Musa vs. Fir’aun – Kandungan Q.S. An-Nazi’at ayat 15-26

unnamed

Tatkala Nabi Muhammad saw sedih karena melihat dakwah tidak begitu efektif dan masyarakat semakin menunjukkan pengingkaran mereka terhadap Allah dan rasul-Nya, Allah swt menceritakan kepadanya berita tentang Musa dan Fir’aun melalui Q.S. An-Naazi’at ayat 15-26. Pemaknaan terhadap cerita tentang dua orang penting ini haruslah diperluas, karena dalam penggalan ayat tersebut, Allah menyiratkan bahwa harus ada pelajaran yang dipetik, terutama bagi orang-orang yang takut kepada-Nya.

Musa adalah simbol orang-orang yang saleh dan menyerukan kebenaran Tuhan di muka bumi, sedangkan Fir’aun adalah potret orang-orang lalim yang membuat kerusakan di atas bumi dan mengikrarkan diri sebagai tuhan atas nama keserekahan dan kesombongan. Bagaimana tidak, golongan kedua ini mengolok-olok seruan dari para pemuka agama tentang kewajiban untuk berjalan dalam tuntunan agama dan menjadikannya guyonan receh di warung kopi. Mereka menyangka bahwa kemajuan yang mereka dapat sebagai buah eksplorasi alam dan akal bisa melepaskan mereka dari jerat Tuhan dan kuasa-Nya.

Sekali lagi, ada sebuah kecenderungan bahwa semakin maju suatu kaum, maka semakin rendah tingkat keberagamaan mereka. Ini adalah fakta sosiologis yang tidak terbantahkan. Atas nama ilmu pengetahuan, manusia modern menolak hal-hal yang berbau metafisis dan melihatnya sebagai mistis dan anti-tesis dari peradaban modern. Tepatlah kalau misalnya dalam kajian humanisme manusia menjadi sentral dan semuanya harus tunduk di hadapannya, termasuk Tuhan.

Marilah kita melongok ke negara-negara “maju” seperti Amerika Serikat dan Britania Raya maka di sana kita akan menemukan tuhan-tuhan jenis baru. Di Amerika Serikat para artis menjadi tuhan dan uang serta ketenaran adalah agamanya. Di Inggris, orang-orang mengatakan bahwa agama yang populer di sana adalah sepak bola dan uang adalah tuhannya. Di lembaga-lembaga semisal perguruan tinggi dan lembaga riset, ilmu penggetahuan adalah rajanya, dan akidah mesti tergadai dalam laboratorium-laboratorium dan eksprimen di dalamnya. Lihat saja bagaimana para ilmuwan merasa sangat yakin – atas nama penemuan ilmu pengetahuan – bahwa nabi Adam adalah seorang manusia monyet yang tingkat kecerdasannya sangat rendah bila dibandingkan dengan manusia modern.

Dunia akan mengulangi sejarahnya dan cerita tentang Musa dan Fir’aun akan ada sepanjang manusia masih menghembuskan nafas di muka bumi dan membangun peradabannya. Maka kita sebagai umat yang diberikan anugerah keimanan harus mengikuti jejak nabi agung Musa alaihissalam dengan menentang kesewenangan manusia-manusia congkak model Fir’aun al-Walid bin Arrayan. (*)

Fir’aun dan Tsamud

Sejarah akan selalu berulang. Dalam satu fragmen sejarah, akan ada kaum kloningan Fir’aun dan Tsamud yang muncul dalam bentuk baru, tapi dengan sikap yang tidak jauh berbeda. Mereka terbuai dengan apa yang dimiliki, sehingga mengingkari akan keberadaan dan kekuasaan Allah. Sikap kekufurannya ini akan semakin bertambah, ketika ada orang yang menyerukan mereka kepada jalan Tuhan. Tak cukup di situ, mereka juga mengajak orang lain untuk sama-sama ingkar kepada-Nya. Bahkan kalau perlu, cara-cara kekerasan digunakan untuk memaksa orang lain mengikuti sikap kekufurannya. (Q.S. Al-Buruuj, 85: 17-20).