Dahsyatnya Siksa Neraka – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij Ayat 8 – 18

Pada ayat selanjutnya, Allah s.w.t mendeskripsikan secuil gambaran dahsyatnya hari kiamat. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dicerna oleh manusia, Allah s.w.t menggambarkan bahwa pada hari kiamat langit terbelah bagaikan lelehan perak (muhl). Ia bak perak atau logam lainnya (mis, tembaga dan timah) yang dicairkan dan melebur serta tidak keras lagi. 

Continue reading

Permintaan Azab yang Dijanjikan – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij ayat 1 – 7

Seorang kafir Quraisy, Nadhir bin Harits, meminta – dengan nada ejekan – Nabi saw untuk segera menurunkan azab yang dijanjikan. Allah swt menjawab bahwa azab itu pasti ada dan tidak ada seorang pun yang bisa menolaknya. Azab itu berasal dari Allah swt yang memiliki ma’arij – tangga di mana Jibril as dan para malaikat turun dan naik menemui Allah swt. 

Suatu hari, datang kepada Nabi s.a.w seorang kafir Quraisy untuk meminta diturunkan azab yang dijanjikan oleh dia s.a.w melalui wahyu yang termaktub di dalam Al-Qur’an. Di hadapan Rasul s.a.w pemuka Quraisy itu berkata, “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih” (Q.S. Al-Anfaal: 32).

“Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”

Q.S. Al-Anfaal: 32

Orang tersebut adalah Nadhir bin Harits dan permintaannya dibayar langsung oleh Allah s.w.t dengan kematian yang mengenaskan dalam perang Badar. 

Baca juga: Nadhir bin Harits 

Sebenarnya Nadhir tidak sungguh-sungguh meminta azab ini. Ini adalah bentuk satire untuk mengolok-olok dakwah Nabi s.a.w (lihat Prof. Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Muniir) yang menjanjikan surga bagi kaum beriman, dan neraka bagi mereka yang menolak untuk mengikuti risalahnya. 

Menurut Ar-Razi, Allah s.w.t menjawab permintaan tersebut dengan turunnya ayat ini, yang menyatakan dengan tegas bahwa azab yang dijanjikan pasti akan datang, dan tidak ada satu pun yang bisa mencegahnya (lihat Tafsir Mafatihul Ghaib, Fakhruddin Ar-Razi). 

Ketetapan Allah s.w.t ini benar adanya, dan azab tersebut – tanpa harus diminta – benar-benar akan menimpanya. Tidak ada yang mampu mencegahnya, bahkan menurut pendapat sebagian ulama yang dikutip oleh Ar-Razi dikatakan “Tidak mungkin pencegah azab itu berasal dari sisi Allah. Kebijaksanaan mewajibkan Allah untuk tidak mencegah datangnya azab bagi orang-orang kafir.”

Lalu kenapa kaum kafir belum mendapatkan azab seperti yang dijanjikan Allah s.w.t? Menurut Al-Maroghi ada hikmah di balik delayed-nya balasan untuk mereka. Allah s.w.t akan menyimpan mereka di tingkatan paling bawah dari neraka karena konsistensi mereka dalam kekufuran.

Tangga – tempat Naik 

Azab yang dijanjikan tersebut berasal dari Allah s.w.t yang memiliki ma’arij. Para ahli tafsir memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang makna ma’arij seperti yang tertulis dalam ayat ini. 

Menurut Imam Suyuthi & Mahalli dalam Tafsir Jalalain maknanya adalah tangga (tempat naik) bagi para malaikat. Hal ini selaras dengan pendapat Prof. Wahbah Az-Zuhaili yang mengatakan maksud dari ma’arij adalah maso’id, tempat naik para malaikat. 

Selanjutnya, Prof. Wahbah mengutip Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan ma’arij adalah langit. Dikatakan demikian, karena para malaikat berjalan naik di langit tersebut. Beda dengan Ibnu Abbas, Qatadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ma’arij adalah keutamaan (fadhilah) dan nikmat. Hal ini karena “tangan-tangan Allah, wajah-wajah-Nya dan kenikmatan-Nya memiliki tingkatan-tingkatan. Itu semua sampai kepada manusia berdasarkan tingkatan-tingkatan yang berlainan.” 

Pendapat Qatadah selaras dengan Al-Maroghi yang memaknai ma’arij dengan “nikmat-nikmat yang derajatnya bertingkat-tingkat, sehingga sampai kepada makhluk dalam berbagai martabatnya.”

