Walid bin Mughiroh

sumber: hidayatullah.com

Hanya sedikit manusia yang tercatat sejarah hidupnya dalam al-Qur’an, termasuk Walid bin Mughiroh. Dia adalah seorang taipan bangsa Arab, yang mengaku dari klan Quraisy, padahal bukan. Kekayaannya yang melimpah justru menjerumuskannya pada jurang kekufuran.

Al-Qur’an mendeskripsikan busuk perangainya sebagai i’tibar bagi orang-orang yang hidup setelahnya. Berikut adalah beberapa perangainya seperti yang termaktub dalam Q.S. Al-Qalam (68: 10 – 16):

  1. Suka bersumpah dengan kebatilan sehingga membuat dia hina. 
  2. Suka mengumbar dan mengumpat, serta menyebarkan fitnah di antara manusia.
  3. Kikir.
  4. Berlebih-lebihan dan sering berbuat dosa.
  5. Hatinya keras dan kaku.
  6. Mendustakan ayat-ayat Allah.

Tentu, tak semata-mata Allah swt mendokumentasikan catatan kehidupannya dalam al-Qur’an kecuali kita diperintahkan untuk mengambil pelajaran atas-nya.

Bahwa kelapangan hidup yang kita miliki hendaklah kita balas dengan perilaku syukur dengan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sikap syukur dapat kita tunjukan dengan menghindari perilaku tercela di atas dalam kehidupan sehari-hari.

***

Kita melihat surat ini sangat relevan dengan konteks saat ini, di mana – berkat kemajuan teknologi informasi – bertebaran informasi-informasi yang level kesahihannya sangat rendah.

Ujaran-ujaran kebencian, fitnah, dan sumpah serapah menjejali frekuensi publik kita. Strategi busuk gencar dilaksanakan demi memuaskan hasrat duniawi, entah dalam dunia politik, sosial, budaya, bahkan agama.

Sebagai Muslim yang beriman, tentu kita harus menjauhkan diri dari perilaku tersebut. Kita yakin tujuan yang baik harus dilaksanakan dengan cara-cara yang baik. [*]

Advertisements

Ulasan Kitab Tafsir: Q.S. Al-Qalam Ayat 1 – 7: Nabi Muhammad saw tidaklah Gila Seperti yang Dituduhkan Kafir Quraisy

sumber: okezone.com

Ayat 1: Allah bersumpah dengan pena dan apa yang ditulisnya  

Para ulama berbeda pendapat tentang makna huruf “Nuun” yang ada di permulaan Q.S. Al-Qalam. Menurut Ibnu Hayyan, seperti yang dikutip oleh Wahbah az-Zuhaili, huruf ‘nuun’ adalah huruf asing yang tidak diketahui maknanya, kecuali oleh Allah swt. Tidak bisa dii’rabkan, meskipun ada yang berpendapat i’rabnya nasab karena menjadi maf’ul (obyek), atau datang sebelumnya sumpah.

Namun, masih menurut Wahbah az-Zuhaili, sebagian ulama berpendapat bahwa “nuun” bermakna tantangan atau peringatan akan pentingnya apa yang akan disampaikan dalam ayat-ayat setelahnya. Penafsiran ini juga lebih disukai oleh Al-Maroghi di mana dia mengatakan bahwa “nuun” adalah huruf tanbih (peringatan) yang diharapkan dapat menarik perhatian para pembaca untuk mempelajari lebih jauh apa yang ingin disampaikan.

Ar-Razi dalam tafsir al-Kabiir, mengutip pendapat ulama bahwa yang dimaksud dengan “nuun” adalah ikan paus yang memakan Yunus a.s. seperti yang tersurat dalam Q.S Ash Shaaffaat ayat 139-145. Namun, pendapat lain mengatakan bahwa “nuun” adalah tempat pena, di mana tinta disimpan di dalamnya. Inilah penafsiran yang disetujui oleh Hamka dalam kitabnya tafsir al-Azhar.

Namun, ada juga yang berpendapat bahwa huruf ini adalah lembaran di mana para malaikat menulis amalan di lauhul mahfudz. Yang lain berpendapat bahwa itu merupakan huruf terakhir dari kalimat “rahmaan” nya Allah swt.

Yang jelas, apapun pendapat para ulama, mereka memiliki argumen-nya masing-masing dan ini menunjukan bahwa hal ini bukanlah hal yang final karena tidak ada nash yang secara eksplisit menunjukan maknanya. Maka, kita kembalikan penafsiran yang sebenarnya kepada Ilmu Allah swt yang Maha Luas.

***

Isi dari penggalan ayat pertama Q.S. Al-Qalam ini adalah sumpah Allah dengan menggunakan pena yang digunakan untuk menulis. Pemilihan kata pena menunjukan akan keagungan benda ini dalam ajaran Islam.

Pena secara maknawi memiliki posisi penting dalam Islam.  Al-Maroghi berpendapat bahwa penggunaan diksi ini adalah untuk mendorong umat mendidik diri dan membangun peradaban supaya bisa menjadi umat terbaik (khair ummah).

