untuk meninggalkan ketergantungan kepada alam.  Bahkan, dalam beberapa titik, manusia mampu untuk menundukan/mengontrol alam, meskipun secara umum manusia belum mampu menghentikan kehendak alam.

Dari sinilah timbul kecongkakan manusia, karena merasa tingkat ketergantungannya terhadap alam tidak setinggi seperti leluhur mereka. Akhirnya mereka beranggapan bahwa manusia bisa hidup secara independen meski tanpa bantuan dzat mistis yang leluhur mereka sebut tuhan. Maka wajar jika kita melihat fakta sosiologis bahwa semakin maju suatu bangsa, semakin tinggi pula tingkat ateisme warganya. Bahkan hal ini sudah menjadi teori sosiologi yang diamini oleh mayoritas sosiolog dunia.

Tentu hal ini tidak dapat kita benarkan. Dalam perspektif Islam, kemampuan manusia untuk mengontrol alam tidak dapat menggantikan peran dan campur tangan Tuhan. Alih-alih bersikap congkak, Islam justru menganjurkan umat manusia untuk meningkatkan kesyukuran karena Dia telah menganugerahkan akal yang membedakan manusia dengan binatang mamalia lainnya. Anugerah ini adalah hal yang patut kita syukuri, bukan sesuatu untuk kita sombongkan. Jangan sampai air susu dibalas dengan air tuba!

Beberapa ayat al-Quran menunjukkan bahwa independensi manusia hanyalah bersikap sementara. Lihat saja bagaimana lemahnya manusia ketika masih anak-anak, atau  kekuatan tubuh yang dimiliki oleh manusia setahap demi setahap melemah ketika memasuki masa lansia. Ini menunjukan bahwa kekuatan manusia tidak mampu menandingi kekuatan Allah yang Maha Kekal. Memang, saat ini manusia hidup lebih sejahtera dan sehat dari masa lampau, akan tetapi tetap saja itu tidak mampu menghilangkan ketergantungan mereka terhadap Tuhan.

Bahkan dalam Q.S. Al-Infithaar ayat 17-19, secara eksplisit Allah menyatakan bahwa pada hari pembalasan kelak, manusia tidak akan memiliki kuasa sedikit pun dan seluruh perkara ada di tangan kuasa Allah swt. (*)

Buku “Sijjin” – Kandungan Q.S. Al-Muthoffifin 83; 1 -17

sumber: mejeng.co

sumber: mejeng.co

Betapa mahalnya harga sebuah pembangkangan kepada Allah; neraka jahim yang telah disiapkan olehNya dan disebarluaskan beritanya, sehingga orang-orang yang berpikir dapat menangkap berita besar ini dan berlomba-lomba untuk menghindari pembangkangan kepada-Nya. Di sini Allah menunjukan sikap bijak-Nya, bahwa siapa pun dipersilahkan untuk tidak percaya akan adanya hari pembalasan, sambil diperingatkan bahwa akan ada harga yang harus dibayar oleh orang yang mengambil keputusan untuk tidak mempercayai berita ini.

Dalam beberapa ayat al-Quran, Allah seakan memberikan kekuasaan kepada makhluk-Nya untuk taat atau kufur terhadap-Nya; meskipun tetap melakukan pujian bagi yang taat dan cercaan bagi yang kufur. Tapi disini Allah tetap memberikan pilihan dan kebebasan kepada manusia untuk memilih. Hal ini sejalan dengan ayat terkenal bahwa tidak ada pemaksaan dalam beragama ataupun pernyataan Allah bahwa tugas manusia hanyalah menyeru kepada kebenaran; perihal orang mau mengikuti seruan kita atau tidak itu hal lain. Kita hanya wajib berusaha, maka masalah hasil itu adalah hak Allah.

Dalam Q.S. Al-Muthaffifin ayat  1-17 dijelaskan bahwa Allah telah menyiapkan neraka jahim bagi orang-orang yang mendustakan risalah-Nya. Bahkan Allah menyatakan bahwa segala catatan pembangkangan mereka tercatat dalam “Sijjin” yang disimpan di level bumi paling rendah. Melalui ayat ini, Allah swt dengan implisit menyatakan bahwa Dia fair terhadap orang yang mendustakan risalah-Nya. Semua dicatat dengan rapih dalam buku tersebut untuk dimintakan pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Allah telah “mensosialisasikan” kebijakan-Nya tentang hari kebangkitan dan balasan bagi amalan yang kita telah perbuat di dunia. Selanjutnya, pilihan ada dalam benak kita. Mau kemana kita melabuhkan hidup ini?

