Ulasan Kitab Tafsir: Surah al-Mulk ayat 16 – 19: Orang Kafir Tidak Dapat Menghindar Dari Azab Allah

hdwallpaperbackgrounds.net

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt memperlihatkan sifat tegas sekaligus rahmat-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya. Dia menunjukan bahwa Dia bisa menelan bumi dengan menggoncangkannya, atau mengirim badai yang disertai bebatuan sebagai balasan bagi orang-orang yang ingkar terhadap risalah-Nya, sebagaimana Dia melakukan hal-hal tersebut kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw. Namun, Dia pun menunjukan sifat rahmat-Nya ketika menjelaskan bahwa burung-burung dapat terbang untuk mencari rejeki, dan tidak terjatuh meskipun daya gravitasi senantiasa merongrongnya.

Al-Mulk 16 dan 17: Kuasa Allah untuk Mendatangkan Azab Bagi Kaum yang Ingkar

Dalam ayat-ayat di atas Allah swt memperingati manusia bahwasanya Dia sangat Maha Kuasa untuk mengguncangkan bumi dengan gempa yang sangat besar dan/atau mengirim badai yang disertai batu pada mereka secara tiba-tiba. Hal tersebut adalah bentuk peringatan bagi kaum kafir yang merasa nyaman dengan kekufurannya dan yakin bahwasanya mereka tidak akan mendapatkan bencana. Kelak mereka akan sadar bahwasanya pembangkangan ini mengandung konsekuensi yang pedih. Padahal, tercatat dalam sejarah, Dia swt melakukan hal serupa pada kaum-kaum terdahulu yang tidak mau menerima risalah yang dibawa oleh para rasul-Nya.

Menurut Al-Maroghi dan Jalaluddin & Jalaluddin bentuk peringatan atau ancaman yang pertama adalah goncangan bumi/gempa seperti yang menimpa Qorun yang menelan seluruh hartanya. Sedangkan ancaman yang kedua adalah badai yang disertai batuan kecil seperti yang menimpa Kaum Luth, dan ketika itu baru sadar akan dahsyat-Nya hukuman Tuhan, namun sayangnya penyesalan tidak akan bermanfaat ketika azab sudah menimpa.

Dalam beberapa ayat lain, Allah swt memberikan peringatan serupa kepada orang-orang kafir seperti dalam Q.S. Al-An’am (6/65), “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.

Atau dalam Q.S. Al-Isra’ (17/68), “Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu.”

Ar-Razi melihat bahwasanya pernyataan “Allah yang di langit” tidak mungkin untuk ditafsirkan secara tekstual berdasarkan penampakan ayat, karena eksistensi Allah di langit menunjukan bahwasanya langit meliputi-Nya dari segala sisi, maka Allah lebih kecil dari langit, dan langit lebih kecil dari ‘Arsy, dan keadaan Allah lebih kecil bila dibandingkan dengan ‘Arsy adalah suatu hal yang mustahil dalam kesepakatan Ahli Islam. Dalam ayat lain Allah swt bersabda, “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Bila merujuk pada ayat ini, kalau saja Allah swt berada di langit maka dia menjadi Penguasa bagi diri-Nya, dan ini adalah suatu hal yang mustahil. Maka kita mengetahui bahwasanya ayat ini harus ditakwil dari zahirnya.

Untuk diketahui bahwa perdebatan tentang “Di mana Allah bersemayam?” telah menjadi bahan perdebatan antara para ahli kalam dari dulu sampai sekarang.

Dalam kedua penggalan ayat tersebut, Allah swt menakut-nakuti para kaum kafir dengan memberikan contoh dan bukti. Salah satunya adalah apa yang menimpa kaum-kaum sebelum Nabi Muhammad saw.

Ayat 18: Hukuman untuk Kaum Terdahulu

Dalam beberapa ayat al-Quran, Allah swt telah menunjukan bukti bahwasanya Dia telah menghukum kaum yang tidak mau menerima risalah-Nya. Di antaranya adalah Qorun yang ditenggelamkan beserta hartanya, Kaum Luth yang diserbu badai disertai bebatuan, kaum Nuh yang telah ditenggelamkan banjir mahadahsyat, kaum Syuaib yang telah dibinasakan dengan petir, serta Fir’aun dan kaumnya telah ditenggelamkan di Laut Merah.

Hal ini untuk menunjukan bahwasanya Allah Mahabenar dengan semua peringatannya tentang turunnya azab bagi orang-orang yang ingkar kepada-Nya.

Untuk menunjukan kuasa-Nya, Allah swt memperlihatkan salah satu ayat-Nya, yaitu burung yang dapat terbang meskipun hal itu harus melawan gaya gravitasi.

