Melabeli Sesat – Inspirasi al-Qur’an – Q.S. Al-Qalam ayat 7

chicago tribune

 

DALAM rentang panjang sejarah umat Islam, selalu muncul golongan yang merasa paling benar dalam keislaman mereka dan sayangnya menuduh salah, sesat, dan kafir pada golongan lain yang tidak sejalan dengan pemahaman keislaman mereka. Dalam titik ekstrim, golongan ini menggunakan kekerasan seperti pembunuhan, penyerangan, pemboman, bahkan yang hangat menjadi perbincangan saat ini adalah bom bunuh diri untuk menyerang kelompok yang mereka anggap merusak dan menghalangi cita-cita keagamaan mereka.

Tentunya, merasa benar atas keyakinan kita adalah prasyarat mutlak sahnya keimanan kita. Namun, yang menjadi masalah adalah tudingan sesat dan kafir kepada golongan umat Islam arus utama yang masih memegang syarat minimal keislaman dan keimanan seperti tetap memegang teguh rukun iman dan menjalankan rukun Islam. Apalagi kalau hal ini diiringi dengan cacian, gunjingan dan penggunaan kekerasan – dimana poin terakhir – sebenarnya merupakan opsi terakhir dari cara dakwah yang dilakukan oleh Rasul saw (Q.S. 16: 125)

Sikap eksklusifitas yang berujung pada kekerasan menjadi noda hitam dalam sejarah umat Islam yang tidak akan pernah terlupakan. Bahkan dalam beberapa segi, efek yang ditimbulkan masih terasa sampai saat ini berupa perpecahan tak berujung di kalangan kelompok-kelompok Islam.

Sebut saja misalnya pembunuhan Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW oleh Abdurrahman Ibnu Muljam, seorang Khawarij yang fasih dalam membaca al-Qur’an dan ahli ibadah. Tragedi pembunuhan ini menjadi salah satu pemicu terbelahnya faksi umat Islam menjadi dua golongan besar: Sunni dan Syiah. Sampai saat ini kedua faksi ini masih terus berselisih apalagi dibumbui persaingan politik dan ekonomi antara dua negara besar pengusung kedua ajaran tersebut; Kerajaan Saudi Arabia dan Republik Islam Iran.

Dalam hal ini, hendaknya kita merenungi sabda Allah swt dalam Q.S. 68: 7 yang mengingatkan kita bahwa hanya Dia lah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan yang mendapatkan petunjuk. Ayat ini bermula dari tuduhan yang dilontarkan oleh Kaum Kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad saw bahwasanya Dia saw adalah manusia gila, sesat dan setan berwujud manusia. Namun, Allah swt membantah tuduhan tersebut dengan turunnya Q.S. 68:  1-7.

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt menantang mereka untuk melihat kelak di hari kiamat siapakah yang sebenarnya mendapatkan ujian gila; Rasul saw atau justru mereka sendiri. Namun, Allah swt menggarisbawahi bahwasa satu-satunya Dzat yang mengetahui hal ini hanyalah Dia semata dengan sifatnya yang Maha Mengetahui dan Maha Memberi Petunjuk.

Berkaca dari ayat ini, seyogyanya kita tidak dengan mudah melabelkan sesat terutama pada orang-orang yang masih ada dalam batas-batas keimanan. Perbedaan pendapat dalam bingkai ilmiah dibolehkan, akan tetapi tudingan dan pelabelan adalah hal yang tidak bijak mengingat posisi kita tidak memiliki kuasa untuk menghakimi keimanan seseorang.

Sikap suudzan terhadap amalan kita dan husnuzan kepada amalan orang lain, sebenarnya merupakan sifat al-Qur’an yang selalu membuat kita mawas diri dalam menjalani kehidupan. Alih-alih menuding orang lain, lebih baik instrospeksi sejauh mana kita telah mengamalkan perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Wallahu a’lam. (*)

Advertisements

In(toleransi) 2

foto: maitreyavoice.com

foto: maitreyavoice.com

Baru-baru ini, media Indonesia hangat memperbincangkan protes yang dilancarkan oleh beberapa aktivis kebebasan beragama kepada SBY yang menerima penghargaan “World Statesman Award” dari organisasi nirlaba Appeal of Conscience Foundation (ACF). Mereka beranggapan bahwa SBY tidak berhak mendapatkan penghargaan ini dikarenakan beberapa kasus intoleransi yang ada di Indonesia. Sebut saja kasus penyerangan Ahmadiyah di beberapa kota, pembakaran rumah-rumah warga Syiah di Sampang, penyegelan GKI Yasmin di Bekasi, kasus-kasus terorisme di beberapa daerah dan lain sebagainya. Memang dalam hal pemberitaan media, umat Islam selalu dipojokan dan seakan-akan menjadi biang intoleransi di Indonesia. Padahal dalam beberapa kasus umat Islam selalu menjadi obyek intoleransi seperti pelarangan jilbab bagi polwan dan tidak disediakannya guru agama Islam di beberapa sekolah Kristen di Blitar.

Continue reading