Takut terhadap Azab Allah swt – Kandungan Q.S. Al-Ma’arij ayat 27 – 28

Langkah kelima agar terhindar dari penyakit halu’, adalah sikap takut dan percaya terhadap azab Allah swt. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindar dari siksa-Nya, kecuali berkat rahmat-Nya yang begitu luas. 

Seorang mukmin yang memiliki karakter ini tidak akan pernah gelisah dengan kesulitan hidup karena dia yakin bahwa dunia ini fana; yang abadi hanya kehidupan akhirat. Kesulitan di dunia hanyalah secuil bila dibandingkan dengan dahsyatnya siksaan di alam kubur maupun akhirat. 

Selanjutnya, ketakutan akan azab Allah akan mendorong seseorang pada ketaatan. Dalam terminologi Islam, hal ini dinamakan khauf. Tentunya, sikap ini dibarengi dengan raja’, harapan akan rahmat Allah swt. Dengan begitu, seorang muslim akan selalu mawas diri karena takut akan azab-Nya, sekaligus berharap akan kasih sayang-Nya yang besarnya melebihi samudra. 

Fakhruddin Ar-Razi mencatat bahwa sikap takut ini mencakup dua hal: pertama, takut akan meninggalkan kewajiban seperti shalat, zakat, puasa, dan amalan lainnya yang bernilai ibadah. Kedua, khawatir terjerumus pada hal-hal yang berbahaya yang dapat mengundang murka-Nya. Sikap ini akan memotivasi seorang muslim untuk menjalankan semua perintah Allah yang dibebankan (taklif), dan menjauhi semua larangan-Nya. 

Manusia makhluk yang suka berkeluh kesah, Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 21

Menurut Q.S. Al-Ma’arij ayat 19-20, secara fitrah, manusia dilahirkan dengan karakteristik penuh keluh kesah. Dia akan mengeluh ketika ditimpa kesusahan, dan jumawa serta menolak (bersedekah) tatkala diberikan kelapangan. Kecuali orang-orang beriman yang memiliki sepuluh karakterisitik yang termaktub dalam penjelasan ayat-ayat selanjutnya. 

Dalam Jami’ul Bayaan, Imam at-Thobari secara khusus menyematkan sifat ini pada orang-orang kafir, mereka yang tidak percaya akan ketuhanan Allah s.w.t dan orang musyrik, mereka yang menyekutukan-Nya. Sedangkan ‘halu’a’ dimaknai dengan perasaan sangat takut, gelisah dan tamak. Orang kafir, menurut ayat ini, disematkan sebuah sifat buruk, yaitu tatkala dia miskin akan merasa gelisah dan tidak sabar. Sebaliknya, jika diberikan kelimpahan harta, dia akan bakhil dan enggan untuk menggunakannya di jalan Allah. 

Dalam hemat saya, pernyataan Imam at-Thobari ini bisa dimaknai secara faktual maupun normatif. Artinya, bisa jadi memang secara faktual, mayoritas orang kafir memiliki sifat halu’; mereka sangat takut, gelisah dan tamak dengan harta. Tapi bisa juga ini dilihat dalam sudut pandang normatif, di mana umat Islam jangan sampai terjebak pada sifat halu’ yang mana karakter ini hanya pantas tersemat pada orang kafir. 

Lalu, apa sebenarnya makna halu’? 

Sekilas kata ini mirip dengan bahasa gaul yang digunakan oleh anak muda sekarang, ‘halu’. Namun, ternyata memiliki arti yang berbeda. Dalam bahasa gaul, ‘halu’ merupakan kependekan dari halusinasi, suatu sifat di mana kita memiliki keinginan yang sangat banyak. Akan tetapi, kata ‘halu’ dalam ayat ini bermakna keadaan cepat bersedih ketika menghadapi kesusahan, dan bakhil ketika mendapatkan kelapangan hidup (Al-Maroghi)

Prof. Wahbah Az-Zuhaili mengutip pernyataan Az-Zamaksyari mengatakan bahwa kata ‘halu’ bermakna cepat resah ketika terkena musibah, dan menolak (bersedekah) tatkala mendapatkan kebaikan. 

Muhammad Ibnu Thahir bertanya kepada Tsa’lab seperti yang dikutip oleh Al-Maroghi tentang makna ‘halu’ dalam ayat 19, beliau mengatakan bahwa dua ayat berikutnya (20-21) sudah sangat jelas mendeskripsikan makna sifat tersebut. 