Pendapat berbeda datang dari Fakhruddin Ar-Razi. Beliau mengatakan seperti halnya langit yang bertingkat-tingkat berbeda dari segi tinggi, rendah, besar dan kecil; begitu juga ruh-ruh malaikat berbeda-beda dari sisi kekuatan, kelemahan, kesempurnaan, kekurangan, luasnya pengetahuan dan kekuatan dalam mengelola alam. Maka, yang dimaksud dengan ma’arij  di sini adalah isyarat bahwa ruh (malaikat) yang berbeda-beda tersebut bak tempat naik yang memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda dan tempat turun untuk turunnya rahmat kepada kita. 

Penantian Panjang 

Jibril a.s dan para malaikat lainnya menaiki tangga tersebut untuk bertemu Allah s.w.t dalam waktu sehari yang ekuivalen dengan lima puluh ribu tahun waktu dunia apabila manusia hendak menaiki tangga yang sama (Lihat Prof. Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir). Hal ini menunjukan relativitas waktu dunia dan akhirat; bahwa masa hidup di akhirat lebih lama dari waktu dunia. 

Baca juga: Penantian Panjang Menuju Alam Akhirat 

Apa relevansi antara permintaan orang kafir terhadap azab dan naiknya malaikat? Ini untuk Ini untuk menunjukan bahwa dunia yang orang kafir anggap lama, sebenarnya sangat sebentar bila dibandingkan dengan lamanya waktu di akhirat. Menurut Prof Wahbah, penyebutan waktu yaitu 1 hari : 50.000 tahun tidak berpretensi untuk menunjukan waktu yang spesifik, tapi lebih pada perbandingan yang sangat jauh antara dua masa tersebut. 

Dalam menafsirkan ayat ini, para ahli memiliki pendapat yang berbeda. 

Prof. Al-Maroghi mengatakan bahwa ma’arij seperti yang dibahas dalam ayat sebelumnya bermakna tingkatan nikmat yang disediakan oleh Allah s.w.t di akhirat kelak. Orang-orang mukmin dan para malaikat berada pada derajat-derajat yang tinggi sedangkan orang kafir berada pada lapisan bawah. 

Para malaikat dan Jibril a.s menaiki tangga-tangga ke tempat yang bertingkat-tingkat itu memerlukan waktu hanya satu hari, sedangkan para penghuni dunia memerlukan waktu lima puluh ribu tahun untuk menempuh jarak yang sama. 

Beda halnya dengan yang lain, Ar-Razi memiliki pendapat yang berbeda. ‘Uruj di sini bermakna masa penantian manusia untuk mendapatkan giliran penghitungan amalan. Pada masa ini, orang-orang kafir harus menunggu selama lima puluh ribu tahun lamanya. Ini tidak berarti waktu yang eksak, akan tetapi lebih kepada metafora betapa lamanya penantian orang kafir untuk menunggu masa penghisaban mereka. 

Akan tetapi, orang-orang mukmin tidak merasakan masa penantian yang lama. Mereka menunggu tidak lebih dari satu hari, bahkan bisa jadi hanya selama kita menunaikan salat fardu. Hal ini seperti yang diutarakan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id dari Ahmad bahwa masa penantian seorang mukmin diringankan menjadi hanya seperti menunggu salat wajib. 

Pendapat ulama yang berbeda-beda dalam menafsirkan ayat ini memiliki benang merah yang sama, yaitu perbandingan yang sangat jauh akan kehidupan dunia dan akhirat, terutama dari sisi waktu. Ini juga untuk mengingatkan kita – terutama orang kafir yang meminta (dengan nada ejekan) azab yang dijanjikan bahwa Dia s.w.t tidak main-main dengan ancaman ini.

Kewajiban untuk bersabar dalam perjuangan 

Perjuangan Nabi saw dalam menyiarkan risalah agama Islam di kalangan kaum Quraisy mengalami resistensi yang sangat kuat, terutama dari para elit mereka. Seperti halnya yang dikemukakan di awal surat ini, ada di antara mereka yang mengolok-olok Nabi saw dengan menghadirkan azab di hadapan mereka pada saat itu juga, bila memang ajaran yang dibawa Nabi saw itu benar adanya. 

Tentunya, sifat manusiawi Rasul saw bersedih atas olokan ini, namun Allah swt memerintahkan Nabi saw untuk bersabar dan menunggu. 

Baca juga: Akhlak Agung Baginda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Menurut para ahli tafsir seperti Imam Suyuthi & Mahalli dan Al-Bagowi, ayat ini turun sebelum instruksi dari Allah swt untuk memerangi orang-orang yang menghalangi dakwah Nabi saw. 

