Harapan Sia-sia – Kandungan Q.S. Al-Ma’arij ayat 36 – 38

Orang kafir berharap untuk bisa mencicipi kenikmatan surgawi, namun harapan mereka akan sia-sia.

Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu, dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan? sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani).

Q.S. Al-Ma’arij ayat 36 – 38

SUATU hari Kaum Kafir Quraisy datang berbondong-bondong untuk mendengarkan ceramah Nabi saw di dekat Ka’bah. Mereka bukan bermaksud mempelajari agama Islam dan mengimaninya, akan tetapi mencari beberapa kesalahan untuk dijadikan bahan olok-olok terhadap dakwah beliau saw. 

Satu hal yang menjadi salah satu bahan olok-olok mereka adalah sebuah jaminan dari Rasul saw bahwa umat beriman pasti akan masuk surga, dan kaum kafir tempatnya adalah neraka. Mereka berseloroh, bahwa jika memang Muhammad dan pengikutnya akan masuk surga, mereka yang akan masuk terlebih dahulu. 

Olok-olok ini dijawab langsung oleh Allah swt melalui Q.S. Al-Ma’arij ayat 36 – 48. Allah swt menyatakan bahwa sebuah kemustahilan bagi mereka untuk bisa merasakan kenikmatan surgawi. Mereka (seperti halnya manusia lain) tercipta dari sesuatu yang hina – yaitu air mani dalam proses persetubuhan antara laki-laki dan perempuan – maka tidak ada keistimewaan bagi mereka untuk masuk ke alam surgawi. 

Allah swt menegaskan bahwa untuk masuk ke surga diperlukan jiwa yang suci dan bersih – dan itu hanya bisa tercapai dengan keimanan yang disertai dengan ketakwaan. Maka klaim yang disampaikan oleh Kaum Kafir Quraisy adalah omong kosong dan harapan yang tak mungkin terjadi. [] 

Cahaya Iman

Tidak ada balasan bagi kekufuran, melainkan siksaan yang pedih di alam akhirat kelak. Allah s.w.t memastikan bahwa imbalan bagi orang-orang kafir ini pasti adanya dan tidak ada yang mampu menolaknya. Bahkan, dalam beberapa tafsir dikatakan bahwa tidak mungkin bagi Allah s.w.t untuk menangguhkan janjinya ini. Dalam Tafsir Mafatihul Ghoib, Fakhruddin Ar-Razi mengatakan, “Tidak mungkin pencegah azab itu berasal dari sisi Allah. Kebijaksanaan mewajibkan Allah untuk tidak mencegah datangnya azab bagi orang-orang kafir.” 

Allah s.w.t memang Maha Pemurah dan Penyayang, tapi Dia tidak memberikan toleransi bagi orang-orang yang menyekutukan-Nya atau mengingkari eksistensi-Nya. Memang, setiap makhluk diberikan kehendak bebas (free will) untuk taat atau tidak kepada aturan-Nya, akan tetapi hal itu dibarengi dengan resikonya. Bagi yang tidak taat, maka harus siap menerima konsekuensi azab yang berat, baik di dunia maupun di akhirat. 

Karena itulah, dalam Islam tauhid memiliki posisi kunci bagi keselamatan manusia. Orang bisa saja berbuat maksiat, dengan melanggar beberapa aturan yang telah ditetapkan, tapi kalau sudah menyangkut dengan tauhid maka tidak ada toleransi bagi dia untuk tidak mendapatkan azab yang telah dijanjikan.

Dalam doktrin teologi ahlusunnah wal jamaah, seberat apapun maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba, kalau dia masih mengikat kuat tauhid di hatinya, maka hal itu masih bisa menyelematkan dia. Setelah perbuatan maksiatnya dibakar di neraka, maka dia bisa diangkat dan dimasukkan ke surga. 

Sebaliknya, sebaik apapun hal yang dia lakukan di dunia, apabila hal itu tidak diikat dengan kalimah tauhid maka akan sia-sia di mata Allah. “Kebaikan” tersebut tidak akan menyelamatkan dia dari keabadian siksa neraka. 

Tentu, ini tidak berkaitan dengan kebaikan dalam perspektif humanisme sekuler. Amalan-amalan baik yang dilakukan oleh para filantropis “kafir” tentu sangat bermanfaat dalam kacamata humanisme sekuler, karena membantu memperbaiki derajat hidup manusia di muka bumi. 

