Manusia makhluk yang suka berkeluh kesah, Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 21

Menurut Q.S. Al-Ma’arij ayat 19-20, secara fitrah, manusia dilahirkan dengan karakteristik penuh keluh kesah. Dia akan mengeluh ketika ditimpa kesusahan, dan jumawa serta menolak (bersedekah) tatkala diberikan kelapangan. Kecuali orang-orang beriman yang memiliki sepuluh karakterisitik yang termaktub dalam penjelasan ayat-ayat selanjutnya. 

Dalam Jami’ul Bayaan, Imam at-Thobari secara khusus menyematkan sifat ini pada orang-orang kafir, mereka yang tidak percaya akan ketuhanan Allah s.w.t dan orang musyrik, mereka yang menyekutukan-Nya. Sedangkan ‘halu’a’ dimaknai dengan perasaan sangat takut, gelisah dan tamak. Orang kafir, menurut ayat ini, disematkan sebuah sifat buruk, yaitu tatkala dia miskin akan merasa gelisah dan tidak sabar. Sebaliknya, jika diberikan kelimpahan harta, dia akan bakhil dan enggan untuk menggunakannya di jalan Allah. 

Dalam hemat saya, pernyataan Imam at-Thobari ini bisa dimaknai secara faktual maupun normatif. Artinya, bisa jadi memang secara faktual, mayoritas orang kafir memiliki sifat halu’; mereka sangat takut, gelisah dan tamak dengan harta. Tapi bisa juga ini dilihat dalam sudut pandang normatif, di mana umat Islam jangan sampai terjebak pada sifat halu’ yang mana karakter ini hanya pantas tersemat pada orang kafir. 

Lalu, apa sebenarnya makna halu’? 

Sekilas kata ini mirip dengan bahasa gaul yang digunakan oleh anak muda sekarang, ‘halu’. Namun, ternyata memiliki arti yang berbeda. Dalam bahasa gaul, ‘halu’ merupakan kependekan dari halusinasi, suatu sifat di mana kita memiliki keinginan yang sangat banyak. Akan tetapi, kata ‘halu’ dalam ayat ini bermakna keadaan cepat bersedih ketika menghadapi kesusahan, dan bakhil ketika mendapatkan kelapangan hidup (Al-Maroghi)

Prof. Wahbah Az-Zuhaili mengutip pernyataan Az-Zamaksyari mengatakan bahwa kata ‘halu’ bermakna cepat resah ketika terkena musibah, dan menolak (bersedekah) tatkala mendapatkan kebaikan. 

Muhammad Ibnu Thahir bertanya kepada Tsa’lab seperti yang dikutip oleh Al-Maroghi tentang makna ‘halu’ dalam ayat 19, beliau mengatakan bahwa dua ayat berikutnya (20-21) sudah sangat jelas mendeskripsikan makna sifat tersebut. 

Mungkin sifat dasar manusia – seperti yang dideskripsikan dalam ayat ini – ini bisa diuji secara empiris dalam kajian psikologi agama. Apakah manusia secara fitrah bersifat sangat resah, takut dan rakus? Mungkin penjelasan di bawah ini bisa sedikit memberikan gambaran. 

Menurut Hamka, perasaan keluh kesah, tidak tenang hati, selalu merasa kurang, cemas dan takut bisa dibarengi dengan beberapa penyakit jiwa lainnya seperti depresi (depression), cemas (anxiety), dan yang lainnya. Ketika sudah terkena keadaan ini, maka dia tidak bisa mengendalikan emosinya (jazu’), menyalahkan orang lain dan menyesali nasib. 

Ini adalah kondisi yang jamak kita lihat dalam masyarakat modern di mana segala bentuk tekanan (pressure) menghantui kehidupan mereka. 

Dalam sebuah video dokumenter dijelaskan bahwa di balik kemajuan negara Korea Selatan, negeri tersebut memiliki sisi buruk yang suatu saat dikhawatirkan menjadi bom waktu. Gemerlap kapitalisme yang dibarengi dengan kuatnya budaya konsumerisme menyebabkan masyarakat Korsel berlomba-lomba untuk membeli barang. Mereka dijejali janji-janji palsu yang ditayangkan melalui tayangan iklan di TV, billboard maupun media massa. Segala cara mereka lakukan agar terlihat keren seperti tayangan iklan, meskipun itu harus terjerat utang. 

Beberapa dari mereka harus memuaskan hasrat konsumerisme dengan cara berhutang memakai kartu kredit. Karena tingkat keinginan yang tidak sesuai dengan pemasukan akhirnya mereka terjebak pada hutang yang menggunung. Kemudahan berhutang yang diberikan oleh kartu kredit membuat keadaan semakin parah. Walhasil, ketika kondisi ini sudah mencapai limit-nya, mereka dipaksa untuk membayar. Kalau tidak mampu, mobil, rumah dan properti yang mereka miliki harus disita untuk membayar hutang yang gagal bayar. 

Kondisi ini tentu membuat mereka gelisah, cemas dan takut. Mayoritas dari mereka akan mengalami depresi, dan sebagian memilih untuk mengakhiri hidup sebagai jalan akhir. Ini adalah kondisi faktual yang relevan dengan apa yang disampaikan oleh Al-Qur’an melalui ayat ini. 

Prof. Al-Maroghi menyatakan bahwa kondisi halu’ lebih disebabkan oleh cinta dunia, yaitu senantiasa sibuk dengan urusan-urusan duniawi. Masyarakat modern terjebak pada ide materialisme, yang mementingkan urusan duniawi (dunia materi) dan meninggalkan urusan ukhrowi, urusan rohani. Hidup mereka kering, karena hanya peduli dengan jasad, sedangkan ruh mereka campakkan. 

Ideologi kapitalisme menciptakan sebuah kelas yang diisi oleh orang-orang kaya yang tidak perlu hidup dengan susah payah, karena hanya dengan menanam saham pada perusahaan-perusahaan, otomatis mereka akan mendapat income yang tidak pernah berhenti. Di beberapa negara yang menganut ide liberalisme, kondisi ini menyebabkan gap yang cukup lebar antara elit minoritas yang menguasai mayoritas uang, dengan masyarakat luas yang harus hidup hemat untuk bertahan hidup. 

Sayangnya, kelas menengah ke atas tidak mau berbagi dengan kelas pekerja. Alih-alih menyedekahkan hartanya untuk kemaslahatan bersama, mereka berlomba-lomba untuk memuaskan hasrat konsumtifnya. Kita bisa melihat bagaimana orang kaya menghabiskan uang milyaran rupiah hanya untuk menutupi badannya yang sebenarnya bisa dibeli dengan cukup ratusan ribu rupiah. 

Fenomena ini selaras dengan hadits Nabi saw yang berbunyi, “Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut” H.R. Abu Daud, Ibnu Hibban, dan Ahmad. 

Semoga Allah swt menjauhkan kita dari sifat takut, gelisah dan tamak seperti yang tergambar dalam ayat ini. Aamiin. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s