Bantahan orang kafir akan datangnya azab bagi mereka 

Meskipun permintaan Nadhir bin Harits telah dijawab oleh Allah swt dalam permulaan ayat ini, akan tetapi orang kafir tetap membantah bahwa azab akan benar-benar datang kepada mereka. Mereka anggap itu adalah sesuatu hal yang mustahil dan mengada-ada. 

Tentu saja mereka menolak, karena pada dasarnya mereka juga tidak mau menerima adanya hari kiamat, surga dan neraka. Bagi mereka hal itu adalah absurd dan tidak dapat diterima oleh nalar. Sebagaimana kita tahu, orang-orang kafir kontemporer dalam tradisi filsafat Barat menganut paham materialisme dan empirisme yang menolak metafisika secara mentah-mentah. Itu artinya, konsep tentang hari kiamat, surga dan neraka tidak dapat mereka terima karena bertentangan dengan paham yang mereka anut. 

Para ulama tafsir seperti Fakhruddin Ar-Razi dan Imam Suyuthi & Mahalli mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “ba’id (jauh)” di sini adalah jauh dari kemungkinan adanya. Artinya, mereka berpendapat mustahil bagi mereka mendapatkan azab dari Allah swt karena sikap kekufuran ini. 

Namun, Allah swt menegaskan dalam ayat berikutnya bahwa azab itu mungkin adanya, bahkan dalam waktu yang sangat dekat. Sebagaimana kita tahu, perbandingan waktu antara dunia dan akhirat yaitu 1 hari : 50.000 tahun. Itu artinya, dalam kacamata akhirat, hari kiamat – di mana orang kafir bersiap untuk menerima balasan atas sikap kekufuran mereka – sangatlah dekat. 

Ulasan Kitab Tafsir: Q.S. Al-Qalam Ayat 1 – 7: Nabi Muhammad saw tidaklah Gila Seperti yang Dituduhkan Kafir Quraisy

sumber: okezone.com

Ayat 1: Allah bersumpah dengan pena dan apa yang ditulisnya  

Para ulama berbeda pendapat tentang makna huruf “Nuun” yang ada di permulaan Q.S. Al-Qalam. Menurut Ibnu Hayyan, seperti yang dikutip oleh Wahbah az-Zuhaili, huruf ‘nuun’ adalah huruf asing yang tidak diketahui maknanya, kecuali oleh Allah swt. Tidak bisa dii’rabkan, meskipun ada yang berpendapat i’rabnya nasab karena menjadi maf’ul (obyek), atau datang sebelumnya sumpah.

Namun, masih menurut Wahbah az-Zuhaili, sebagian ulama berpendapat bahwa “nuun” bermakna tantangan atau peringatan akan pentingnya apa yang akan disampaikan dalam ayat-ayat setelahnya. Penafsiran ini juga lebih disukai oleh Al-Maroghi di mana dia mengatakan bahwa “nuun” adalah huruf tanbih (peringatan) yang diharapkan dapat menarik perhatian para pembaca untuk mempelajari lebih jauh apa yang ingin disampaikan.

Ar-Razi dalam tafsir al-Kabiir, mengutip pendapat ulama bahwa yang dimaksud dengan “nuun” adalah ikan paus yang memakan Yunus a.s. seperti yang tersurat dalam Q.S Ash Shaaffaat ayat 139-145. Namun, pendapat lain mengatakan bahwa “nuun” adalah tempat pena, di mana tinta disimpan di dalamnya. Inilah penafsiran yang disetujui oleh Hamka dalam kitabnya tafsir al-Azhar.

Namun, ada juga yang berpendapat bahwa huruf ini adalah lembaran di mana para malaikat menulis amalan di lauhul mahfudz. Yang lain berpendapat bahwa itu merupakan huruf terakhir dari kalimat “rahmaan” nya Allah swt.

Yang jelas, apapun pendapat para ulama, mereka memiliki argumen-nya masing-masing dan ini menunjukan bahwa hal ini bukanlah hal yang final karena tidak ada nash yang secara eksplisit menunjukan maknanya. Maka, kita kembalikan penafsiran yang sebenarnya kepada Ilmu Allah swt yang Maha Luas.

***

Isi dari penggalan ayat pertama Q.S. Al-Qalam ini adalah sumpah Allah dengan menggunakan pena yang digunakan untuk menulis. Pemilihan kata pena menunjukan akan keagungan benda ini dalam ajaran Islam.

