Kompromi dalam hal keimanan

foto: maitreyavoice.com

DALAM hal keimanan, kita tidak diperkenankan berkompromi dengan kaum kafir. Tidak boleh, misalnya, karena dasar toleransi dan menyenangkan hati mereka, kita menggadaikan keimanan dengan meyakini beberapa yang mereka yakini, dengan balasan mereka juga meyakini apa yang kita yakini. Isyaratnya jelas, “Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). ” (Q.S. 68: 8 – 9).

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (Q.S. 109: 6).

Tentunya hal ini berbeda ketika berhadapan dengan konteks di luar keimanan, seperti dalam hal muamalah. Islam tidak membatasi kita dengan siapa kita bergaul, selagi itu dalam koridor yang disyariatkan oleh Allah swt.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8).

Dalam beberapa riwayat hadits, Rasulullah saw pernah melakukan hubungan bisnis dengan orang Yahudi yaitu menggadaikan baju besinya untuk membeli beberapa sho’ dari bahan pangan.

Dari paparan di atas, jelas bahwa dalam hal keimanan kita tidak diperkenankan untuk bertoleransi, akan tetapi dalam hal muamalah kita diperbolehkan untuk berbuat baik dan bersikap adil kepada kaum yang tidak beriman, selagi mereka tidak memerangi dakwah kaum Muslimin. Wallahu a’lam. []

Advertisements

In(toleransi) 2

foto: maitreyavoice.com

foto: maitreyavoice.com

Baru-baru ini, media Indonesia hangat memperbincangkan protes yang dilancarkan oleh beberapa aktivis kebebasan beragama kepada SBY yang menerima penghargaan “World Statesman Award” dari organisasi nirlaba Appeal of Conscience Foundation (ACF). Mereka beranggapan bahwa SBY tidak berhak mendapatkan penghargaan ini dikarenakan beberapa kasus intoleransi yang ada di Indonesia. Sebut saja kasus penyerangan Ahmadiyah di beberapa kota, pembakaran rumah-rumah warga Syiah di Sampang, penyegelan GKI Yasmin di Bekasi, kasus-kasus terorisme di beberapa daerah dan lain sebagainya. Memang dalam hal pemberitaan media, umat Islam selalu dipojokan dan seakan-akan menjadi biang intoleransi di Indonesia. Padahal dalam beberapa kasus umat Islam selalu menjadi obyek intoleransi seperti pelarangan jilbab bagi polwan dan tidak disediakannya guru agama Islam di beberapa sekolah Kristen di Blitar.

Continue reading

(In)toleransi

Gambar

Tahun 2006 silam, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa faham-faham modern seperti Sekulerisme, Liberalisme dan Pluralisme sesat dan haram. Mereka berkeyakinan bahwa faham-faham tersebut sangat bertentangan dengan dasar-dasar ajaran Islam. Sekulerisme misalnya, mencoba mengkerdilkan ajaran Islam  pada ruang privat manusia dan tidak berhak masuk ke dalam ruang publik seperti politik, pendidikan atau ekonomi. Contoh yang lain pluralisme, meyakini bahwa semua agama itu benar, baik itu Kristen, Budha, Hindu, Islam bahkan kejawen sekalipun, karena mereka yakin perbedaaan hanya terjadi pada level eksotresimenya saja, sedangkan pada hakikatnya sama yaitu menuhankan Tuhan.  Fatwa MUI ini lahir sebagai respon atas merebaknya faham Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme (Sepilis) pasca dideklarasikannya Jaringan Islam Liberal yang secara masif menyebarkan ajaran ini di Indonesia.

Continue reading