Sayangnya, dalam kacamata teologis, kebaikan-kebaikan tersebut akan sia-sia karena tidak ditimbang sebagai amal saleh di hadapan Allah. Yang paling penting, amalan tersebut tidak mampu menyelamatkan dia dari dahsyatnya api neraka.  

Semoga Allah swt senantiasa menjaga kita dalam naungan akidah yang kuat, sehingga bisa menunaikan amanat kehidupan ini sampai penghujung waktu.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

[Ali ‘Imrân/3:102]

Selamat merayakan Idul Fitri 1441 Hijriyah, semoga kasih Allah senantiasa menaungi kita. Aamiin. 

Azab Neraka Bagi Orang Kafir – Q.S. Al Mulk (67/ 6-11) – Ulasan Kitab Tafsir

Ayat 6

Orang-orang yang mendustakan eksistensi Allah, niscaya mereka akan mendapatkan neraka jahannam, yang mana itu adalah sejelek-jeleknya tempat kembali. Semenjak dahulu sampai sekarang, selalu ada golongan manusia yang secara terang-terangan mengingkari ketuhanan Allah swt dan menyerang orang-orang yang menyeru masyarakat kepada-Nya. Bahkan mereka membangun organisasi non-pemerintah (non-government organization) yang memfokuskan diri pada kampanye pengingkaran kepada Tuhan. Richard Dawkins, seorang biolog asal Inggris, misalnya, menulis banyak buku (salah satunya “God Delusion”) dan artikel yang mengkampanyekan ateisme dan mengolok-olok kaum beragama dan mendirikan sebuah NGO bernama Richard Dawkins Foundation for Reason and Science (RDFRS) untuk membantu menjalankan misinya ini. Dia menggandeng para public figure terutama dari kalangan selebriti barat untuk menarik masyarakat awam supaya bergabung dalam gerakannya. Sampai saat ini usahanya terbilang sukses karena mendapatkan pendanaan yang cukup.

Terhadap orang-orang seperti ini, Allah swt telah menjanjikan neraka jahannam sebagai tempat kembali mereka. Balasan ini disiapkan karena mereka tetap tidak mau beriman, meskipun Allah swt telah memperingati mereka dalam berbagai risalah yang disampaikan oleh utusan-utusan-Nya.

Dalam ayat-ayat selanjutnya, Allah swt menggambarkan neraka sebagai suatu hal yang mengerikan.

Ayat 7

Ketika kaum tidak beriman dilemparkan ke dalam api neraka, mereka mendengar suara yang mengerikan dan neraka menggelegak panas membara. Dalam ayat ini, terdapat dua sifat neraka; a) memiliki suara menggelegar yang memekakan telinga, dan 2) menggelegak karena saking panasnya.

Menurut Jalaluddin & Jalaluddin suara mengerikan yang terdengar ketika kaum kafir dilemparkan ke dalam api neraka menyerupai suara keledai yang berteriak dan memekakan telinga. Dalam konteks budaya Arab, suara keledai dianggap sebagai sejelek-jeleknya suara di seantro alam semesta. Di sini, Allah seakan ingin menunjukan betapa hinanya orang yang dimasukkan ke dalam neraka akibat perbuatannya di dunia.

Menurut ar-Razi kaum kafir dimasukkan ke dalam neraka bak kayu bakar yang dilemparkan ke dalam api yang besar dan menggelegak. Setiap hal yang mendidih, pasti mengeluarkan bunyi yang menggelegak. Gelegak ini berasal dari kuali yang didalamnya terdapat campuran asap, kemarahan, dan air mata. Deskripsi ini menggambarkan ekspresi kemarahan neraka kepada orang-orang yang menyiakan hidup mereka di dunia dengan menafikan eksistensi Tuhan setelah datang penerangan dari para rasul.

Hal ini diperkuat dengan penjelasan pada ayat-ayat selanjutnya;

Ayat 8

Neraka hampir pecah disebabkan kemarahannya kepada orang-orang yang dimasukkan ke dalamnya. Dia merasa nyinyir karena kaum kafir tidak mendengarkan seruan dari para rasul dan ulama selama mereka masih hidup di muka bumi.

Al-Maroghi mengutip pendapat Al-Razi menjelaskan deskripsi kemarahan neraka ini dengan analogi terhadap proses kemarahan anak manusia. Menurut dia, tatkala seseorang marah, maka akan menyebabkan bergejolaknya darah di dalam tubuh. Ketika itu, darah akan membesar melebihi ukurannya pada waktu normal. Pembuluh darah akan menegang, dan akan semakin kuat tegangannya tatkala kemarahan semakin memuncak. Bagi orang yang memiliki riwayat hipertensi, hal ini bisa mengakibatkan pecahnya pembuluh darah.

