Tantangan Perjuangan

Saat ini kita sedang berjuang di medan pendidikan, berbentuk pondok pesantren. Lembaga ini tidak hanya menjadi sumber ilmu-ilmu keagamaan (qauliyah) dan ilmu-ilmu tentang kehidupan (kauniyah) akan tetapi juga tempat pendadaran para calon pemimpin Muslim. Di dalamnya tercakup pengajaran Islam sekaligus pendidikan Islam yang integral dan komprehensif.

Tentu berjuang di pesantren tidaklah mudah. Ada banyak tantangan, godaan bahkan mungkin hinaan yang membuat hati ini ciut. Beberapa di antaranya adalah tantangan berupa murid yang tidak taat pada aturan, keterbatasan sumber daya baik material maupun finansial dan gesekan dengan kolega dan pimpinan.

Murid-murid di pesantren tidaklah homogen, melainkan heterogen; terdiri dari berbagai karakter dan latar belakang. Banyak santri yang taat terhadap aturan dan siap untuk mendapatkan pendidikan di pesantren, akan tetapi banyak pula santri yang tidak siap dengan peraturan yang ada. Walhasil, banyak santri-santri devian karena tidak mampu beradapsi dengan lingkungan pesantren.

Belum lagi tekanan dari orang tua yang seringkali tidak paham dengan kultur pesantren. Ada orang tua yang memosisikan diri sebagai majikan (karena sudah membayar) dan melihat stakeholders pesantren sebagai jongos (karena sudah dibayar). Pesantren seringkali disetir oleh orang tua supaya bisa menjadi apa yang mereka inginkan. Hal ini seringkali membuat sekolah sulit untuk meraih goal yang sudah ditetapkan.

Karena pondok pesantren sepenuhnya swasta, tentu kita akan mudah sekali berhadapan dengan keterbatasan, baik dalam hal material maupun finansial. Karena sepenuhnya bergantung pada iuran dari santri, maka pondok selalu memiliki kekurangan dalam hal fasilitas seperti sumber belajar, sarana olahraga, sarana umum, dan lain sebagainya. Sebagai seorang guru tentu ini sangat membuat frustasi karena kita tidak bisa mengembangkan pengajaran ideal yang memberdayakan media pembelajaran yang maksimal.

Di sisi lain, beban kerja yang berat seringkali tidak berbanding dengan kesejahteraan yang diberikan oleh pondok. Boro-boro mikir kesejahteraan, pondok sudah cukup sulit berkubang dengan permasalahan sarana dan prasarana karena iuran santri tidak cukup untuk mendanai proses pendidikan. Walhasil ini menjadi tantangan sendiri bagi para guru terutama bab keikhlasan.

Pesantren adalah sebuah entitas sosial tersendiri yang di dalamnya terbentuk stratifikasi sosial yang cukup mapan. Ada kiai sebagai orang nomor satu di lembaga. Ditambah dengan putra-putri, adik-kakak, bibi-paman kiai biasanya menempati posisi puncak di pesantren.

Guru seringkali berada pada posisi subordinan dan menjadi obyek penderita atas semua permasalahan yang ada di pesantren. Maka wajar para guru akan sering mendapatkan koreksi, teguran dan tekanan-tekanan psikologis lainnya ketika menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Ini pun akan menjadi tantangan yang cukup membuat kita ketar-ketir.

Tantangan yang sangat besar di pesantren berbanding lurus dengan godaan yang menggiurkan di luar pesantren. Di luar sana ada banyak tawaran untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan beban kerja yang relatif tidak berat dan membuat stress. Faktor tantangan internal menjadi daya dorong dan faktor godaan eksternal menjadi daya tarik kita untuk meninggalkan tugas mulai mendidik anak-anak bangsa di pondok pesantren.  

Kalau kita tidak pandai tentu hal ini akan membuat kita menyerah. Pada titik tertentu kita akan bersikap apatis dan mungkin berpaling dari kewajiban. Banyak para pejuang kita yang berguguran karena tidak siap menghadapi tantangan yang begitu besar di pondok dan godaan menggiurkan yang ditawarkan oleh dunia luar.

