Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Nuh ayat 1 – 4: Risalah Kenabian Nuh a.s.

Q.S. Nuh ayat 1 – 4
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih", (1)
Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (2)
(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, (3)
niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui". (4)

Sinopsis 

Allah s.w.t mengutus Nabi Nuh a.s ke muka bumi untuk memberikan peringatan (indzar) kepada kaumnya akan azab yang akan mereka terima jika tetap berada dalam kekufuran. Nuh melaksanakan tugasnya dengan baik dan mendeklarasikan diri di hadapan mereka sebagai orang yang mendapatkan mandat mulia untuk menyampaikan secara jelas peringatan dari Tuhan. 

Adapun isi daripada peringatan yang disampaikan meliputi: 1) kewajiban untuk menyembah Allah s.w.t dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun; 2) bertakwa kepada-Nya; dan 3) taat kepada perintah Nuh. 

Jika kaum Nuh mendengarkan peringatan ini, maka mereka dijanjikan dua hal: Allah s.w.t akan mengampuni semua dosa-dosa mereka – ketika dikerjakan di saat mereka dalam keadaan kafir dan akan menangguhkan ajal kematian mereka sampai waktu yang telah ditentukan, tanpa mendapatkan azab. Sayangnya, mayoritas kaum Nuh enggan untuk mendengarkan peringatan ini. 

Penjelasan 

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih", (1)

Nuh a.s adalah salah satu dari sekian banyak nabi dan rasul yang diutus oleh Allah s.w.t ke muka bumi untuk menyampaikan risalah tauhid. Dalam Q.S. Dalam Q.S. Annisa ayat 163, Allah s.w.t bersabda, 

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (Q.S. Annisa:163).

Menurut Syekh Muhammad Mutawalli As-Sya’rowi Nuh adalah rasul pertama yang diutus untuk meluruskan akidah umat manusia yang mulai melenceng dari fitrah menyembah Allah s.w.t. Mulanya mereka menyembah Allah. Tatkala ada beberapa orang saleh meninggal, mereka membuat patung-patung untuk memperingati kesalehan kerabat mereka yang meninggal. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka menjadikan patung tersebut sebagai tuhan, dan melupakan Allah s.w.t. Dalam Q.S. Nuh ayat 23 diceritakan,

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. 

Dalam konteks sosial seperti itu, Nuh a.s diutus ke muka bumi untuk mengoreksi akidah masyarakat dan memperingatkan mereka bahwa akan ada azab yang sangat besar datang apabila tetap memilih pada jalan kekufuran, baik ketika mereka masih di dunia, maupun nanti tatkala mereka memasuki alam akhirat.  

Di penjelasan dalam ayat-ayat selanjutnya, kemudian diterangkan bahwa yang dimaksud dengan azab yang pedih yang akan mereka terima di muka bumi adalah banjir yang sangat besar akibat hujan yang turun berkepanjangan. Luapan air tersebut menenggelamkan seluruh makhluk hidup di permukaan bumi, kecuali Nabi Nuh a.s dan para pengikutnya yang sebelumnya telah mendapatkan instruksi untuk membangun bahtera yang luas untuk mereka naiki ketika banjir tiba. 

Selain azab di dunia, orang-orang kafir juga akan mendapatkan azab di akhirat berupa siksaan pedih di neraka. Mereka akan hidup di dalamnya abadi untuk selamanya. 

Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (2) 

Nuh a.s menunaikan tugasnya sebagai rasul yang memberikan peringatan yang nyata kepada kaumnya. Seperti yang telah diungkapkan di muka, bahwa peringatan tersebut adalah azab yang akan mereka temui baik di dunia maupun di akhirat.  

Menurut Syekh Muhammad Mutawalli As-Sya’rowi peringatan (indzar) hanya ditujukan bagi orang-orang kafir dan mereka yang senantiasa berbuat kemaksiatan di muka bumi. Sebaliknya, kabar gembira (tabsyir) disampaikan bagi mereka yang beriman dan melangkah di jalan ketaatan kepada Allah s.w.t. 

(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, (3)

Inti risalah kenabian Nuh a.s. adalah kewajiban untuk menyembah Allah, bertakwa kepada-Nya dan mentaati semua perintah Nabi-Nya. 

Seperti yang dikemukakan di muka, bahwa umat Nabi Nuh a.s mulai melenceng dari ajaran tauhid. Untuk itu, risalah kenabian Nuh meliputi seruan untuk kembali ke jalan yang benar, yaitu menjadikan Allah s.w.t sebagai satu-satunya Zat yang disembah, bukan orang-orang saleh yang sudah meninggal, atau makhluk lainnya. 

