Dunia adalah ladang akhirat – Inspirasi Alquran Q.S. Al-Ma’arij

“Kebahagiaan yang paling utama adalah panjang umur di dalam taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Imam Al-Ghazali).

Komunitas Al-Muhajirin

JIKA kita konsisten mentadabburi ayat-ayat Alquran tentu kita tidak akan berpikir lama untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan beralih ke kehidupan ukhwowi; menanggalkan atribut-atribut dunia selayaknya para bhikku Buddha atau para romo Katolik yang hidup membujang seumur hidup.

Baca saja keterangan bagaimana Allah swt menggambarkan hebatnya hari kiamat. Bumi bergoncang dengan dahsyat, dan mengeluarkan beban berat yang dikandungnya. Manusia bertebaran seperti anai-anai. Langit meleleh bagaikan cairan tembaga. Gunung-gunung berterbangan bagaikan bulu.

Atau deskripsi siksa neraka sebagaimana yang termaktub dalam ayat-ayat Alquran: api yang mengelupaskan kulit kepala; dan minuman panas dan menjijikan bagaikan nanah. Semua disajikan bagi orang-orang yang berpaling dari agama.

Tidak ada yang bisa membantu kita, bahkan apabila kita menebusnya dengan anak-anak, istri, saudara, dan seluruh sanak famili yang biasa melindungi kita selama hidup di dunia. Semua dihadapkan pada amalannya masing-masing.

Jika ingat itu, ingin rasanya kita menghentikan langkah untuk meraih kenikmatan duniawi dan menukarkannya dengan kenikmatan ukhrowi dengan kerja-kerja ibadah, menghambakan diri pada-Nya secara total. Melupakan istri dan anak, yang sehari-hari menjadi fokus pikiran kita.

Namun ternyata, bukan itu yang dikehendaki oleh Allah swt.

Kita bisa menggapai kenikmatan ukhrowi tanpa harus meninggalkan kehidupan duniawi sepenuhnya.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77).

Begitu dawuh Allah swt. Meskipun kita berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada-Nya, tapi tetap tidak boleh melupakan kehidupan dunia. Bagaimana pun kita masih hidup di dunia dan memikul beban amanat sebagai khalifah di muka bumi, kita memiliki kewajiban untuk memakmurkan dunia ini dengan kerja-kerja maslahat.

Baca juga: Hidup dengan Tujuan 

Kehidupan rahbaniyyah (kependetaan) tidak dianjurkan oleh Nabi saw. Ini diafirmasi oleh kisah salah seorang sahabat yang ingin berpuasa sepanjang hari, salat sepanjang hari, tapi ternyata hal itu tidak dikehendaki Nabi saw.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr r.a, ia berkata, “Dilaporkan kepada Rasulullah saw. bahwa aku mengatakan, ‘Aku akan mengerjakan shalat semalam suntuk dan terus-menerus berpuasa pada siang hari selama aku hidup.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Apakah engkau yang mengatakan seperti itu?’ Aku menjawab, ‘Aku telah mengucapkannya wahai Rasulullah!’ Rasul berkata, “Engkau tidak akan mampu mengerjakannya. Berpuasa dan berbukalah, tidur dan shalatlah. Berpuasalah tiga hari setiap bulan karena setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat dan pahalanya seperti puasa setahun penuh.’ ‘Aku mampu mengerjakannya yang lebih baik dari itu!’ kataku. Rasulullah berkata, ‘Kalau begitu, berpuasalah sehari dan berbukalah dua hari.’ ‘Aku mampu mengerjakan yang lebih baik dari itu!’ kataku lagi. Rasulullah berkata, ‘Kalau begitu, berpuasalah sehari dan berbukalah sehari, itulah puasa Nabi Dawud ‘alaihis salam dan merupakan puasa sunnah yang paling baik.’ ‘Aku mampu mengerjakan lebih baik dari itu!’ jawabku. Rasulullah mengatakan, ‘Tidak ada yang lebih baik daripada itu.’ ‘Abdullah bin ‘Amr r.a. berkata, ‘Andaikata aku menerima puasa tiga hari setiap bulan yang dikatakan oleh Rasulullah saw. tentu lebih aku sukai daripada keluarga dan hartaku’,” (HR Bukhari [1976] dan Muslim [1159]).

