Kesempurnaan Ciptaan Allah swt vs Ketidaksempurnaan Ciptaan Manusia

dream.co.id

Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan cepat sebagai buah dari penelitian yang dilakukan secara masif dan berkelanjutan serta didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni dan berdedikasi.

Umat manusia melakukan investasi besar-besaran dalam bidang sains dengan menyiapkan pendanaan tak terbatas (unlimited funding) untuk menyekolahkan para ilmuwan, membangun laboratorium-laboratorium penelitian, hingga mengembangkan sumber daya alam terbarukan (renewable natural resources). Kolaborasi antara ilmuwan dan penyandang dana menghasilkan penemuan-penemuan yang diharapkan mampu membawa manusia pada kesejahteraan yang paripurna.

Sayangnya, harapan tidak mesti sesuai dengan kenyataan. Keinginan untuk meraih kesejahteraan tidak sepenuhnya dapat diraih, karena dalam titik tertentu pencapaian mengagumkan ras manusia ini justru menimbulkan masalah-masalah baru yang tidak terpikirkan oleh mereka sebelumnya.

Disamping hal-hal positif yang dinikmati manusia sebagai berkat perkembangan iptek, ada ekses negatif yang tidak bisa kita anggap sepele. Misalnya, tren perkembangan teknologi gawai nyatanya dibarengi dengan tercerabutnya kohesi sosial dalam pergaulan manusia. Dewasa ini, manusia milenial lebih tertarik berinteraksi secara maya daripada bertemu secara nyata. Sering kita baca berita tentang remaja yang meninggal karena terlalu lama bermain permainan daring (online game), atau potret pertemuan keluarga masa kini, di mana yang dulunya hangat dengan obrolan antar anggota, kini dingin karena semua orang disibukkan dengan ponsel pintar mereka.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak didasari dengan kebijaksanaan menimbulkan berbagai masalah kompleks seperti kerusakan lingkungan yang akut. Pertumbuhan kota-kota industri sebagai respons dari permintaan (demand) masyarakat modern akan produk-produk hasil rekayasa industri, menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius. Di beberapa kota industri di negeri Tiongkok, misalnya, masyarakat harus rela kehilangan hak mereka untuk mendapatkan udara dan air bersih karena dua kebutuhan dasar tersebut telah tercemari sebagai akibat pertumbuhan pabrik-pabrik yang tidak terkontrol.

Para ahli berpendapat bahwa kerusakan lingkungan ini mengancam keberlanjutan hidup umat manusia di masa yang akan datang. Pemanasan global (global warming) yang disebabkan oleh penggunaan zat-zat berbahaya dalam konsumsi rumah tangga (misalnya penggunaan freon yang berlebihan) membawa bumi pada ambang kehancuran. Eksploitasi sumber daya alam yang rakus menyebabkan kelangkaan energi terutama bagi umat manusia di masa yang akan datang.

Karya cipta manusia yang penuh dengan kekurangan sangat kontras dengan ciptaan Allah yang begitu paripurna. Allah menciptakan alam semesta tanpa meninggalkan cacat sama sekali. Bahkan dalam “kecacatan” pun ada kesempurnaan. Misalnya, orang dengan disabilitas, meskipun dianggap penuh kekurangan, tapi nyatanya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia normal pada umumnya.

Planet bumi yang berada dalam sistem galaksi yang sangat luas, nyatanya bisa aman dari gesekan atau serangan benda-benda luar angkasa lainnya karena ada lapisan atmosfir yang melindunginya. Langit yang tinggi menjulang tidak runtuh meskipun tidak ada tiang yang menyangganya. Air yang sangat banyak tidak tumpah, meskipun bumi ini bulat. Berbagai kesempurnaan ini seharusnya membuat manusia semakin kagum akan ciptaan-Nya.

Allah swt menantang manusia untuk menemukan cacat dalam ciptaan-Nya (Q.S. 67: 3-4). Dia swt mengklaim bahwa manusia tidak akan pernah menemukannya. Semakin manusia menggali ciptaan-Nya, semakin mereka kagum dan tercengang. Kekaguman ini jika dilandasi dengan keimanan akan menghasilkan pribadi ilmuwan yang rendah hati dan antusias dalam mengorek lagi misteri yang belum tersibak dari alam semesta. Mereka akan menganggap bahwa semua penciptaan Allah tidak sia-sia.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”” (Q.S. 3: 190-191). (*)

Tentang Kematian

tumblr.com

Tidak ada seorang pun yang bisa menangguhkan datangnya kematian yang telah digariskan oleh Allah swt. Ajal akan tetap datang meskipun kita mencoba segala cara untuk mencegahnya (Q.S. 63: 11). Entah itu dengan bersembunyi di benteng yang tinggi dan kokoh (Q.S. 4: 78), atau pergi ke luar angkasa yang mana kita anggap tidak ada satu pun bahaya yang bisa mengintai, tetap saja dia akan menghampiri.

Manusia memiliki siklus kehidupan yang jelas. Dia diciptakan dari ketiadaan, lalu dimatikan lagi, dan akhirnya berujung pada kehidupan yang kekal di akhirat kelak (Q.S. 2: 28).

Iya, sekilas itu nampak mustahil, namun mari kita berpikir lebih jauh. Apakah mungkin seseorang dibangkitkan dari kematian? Sangat mungkin, semungkin manusia dihidupkan dari ketiadaan, yang merupakan buah “perkelahian” antara sperma dan ovum (Q.S. 76: 2). Lalu apa beda fenomena ini dengan kebangkitan setelah kematian?

Dahulu kala ada seorang nenek yang memungut tulang-belulang yang telah lapuk dari tanah, lalu bertanya kepada Sang Bijak, “Siapakah pula yang akan dapat menghidupkan kembali tulang-belulang ini padahal dia telah lapuk?” (Q.S. 36: 78)

Lalu jawaban pun datang, “Yang akan menghidupkannya ialah yang menjadikannya pertama kali.” (Q.S. 36: 79).

Lihat! Dulu sesosok manusia pernah mengalami sebuah “ketiadaan” yang mana namanya tidak pernah disebut (Q.S. 76: 1), dan tidak pernah dikenal. Namun, kini dia menjadi seseorang yang masyhur, namanya dipuja dan dipuji, sampai seringkali hal itu melalaikannya untuk mengingat kematian yang akan segera datang menjemput. Namun, pada ujungnya dia akan menemui sang ajal, yang telah menanti semenjak kedatangannya ke kolong langit ini. Dan apa yang didapat hilang tak berbekas, kecuali amalan saleh yang dia ukir selama hidup. Pantas saja Sang Bijak berdawuh, “Yang mengikuti mayit ke kuburnya ada tiga, lalu dua kembali dan yang tinggal bersamanya hanya satu; yang mengikutinya adalah keluarganya, hartanya dan amalnya, lalu kembali keluarga dan hartanya, dan yang tinggal hanya amalnya.”

Beliau pun mengabarkan kematian sebagai berikut, “Allah swt menghinakan manusia dengan kematian, dan menjadikan dunia sebagai tempat kehidupan yang fana, dan menjadikan akhirat sebagai tempat pembalasan yang kekal.”

Eksistensi kematian – dan juga kehidupan – dimaksudkan untuk menguji sejauh mana manusia berbuat kebajikan di muka bumi (Q.S. 67: 2). Barangsiapa yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya. Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sunguh, surgalah tempat tinggalnya (Q.S. 79: 37 – 41).

Semoga Allah menempatkan kita dalam golongan orang-orang yang mendapatkan karunia-Nya di kehidupan akhirat kelak. Amin. (*)