Menurut Syekh Muhammad Mutawalli As-Sya’rowi makna ibadah mencakup penghambaan yang total kepada Allah swt dengan tidak menyekutukan-Nya. Selain itu, kepercayaan ini disertai juga dengan melaksanakan semua perintah Tuhan, dan menjauhi semua larangan-Nya. Konsep ketuhanan, menurut Syekh Mutawalli, harus meliputi juga pengamalan ritual ibadah dan norma-norma tentang apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang.  

Masih menurut Syekh Mutawalli, makna takwa sejatinya menjaga diri dari hal-hal yang mengundang azab Allah. Di dalamnya mengandung rasa takut terhadap-Nya, kepada hukuman yang mungkin akan diberikan ketika kita tidak mematuhi perintah-Nya. 

Hal ini diafirmasi oleh Prof. Wahbah Az-Zuhaili yang melihat bahwa perintah beribadah kepada Allah swt – satu-satunya Zat yang pantas disembah – harus disertai dengan menunaikan semua hak-hak-Nya, melaksanakan semua perintah-Nya, menjauhi semua hal yang dapat mengundang azab-Nya, serta taat dan patuh dengan apa yang dibawa rasul-Nya. 

niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui". (4)

Allah s.w.t menjanjikan dua ganjaran jika kaum Nuh mau mengikuti ajakan nabi mereka. Pertama, Dia akan mengampuni dosa-dosa mereka selagi mereka kafir dan menghilangkan madharat siksa neraka di akhirat kelak. Dengan begitu, mereka akan merasa aman dari perasaan takut akan ancaman siksa neraka. 

Ayat ini juga menjadi dalil bahwa jika seseorang sebelumnya kafir dan berbuat dosa dalam kekufuran mereka, semua dosa tersebut akan diampuni ketika dia melafazkan kalimat syahadat. Meskipun begitu, para ulama berbeda pendapat apakah hal itu mencakup semua dosa, atau dengan mengecualikan dosa-dosa yang berkaitan dengan hak orang lain. 

Kedua, mereka akan mendapatkan penangguhan azab, sampai ajal mereka tiba. Menurut Imam Zamakhsyari ada dua kemungkinan tentang ajal kaum Nabi Nuh. Jika mereka beriman, maka mereka akan hidup sampai 1000 tahun, tanpa kekhawatiran akan adanya azab yang ditimpakan Tuhan kepada mereka. Sayangnya, mereka tetap berada dalam kekufuran dan mengabaikan peringatan Nuh a.s. Walhasil, mereka harus dibinasakan oleh Allah swt di permulaan tahun 900 dari umur mereka. 

Di penghujung ayat ini, Allah swt mengingatkan umat manusia bahwa jika ketetapan Allah telah datang, maka tidak ada seorang pun yang bisa mencegahnya. Menurut Al-Maroghi, kalimat lau kuntum ta’lamuun merupakan celaan bagi orang-orang yang terlena dengan kehidupan dunia; seakan-akan mereka lagu atau mungkin lupa dengan kematian yang pasti akan tiba. [] 

Agama Menyelamatkan Jiwa

Oleh @syahruzzaky

MANUSIA secara fitrah diciptakan penuh keluh kesah. Dia akan merasa takut dan gelisah, ketika diberikan kesempitan hidup berupa sakit, kemiskinan dan yang lainnya. Akan tetapi dalam waktu bersamaan mereka juga sangat tamak dan kikir ketika dianugerahi kelapangan. 

Menurut Hamka sifat buruk ini biasanya dibarengi dengan penyakit jiwa (mental hygiene). Masyarakat modern, misalnya, yang hidup dalam bayang-bayang budaya konsumerisme seringkali dihinggapi oleh perasaan takut (fear) dan cemas (anxious) jika tidak mampu memuaskan hasrat mereka sehingga menyebabkan depresi (depressed) dan penyakit jiwa lainnya

Psikologi positif mencoba menawarkan pengobatan bagi orang-orang yang terjangkit penyakit jiwa tersebut. Akan tetapi, hal ini hanya terbatas pada tataran kuratif, yang seringkali tidak memotong akar permasalahan. Selagi manusia hidup dalam tatanan dunia yang tidak suportif, maka jiwa mereka akan rentan dengan pelbagai penyakit. 