Hendaknya kehidupan dunia menjadi ladang bagi kita supaya hasilnya kita tuai kelak di akhrat. Ladang tersebut kita isi dengan kebaikan-kebaikan berupa amal saleh baik dalam bentuk ibadah mahdoh maupun ghoir mahdoh.

Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin berkata,

“Tidaklah mungkin untuk menghasilkan bibit (tanaman) ini kecuali di dunia, tidak ditanam, kecuali pada kalbu dan tidak dipanen kecuali di akhirat.”

Kemudian Al-Ghazali mengutip hadits Nabi,

“Kebahagiaan yang paling utama adalah panjang umur di dalam taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Dengan kata yang lain, jika ditanya, siapa manusia yang beruntung dan bahagia, adalah yang menjadikan dunia sebagai ladang beramal, “bercocok tanam” untuk kebaikan akhiratnya. Wallahu a’lam.

Baca juga: Dunia sebagai Ujian

Cemoohan terhadap Datangnya Hari Kiamat – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk 25-27

Dan mereka berkata: “Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?”

Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.

Ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka) inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.

DALAM ayat sebelumnya Allah swt menyatakan bahwasanya manusia – di kehidupan setelah kematian – akan berkumpul di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka selama hidup di dunia. Dalam ayat ini, Dia swt menceritakan tentang pertanyaan dari Kaum Kafir Quraisy yang menantang Nabi saw untuk memberi tahu mereka kapan janji tentang hari kiamat itu akan tiba. Allah swt memerintahkan Rasul saw untuk menjawab bahwasanya beliau saw hanya bertugas untuk menyampaikan risalah ini sebagai bentuk peringatan, sedangkan Dzat Yang Maha Mengetahui tentang hal ini hanyalah Allah swt.

Nyatanya, wajah kaum kafir tetap saja berubah pecat dan bingung ketika janji Allah tersebut benar-benar datang mendekati mereka. Dengan nada mengolok-olok, para malaikat penunggu neraka bertanya kepada mereka, “Inkah apa yang engkau minta supaya segera datang menimpa kalian?”

Menurut Ar-Razi yang dimaksudkan dengan janji di sini adalah hari kiamat dan azab yang meliputinya. Sedangkan menurut Tontowi makna janji dalam ayat ini adalah kebangkitan setelah kematian, hisab – perhitungan amal umat manusia selama hidup di dunia dan balasan atas itu semua baik berupan surga maupun neraka.

Menurut Nasafi pertanyaan ini bukanlah usaha untuk menemukan kebenaran tentang hari kiamat, akan tetapi lebih cenderung pada olokan sekaligus cemoohan akan kebenaran yang Rasul saw bawa. Bagaimana tidak? Seorang Qusaisy – yang tidak memiliki status sosial yang tinggi – dari kota Mekkah membawa kabar tentang hari kiamat dan nilai-nilai lainnya yang mendobrak tatanan nilai setempat yang sudah mapan, hal ini tentunya – dalam pandangan kaum kafir – sebagai sebuah kegilaan belaka yang patut mendapatkan olokan dan cemoohan.

Tentu saja Nabi Muhammad SAW tidaklah mengetahui persis kapan kiamat akan tiba. Itu merupakan domain Allah SWT. Pengetahuan tentang suatu kejadian, tidak mesti harus tahu kapan kejadian tersebut akan datang. Dalam konsep Islam tidak pernah dikenal kabar sahih tentang waktu eksak kedatangan hari kiamat. Yang ada adalah berita tentang tanda-tanda hari kiamat sebagai bentuk peringatan kepada umat manusia untuk terus berbenah dan memperbaiki diri. Hal ini berbeda dengan beberapa sekte keagamaan yang seringkali membuat ramalan dan prediksi tentang hari kiamat, yang mana sampai detik ini belum terbukti adanya.

