Dan Kehidupan Akhirat Lebih Baik dari Kehidupan Dunia – Kandungan Q.S. Ad-Dhuha

Hidup di dunia harus mengandung misi; menjadi agen yang menyebarkan syariat Allah di muka bumi. Apa pun profesi kita, di pundak kita ada kewajiban untuk mengemban misi ini sekemampuan kita, entah itu dalam bentuk harta, ide, waktu, bahkan nyawa. Dalam istilah orang tarbiyah, nahnu du’at qobla kulli syaiin; kita adalah pendakwah sebelum segala hal.

Tentunya, berdakwah tidak identik dengan menceramahi orang lain, meskipun hal itu tidak salah juga. Yang perlu kita dakwahi pertama kali, tentunya, diri kita. Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa jihad yang paling besar adalah menawan hawa nafsu diri kita. Untuk itu, sangat penting untuk mendakwahi diri sendiri, sambil mengajak orang lain pada kebaikan.

Insya Allah, apabila hidup ini kita dedikasikan untuk menyebarkan syariat-Nya, Allah akan senantiasa ada di sisi kita. Allah tidak akan meninggalkan diri kita, sebagaimana Dia bersumpah untuk tidak meninggalkan Nabi SAW dalam perjuangan dakwahnya.

Dalam Q.S. Ad-Dhuha, Allah bersumpah dengan waktu pagi dan malam, bahwa Dia tidak akan meninggalkan Nabi SAW dan marah kepadanya. Bahkan Allah menjanjikan berjuta kebaikan kepada Nabi SAW di akhirat kelak, karena Rasul SAW telah memilih kehidupan akhirat daripada kehidupan di dunia dengan mendarmabaktikan hidupnya untuk Allah SWT.

Kita juga yakin, ketika hidup kita kita dedikasikan untuk-Nya, yaitu dengan mengutamakan kehidupan akhirat di atas kehidupan dunia, maka Allah akan selalu bersama kita dan memberikan kita berjuta kebaikan yang kita diridhai dan idamkan di akhirat kelak. Amin.

 

 

Advertisements

Kenapa Masih Ingkar? – Kandungan Q.S. At-Tin

Why,_Arizona

Kenapa manusia masih saja mendustakan ajaran agama Allah, padahal telah dibentangkan kepada mereka bukti-bukti akan kuasa-Nya?

Allah mampu menciptakan manusia dari ketiadaan, dan menjadikannya dengan rupa hampir sempurna. Hidung yang mengarah ke bawah, sehingga ketika hujan air tidak mudah masuk ke dalamnya. Alis yang tebal, yang membantu mencegah air masuk ke dua mata. Daun telinga yang memiliki tulang lunak sehingga kita bisa nyaman tidur. Bukankah itu sangat sempurna?

Dengan kesempurnaan bentuk ciptaan itulah manusia bisa berbuat banyak di muka bumi ini. Dengan anugerah akal yang Allah berikan, manusia bisa merubah suatu yang terlihat mustahil pada satu waktu, tapi bisa jadi kenyataan di waktu lain. Dengan anugerah itu pula, ras manusia menjadi penguasa di jagad raya.

Lalu pada satu titik Allah pun mampu membuat mereka pada titik nadi terendah, di mana mereka kembali pada kelemahannya. Kita tengok, para diktator seperti Soekarno, Khadafi, Husni Mubarok, dll yang terlihat begitu berkuasa, tapi ketika memasuki masa tua taringnya hilang sama sekali.  Allah mampu untuk menciptakan manusia dalam keadaan lemah, menjadikannya sempurna – dan membuatnya menjadi lemah kembali.

Maka atas dasar itu, kenapa masih saja manusia mendustakan agama Allah?

Gambaran Kiamat

kiamat1

Dalam perspektif al-Quran kiamat selalu digambarkan mirip dengan bencana besar yang sering terjadi di muka bumi seperti gempa, gunung meletus, tsunami, dll.

Dalam Q.S. Al-Zilzalah, misalnya, kiamat digambarkan dengan proses gempa di mana bumi berguncang dengan keras dan mengeluarkan segala isinya baik itu dari bahan mineralnya sampai orang-orang yang mati terkubur di dalamnya. Semuanya dikeluarkan dari perut bumi.

Gambaran sedikit berbeda terlihat dalam Q.S. Al-Qari’ah yang lebih menggambarkan kiamat dengan meletusnya gunung merapi sehingga memuntahkan dan menerbangkan semua isinya seperti kapas.