Supaya kita tidak terjebak dalam kondisi ini, alangkah lebih baiknya apabila kita merenungkan hikmah dari Q.S. Al-Qalam ayat 48-50.

Karena tidak kuat dengan resistensi kaum yang diserunya, Nabi Yunus a.s. meninggalkan medan dakwah dan pulang ke kampung halamannya. Dia a.s merasa tidak akan berhasil selama orang yang diserunya konsisten dalam memberikan penolakan atas misinya.

Syukur Alhamdulillah, Allah swt masih menyayanginya. Dia swt menegur Yunus a.s. dengan membuatnya dilempar dari perahu yang ditumpanginya dan dimakan oleh paus yang cukup besar. Di dalam ikan, Nabi Yunus a.s akhirnya bertobat seraya memohon ampunan pada-Nya.

Setelah diselamatkan dari perut ikan, Yunus a.s. kembali berdakwah di kaumnya dan berhasil mengislamkan mereka. Walhasil dia a.s. ditempatkan menjadi orang-orang yang terpilih dari kaum saleh.

Tadabbur ayat ini hendaknya menguatkan kita untuk terus berjuang di pondok pesantren sebagai ladang amal kita. Apabila kita berhasil berdamai dengan tantangan dan godaan yang menghadang, Insya Allah kita akan menuai hasil dari apa yang telah kita tanam. Aamiin.

Advertisements

Pertarungan Wacana – Inspirasi Alquran

sumber foto: pinterest

PERTARUNGAN wacana senantiasa menghiasi ruang publik kita. Dulu, ketika Nabi saw sedang fokus menyebarkan dakwah, dan hal itu dirasa mengancam eksistensi kaum kafir Quraisy – terutama para pembesarnya, beliau mendapatkan serangan baik secara fisik maupun psikis.

Khusus serangan psikis, itu ditujukan untuk menyerang Rasul saw secara psikologis melalui pelemparan wacana kepada khalayak ramai, agar dia saw dan pengikutnya merasa terpojok dalam ruang publik. Salah satu serangan yang gencar dilakukan adalah penyebaran isu bahwasanya Nabi saw memiliki cacat mental. Serangan ini nampaknya cukup efektif. Buktinya beberapa kali Rasul saw down, dan secara khusus harus mendapatkan motivasi dari Allah swt melalui wahyu yang diturunkan.

Namun, tidak ada yang bisa menahan laju kehendak Allah swt. Beberapa counter-attack dilakukan melalui turunnya wahyu yang merespon serangan ini. Wahyu tersebut memiliki dua fungsi: sebagai healing bagi Nabi saw dan pengikutnya sekaligus menjadi serangan balik bagi kaum Kafir Quraisy.

Dan nyatanya Alquran melakukan hal ini dengan sangat baik; memberikan fakta-fakta logis yang memperkuat argumen serangan.  Pertama, Alquran menjelaskan bahwa bagaimana mungkin orang yang baik akhlaknya dan luhur budinya – seperti halnya Rasul saw – bisa dicap sebagai orang gila. Tentu ini sangat bertentangan dengan akal sehat. Kedua, argumen yang menunjukan bahwa justru serangan tanpa tedeng-aling tersebut mempertontonkan keputus-asaan mereka dalam menahan laju dakwah Rasul saw, sehingga tuduhan tentang cacat mental justru dengan mudah kembali kepada mereka.

***

Fakta sejarah di atas menunjukan bahwa perebutan wacana dalam ruang publik sudah lumrah dilakukan sebagai salah satu strategi dalam menyerang lawan secara psikologis. Ini juga yang kita lihat dalam proses berbangsa di negeri ini, terutama ketika menghadapi hajat limat tahunan pemilihan umum.  