Mungkin sifat dasar manusia – seperti yang dideskripsikan dalam ayat ini – ini bisa diuji secara empiris dalam kajian psikologi agama. Apakah manusia secara fitrah bersifat sangat resah, takut dan rakus? Mungkin penjelasan di bawah ini bisa sedikit memberikan gambaran. 

Menurut Hamka, perasaan keluh kesah, tidak tenang hati, selalu merasa kurang, cemas dan takut bisa dibarengi dengan beberapa penyakit jiwa lainnya seperti depresi (depression), cemas (anxiety), dan yang lainnya. Ketika sudah terkena keadaan ini, maka dia tidak bisa mengendalikan emosinya (jazu’), menyalahkan orang lain dan menyesali nasib. 

Ini adalah kondisi yang jamak kita lihat dalam masyarakat modern di mana segala bentuk tekanan (pressure) menghantui kehidupan mereka. 

Dalam sebuah video dokumenter dijelaskan bahwa di balik kemajuan negara Korea Selatan, negeri tersebut memiliki sisi buruk yang suatu saat dikhawatirkan menjadi bom waktu. Gemerlap kapitalisme yang dibarengi dengan kuatnya budaya konsumerisme menyebabkan masyarakat Korsel berlomba-lomba untuk membeli barang. Mereka dijejali janji-janji palsu yang ditayangkan melalui tayangan iklan di TV, billboard maupun media massa. Segala cara mereka lakukan agar terlihat keren seperti tayangan iklan, meskipun itu harus terjerat utang. 

Beberapa dari mereka harus memuaskan hasrat konsumerisme dengan cara berhutang memakai kartu kredit. Karena tingkat keinginan yang tidak sesuai dengan pemasukan akhirnya mereka terjebak pada hutang yang menggunung. Kemudahan berhutang yang diberikan oleh kartu kredit membuat keadaan semakin parah. Walhasil, ketika kondisi ini sudah mencapai limit-nya, mereka dipaksa untuk membayar. Kalau tidak mampu, mobil, rumah dan properti yang mereka miliki harus disita untuk membayar hutang yang gagal bayar. 

Kondisi ini tentu membuat mereka gelisah, cemas dan takut. Mayoritas dari mereka akan mengalami depresi, dan sebagian memilih untuk mengakhiri hidup sebagai jalan akhir. Ini adalah kondisi faktual yang relevan dengan apa yang disampaikan oleh Al-Qur’an melalui ayat ini. 

Prof. Al-Maroghi menyatakan bahwa kondisi halu’ lebih disebabkan oleh cinta dunia, yaitu senantiasa sibuk dengan urusan-urusan duniawi. Masyarakat modern terjebak pada ide materialisme, yang mementingkan urusan duniawi (dunia materi) dan meninggalkan urusan ukhrowi, urusan rohani. Hidup mereka kering, karena hanya peduli dengan jasad, sedangkan ruh mereka campakkan. 

Ideologi kapitalisme menciptakan sebuah kelas yang diisi oleh orang-orang kaya yang tidak perlu hidup dengan susah payah, karena hanya dengan menanam saham pada perusahaan-perusahaan, otomatis mereka akan mendapat income yang tidak pernah berhenti. Di beberapa negara yang menganut ide liberalisme, kondisi ini menyebabkan gap yang cukup lebar antara elit minoritas yang menguasai mayoritas uang, dengan masyarakat luas yang harus hidup hemat untuk bertahan hidup. 

Sayangnya, kelas menengah ke atas tidak mau berbagi dengan kelas pekerja. Alih-alih menyedekahkan hartanya untuk kemaslahatan bersama, mereka berlomba-lomba untuk memuaskan hasrat konsumtifnya. Kita bisa melihat bagaimana orang kaya menghabiskan uang milyaran rupiah hanya untuk menutupi badannya yang sebenarnya bisa dibeli dengan cukup ratusan ribu rupiah. 

Fenomena ini selaras dengan hadits Nabi saw yang berbunyi, “Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut” H.R. Abu Daud, Ibnu Hibban, dan Ahmad. 

Semoga Allah swt menjauhkan kita dari sifat takut, gelisah dan tamak seperti yang tergambar dalam ayat ini. Aamiin. [] 

Tentang Kesendirian di Alam Akhirat: Hanya Amal Saleh yang Mampu Menyelamatkan Kita

Ilustrasi kesendirian/Pinterest.

