Akhirnya Orang Kafir Bertemu dengan Janji Allah swt – Q.S. Al-Ma’arij ayat 36 – 44: Ulasan Kitab Tafsir

FRAGMEN selanjutnya dari Q.S. Al-Ma’arij (pada ayat 36 – 44) menjelaskan tentang pengingkaran kaum kafir terhadap risalah yang dibawa oleh dari Nabi saw dan bantahan Allah swt atas kontradiksi keyakinan mereka tentang hari akhir: di satu sisi mereka menolak eksistensi hari akhir, tapi di sisi lain mereka berharap untuk tetap masuk surga jika memang akhirat itu ada. 

Setelah itu digambarkan kondisi kaum kafir di hari akhir, di mana mereka bersiap untuk mendapatkan hal yang dijanjikan yaitu siksa pedih di neraka. Mereka tertunduk malu dan ketakutan mengingat azab pedih yang akan mereka dapatkan di alam akhirat. 

Ayat 36 – 37: Orang kafir datang untuk mengolok-olok dakwah Nabi saw  

Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu, (36)

dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. (37) 

Pada awal ayat fragmen surat ini (ayat 36 – 37) Allah swt menggambarkan resistensi kaum kafir yang tidak henti-hentinya merongrong dakwah Nabi saw. Beberapa dari mereka mengikuti majelis Rasul saw dan mendengarkan ceramahnya. Akan tetapi, tujuan mereka bukanlah mengimaninya akan tetapi mengolok-olok ajaran yang dibawa Rasul saw. 

Prof. Wahbah Az-Zuhaily mengisahkan bahwa sebab turun dari ayat ini adalah suatu kejadian di mana segelintir musyirikin Mekkah berkumpul di sekitar kediaman Nabi saw untuk mengikuti majelis beliau. Namun, tujuan mereka bukanlah untuk mencari kebenaran atau mengimani risalah yang dibawa oleh Nabi saw, akan tetapi bertujuan untuk mendustakannya dan mengolok-oloknya. 

Baca Juga: Munafik 

Salah satu cemoohan mereka adalah respons atas janji Nabi saw bagi orang yang beriman berupa kenikmatan untuk bisa masuk ke surga di alam akhirat kelak. Mereka berujar bila memang umat Nabi Muhammad saw akan masuk surga, tentu mereka yang akan masuk terlebih dahulu. 

Pernyataan musyrikin Makkah tersebut kontradiktif. Sedari awal, mereka menolak eksistensi hari akhir, namun ketika Rasul saw menyampaikan bahwa kaum beriman akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat berupa kenikmatan surgawi, mereka menyanggah dan menyatakan jika surga ada, maka mereka yang pertama memasukinya. 

Lebih jauh Prof. Wahbah Az-Zuhaily menyatakan bahwa ayat ini menggambarkan karakter kaum kafir yang sangat cepat berlari dari kebenaran. Allah swt mengibaratkan sifat mereka seperti keledai yang lari dari cengkraman singa. Begitu cepatnya. (Lihat Q.S. Al-Mudatsir: 49-51).  
Baca juga: Bagai Keledai Liar Lari dari Terkaman Singa

Ayat 38 – 39: Orang kafir mustahil masuk surga 

Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan?, (38) 

sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). (39)

Tentu saja Allah swt menolak klaim kaum kafir tersebut dengan alasan mereka sama-sama diciptakan dari zat yang hina (air mani), sehingga tanpa keimanan dan ketakwaan, mereka tidak memiliki keistimewaan untuk mencicipi kenikmatan surgawi. 

Menurut Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi syarat seseorang mencicipi kenikmatan duniawi adalah ketakwaan. Ini yang membedakan antara seorang muslim dan kafir. Pernyataan ini diperkuat oleh Syekh Abu Bakr Jabir Al Jazairi yang menyatakan bahwa air mani yang hina harus hanya bisa “disucikan” dengan keimanan dan amal shaleh, sehingga hanya orang beriman yang bisa mencicipi kenikmatan tinggal di surga.  

Menurut Al-Maraghi perjalanan menuju surga memerlukan sebuah penyucian jiwa karena asal penciptaan manusia adalah dari zat yang hina, yaitu air mani yang bertransformasi menjadi segumpal darah dan daging. Keadaan ini tidak cukup mampu membawa manusia untuk mencicipi kenikmatan surgawi. Maka, penyucian jiwa hanya akan bisa tercapai dengan dua hal: keimanan kepada Allah swt dan ketaatan atas semua syariat-Nya. 