Dalam masa kampanye ruang publik kita penuh dengan saling lempar tuduhan antar pendukung paslon: antek PKI, antek-asing, anti-ulama, antek-hizbut tahrir, radikal, dan tuduhan peyoratif lainnya yang berfungsi untuk menghancurkan karakter lawan. Dan ini berhasil: publik mengonsumsi mentah-mentah isu ini sehingga menimbulkan kecurigaan antar anak bangsa.

Paska pencoblosan, hiruk pikuk tak otomatis berhenti. Kedua kubu saling klaim kemenangan dan melancarkan wacana-wacana yang memengaruhi publik. Beberapa saluran komunikasi massa dimanfaatkan untuk melancarkan usaha ini sehingga setiap detik ruang publik kita senantiasa riuh dengan bahasa perpolitikan tanpa ujung ini.

Entah siapa yang benar, akan tetapi hal ini jelas kontra-produktif mengingat yang sedang berkelahi adalah sama-sama anak bangsa, bukan antara kafir dengan muslim seperti yang terjadi di zaman Rasul saw. Atau antara kolonial dengan pribumi seperti yang terjadi pada masa pra-kemerdekaan.

Dalam pandangan picik saya sudah saatnya kita mengakhiri konflik horizontal tak berkesudahan ini. Energi bangsa ini insya Allah akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk perbaikan umat ke depan. Semoga Allah swt senantiasa melindungi seluruh bangsa Indonesia. Wallahu a’lam. []

Istidraj – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 44-45

pinterest

Apakah nikmat yang Allah swt berikan adalah anugrah kemuliaan dari-Nya? Belum tentu. Bisa jadi justru itu adalah bentuk penghinaan-Nya sebagai balasan atas pengingkaran pada syariat-Nya dan pembangkangan terhadap-Nya.

How come?

Kenikmatan jenis ini – yang sejatinya adalah penghinaan atau dalam bahasa Alquran dinamakan istidraj – entah itu berbentuk umur yang panjang, kesehatan yang prima, dan harta yang melimpah adalah bentuk penangguhan Allah swt atas azab yang akan Dia timpakan kepada penerimanya.

Limpahan nikmat tersebut akan membuat mereka terlena dan merasa percaya diri: everything’s fine with their life. Lalu, hal itu membuat mereka tidak perlu merasa bersalah, meskipun telah menjadi bagian terdepan dari mereka yang menentang syariat Allah swt.

Mereka percaya bahwa menyerang syariat-Nya tidak akan berdampak apa-apa, baik itu untuk kehidupan mereka di dunia maupun di akhirat. Buktinya, selama ini mereka baik-baik saja. Mereka tidak salat, misalnya, akan tetapi tetap bisa makan, bahkan melebihi dari apa yang didapat oleh orang-orang yang tunduk pada syariat-Nya.

Seperti yang telah saya ungkapkan di muka, sejatinya nikmat tersebut adalah tipu daya Allah swt terhadap mereka, sehingga mereka tidak sadar bahwa suatu saat nanti, secara perlahan, Allah swt akan menjerumuskan mereka pada jurang kehinaan. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah min zalik.


Allah swt menangguhkan azab bagi orang zalim – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 43 – 52

pinterest.

Seringkali Allah swt mengazab kaum zalim dalam arah yang tidak mereka sadari. Ujug-ujug terjadi bencana. Tanpa tedeng aling timbul resesi ekonomi.

Azab Allah swt sifatnya tidak cash and carry. Tapi seringkali ditangguhkan. Sehingga sangat mungkin ini membuat mereka merasa congkak dan aman dari konsekuensi pengingkaran terhadap kebenaran Alquran.

Lihat saja sekarang. Orang-orang yang melakukan kerusakan di muka bumi ini bisa hidup aman. Bahkan mereka mengolok-olok kaum beriman, “Lihatlah kami! Tanpa beriman kepada Tuhan pun, kita bisa hidup dengan aman dan tenteram.”