Islam menawarkan solusi komprehensif atas permasalahan ini. Dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 21 dijelaskan bahwa secara fitrah manusia diasosiasikan dengan sifat-sifat buruk di atas. Lalu, pada ayat-ayat berikutnya dipaparkan juga langkah-langkah agar mereka terbebas dari belenggu sifat buruk ini, sehingga bisa menyelematkan jiwa mereka. 

Langkah pertama yang ditawarkan adalah shalat. Di samping sebagai sebuah ritual ibadah, shalat memiliki keuntungan-keuntungan psikologis – di mana orang yang melakukannya akan merasa dekat dengan sebuah Kekuatan yang senantiasa menjaganya, yaitu Allah s.w.t. Ini adalah sebuah modal psikologis yang akan membuat dia kuat dan menerima ketika diuji dengan kesusahan, dan bersyukur serta mau memberi ketika diberikan kelapangan hidup. 

Dalam beberapa kitab tafsir dikatakan bahwa yang dimaksud dengan mushollin dalam ayat ini adalah orang-orang beriman. Ini mengisyaratkan bahwa supaya terbebas dari belenggu sifat keluh kesah, takut, gelisah dan tamak, manusia harus menjadi orang yang beriman. Iman kepada Allah swt dan semua perintah-Nya. 

Pernyataan ini bisa berperan secara faktual dan normatif. Dalam kondisi pertama, ini menginformasikan bahwa manusia tidak beriman akan senantiasa dihantui oleh sifat-sifat destruktif di atas. Tidak adanya keimanan terhadap Allah dan aturan-aturan-Nya menyebabkan manusia berbuat sekehendak hati, yang seringkali mengutamakan hawa nafsu daripada akal sehat. Manusia terjebak dalam budaya materialisme dan hedonisme yang mana ini merupakan pangkal dari penyakit-penyakit jiwa seperti yang telah disebutkan di atas. 

Dalam kondisi kedua, manusia beriman diingatkan untuk menjauhi sifat-sifat di atas. Lalu Allah s.w.t memaparkan perangkat-perangkat yang sudah dimiliki oleh ajaran agama kita supaya bisa terbebas dari kondisi jiwa yang rusak. 

Secara fitrah agama diturunkan bagi umat manusia sebagai agen penyelamat, baik bagi nyawa maupun jiwa. Agama bukan hanya bicara tentang keselamatan di alam akhirat, tapi juga tentang kebahagiaan di dunia. Maka, jika ada beberapa golongan orang yang membawa ajaran agama yang menyelisihi fitrah ini, seyogyanya kita memasang sikap kritis terhadapnya. Ini juga menjadi modal bagi kita untuk memberikan sikap counter terhadap mereka yang menyerang agama dan memandangnya sebagai candu bagi masyarakat. [] 

Nadhir bin Haris – Inspirasi Q.S. Al-Ma’arij Ayat 1 – 7

Ejekan tentang neraka yang tertempel di kaos oblong. (Google)

Komunitas Al-Muhajirin

SIKSA neraka tampak mustahil apabila dilihat dari perspektif ilmu modern yang bertumpu pada perkawinan antara empirisme dan positivisme. Sudah maklum kedua aliran filsafat ini terang-terangan menolak metafisika, termasuk penjelasan tentang surga dan neraka seperti yang disampaikan oleh para teolog. 

Maka jangan jengah, ketika mengetahui mayoritas ilmuwan Barat, bahkan pada titik tertentu sudah menjangkit masyarakat awamnya – tidak percaya hal-hal yang bersifat gaib, baik itu kabar tentang alam akhirat, moralitas keagamaan, bahkan pada puncak tertinggi menolak eksistensi Tuhan. 

Tidak sedikit dari mereka menjadikan agama sebagai bahan olok-olok, termasuk ketika meminta agar azab yang dijanjikan oleh teks-teks keagamaan (religious scriptures) kepada golongan mereka segera menghampiri. Ketika permintaan mereka tidak terpenuhi, itu menjadi lahan bagi mereka untuk mengafirmasi bahwa ajaran agama adalah khayalan manusia belaka. 

Perilaku ini bukanlah monopoli para sapiens abad ke-21, akan tetapi juga sudah terjadi ketika zaman Rasul saw masih hidup. 