Ayat 19: Burung-burung yang Beterbangan Sebagai Bentuk Kuasa-Nya

Al-Maroghi berkata, “Apakah mereka lalai akan Kuasa Kami dan tidak melihat burung-burung yang beterbangan di atas mereka. Terkadang burung-burung itu mengembangkan sayapnya ketika terbang dan kadang mengatupkannya. Tidak ada yang menahan burung-burung itu di udara ketika beterbangan dan melayang-layang dari kejauhan dan daya tarik bumi, meski bertentangan dengan tabiat organismenya yang berat. Selain dari keluasan rahmat pencipta-Nya yang telah menciptakannya dalam berbagai bentuk dan karakteristik. Dia-lah yang mengetahui dan mengajarkan kepadanya gerakan-gerakan yang dapat membantunya untuk belari di udara menempuh jarak yang jauh guna mendapatkan makanan dan mencari rejeki.

Al-Maroghi melanjutkan, “Sesungguhnya Allah swt Maha Mengetahui segala sesuatu, hal yang lembut maupun yang besar. Dia mengetahui bagaimana Dia harus menciptakanya menurut sunnah-sunnah yang Dia ketahui faidahnya bagi hamba-hamba-Nya.”

Buya Hamka, mengutip filosof Pakistan kenamaan, Allamah Muhammad Iqbal mengatakan bahwasanya fenomena tentang keseimbangan alam seperti contoh di atas adalah akibat dari Sifat Rahman dari Allah swt, sebagaimana dalam firman-Nya dalam Q.S. Al-An’am (6/12), “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.” (*)

Advertisements

Kesempurnaan Ciptaan Allah swt vs Ketidaksempurnaan Ciptaan Manusia

dream.co.id

Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan cepat sebagai buah dari penelitian yang dilakukan secara masif dan berkelanjutan serta didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni dan berdedikasi.

Umat manusia melakukan investasi besar-besaran dalam bidang sains dengan menyiapkan pendanaan tak terbatas (unlimited funding) untuk menyekolahkan para ilmuwan, membangun laboratorium-laboratorium penelitian, hingga mengembangkan sumber daya alam terbarukan (renewable natural resources). Kolaborasi antara ilmuwan dan penyandang dana menghasilkan penemuan-penemuan yang diharapkan mampu membawa manusia pada kesejahteraan yang paripurna.

Sayangnya, harapan tidak mesti sesuai dengan kenyataan. Keinginan untuk meraih kesejahteraan tidak sepenuhnya dapat diraih, karena dalam titik tertentu pencapaian mengagumkan ras manusia ini justru menimbulkan masalah-masalah baru yang tidak terpikirkan oleh mereka sebelumnya.

Disamping hal-hal positif yang dinikmati manusia sebagai berkat perkembangan iptek, ada ekses negatif yang tidak bisa kita anggap sepele. Misalnya, tren perkembangan teknologi gawai nyatanya dibarengi dengan tercerabutnya kohesi sosial dalam pergaulan manusia. Dewasa ini, manusia milenial lebih tertarik berinteraksi secara maya daripada bertemu secara nyata. Sering kita baca berita tentang remaja yang meninggal karena terlalu lama bermain permainan daring (online game), atau potret pertemuan keluarga masa kini, di mana yang dulunya hangat dengan obrolan antar anggota, kini dingin karena semua orang disibukkan dengan ponsel pintar mereka.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak didasari dengan kebijaksanaan menimbulkan berbagai masalah kompleks seperti kerusakan lingkungan yang akut. Pertumbuhan kota-kota industri sebagai respons dari permintaan (demand) masyarakat modern akan produk-produk hasil rekayasa industri, menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius. Di beberapa kota industri di negeri Tiongkok, misalnya, masyarakat harus rela kehilangan hak mereka untuk mendapatkan udara dan air bersih karena dua kebutuhan dasar tersebut telah tercemari sebagai akibat pertumbuhan pabrik-pabrik yang tidak terkontrol.

Para ahli berpendapat bahwa kerusakan lingkungan ini mengancam keberlanjutan hidup umat manusia di masa yang akan datang. Pemanasan global (global warming) yang disebabkan oleh penggunaan zat-zat berbahaya dalam konsumsi rumah tangga (misalnya penggunaan freon yang berlebihan) membawa bumi pada ambang kehancuran. Eksploitasi sumber daya alam yang rakus menyebabkan kelangkaan energi terutama bagi umat manusia di masa yang akan datang.

Karya cipta manusia yang penuh dengan kekurangan sangat kontras dengan ciptaan Allah yang begitu paripurna. Allah menciptakan alam semesta tanpa meninggalkan cacat sama sekali. Bahkan dalam “kecacatan” pun ada kesempurnaan. Misalnya, orang dengan disabilitas, meskipun dianggap penuh kekurangan, tapi nyatanya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia normal pada umumnya.

