Cemoohan terhadap Datangnya Hari Kiamat – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk 25-27

Dan mereka berkata: “Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?”

Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.

Ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka) inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.

DALAM ayat sebelumnya Allah swt menyatakan bahwasanya manusia – di kehidupan setelah kematian – akan berkumpul di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka selama hidup di dunia. Dalam ayat ini, Dia swt menceritakan tentang pertanyaan dari Kaum Kafir Quraisy yang menantang Nabi saw untuk memberi tahu mereka kapan janji tentang hari kiamat itu akan tiba. Allah swt memerintahkan Rasul saw untuk menjawab bahwasanya beliau saw hanya bertugas untuk menyampaikan risalah ini sebagai bentuk peringatan, sedangkan Dzat Yang Maha Mengetahui tentang hal ini hanyalah Allah swt.

Nyatanya, wajah kaum kafir tetap saja berubah pecat dan bingung ketika janji Allah tersebut benar-benar datang mendekati mereka. Dengan nada mengolok-olok, para malaikat penunggu neraka bertanya kepada mereka, “Inkah apa yang engkau minta supaya segera datang menimpa kalian?”

Menurut Ar-Razi yang dimaksudkan dengan janji di sini adalah hari kiamat dan azab yang meliputinya. Sedangkan menurut Tontowi makna janji dalam ayat ini adalah kebangkitan setelah kematian, hisab – perhitungan amal umat manusia selama hidup di dunia dan balasan atas itu semua baik berupan surga maupun neraka.

Menurut Nasafi pertanyaan ini bukanlah usaha untuk menemukan kebenaran tentang hari kiamat, akan tetapi lebih cenderung pada olokan sekaligus cemoohan akan kebenaran yang Rasul saw bawa. Bagaimana tidak? Seorang Qusaisy – yang tidak memiliki status sosial yang tinggi – dari kota Mekkah membawa kabar tentang hari kiamat dan nilai-nilai lainnya yang mendobrak tatanan nilai setempat yang sudah mapan, hal ini tentunya – dalam pandangan kaum kafir – sebagai sebuah kegilaan belaka yang patut mendapatkan olokan dan cemoohan.

Tentu saja Nabi Muhammad SAW tidaklah mengetahui persis kapan kiamat akan tiba. Itu merupakan domain Allah SWT. Pengetahuan tentang suatu kejadian, tidak mesti harus tahu kapan kejadian tersebut akan datang. Dalam konsep Islam tidak pernah dikenal kabar sahih tentang waktu eksak kedatangan hari kiamat. Yang ada adalah berita tentang tanda-tanda hari kiamat sebagai bentuk peringatan kepada umat manusia untuk terus berbenah dan memperbaiki diri. Hal ini berbeda dengan beberapa sekte keagamaan yang seringkali membuat ramalan dan prediksi tentang hari kiamat, yang mana sampai detik ini belum terbukti adanya.

Yang menarik, dalam ayat ini Allah swt menggunakan diksi “yaquluna” yang merupakan fi’il mudhori’. Menurut Ar-Razi hal ini menunjukan masa depan. Namun, bisa juga menunjukan masa lalu karena ada kata “kaanuu” (wa kaanuu yaquuluuna) yang tidak ditulis eksplisit di sini.

Dua waktu yang terkandung dalam makna ayat ini menunjukan bahwa dalam sejarah umat manusia akan selalu ada orang-orang yang mengolok-olok eksistensi hari kiamat dan azab serta nikmat yang ada di dalamnya meskipun telah diberitahukan kepada mereka peringatan-peringatan dari Tuhan melalui para Nabi-Nya. Dewasa ini, di beberapa belahan dunia – terutama negara-negara Barat – mayoritas masyarakatnya tidak mempercayai hal ini, bahkan seringkali menjadi bahan guyonan bagi mereka.

Kecongkakan kaum kafir ternyata hanya sebatas lip service. Dalam ayat 27, Allah swt menggambarkan bagaimana wajah mereka tetap saja pucat tatkala Dia swt menepati janjinya di hari kiamat. Apa yang mereka dustakan dan menjadi bahan olokan, ternyata benar adanya! Walhasil, kesombongan berubah menjadi kegetiran dan penyasalan yang tak berguna. “… Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (Q.S. 39: 47-48).