Namun, kita sebagai manusia beriman percaya bahwa azab Allah swt pastilah adanya. “Kami menangguhkan azab kepada mereka, tapi rencana Kami sangatlah dahsyat,” begitu firman Allah dalam Q.S. Al-Qalam ayat 45.

Ini adalah ancaman keras dari Allah swt kepada orang-orang yang mendustakan Alquran. Memang Allah swt kadang lembut dan demokratis, tapi di lain tempat bisa jadi sangat keras kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran Alquran. Tentu kita sebagai umat beriman harus bijak menyikapinya.

Alangkah baiknya peringatan ini, sebelum ditujukan kepada orang lain, diarahkan dulu pada diri kita pribadi, keluarga dan lingkungan di sekitar kita. Apakah kita sudah menjadi orang yang pertama kali mencintai dan mengamalkan Alquran? Apakah keluarga dan lingkungan kita sudah melakukan hal yang sama dengan kita? Saya kira itu lebih baik, dari sekedar menunjuk hidung orang lain dan merasa diri paling benar. Wallahu a’lam. []

Tentang resistensi kaum kafir, biarkan Allah swt menunaikan janji-Nya – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 44 – 52

Richard Dawkins. Pinterest.

SUDAH menjadi mafhum bahwa perjuangan menegakkan risalah Allah swt di muka bumi akan disertai jalan terjal berupa cemoohan, olok-olok bahkan ancaman pembunuhan.

Apalagi konteks sekarang, ketika ras manusia berada pada puncak kemajuannya, akan sangat sulit bagi mereka untuk menerima kebenaran yang berasal dari Tuhan yang termaktub dalam kitab suci yang dibawa oleh Nabi saw.

Saat ini pertentangan ideologi dan nilai-nilai semakin keras di saat tumbuh subur isme-isme hasil dialektika manusia dengan alam pikirannya dan realitas sosial. Paham-paham yang mengingkari eksistensi Tuhan dan menolak syariat-Nya semakin beragam dan berevolusi menjadi sebuah gerakan kesadaran terutama dukungan terhadap humanisme dan penyelidikan ilmiah.

Orang model Richard Dawkins tidak hanya mendeklarasikan diri sebagai seorang ateis, akan tetapi juga menjadi ‘nabi’ bagi orang-orang yang menolak eksistensi Tuhan. Selayaknya nabi pada umumnya, dia membuat sebuah gerakan masif untuk memengaruhi masyarakat tentang betapa pentingnya penyelidikan ilmiah dan bahaya ‘tahayul’ agama dalam gerakan ini.

Usaha yang dilakukan Dawkins yang didukung oleh para pesohor dunia maupun lokal akan terus berbenturan dengan para agamawan yang menjalankan misi mereka untuk melanjutkan perjuangan para nabi dalam menyebarkan risalah Tuhan.

‘Perang’ ini tidak hanya terjadi dalam ruang fisik, akan tetapi muncul juga dalam ruang non-fisik (maya) yaitu perseteruan di media sosial, bahkan dalam eskalasinya dalam titik tertentu melebihi dunia nyata.

Maka wajar apabila muncul olokan dari mereka kepada kaum agamawan dan manusia beragama lainnya sebagai kaum delusional yang tertipu sihir kitab suci, seperti halnya Nabi Muhammad saw dicap sebagai orang gila oleh pembesar Kafir Quraisy.

Dalam merespon serangan terhadap misi Nabi saw dan para penerusnya, Allah swt menegaskan kepada mereka untuk tidak terlalu memikirkannya. Apapun cobaan yang mereka hadapi, dakwah harus terus berjalan. The show must go on. Kita tidak boleh selangkah pun mundur dari perjuangan ini.

Allah swt menyuruh kita untuk mengambil pelajaran dari pertaubatan Nabi Yunus as yang meninggalkan misi perjuangan hanya karena mendapatkan resistensi dari kaumnya. Untungnya, beliau menyadari kesalahannya dan diangkat derajatnya oleh Allah swt sebagai orang-orang yang salih dalam barisan para nabi dan rasul.