Namun dari semuanya, kiamat nampaknya akan ditandai dengan bencana besar yang bisa jadi itu merupakan akumulasi dari keserakahan manusia dalam mengeksplorasi bumi secara berlebihan.

Bermegah-megahan yang Melalaikan – Kandungan QS. At-Takatsur

money-main_full

  1. Harta dan tahta seringkali melalaikan kita untuk taat menjalankan perintah Allah, bahkan sampai kita masuk liang lahat pun, kita tidak menyadarinya.
  2. Kalau saja kita tahu apa akibat dari terlena karena harta dan tahta terhadap taat kepada Allah, maka kita akan menjauhinya.
  3. Apa itu akibatnya? Neraka jahim, yang akan kita lihat dengan mata kita sendiri.
  4. Semua yang melenakan itu, akan ditanya kelak di hari pembalasan.
  5. Sekali lagi, hendaknya, surat ini tidak kita gunakan untuk menjustifikasi orang lain, tapi sebagai bahan renungan bagi kita untuk tidak terjerumus pada kehinaan ini.

Seringkali kita melihat, orang  mendapatkan kesempatan dari Allah untuk menikmati harta berlebih; kesehatan, waktu, keamanan, makanan, dan minuman justru terlena untuk taat kepada Allah swt. Kelebihan-kelebihan tersebut itu justru mereka gunakan untuk berbuat maksiat, yang tentunya akan membuat mereka semakin jauh kepada-Nya.

Mereka terus bermaksiat dengan nikmat yang Allah anugerahkan, sampai tidak sempat bertobat ketika ajal sudah berada di depan mata.

Ini adalah peringatan Allah swt bagi mereka; kalau saja mereka tahu apa akibat dari kelalaian ini, tentu tidak akan bermegah-megahan seperti itu. Bagaimana tidak? Konsekuensi dari bermegah-megahan yang melenakan ini adalah neraka jahim yang nyata akan terlihat dengan mata kepala mereka sendiri di hari pembalasan kelak. Semua yang mereka banggakan akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat.

Alangkah lebih baiknya apabila kata “mereka” di sini diganti dengan “saya” sehingga nasehat ini akan kita tujukan pertama kali pada diri “saya”.

Baik vs. Buruk

Gambar

61. Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”

62. Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.

63. Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.

64. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.

65. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”.

***

Narasi kehidupan selalu menyodorkan dua koin yang saling bertolak belakang, bahkan saling berjauhan bagaikan dua kutub magnet yang berbeda. Kita seringkali menamakannya kebaikan dan keburukan. Kebaikan adalah representasi malaikat yang selalu patuh dan tunduk atas perintah Tuhan, sedangkan keburukan adalah deskripsi iblis yang konstan ingkar terhadap keputusan Sang Maha Kuasa.

Pada awalnya, hanya ada satu sisi dalam dunia ini yaitu kebaikan; suatu sikap patuh terhadap kebijaksanaan Tuhan, namun ditandai dengan keengganan iblis untuk melaksanakan perintahNya, keburukan itu lahir. Semenjak itu, keburukan senantiasa merongrong seteru abadinya sampai matahari berhenti bersinar.

Tentunya, yang patut waspada adalah manusia. Lho kok? Berawal dari dendam, iblis meminta izin kepada Tuhan untuk menjerumuskan manusia pada jurang keburukan dan kenistaan dan Dia mengizinkannya. Iblis pun berjanji untuk melakukan misinya ini dengan serius dan solid, bahkan mengerahkan seluruh bala tentaranya. Walhasil, kita lihat sendiri banyak manusia yang lebih memilih jalan keburukan daripada kebaikan. Padahal mereka sudah tahu konsekuensinya.

Pertarungan baik dan buruk adalah sunatullah; yang akan mewarnai kehidupan manusia dari awal sampai akhir zaman. Manusia pertama yang terlibat dalam seteru ini adalah Adam dan Hawa, dimana mereka sempat terperdaya, meskipun akhirnya selamat, karena mereka menjadikan Allah sebagai Penjaganya. Namun, sayang, banyak cucu dan cicit Adam yang tak mampu selamat dari tipu daya iblis.

Akhirul kalam, hanya orang-orang yang menjadikanNya sebagai penjagalah yang akan selamat dari pertarungan ini. Semoga kita berada dalam golongan ini, amin.

Wallahu a’lam.