@syahruzzaky

Ketika hidup di dunia, banyak orang-orang terlibat membantu kita. Saat kecil, kita sangat tergantung dengan uluran tangan orang tua – entah itu orang tua biologis, maupun orang dewasa yang berperan sebagai pengasuh di rumah-rumah sosial. Kita tidak bisa hidup tanpa bantuan mereka. 

Guru-guru di sekolah membantu kita untuk mempersiapkan diri menuju fase kemandirian. Mereka melatih kita untuk membaca dan menulis – skill yang sangat fundamental untuk bertahan hidup. Selain itu, di sekolah kita belajar berinteraksi dengan orang lain – hal yang harus kita lakukan di sisa hidup kita, apabila ingin bertahan hidup. 

Sayangnya, sekolah tidak benar-benar membuat kita mandiri. Semandiri-mandirinya orang – bahkan orang yang mempraktekan hikikomori di Jepang – tetap membutuhkan orang lain untuk bisa melanjutkan hidup. Di dunia kerja, misalnya, kita bergantung dengan rekan kita dari divisi penjualan, agar produk yang kita kembangkan bisa terjual dengan baik di masyarakat. Bahkan, eksistensi masyarakat secara keseluruhan sebagai konsumen produk kita sangat membantu kita untuk bisa terus hidup. 

Kalau ada orang yang berseloroh dia dapat hidup mandiri, karena memiliki banyak uang yang dihasilkan hasil jerih payah kerjanya, maka itu adalah omong kosong. Orang terkaya di Indonesia, Bambang Hartono, pemilik Bank BCA dan perusahaan rokok Djarum, sangat bergantung pada karyawan-karyawannya – yang bekerja tak kenal lelah untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang dari hari ke hari membuat dia semakin kaya. Lucunya, kehidupan Hartono juga ditentukan oleh seorang penarik becak, yang sedang mengisap rokok Djarum Coklat di pojok jalan, di saat menunggu datangnya penumpang. Padahal sang penarik becak harus berjuang keras untuk bisa makan dalam sehari. Sungguh ironis. 

Maka sungguh tepat ketika Aristoteles menyimpulkan bahwa manusia itu adalah zoon politicon, makhluk yang membutuhkan sosialisasi untuk bisa bertahan hidup. Faktanya, tidak ada manusia yang benar-benar bisa hidup sendirian. Kalaupun ada, dia tetap harus meminta bantuan alam sekitarnya. 

Hal ini sangat kontras dengan kehidupan yang akan kita hadapi di akhirat. Di sana, tak ada satu orang pun yang bisa membantu kita, kecuali diri kita sendiri (melalui amal saleh yang kita kumpulkan selama hidup di dunia). 

Bahkan, orang-orang yang kita anggap dekat pun (mis., orang tua, anak, istri, sahabat karib) tidak bisa membantu kita. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Semua orang berubah menjadi egois, karena memikirkan apakah mereka akan hidup dengan penuh kebahagiaan atau kesengsaraan di fase kedua kehidupan berikutnya (alam akhirat). 

***

Menyadari bahwa dirinya tidak akan selamat dari azab neraka, orang kafir membuat penawaran dengan Allah swt. Mereka ingin membuat penebusan dosa dengan memberikan jaminan, yaitu  anak-anak mereka, isteri dan saudara mereka, kaum famili yang terbiasa melindungi mereka, bahkan seluruh umat manusia yang pernah ada. Sebagai imbalan, mereka berharap bisa selamat dari azab neraka yang pedih. Hal ini seperti yang terdokumentasikan dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 11 – 15: 

“… Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” 

Q.S. Al-Ma’arij ayat 11 – 14

Tentu saja jaminan itu tidak dapat diterima. Allah swt terang-terangan menyatakan tidak. Dia swt berfirman,

Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak,

Q.S. Al-Ma’arij ayat 15


“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”

Q.S. Abbasa ayat 34 – 37 

Bahkan seperti yang disinggung dalam artikel tentang Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij bagian pertama, Fakhruddin Ar-Razi menyatakan bahwa kebijaksanaan mewajibkan Allah s.w.t untuk tidak mencegah datangnya azab bagi orang-orang kafir.  

Begitulah, di alam akhirat, hanya amalan kita – yang diliputi rahmannya Allah – yang bisa menyelamatkan kita dari azab neraka. Tidak ada koneksi dalam, atau hal lainnya yang bisa kita sogok seperti di dunia. Wallahu a’lam. []

Condong, 18 Juni 2020

06:28