Menurut Prof. Wahbah Az-Zuhaili, ayat 27 merupakan jawaban atas pertanyaan olokan kafir Quraisy (dan tentunya kaum kafir yang datang setelah mereka) yang termaktub dalam ayat 25. Kaum ‘Aad – yang hidup jauh sebelum Kaum Kafir Quraisy – juga pernah melakukan tantangan yang sama. Dengan pongahnya mereka menjawab ajakan dakwah Nabi Hud AS seraya berkata, “… “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.” (Q.S. 46: 22). (*)

 

Advertisements

Semua karena Allah

snopes.com

Dia lah yang melindungimu dari segala macam marabahaya. Ketika bahaya dan musibah datang, maka tidak ada satu tentara pun yang bisa menolong-Mu – entah itu hartamu, anak buahmu, bosmu, rakyatmu, keluargamu, doktermu dan yang lainnya – kecuali datang rahmat dan karunia-Nya.

Di negeri adidaya Amerika Serikat – yang konon memiliki sumber daya teknologi yang paling canggih di seantro jagad – ketika Allah swt mengirimkan Katrina, luluh lantak lah semua yang ada di bumi. Rumah rata dengan tanah. Mobil-mobil berterbangan. Kematian mengelilingi warganya. Namun sayang, mereka tetap menjadi orang-orang yang tertipu.

Siapa yang akan menurunkan hujan – apabila Dia tidak sudi untuk menurunkannya? Tidak ada seorang pun, hatta perkembangan teknologi ciptaan manusia. Hujan itulah yang menghidupi tumbuhan – yang mana kita bisa memakannya untuk bertahan hidup. Hujan jualah yang memberi minum hewan – yang mana itu adalah sumber kekuatan bagi kita. Namun, ketika Allah berkehendak untuk tidak menurunkan hujan, tidak ada seorang pun yang mampu menolaknya.

Lihatlah bagaimana ketika kekeringan melanda benua Afrika. Beribu hektar kebun tidak bernyawa. Ribuan hewan mati sia-sia. Manusia – dengan segala kecongkakannya – tidak berdaya untuk berbuat apa-apa. Namun, sayangnya, kebanyakan mereka tetap sombong dan tidak mau percaya. Enggan untuk mengambil pelajaran dari ini semua.

Semuanya karena Allah swt; baik itu berita baik maupun berita buruk. Maka, mengapa tetap berpaling dari-Nya? (*)

Inspirasi Ayat:

Al-Mulk (67, 20-21)

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ جُنْدٌ لَكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِنْ دُونِ الرَّحْمَٰنِ ۚ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ (*)أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَلْ لَجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ

Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. (*) Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?

Ulasan Kitab Tafsir: Surah al-Mulk ayat 16 – 19: Orang Kafir Tidak Dapat Menghindar Dari Azab Allah

hdwallpaperbackgrounds.net

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt memperlihatkan sifat tegas sekaligus rahmat-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya. Dia menunjukan bahwa Dia bisa menelan bumi dengan menggoncangkannya, atau mengirim badai yang disertai bebatuan sebagai balasan bagi orang-orang yang ingkar terhadap risalah-Nya, sebagaimana Dia melakukan hal-hal tersebut kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw. Namun, Dia pun menunjukan sifat rahmat-Nya ketika menjelaskan bahwa burung-burung dapat terbang untuk mencari rejeki, dan tidak terjatuh meskipun daya gravitasi senantiasa merongrongnya.

Al-Mulk 16 dan 17: Kuasa Allah untuk Mendatangkan Azab Bagi Kaum yang Ingkar

Dalam ayat-ayat di atas Allah swt memperingati manusia bahwasanya Dia sangat Maha Kuasa untuk mengguncangkan bumi dengan gempa yang sangat besar dan/atau mengirim badai yang disertai batu pada mereka secara tiba-tiba. Hal tersebut adalah bentuk peringatan bagi kaum kafir yang merasa nyaman dengan kekufurannya dan yakin bahwasanya mereka tidak akan mendapatkan bencana. Kelak mereka akan sadar bahwasanya pembangkangan ini mengandung konsekuensi yang pedih. Padahal, tercatat dalam sejarah, Dia swt melakukan hal serupa pada kaum-kaum terdahulu yang tidak mau menerima risalah yang dibawa oleh para rasul-Nya.