Suatu saat Nadhir bin Haris, seorang pemuka Suku Quraisy, meminta kepada Nabi saw agar segera mendatangkan azab yang Dia s.a.w janjikan seperti yang termaktub dalam Al-Quran. Dia berkata,

Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih

(Q.S. Al-Anfaal: 32)

Tentunya, ini bukanlah permintaan yang tulus, akan tetapi bentuk kepongahan dan olok-olok atas ajaran yang dibawa oleh Nabi s.a.w; supaya dia bisa mengejek beliau ketika permintaannya tidak dapat terpenuhinya. Untungnya, Allah s.w.t menunjukan kuasa-Nya dengan menghinakan dia di Perang Badar. Nadhir tewas dengan naas dalam tragedi tersebut. 

Karena sifatnya yang gaib, banyak orang kafir tidak mau percaya azab yang telah dijanjikan oleh Allah s.w.t melalui risalah kenabian. Mereka berpegang pada fakta empiris bahwa pembangkangan tidak ada korelasinya dengan hidup sengsara di dunia. 

Dulu, ada seorang dosen UIN yang membuat eksperimen dengan tidak shalat selama tiga bulan lamanya. Ia ingin membuktikan bahwa bahwa hidupnya akan tenang-tenangnya meskipun membangkang perintah-Nya. Ketika tidak terjadi apa dalam hidupnya, ia menyimpulkan bahwa tidak ada korelasi antara kekufuran dengan azab yang dijanjikan Allah s.w.t.

Lalu, bagaimana Al-Qur’an mengomentari fenomena ini? 

Dalam Q.S. Ali Imran: 178, Allah s.w.t bersabda,  

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.

Q.S. Ali Imran: 178

Itu artinya, Allah s.w.t sengaja menangguhkan azab mereka di dunia supaya mereka tetap terlena dengan dosa-dosa mereka, sehingga ketika azab itu datang (baca: kematian), mereka tidak pernah siap untuk menghadapinya. 

Meskipun secara fisik tidak terjadi apa-apa pada dosen UIN tadi, secara non-fisik telah terjadi ‘azab’ pada aspek rohaninya, di mana hidayah Allah s.w.t yang telah ia dapatkan semenjak kecil, harus terlepas dalam genggaman. Dalam perspektif kita, itu adalah azab terberat yang Allah s.w.t berikan pada setiap insan di muka bumi. Wallahu a’lam. [] 

Dua Alasan Pengingkaran Kaum Kafir dan Bantahan Terhadapnya – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Qalam ayat 46-47

Allah swt menyebutkan beberapa kemungkinan kaum kafir enggan untuk percaya terhadap risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw (baca: Risalah Alquran). Pertama, mereka berpikir bahwa untuk mengikuti kajian-kajian yang diadakan Rasul saw, mereka harus menyiapkan upah – yang kelak menjadi hutang bagi mereka – sebagai balasan atas kerja Rasul saw. Kedua, pengetahuan mereka terhadap hal-hal yang gaib sehingga mampu menyangkal kenabian Muhammad saw.

Dalam realitanya, kedua hujjah tersebut tidak pernah terbukti. Dalam menjalankan misi-Nya, Rasul saw tidak pernah mengutip upah sepeser pun. Justru beliau harus banyak berkorban baik harta maupun tenaga demi tegaknya risalah Islam. Pun begitu, Kaum Kafir Quraisy tidak pernah memiliki informasi tentang hal-hal gaib, sehingga tidak ada satu pun argumen yang bisa mereka gunakan untuk membantah kenabian Muhammad saw.

***

Namun, pada akhirnya, menurut Al-Maroghi Kaum Kafir Quraisy tetap enggan untuk mengikuti Rasul saw meskipun telah terbentang di hadapan mereka bantahan atas kemungkinan alasan atas keraguan mereka terhadap risalah yang dibawa oleh Alquran.

Fakta bahwa Nabi saw tidak pernah mengutip sepeserpun ujrah atas misi kenabiannya dan ketidaktahuannya Kafir Quraisy atas apa yang tertulis di lauhul mahfudz tidak terbantahkan. Tapi, kebodohan (jahl) dan keras kepala (‘inad) membuat mereka tetap jauh dari hidayah.

Menurut Buya Hamka kedua ayat ini adalah pertanyaan ingkar dari Allah swt atas fakta pengingkaran Kafir Quraisy. Tentu, Allah swt bukan tidak mengetahui hal ini sehingga perlu menanyakannya, akan tetapi lebih dimaksudkan menohok argumen yang mereka yakini.

***

Ada sejuta alasan untuk kita tidak mempercayai risalah Islam, tetapi ada berjuta argumen lainnya yang membantahnya, baik  dari ayat-ayat qauliyah seperti termaktub dalam Alquran dan Hadis, maupun ayat-ayat kauniyah yang terbentang dalam alam semesta ini.