Planet bumi yang berada dalam sistem galaksi yang sangat luas, nyatanya bisa aman dari gesekan atau serangan benda-benda luar angkasa lainnya karena ada lapisan atmosfir yang melindunginya. Langit yang tinggi menjulang tidak runtuh meskipun tidak ada tiang yang menyangganya. Air yang sangat banyak tidak tumpah, meskipun bumi ini bulat. Berbagai kesempurnaan ini seharusnya membuat manusia semakin kagum akan ciptaan-Nya.

Allah swt menantang manusia untuk menemukan cacat dalam ciptaan-Nya (Q.S. 67: 3-4). Dia swt mengklaim bahwa manusia tidak akan pernah menemukannya. Semakin manusia menggali ciptaan-Nya, semakin mereka kagum dan tercengang. Kekaguman ini jika dilandasi dengan keimanan akan menghasilkan pribadi ilmuwan yang rendah hati dan antusias dalam mengorek lagi misteri yang belum tersibak dari alam semesta. Mereka akan menganggap bahwa semua penciptaan Allah tidak sia-sia.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”” (Q.S. 3: 190-191). (*)

Berlindung kepada Kuasa-Nya: Inspirasi Q.S. Al-Mulk/67: 1

kabarmakkah.com

Seringkali kita luput untuk meminta kepada Allah Yang Maha Kuasa ketika berada dalam kondisi yang lemah tak berdaya dalam menghadapi permasalahan hidup. Yang kita jadikan pegangan justru makhluk-Nya yang notabene kekuatannya tidak sehebat daru kita sebagai sesama makhluk-Nya.

Ketika hutang mendera, misalnya, yang kita dewa-dewakan justru adalah uang, atau pertolongan orang lain, untuk menutupi permasalahan tersebut. Maka, kita akan berusaha sekuat tenaga bagaimana mendapatkan uang tersebut, karena kita yakin bahwa itu adalah solusi dari permasalahan yang sedang kita hadapi. Maka, kita akan berusaha untuk berhutang kesana-kemari untuk menutupi hutang yang telah jatuh tempo. Ketika hutang baru tersebut akan jatuh tempo, maka kita kelabakan dan mencari hutang lagi, bagaimanapun caranya. Bahkan, cara-cara licik pun terpaksa kita gunakan, misalnya, dengan menggadaikan/menjual barang yang bukan milik kita. Begitulah kalau kita tidak meminta kepada Allah untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang kita miliki.

Padahal apabila kita merasa beriman kepada-Nya, maka segala bentuk kesusahan yang kita hadapi, akan kita konsultasikan kepada-Nya. Memang, Allah tidak serta merta mejatuhkan uang dari langit, tapi Insya Allah Dia akan berikan jalan yang akan membantu kita untuk menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi. Ketika kita dililit hutang, misalnya, terus berkonsultasi kepada Allah, maka mungkin Allah akan menghadirkan rizki yang kita tidak pernah menyangkanya. Siapa tahu, oplah penjualan perusahaan ujug-ujug meningkat. Atau bos memberikan bonus yang cukup besar sebagai imbalan dari pekerjaan yang melampaui target. Atau bisa jadi, hutang yang jatuh tempo tersebut bisa diperpanjang lagi, sehingga kita memiliki waktu lebih untuk melunasinya.

Di dalam Q.S. Al-Mulk ayat 1, jelas dikatakan bahwasanya Allah swt mampu untuk melakukan apa-apa yang Dia kehendaki, tanpa ada satu orang pun yang mampu mengintervensi-Nya. Jika begitu, maka siapa yang akan mencegah pertolongan Allah ketika kita sangat membutuhkannya? Tentu tidak akan ada yang mampu melakukannya! Maka sungguh sangat aneh, apabila kita tidak menangis meminta pertolongan dari-Nya tatkala dalam kesulitan. Apabila hal ini luput dilakukan, maka keimanan kita masih dipertanyakan.

Memang, seringkali sikap angkuh – yang mana hal itu sudah menjadi penyakit akut manusia modern – mencegah kita untuk meminta langsung kepada-Nya. Seorang intelektual Muslim liberal mengatakan bahwasanya doa adalah bentuk “kecemenan” kita sebagai manusia, padahal Allah swt telah menganugerahkan segalanya bagi manusia. Tentu kita tidak beranggapan seperti itu. Sekeras apapun usaha kita, tidak akan menandingi kuasa-Nya. Doa adalah bentuk pengakuan kita akan kegungan Tuhan yang mana tidak ada seorang makhluk pun yang mampu menandinginya. (*)