Al-Razi kemudian memberikan beberapa argumen apabila ada yang mempermasalahkan analogi pecahnya neraka dengan meledaknya kemarahan seseorang, karena neraka bukanlah makhluk hidup seperti halnya manusia. Menurut dia ada tiga argument; 1) Konstruksi suatu hal tidaklah menjadi syarat kehidupan sesuatu, bisa saja Allah swt menciptakan neraka sebagai makhluk hidup, 2) ini merupakan analogi gelegar suara api neraka dengan mendidihnya kemarahan seseorang, dan 3) mungkin saja ini merupakan analogi kemarahan seseorang dengan kemarahan malaikat penjaga neraka.

Tatkala golongan manusia dari kaum kafir dimasukkan ke dalam api neraka, malaikat penjaga neraka, yaitu malaikat Malik yang dibantu dengan para malaikat Zabaniah, bertanya dengan sindiran tentang apakah telah dating kepada mereka pemberi peringatan (para rasul, wali, ulama dsb.) selama hidup di muka bumi. Ayat ini merupakan keadilan Allah swt bahwasanya taklif hanya berlaku kepada seseorang ketika dia sudah mendapatkan informasi tentang risalah Islam. Menurut Ar-Razi beberapa ulama berpendapat bahwa ayat ini menunjukan bahwa Allah swt hanya akan mengazab seseorang jika telah sampai kepadanya seorang pemberi peringatan baik dari para rasul, wali, ulama, dsb. Maka apabila belum datang kepadanya informasi tentang Islam, maka Allah tidak akan memberi azab di akhirat kelak.

Dalam dua ayat selanjutnya, Allah swt menggambarkan jawaban sekaligus penyesalan dari kaum kafir tentang sikap kufur selama hidup di dunia.

Ayat 9

Mereka mengakui bahwa selama di dunia, mereka telah mendapatkan informasi tentang risalah Islam dari para rasul dan penggantinya dari golongan wali dan ulama. Sayangnya, alih-alih membenarkan dan mengikuti kebenaran ini, mereka mengingkarinya, bahkan menuduh para rasul dan ulama dalam kesesatan yang nyata.

Kaum kafir melihat bahwasanya apa yang dibawa oleh para rasul bukanlah berasal dari Tuhan, dan mereka melihat tidak ada keistimewaan yang didapat oleh mereka sebagai pembawa risalah-Nya di muka bumi. “Kamu bukanlah seseorang, melainkan manusia seperti kita,” tandas mereka kepada para rasul.

“Kamu adalah orang-orang yang mengaku membawa kebenaran, padahal apa yang kamu sampaikan jauh darinya,” tambah mereka di hadapan para rasul.

Jelaslah mereka mengakui pengingkaran mereka terhadap risalah yang dibawa oleh para rasul dan diteruskan oleh para wali dan ulama. Ini adalah sebuah kezaliman yang telah mereka perbuat karena mereka sebenarnya telah diperingati tentang hal ini sebelumnya. Akan tetapi hawa nafsu mereka telah menutupi hati mereka untuk menerima kebenaran. Maka, sungguh sangat adil apabila Allah swt mengazab mereka di negeri akhirat.

Ayat 10

Akhirnya kaum kafir mengungkapkan penyesalan mereka yang tidak memanfaatkan anugerah telinga untuk mendengar dan akal untuk berpikir dan mencerna mencerna kebenaran yang dibawa oleh para rasul dan penerusnya dari golongan wali dan ulama, sehingga mereka tertipu oleh kenikmatan dunia dan konsekuensinya harus merasakan pedihnya siksa neraka di negeri akhirat.

Sejatinya, terselip dalam lubuk hati mereka keyakinan akan kebenaran wahyu Tuhan. Namun, karena nafsu angkara menjadi pegangan, hal ini menutup hati mereka untuk menerima kebenaran tersebut. Walhasil penyesalan menjadi sia-sia, dan mereka harus siap menghadapi siksa neraka.

Ayat 11

Penyesalan terhadap pengingkaran eksistensi Tuhan selama hidup di dunia menjadi sia-sia, karena alam akhirat adalah waktu pembalasan. Maka kebinasaan akan menghampiri bagi orang-orang kafir selama hidup mereka di akhirat, sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan selama hidup di dunia. (*)