Ujung Kehidupan – Refleksi Q.S. Al-Ghasyiyah25-26

gambaran surga

Setinggi-tingginya kita membangun kejayaan dunia, namun ingat itu hanyalah sementara. Suatu saat, kita akan meninggalkannya dan kembali kepada-Nya. Semua perbuatan kita akan mendapatkan perhitungan dari Allah swt. (Al-Ghasyiyah 25-26).

Pertanyaan dasar filosofis tentang ujung kehidupan senantiasa menarik untuk kita kupas. Apakah hidup ini memiliki tujuan? Atau mengalir tanpa ada nilai yang mengikatnya? Apa mungkin manusia harus mempertanggungjawabkan apa yang mereka kerjakan di dunia di kehidupan setelah kematian kelak? Apa memang manusia bisa hidup setelah mati? Apa mungkin dunia ini berujung? Apa mungkin akan ada kehidupan setelah kematian?

Sekilas pandangan empiris dan rasional kita tidak bisa menangkap akan adanya kehidupan setelah kematian, atau kehidupan baru setelah bumi ini musnah. Biarlah, karena toh, menurut kita sebagai Muslim, masih ada cara lain untuk menangkap kebenaran. Dia adalah kabar shadiq dari “atas” sana tentang hal-hal yang memang tidak dapat terjangkau oleh nalar kita.

Ya, kalau memang kemampuan nalar kita tidak mampu menjangkau berita-berita seputar kehidupan setelah kematian, kebangkitan setelah kehancuran dan hal-hal gaib lainnya, serahkanlah hal itu pada pengetahuan metafisis. Bahwasanya Allah melalui Rasul-Nya telah mengabarkan bahwa akan ada kehidupan lain setelah kematian dan akan ada kebangkitan setelah kehancuran. Bukankah seringkali kita tidak menemukan jawaban terhadap seluruh pertanyaan? Maka setelah kita menyadari kelemahan kita, apakah salah untuk percaya kepada hal-hal yang ada di luar nalar empiris dan rasional kita? Dan memang pada kenyataannya ada banyak hal yang tidak bisa dipecahkan oleh kedua perangkat tersebut.

Sekali lagi, untuk menjawab pasti pertanyaan tentang bagaimana kehidupan kita akan berujung, nalar empiris dan rasional tidak akan mampu menjawabnya. Kita harus merujuk kepada kabar dari kitab suci. Misalnya, dalam surat al-Ghasyiyah ayat 25-26, Allah mengabarkan kita bahwasanya Dia lah tempat kita kembali. Artinya, ujung dari kehidupan yang kita tapaki ini akan bermuara kepada-Nya, yaitu kehidupan akhirat. Hal ini dengan jelas menegasikan bahwa perbuatan kita tidak diikat dengan nilai, akan tetapi memiliki tujuan, yaitu kembali kepada-Nya.

Dan yang lebih penting, paparan dari ayat terakhir menunjukan bahwa kita sangat bertanggungjawab terhadap apa yang kita kerjakan di dunia. Kita akan menuai apa yang kita tanam, Apabila hal itu hal positif, maka akan berbuah positif juga. Sebaliknya apabila yang kita tanam adalah keburukan, maka panennya pun akan berupa keburukan. Na’udzubillah.

Iya benar, Allah telah akan membuat perhitungan terhadap apa yang kita kerjakan di dunia ini. Beberapa ayat lain menguatkan hal ini seperti keterangan dalan Q.S. Al-Qari’ah yang menyatakan bahwa apabila timbangan kita berat, maka akan berbuah surga. Sebaliknya apabila timbangan (amal baik) kita ringan, maka neraka sudah menunggu. Sekali lagi, na’udzubillahi min zalik.

Perihal percaya atau tidak terhadap hal ini, itu dikembalikan kepada sidang pembaca, karena Allah tidak memaksakan anda untuk ikut akan seruan ini. Anda boleh saja membangkang, asal siap dengan segala konsekuensinya. Dan saya, sebagai penyeru pun, tidak memiliki otoritas untuk menghakimi anda, karena memang hanya Allah lah yang memiliki kuasa tersebut.

Akhirnya kita berdoa semoga Allah mendekatkan kita pada nikmatnya surga dan menjauhi dari api neraka, amin. []