Namun, kebodohan dan sikap keras kepala akan tetap membuat kita semakin jauh dari pintu hidayah. Na’udzubillah. []

Dan Kehidupan Akhirat Lebih Baik dari Kehidupan Dunia – Kandungan Q.S. Ad-Dhuha

Hidup di dunia harus mengandung misi; menjadi agen yang menyebarkan syariat Allah di muka bumi. Apa pun profesi kita, di pundak kita ada kewajiban untuk mengemban misi ini sekemampuan kita, entah itu dalam bentuk harta, ide, waktu, bahkan nyawa. Dalam istilah orang tarbiyah, nahnu du’at qobla kulli syaiin; kita adalah pendakwah sebelum segala hal.

Tentunya, berdakwah tidak identik dengan menceramahi orang lain, meskipun hal itu tidak salah juga. Yang perlu kita dakwahi pertama kali, tentunya, diri kita. Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa jihad yang paling besar adalah menawan hawa nafsu diri kita. Untuk itu, sangat penting untuk mendakwahi diri sendiri, sambil mengajak orang lain pada kebaikan.

Insya Allah, apabila hidup ini kita dedikasikan untuk menyebarkan syariat-Nya, Allah akan senantiasa ada di sisi kita. Allah tidak akan meninggalkan diri kita, sebagaimana Dia bersumpah untuk tidak meninggalkan Nabi SAW dalam perjuangan dakwahnya.

Dalam Q.S. Ad-Dhuha, Allah bersumpah dengan waktu pagi dan malam, bahwa Dia tidak akan meninggalkan Nabi SAW dan marah kepadanya. Bahkan Allah menjanjikan berjuta kebaikan kepada Nabi SAW di akhirat kelak, karena Rasul SAW telah memilih kehidupan akhirat daripada kehidupan di dunia dengan mendarmabaktikan hidupnya untuk Allah SWT.

Kita juga yakin, ketika hidup kita kita dedikasikan untuk-Nya, yaitu dengan mengutamakan kehidupan akhirat di atas kehidupan dunia, maka Allah akan selalu bersama kita dan memberikan kita berjuta kebaikan yang kita diridhai dan idamkan di akhirat kelak. Amin.

 

 

Kenapa Masih Ingkar? – Kandungan Q.S. At-Tin

Why,_Arizona

Kenapa manusia masih saja mendustakan ajaran agama Allah, padahal telah dibentangkan kepada mereka bukti-bukti akan kuasa-Nya?

Allah mampu menciptakan manusia dari ketiadaan, dan menjadikannya dengan rupa hampir sempurna. Hidung yang mengarah ke bawah, sehingga ketika hujan air tidak mudah masuk ke dalamnya. Alis yang tebal, yang membantu mencegah air masuk ke dua mata. Daun telinga yang memiliki tulang lunak sehingga kita bisa nyaman tidur. Bukankah itu sangat sempurna?

Dengan kesempurnaan bentuk ciptaan itulah manusia bisa berbuat banyak di muka bumi ini. Dengan anugerah akal yang Allah berikan, manusia bisa merubah suatu yang terlihat mustahil pada satu waktu, tapi bisa jadi kenyataan di waktu lain. Dengan anugerah itu pula, ras manusia menjadi penguasa di jagad raya.

Lalu pada satu titik Allah pun mampu membuat mereka pada titik nadi terendah, di mana mereka kembali pada kelemahannya. Kita tengok, para diktator seperti Soekarno, Khadafi, Husni Mubarok, dll yang terlihat begitu berkuasa, tapi ketika memasuki masa tua taringnya hilang sama sekali.  Allah mampu untuk menciptakan manusia dalam keadaan lemah, menjadikannya sempurna – dan membuatnya menjadi lemah kembali.

Maka atas dasar itu, kenapa masih saja manusia mendustakan agama Allah?

Gambaran Kiamat

kiamat1

Dalam perspektif al-Quran kiamat selalu digambarkan mirip dengan bencana besar yang sering terjadi di muka bumi seperti gempa, gunung meletus, tsunami, dll.

Dalam Q.S. Al-Zilzalah, misalnya, kiamat digambarkan dengan proses gempa di mana bumi berguncang dengan keras dan mengeluarkan segala isinya baik itu dari bahan mineralnya sampai orang-orang yang mati terkubur di dalamnya. Semuanya dikeluarkan dari perut bumi.