Ayat 40 – 41: Ancaman Allah swt bagi kaum kafir 

Maka aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki timur dan barat, sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa. (40)

Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan. (41)

Sayangnya, kaum Kafir Quraisy tetap bergeming dengan kekufuran, meskipun telah mendapatkan bantahan dari Allah swt melalui Rasul-Nya, Muhammad saw. 

Maka Allah swt bersumpah dengan zat-Nya bahwa Dia mampu menghancurkan orang-orang kafir dan mengganti mereka dengan yang lebih baik – yang mendengar nasihat dan beriman (akan tetapi Allah swt tidak berbuat demikian, dan memilih untuk menangguhkan hukuman). 

Menurut Prof. Wahbah Az-Zuhaily sumpah yang diucapkan oleh Allah swt menjadi dalil akan kesempurnaan kuasa-Nya untuk menciptakan dan membinasakan dan tidak ada yang bisa melemahkan-Nya dari segala kemungkinan. 

Lebih jauh Syekh Abu Bakr Jabir Al Jazairi menyatakan bahwa ayat ini menjadi argumentasi bahwa Allah swt mampu untuk menghidupkan orang mati (di akhirat kelak), seperti halnya Dia menciptakan makhluk dari ketiadaan di awal mula munculnya kehidupan dunia. 

Ayat 42: Sikap Nabi Muhammad saw kepada orang-orang kafir  

Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka, (42) 

Ayat ini menjadi pegangan bagi Nabi saw bagaimana bersikap terhadap olok-olokan yang didapat ketika menunaikan tugas dakwah. Biarkan Allah swt menunaikan janji-Nya terhadap orang kafir, sedangkan kita fokus menyebarkan ajaran Islam di muka bumi. 

Adakalanya Allah swt ketika menyikapi keengganan orang kafir untuk beriman dengan membiarkan mereka terlena dalam kubangan kehinaan, hingga nampak di depan mereka siksa yang dulu pernah Allah swt janjikan. Syekh Abu Bakr Jabir Al Jazairi menyebut sebagai ancaman tersembunyi (tahdid khafiy)

Dalam hemat saya model ancaman seperti ini sangat berbahaya, karena orang tersebut tidak mendapatkan peringatan terlebih dahulu, tahu-tahu masuk neraka. Bak petinju yang mendapatkan pukulan dari arah yang tidak diprediksi, tahu-tahu sudah jatuh terkapar. Hal ini seperti yang terjadi pada fenomena istidraj yang dijelaskan dalam Q.S. Al-Qalam ayat 44 – 45: 

Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, (44)

dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh. (45)

Banyak dari umat manusia, yang terlena menikmati indahnya dunia, hidupnya sempurna, bisa mencicipi pelbagai kenikmatan duniawi sampai melanggar batas-batas yang dikehendaki agama, tahu-tahu – tanpa ada tanda-tanda sebelumnya – meninggal sebelum tersadar dan bertobat. Ini adalah sebuah pukulan telak mematikan dan lebih berbahaya dari ancaman Allah swt lainnya. 

Baca juga: Di Balik Ancaman Siksa Neraka 

Ayat 43 – 44: Kondisi kaum kafir di alam akhirat 

(yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), (43) 

dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka. (44) 

Pada akhirnya orang-orang kafir menemukan bahwa janji tentang siksa neraka benar adanya, dan mereka harus siap-siap untuk menghadapinya. 

Saat pertama kali terbangun dari alam kubur mereka berlari kencang menuju tempat timbangan amalan, seperti halnya dulu mereka bergegas menemui tuhan-tuhan palsu mereka. Lalu wajah mereka tertunduk lesu penuh kehinaan membayangkan betapa pedihnya siksa yang akan mereka dapatkan. 

Baca juga: Orang Kafir di Alam Akhirat 

Prof. Wahbah Az-Zuhaily mengomentari terkait penggunaan lafaz bentuk lampau (madhiy) dalam menggambarkan hari kiamat. Ini menunjukan bahwa janji Allah swt pasti benarnya. Tidak ada kemustahilan di dalamnya. Allahu a’lam. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s