Yang menarik, dalam ayat ini Allah swt menggunakan diksi “yaquluna” yang merupakan fi’il mudhori’. Menurut Ar-Razi hal ini menunjukan masa depan. Namun, bisa juga menunjukan masa lalu karena ada kata “kaanuu” (wa kaanuu yaquuluuna) yang tidak ditulis eksplisit di sini.

Dua waktu yang terkandung dalam makna ayat ini menunjukan bahwa dalam sejarah umat manusia akan selalu ada orang-orang yang mengolok-olok eksistensi hari kiamat dan azab serta nikmat yang ada di dalamnya meskipun telah diberitahukan kepada mereka peringatan-peringatan dari Tuhan melalui para Nabi-Nya. Dewasa ini, di beberapa belahan dunia – terutama negara-negara Barat – mayoritas masyarakatnya tidak mempercayai hal ini, bahkan seringkali menjadi bahan guyonan bagi mereka.

Kecongkakan kaum kafir ternyata hanya sebatas lip service. Dalam ayat 27, Allah swt menggambarkan bagaimana wajah mereka tetap saja pucat tatkala Dia swt menepati janjinya di hari kiamat. Apa yang mereka dustakan dan menjadi bahan olokan, ternyata benar adanya! Walhasil, kesombongan berubah menjadi kegetiran dan penyasalan yang tak berguna. “… Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (Q.S. 39: 47-48).

Menurut Prof. Wahbah Az-Zuhaili, ayat 27 merupakan jawaban atas pertanyaan olokan kafir Quraisy (dan tentunya kaum kafir yang datang setelah mereka) yang termaktub dalam ayat 25. Kaum ‘Aad – yang hidup jauh sebelum Kaum Kafir Quraisy – juga pernah melakukan tantangan yang sama. Dengan pongahnya mereka menjawab ajakan dakwah Nabi Hud AS seraya berkata, “… “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.” (Q.S. 46: 22). (*)

 

Argumentasi Hari Kebangkitan (2): Kandungan Q.S. An-Naba’ ayat 1-16

hisab

Ayat-ayat dalam al-Quran al-Karim seringkali turun untuk merespon gejolak sosial yang terjadi dalam masyarakat Arab pada zaman Rasulullah saw. Namun begitu, esensi dari ayat tersebut bisa dijadikan sebagai jawaban terhadap permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat modern, karena pada dasarnya situasi sosial pada masa lampau dapat terulang kembali pada masa sekarang meskipun dengan situasi yang lebih kompleks.

Dalam Q.S. An-Naba’ ayat 1-5 diterangkan bahwa masyarakat Arab pada zaman Rasul saw saling berbantahan tentang kebenaran berita besar yang dibawakan oleh Muhammad saw perihal tiga hal: tauhid, kenabian dan hari kebangkitan. Khusus mengenai yang terakhir, diterangkan bahwa pernah suatu waktu ada di antara kaum Quraisy yang memungut tulang yang telah lapuk dari tanah dan bertanya kepada Nabi saw., “Siapakah pula yang akan dapat menghidupkan kembali tulang-belulang ini padahal dia telah lapuk?” (Q.S. Yaa-Siin ayat 78) Lalu turunlah ayat setelahnya yang berbunyi, “Yang akan menghidupkannya ialah yang menjadikannya pertama kali.” (Lihat tafsir al-Azhar, Buya Hamka halaman 8 Juz 30). Ini adalah argumentasi rasional sekaligus empiris yang menjawab kemungkinan adanya hari kebangkitan.

Ayat ini menjadi sekian ayat dalam al-Quran yang memberikan argumentasi tentang kemungkinan terjadinya hari kiamat dan kebangkitan. Pola yang digunakan al-Quran dalam memberikan argumentasinya adalah dengan menyodorkan fakta-fakta keajaiban dunia yang sekilas tidak mungkin, tapi karena keagungan Allah, hal itu bisa terjadi. Misal saja dalam Q.S. An-Nazi’aat ayat 27-33 Allah swt memaparkan bahwa Dia mampu menciptakan langit dan bumi, menegakannya, serta menciptakan siang dan malam, menghamparkan bumi, mengalirkan air dan menumbuhkan tumbuhan, serta menancapkan gunung di muka bumi. Kalau saja hal yang “sulit” itu bisa Allah lakukan, mengapa tidak dengan membangkitkan manusia di akhirat kelak?