Gambaran sedikit berbeda terlihat dalam Q.S. Al-Qari’ah yang lebih menggambarkan kiamat dengan meletusnya gunung merapi sehingga memuntahkan dan menerbangkan semua isinya seperti kapas.

Namun dari semuanya, kiamat nampaknya akan ditandai dengan bencana besar yang bisa jadi itu merupakan akumulasi dari keserakahan manusia dalam mengeksplorasi bumi secara berlebihan.

Bermegah-megahan yang Melalaikan – Kandungan QS. At-Takatsur

money-main_full

  1. Harta dan tahta seringkali melalaikan kita untuk taat menjalankan perintah Allah, bahkan sampai kita masuk liang lahat pun, kita tidak menyadarinya.
  2. Kalau saja kita tahu apa akibat dari terlena karena harta dan tahta terhadap taat kepada Allah, maka kita akan menjauhinya.
  3. Apa itu akibatnya? Neraka jahim, yang akan kita lihat dengan mata kita sendiri.
  4. Semua yang melenakan itu, akan ditanya kelak di hari pembalasan.
  5. Sekali lagi, hendaknya, surat ini tidak kita gunakan untuk menjustifikasi orang lain, tapi sebagai bahan renungan bagi kita untuk tidak terjerumus pada kehinaan ini.

Seringkali kita melihat, orang  mendapatkan kesempatan dari Allah untuk menikmati harta berlebih; kesehatan, waktu, keamanan, makanan, dan minuman justru terlena untuk taat kepada Allah swt. Kelebihan-kelebihan tersebut itu justru mereka gunakan untuk berbuat maksiat, yang tentunya akan membuat mereka semakin jauh kepada-Nya.

Mereka terus bermaksiat dengan nikmat yang Allah anugerahkan, sampai tidak sempat bertobat ketika ajal sudah berada di depan mata.

Ini adalah peringatan Allah swt bagi mereka; kalau saja mereka tahu apa akibat dari kelalaian ini, tentu tidak akan bermegah-megahan seperti itu. Bagaimana tidak? Konsekuensi dari bermegah-megahan yang melenakan ini adalah neraka jahim yang nyata akan terlihat dengan mata kepala mereka sendiri di hari pembalasan kelak. Semua yang mereka banggakan akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat.

Alangkah lebih baiknya apabila kata “mereka” di sini diganti dengan “saya” sehingga nasehat ini akan kita tujukan pertama kali pada diri “saya”.

Baik vs. Buruk

Gambar

61. Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”

62. Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.

63. Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.

64. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.

65. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”.

***

Narasi kehidupan selalu menyodorkan dua koin yang saling bertolak belakang, bahkan saling berjauhan bagaikan dua kutub magnet yang berbeda. Kita seringkali menamakannya kebaikan dan keburukan. Kebaikan adalah representasi malaikat yang selalu patuh dan tunduk atas perintah Tuhan, sedangkan keburukan adalah deskripsi iblis yang konstan ingkar terhadap keputusan Sang Maha Kuasa.

Pada awalnya, hanya ada satu sisi dalam dunia ini yaitu kebaikan; suatu sikap patuh terhadap kebijaksanaan Tuhan, namun ditandai dengan keengganan iblis untuk melaksanakan perintahNya, keburukan itu lahir. Semenjak itu, keburukan senantiasa merongrong seteru abadinya sampai matahari berhenti bersinar.

Tentunya, yang patut waspada adalah manusia. Lho kok? Berawal dari dendam, iblis meminta izin kepada Tuhan untuk menjerumuskan manusia pada jurang keburukan dan kenistaan dan Dia mengizinkannya. Iblis pun berjanji untuk melakukan misinya ini dengan serius dan solid, bahkan mengerahkan seluruh bala tentaranya. Walhasil, kita lihat sendiri banyak manusia yang lebih memilih jalan keburukan daripada kebaikan. Padahal mereka sudah tahu konsekuensinya.

Pertarungan baik dan buruk adalah sunatullah; yang akan mewarnai kehidupan manusia dari awal sampai akhir zaman. Manusia pertama yang terlibat dalam seteru ini adalah Adam dan Hawa, dimana mereka sempat terperdaya, meskipun akhirnya selamat, karena mereka menjadikan Allah sebagai Penjaganya. Namun, sayang, banyak cucu dan cicit Adam yang tak mampu selamat dari tipu daya iblis.

Akhirul kalam, hanya orang-orang yang menjadikanNya sebagai penjagalah yang akan selamat dari pertarungan ini. Semoga kita berada dalam golongan ini, amin.

Wallahu a’lam.