Menurut Al-Maroghi dan Jalaluddin & Jalaluddin bentuk peringatan atau ancaman yang pertama adalah goncangan bumi/gempa seperti yang menimpa Qorun yang menelan seluruh hartanya. Sedangkan ancaman yang kedua adalah badai yang disertai batuan kecil seperti yang menimpa Kaum Luth, dan ketika itu baru sadar akan dahsyat-Nya hukuman Tuhan, namun sayangnya penyesalan tidak akan bermanfaat ketika azab sudah menimpa.

Dalam beberapa ayat lain, Allah swt memberikan peringatan serupa kepada orang-orang kafir seperti dalam Q.S. Al-An’am (6/65), “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.

Atau dalam Q.S. Al-Isra’ (17/68), “Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu.”

Ar-Razi melihat bahwasanya pernyataan “Allah yang di langit” tidak mungkin untuk ditafsirkan secara tekstual berdasarkan penampakan ayat, karena eksistensi Allah di langit menunjukan bahwasanya langit meliputi-Nya dari segala sisi, maka Allah lebih kecil dari langit, dan langit lebih kecil dari ‘Arsy, dan keadaan Allah lebih kecil bila dibandingkan dengan ‘Arsy adalah suatu hal yang mustahil dalam kesepakatan Ahli Islam. Dalam ayat lain Allah swt bersabda, “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Bila merujuk pada ayat ini, kalau saja Allah swt berada di langit maka dia menjadi Penguasa bagi diri-Nya, dan ini adalah suatu hal yang mustahil. Maka kita mengetahui bahwasanya ayat ini harus ditakwil dari zahirnya.

Untuk diketahui bahwa perdebatan tentang “Di mana Allah bersemayam?” telah menjadi bahan perdebatan antara para ahli kalam dari dulu sampai sekarang.

Dalam kedua penggalan ayat tersebut, Allah swt menakut-nakuti para kaum kafir dengan memberikan contoh dan bukti. Salah satunya adalah apa yang menimpa kaum-kaum sebelum Nabi Muhammad saw.

Ayat 18: Hukuman untuk Kaum Terdahulu

Dalam beberapa ayat al-Quran, Allah swt telah menunjukan bukti bahwasanya Dia telah menghukum kaum yang tidak mau menerima risalah-Nya. Di antaranya adalah Qorun yang ditenggelamkan beserta hartanya, Kaum Luth yang diserbu badai disertai bebatuan, kaum Nuh yang telah ditenggelamkan banjir mahadahsyat, kaum Syuaib yang telah dibinasakan dengan petir, serta Fir’aun dan kaumnya telah ditenggelamkan di Laut Merah.

Hal ini untuk menunjukan bahwasanya Allah Mahabenar dengan semua peringatannya tentang turunnya azab bagi orang-orang yang ingkar kepada-Nya.

Untuk menunjukan kuasa-Nya, Allah swt memperlihatkan salah satu ayat-Nya, yaitu burung yang dapat terbang meskipun hal itu harus melawan gaya gravitasi.

Ayat 19: Burung-burung yang Beterbangan Sebagai Bentuk Kuasa-Nya

Al-Maroghi berkata, “Apakah mereka lalai akan Kuasa Kami dan tidak melihat burung-burung yang beterbangan di atas mereka. Terkadang burung-burung itu mengembangkan sayapnya ketika terbang dan kadang mengatupkannya. Tidak ada yang menahan burung-burung itu di udara ketika beterbangan dan melayang-layang dari kejauhan dan daya tarik bumi, meski bertentangan dengan tabiat organismenya yang berat. Selain dari keluasan rahmat pencipta-Nya yang telah menciptakannya dalam berbagai bentuk dan karakteristik. Dia-lah yang mengetahui dan mengajarkan kepadanya gerakan-gerakan yang dapat membantunya untuk belari di udara menempuh jarak yang jauh guna mendapatkan makanan dan mencari rejeki.

Al-Maroghi melanjutkan, “Sesungguhnya Allah swt Maha Mengetahui segala sesuatu, hal yang lembut maupun yang besar. Dia mengetahui bagaimana Dia harus menciptakanya menurut sunnah-sunnah yang Dia ketahui faidahnya bagi hamba-hamba-Nya.”

Buya Hamka, mengutip filosof Pakistan kenamaan, Allamah Muhammad Iqbal mengatakan bahwasanya fenomena tentang keseimbangan alam seperti contoh di atas adalah akibat dari Sifat Rahman dari Allah swt, sebagaimana dalam firman-Nya dalam Q.S. Al-An’am (6/12), “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.” (*)