Pena secara maknawi memiliki posisi penting dalam Islam.  Al-Maroghi berpendapat bahwa penggunaan diksi ini adalah untuk mendorong umat mendidik diri dan membangun peradaban supaya bisa menjadi umat terbaik (khair ummah).

Wahbah az-Zuhaili melihat bahwa pena yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah swt menunjukan agungnya nikmat menulis sebagai salah satu nikmat terbesar dari Allah, setelah berpikir/berbicara/menejelaskan sebagai wasilah dalam membangun peradaban dan penyebaran ilmu pengetahuan di antara umat manusia dan tentunya menjadi kunci bagi kemajuan suatu bangsa.

Baca juga: Risalah Islam tentang Baca Tulis

Tentang keutamaan pena, disebutkan dalam satu riwayat hadits, bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah swt adalah pena yang memiliki fungsi menulis takdir yakni amal perbuatan, sebab-akibat, rezeki, dan ajal semenjak awal mula kehidupan sampai datangnya hari kiamat. Lalu setelah itu diciptakanlah “nuun” (tempat tinta).

Ayat 2: Rasulullah saw tidaklah gila seperti yang disangkakan

Sontak setelah Kaum Kafir Quraisy mendengar kabar kenabian dari Rasulullah saw, langsung menuduhnya sebagai orang gila. Lebih keji lagi, mereka menyebut nabi saw sebagai setan.

Tentu tuduhan tak berdasar ini membuat Rasul saw dirundung kesedihan, karena ajakan untuk bertauhid kepada-Nya, ternyata harus dibayar dengan fitnah yang keji.

Menurut Hamka turunnya ayat ini merupakan hiburan bagi Rasul saw yang sedang mendapatkan ujian yang cukup berat dalam masa-masa awal tugas kenabiannya.

Ayat ini yang menerangkan bahwasanya Nabi saw tidaklah gila seperti yang dituduhkan oleh kafir Quraisy. Bagaimana mungkin orang yang diberkati kedudukan yang tinggi di mata masyarakat saat itu karena memiliki akhlak dan pekerti yang luhur bisa disebut gila. Tentu, sifat gila tidak bisa disematkan pada orang yang memiliki karakteristik mulia seperti Rasul saw.

Baca Juga: Keutamaan Akhlak Mulia

Al-Maroghi mengatakan kenikmatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kenabian, keimanan, kebijaksanaan dan budi pekerti yang melekat dalam pribadi Rasul saw.

Dewasa ini, tuduhan miring tentang Nabi saw masih gencar dilancarkan oleh kaum kafir yang tidak suka dengan perkembangan dakwah Islam di dunia. Sebut saja misalnya kontroversi film besutan sutradara Yahudi penganut Kristen Koptik, Sam Bacile, “The Innocent of Muslims” yang menggambarkan Nabi saw sebagai sosok pria yang haus darah, penganut pedofilia, dan gila seks.

Cerita miring tentang Rasul saw sejatinya terbantahkan dengan narasi sirah nabawiyah yang menunjukan keagungan akhlak beliau saw.

Ayat 3: Kemenangan Umat Islam menjadi balasan setimpal atas pengorbanan Nabi saw

Ujian bertubi-tubi yang Rasul saw dapatkan ketika mengemban misi dakwah tidaklah berujung sia-sia. Allah swt membalasnya dengan kemenangan gemilang dan lestarinya risalah tauhid sampai detik ini.

Saat ini Islam menjadi salah satu agama besar di dunia, dan ajarannya meresap dalam setiap relung sanubari penganutnya. Dalam survei The 2015 Global Attitudes dari Pew Research Center, ditemukan bahwa umat Islam termasuk yang paling komitmen dalam menjalankan ajaran mereka.

Tentunya menyebarnya ajaran Islam menjadikan pahala yang tak pernah berhenti bagi Rasul saw, karena beliau saw menjadi wasilah distribusi hidayah bagi umat Islam di seluruh dunia. Menurut Hamka, perjalanan sejarah peradaban umat Islam yang cukup lama dan gemilang menjadi balasan setimpal atas pengorbanan Nabi saw dalam menjalankan misi kerasulan.

Baca juga: Jalan Terjal Perjalanan Dakwah

Ayat 4: Keagungan Akhlak Rasul saw

Bantahan Allah swt terhadap tudingan Kafir Quraisy diperkuat dengan penjelasan dalam ayat ini, di mana Rasul saw dianugerahi sifat mulia oleh-Nya. Sekali lagi, mana mungkin, orang yang memiliki perangai agung disematkan sifat “gila” dan “setan” terhadapnya. Otomatis, tuduhan ini menjadi terbantahkan.