Adapun perhitungan bagi mereka yang konsisten menentang misi ini, kita kembalikan kepada Allah swt. Dia swt berjanji bahwa mereka akan setahap demi setahap menerima balasan dari-Nya dari arah yang mereka tidak ketahui. Kalaupun tidak sekarang, suatu saat nanti, mereka akan menerima konsekuensinya. Kalau tidak dunia, tentu mereka tidak akan mengelak dari siksa Allah di akhirat kelak.

Tentang hinaan dan olokan kaum sekuler yang tidak suka Islam menyebar di muka bumi, kita harus menahan diri. Jangan itu membuat kita kalap, sehingga kita membalasnya dengan serupa olokan yang jauh dari akhlak Islam. Atau menjadi merasa letih dan memutuskan untuk berhenti dalam berjuang. Kita kembalikan semuanya kepada Allah swt. Wallahu a’lam. []

Keyakinan kaum kafir akan kehidupan yang baik di hari kiamat dan bantahan Allah swt terhadapnya

Allah swt mengungkapkan ‘keheranan-Nya’ atas keyakinan kaum Kafir (Quraisy) bahwa mereka akan mendapatkan keutamaan (fadhilah) di akhirat kelak, sebagaimana mereka mendapatkannya ketika hidup di dunia. Hal ini terungkap dalam Q.S. Al-Qalam ayat 35.

Lalu Allah swt membantah keyakinan ini dengan memberikan pertanyaan ingkar (pertanyaan yang bertujuan meniadakan) apakah Dia swt pernah memberikan janji kepada mereka yang diperkuat dengan sumpah dan berlaku sampai hari kiamat, sehingga mereka benar-benar yakin akan pendapat tersebut.

Dalam ayat ini, Allah swt memberikan beberapa penekanan secara spesifik tentang janji yang dimaksudkan; 1) janji yang diperkuat dengan sumpah, dan 2) janji yang dilekatkan dengan jangka waktu spesifik.

Tak tangung-tanggung, janji tersebut dilekatkan pada hari akhir (kiamat) yang menunjukan kekuatan dan kesempurnaan dari janji Allah swt ini.

Spesifikasi yang detail akan ‘janji Allah’ ini berfungsi untuk menunjukan ‘keheranan-Nya’ sekaligus pengingkarannya akan keyakinan Kaum Kafir Quraisy tersebut. Allah swt tidak pernah berjanji seperti ini kepada kaum yang tidak beriman kepada-Nya. Sebaliknya, Dia swt menjanjikan azab yang pedih bagi mereka sebagai konsekuensi atas kekufurannya.

Dalam hemat saya, jika kita merenungi ayat-ayat al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa janji yang tertuang dalam ayat ini Allah swt tujukan bagi mereka yang bersedia berserah diri dan tunduk pada syariat yang telah ditentukan-Nya. Wallahu a’lam. []

Sumber: Tafsir Mafatihul Ghaib Fakhruddin ar-Razi

Persamaan umat Muslim dan Non-Muslim dalam konstitusi: sebuah kritik teologis

pewresearch.org

Beberapa waktu lalu, Forum Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Banjar memberikan rekomendasi penggantian diksi ‘kafir’ dengan ‘muwathin’ (warga negara) dalam konteks bernegara.

Selain karena alasan bahwa kata ‘kafir’ mengandung kekerasan teologis, keputusan ini merujuk pada kesamaan posisi antara Muslim dengan Non-Muslim dalam konstitusi negara Indonesia. Setiap orang (apapun agama, ras atau golongannya) setara di hadapan hukum, politik, budaya dan sosial yang berlaku di Indonesia.

Maka wajar apabila beberapa pentolan NU sempat mengeluarkan pendapat bahwa Non-Muslim seperti Ahok berhak untuk menjadi pemimpin pada suatu daerah atau negara karena perspektif yang mereka gunakan adalah negara bukan agama. Meskipun begitu, ada beberapa yang mencoba memberikan argumen teologis atas pendapat ini.