Dalam Q.S. An-Naba’ ayat 6-16 Allah swt menjelaskan lagi dengan lebih gamblang bagaimana Dia mampu membuat hal-hal yang lebih hebat dari “hanya” sekedar membangkitkan manusia dari kematian. Dalam surat ini dibentangkan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah swt seperti bumi yang dibentangkan, gunung-gunung yang kokoh terpancang, makhluk yang diciptakan berpasangan, tidur yang dijadikan pelepas lelah, malam yang dijadikan pakaian, siang yang bisa dijadikan lahan kehidupan, tujuh langit yang dikokohkan, matahari yang  terang benderang, awan yang bercucuran sehingga dari sana bisa tumbuh biji-biji dan tumbuhan dalam kebun-kebun yang rindang dan lebat.

Serentetan bukti kekuasaan Allah swt tersebut hendaknya membuka mata kita akan betapa mudahnya bagi Dia untuk membangkitkan manusia di hari kiamat pada hari pembalasan kelak. Wallahu a’lam (*)

 

Kuasa Tuhan di Hari Pembalasan – Q.S. Al-Infithaar ayat 17-19

hisab

Sejarah mencatat bahwasanya manusia adalah makhluk pembelajar; mereka berusaha berubah dari tidak tahu, menjadi tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa. Dengan sikap ini mereka terus berusaha untuk meninggalkan ketergantungan kepada alam.  Bahkan, dalam beberapa titik, manusia mampu untuk menundukan/mengontrol alam, meskipun secara umum manusia belum mampu menghentikan kehendak alam.

Dari sinilah timbul kecongkakan manusia, karena merasa tingkat ketergantungannya terhadap alam tidak setinggi seperti leluhur mereka. Akhirnya mereka beranggapan bahwa manusia bisa hidup secara independen meski tanpa bantuan dzat mistis yang leluhur mereka sebut tuhan. Maka wajar jika kita melihat fakta sosiologis bahwa semakin maju suatu bangsa, semakin tinggi pula tingkat ateisme warganya. Bahkan hal ini sudah menjadi teori sosiologi yang diamini oleh mayoritas sosiolog dunia.

Tentu hal ini tidak dapat kita benarkan. Dalam perspektif Islam, kemampuan manusia untuk mengontrol alam tidak dapat menggantikan peran dan campur tangan Tuhan. Alih-alih bersikap congkak, Islam justru menganjurkan umat manusia untuk meningkatkan kesyukuran karena Dia telah menganugerahkan akal yang membedakan manusia dengan binatang mamalia lainnya. Anugerah ini adalah hal yang patut kita syukuri, bukan sesuatu untuk kita sombongkan. Jangan sampai air susu dibalas dengan air tuba!

Beberapa ayat al-Quran menunjukkan bahwa independensi manusia hanyalah bersikap sementara. Lihat saja bagaimana lemahnya manusia ketika masih anak-anak, atau  kekuatan tubuh yang dimiliki oleh manusia setahap demi setahap melemah ketika memasuki masa lansia. Ini menunjukan bahwa kekuatan manusia tidak mampu menandingi kekuatan Allah yang Maha Kekal. Memang, saat ini manusia hidup lebih sejahtera dan sehat dari masa lampau, akan tetapi tetap saja itu tidak mampu menghilangkan ketergantungan mereka terhadap Tuhan.

Bahkan dalam Q.S. Al-Infithaar ayat 17-19, secara eksplisit Allah menyatakan bahwa pada hari pembalasan kelak, manusia tidak akan memiliki kuasa sedikit pun dan seluruh perkara ada di tangan kuasa Allah swt. (*)