Dalam beberapa redaksi hadits, diketahui bagaimana keluhuran akhlak Rasul saw; seperti tidak pernah mengatakan “huss” atau menghardik / memukul pembantu, perempuan, dan anak kecil. Beliau saw hanya memukul dalam kondisi peperangan.

Menurut  Wahbah az-Zuhaili, dalam pribadi Rasul saw terkumpul ragam pekerti agung seperti rasa malu, kedermawanan, kebijaksanaan, kelembutan, pemaaf, dan akhlak baik lainnya. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Q.S. A’raf (199), “jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”

Keluhuran akhlak menjadi inti daripada agama Islam. Bahkan, sebagian ulama menyandingkan agama dengan akhlak. Dalam sebuah hadits masyhur diriwayatkan bahwa Rasul Saw diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak. Para ulama berpendapat bahwasanya makna akhlak di sini adalah agama.

Aisyah Ra ketika ditanya oleh sahabat tentang keperibadian/akhlak Rasul Saw, beliau Ra menyatakan bahwa akhlak Rasul Saw adalah al-Qur’an. Padahal kita tahu bahwasanya al-Qur’an adalah rujukan utama dalam beragama. Maka dapat dikatakan bahwa salah inti esensial dari agama itu adalah akhlak.

Menurut Hamka, salah satu kunci keberhasilan dakwah Rasul saw adalah kesanggupan menahan hati dalam menerima celaan dan makian yang semena-mena dari orang-orang yang tidak paham. Perbuatan tercela dibalas dengan kebaikan, sehingga tidak jarang banyak orang kafir menjemput hidayahnya dengan wasilah akhlak Rasul saw yang mulia.

Ayat 5 – 7: Siapa sebenarnya yang gila?

Kaum kafir – dari dulu sampai sekarang – merasa yakin akan kebenaran langkah mereka dalam mengingkari eksistensi Allah swt. Mereka melabeli kaum beragama sebagai orang gila, fanatik, barbar, bahkan teroris. Seperti halnya yang dilakukan oleh Kaum Kafir Quraisy terhadap misi kenabian yang dijalankan oleh Rasul saw. Mereka mencap beliau saw sebagai gila, setan bahkan dukun / tukang sihir.

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt menantang mereka untuk melihat kelak di hari kiamat siapakah yang sebenarnya mendapatkan ujian gila; Rasul saw atau justru mereka sendiri.

Di beberapa tempat dalam al-Quran (seperti yang tersurat dalam Q.S. Al-Mulk ayat 9 – 11), dijelaskan pada akhirnya, kaum kafir akan menyadari bahwa merekalah yang tersesat; dan menyesali atas apa yang mereka ingkari selama hidup di dunia.

Menurut Wahbah az-Zuhaili, yang dimaksud dengan kesesatan dalam penggalan ayat 7 adalah sesat dalam hal agama dan akidah, sedangkan makna hidayah adalah hidayah agama.

***

Hamka menilai ayat ini merupakan janji Allah swt akan kemenangan orang-orang yang tertindas. Sejarah perjuangan nabi, rasul dan para pelanjutnya, selalu diliputi keadaan lemah, miskin, tertindas, dan tidak memiliki kekuasaan.

Para penentang mereka selalu memiliki kekuasaan yang digunakan untuk berbuat kezaliman terhadap jalan dakwah mereka, namun pada akhirnya Allah swt selalu memberikan kemenangan pada orang-orang yang tertindas.

Inilah juga yang terlihat dalam kemenangan umat Islam di Perang Badar.

Menurut Hamka, ayat ini ingin memberikan petunjuk bahwa kebenaran akan menang, dan kezaliman tidak akan bertahan lama. Saya kira penafsirannya bisa dibuat dengan konteks yang berbeda-beda.

***

Penggalan terakhir dalam ayat ketujuh menyisakan cerita yang menarik. Di sini, Allah swt menantang mereka untuk melihat kelak di hari kiamat siapakah yang sebenarnya mendapatkan ujian gila; Rasul saw atau justru mereka sendiri. Namun, Allah swt menggarisbawahi bahwasa satu-satunya Dzat yang mengetahui hal ini hanyalah Dia semata dengan sifatnya yang Maha Mengetahui dan Maha Memberi Petunjuk.

Baca juga: Melabeli Sesat

Jangan sampai – dengan dalih ayat ini – kini terperangkap pada kebiasaan mencap sesat pada kelompok lain yang memiliki pemahaman keagamaan yang berbeda dalam tataran furu’iyyah. Wallahu a’lam. [*]