Tentu saja saya menghormati pendapat para ulama NU tersebut karena mereka berpijak pada dalil yang mereka yakini benar.

Bagaimana dengan pendapat saya?

Saya berpendapat bahwa hasil bahtsul masail di atas tidaklah tepat apabila merujuk pada worldview Islam. Sebagai seorang Muslim, saya melihat perspektif Islam harus kita gunakan sebagai landasan dalam berpikir dan bersikap meskipun itu pada tataran ketatanegaraan. Pemisahan antara negara dan agama – menurut hemat saya – adalah pengejawantahan dari proses sekulerisasi.

Sepanjang sepengetahuan pendek saya, dalam ajaran Islam, baik dalam konteks bernegara maupun beragama, umat Islam tidaklah setara dengan umat non-Islam. Umat Islam memiliki kedudukan yang lebih mulia dari mereka.

Saya mengambil hikmah dari Q.S. Al-Qalam ayat 35 yang mana Allah swt menegaskan bahwa tidaklah mungkin setara antara ketaatan dan kekufuran.

Konteks ayat di atas adalah pernyataan kaum kafir Quraisy yang mengatakan bahwa mereka akan diberikan keutamaan di akhirat kelak, sebagaimana mereka mendapatkan itu di dunia.

Para ulama menyatakan bahwa ayat ini menunjukan posisi yang tidak sama antara Muslim dan non-Muslim (lihat Tafsir Mafatihul Gaib Fakhruddin Ar-Razi).

Doktrin teologis tentang ketidaksamaan ini, sejatinya kita integrasikan dalam kritik terhadap konstitusi. Karena, bagaimanapun juga ayat-ayat Alquran harus kita jadikan referensi yang lebih tinggi dari ayat-ayat konsitusi.

Adapun penerimaan terhadap sikap kita ini dalam konteks konstitusi tergantung pada usaha kita dalam membuatnya sebagai kesepakatan dengan umat non-Muslim di wilayah Indonesia. Apakah ada political will dari para politisi Muslim untuk menjadikan umat Islam mendapatkan posisi lebih tinggi dari umat-umat lain dalam konteks kenegaraan.

Sebagai bukti empiris, Israel, Malaysia dan Arab Saudi bisa melakukan hal seperti itu dalam konsitusi negara mereka. Dan menurut saya, dalam demokrasi yang kita sepakati sebagai sistem yang berlaku di Indonesia hal ini sah adanya.

Kita tahu bahwa baru-baru ini Israel meratifikasi undang-undang yang menjadikan negara ini sebagai negara Yahudi dan bangsa Yahudi memiliki previlege lebih dari ras dan penganut agama lain.

Di Malaysia, bangsa Melayu mendapatkan kedudukan istimewa di mata konstitusi. Begitu juga di Arab Saudi di mana umat Muslim mendapatkan posisi lebih tinggi dari penganut agama lain.

Meskipun begitu, kita tahu bahwa di negara-negara tersebut supermasi hukum tetap bisa tegak. Ketidaksamaan antar warga negara tidak memengaruhi pelayanan pemerintah terhadap rakyatnya.

Kalau pun usaha ini mustahil adanya, setidaknya dalam iktikad kita tetap terpatri bahwa Muslim tidak sama dengan non-Muslim, seperti halnya keyakinan bahwa umat Islam hanya boleh memilih pemimpin Muslim seperti yang tertuang dalam Q.S. Al-Maidah ayat 51, meskipun pendapat kita ini tidak mendapatkan legitimasi oleh konstitusi negara.

Kalau pun kita tidak bisa menyukseskan usaha ini, setidaknya kita tidak menjadi bagian yang mencegah usaha orang-orang yang berusaha untuk menggapai cita-cita ini.

Tolonglah agama Allah, niscaya Allah akan menolong kita dan menetapkan langkah kita. Wallahu a’lam. []