Wahbah az-Zuhaili melihat bahwa pena yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah swt menunjukan agungnya nikmat menulis sebagai salah satu nikmat terbesar dari Allah, setelah berpikir/berbicara/menejelaskan sebagai wasilah dalam membangun peradaban dan penyebaran ilmu pengetahuan di antara umat manusia dan tentunya menjadi kunci bagi kemajuan suatu bangsa.

Tentang keutamaan pena, disebutkan dalam satu riwayat hadits, bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah swt adalah pena yang memiliki fungsi menulis takdir yakni amal perbuatan, sebab-akibat, rezeki, dan ajal semenjak awal mula kehidupan sampai datangnya hari kiamat. Lalu setelah itu diciptakanlah “nuun” (tempat tinta).

Ayat 2: Rasulullah saw tidaklah gila seperti yang disangkakan

Sontak setelah Kaum Kafir Quraisy mendengar kabar kenabian dari Rasulullah saw, langsung menuduhnya sebagai orang gila. Lebih keji lagi, mereka menyebut nabi saw sebagai setan.

Tentu tuduhan tak berdasar ini membuat Rasul saw dirundung kesedihan, karena ajakan untuk bertauhid kepada-Nya, ternyata harus dibayar dengan fitnah yang keji.

Menurut Hamka turunnya ayat ini merupakan hiburan bagi Rasul saw yang sedang mendapatkan ujian yang cukup berat dalam masa-masa awal tugas kenabiannya.

Ayat ini yang menerangkan bahwasanya Nabi saw tidaklah gila seperti yang dituduhkan oleh kafir Quraisy. Bagaimana mungkin orang yang diberkati kedudukan yang tinggi di mata masyarakat saat itu karena memiliki akhlak dan pekerti yang luhur bisa disebut gila. Tentu, sifat gila tidak bisa disematkan pada orang yang memiliki karakteristik mulia seperti Rasul saw.

Al-Maroghi mengatakan kenikmatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kenabian, keimanan, kebijaksanaan dan budi pekerti yang melekat dalam pribadi Rasul saw.

Dewasa ini, tuduhan miring tentang Nabi saw masih gencar dilancarkan oleh kaum kafir yang tidak suka dengan perkembangan dakwah Islam di dunia. Sebut saja misalnya kontroversi film besutan sutradara Yahudi penganut Kristen Koptik, Sam Bacile, “The Innocent of Muslims” yang menggambarkan Nabi saw sebagai sosok pria yang haus darah, penganut pedofilia, dan gila seks.

Cerita miring tentang Rasul saw sejatinya terbantahkan dengan narasi sirah nabawiyah yang menunjukan keagungan akhlak beliau saw.

Ayat 3: Kemenangan Umat Islam menjadi balasan setimpal atas pengorbanan Nabi saw

Ujian bertubi-tubi yang Rasul saw dapatkan ketika mengemban misi dakwah tidaklah berujung sia-sia. Allah swt membalasnya dengan kemenangan gemilang dan lestarinya risalah tauhid sampai detik ini.

Saat ini Islam menjadi salah satu agama besar di dunia, dan ajarannya meresap dalam setiap relung sanubari penganutnya. Dalam survei The 2015 Global Attitudes dari Pew Research Center, ditemukan bahwa umat Islam termasuk yang paling komitmen dalam menjalankan ajaran mereka.

Tentunya menyebarnya ajaran Islam menjadikan pahala yang tak pernah berhenti bagi Rasul saw, karena beliau saw menjadi wasilah distribusi hidayah bagi umat Islam di seluruh dunia. Menurut Hamka, perjalanan sejarah peradaban umat Islam yang cukup lama dan gemilang menjadi balasan setimpal atas pengorbanan Nabi saw dalam menjalankan misi kerasulan.

Ayat 4: Keagungan Akhlak Rasul saw

Bantahan Allah swt terhadap tudingan Kafir Quraisy diperkuat dengan penjelasan dalam ayat ini, di mana Rasul saw dianugerahi sifat mulia oleh-Nya. Sekali lagi, mana mungkin, orang yang memiliki perangai agung disematkan sifat “gila” dan “setan” terhadapnya. Otomatis, tuduhan ini menjadi terbantahkan.

Dalam beberapa redaksi hadits, diketahui bagaimana keluhuran akhlak Rasul saw; seperti tidak pernah mengatakan “huss” atau menghardik / memukul pembantu, perempuan, dan anak kecil. Beliau saw hanya memukul dalam kondisi peperangan.

Menurut  Wahbah az-Zuhaili, dalam pribadi Rasul saw terkumpul ragam pekerti agung seperti rasa malu, kedermawanan, kebijaksanaan, kelembutan, pemaaf, dan akhlak baik lainnya. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Q.S. A’raf (199), “jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”

Keluhuran akhlak menjadi inti daripada agama Islam. Bahkan, sebagian ulama menyandingkan agama dengan akhlak. Dalam sebuah hadits masyhur diriwayatkan bahwa Rasul Saw diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak. Para ulama berpendapat bahwasanya makna akhlak di sini adalah agama.

Aisyah Ra ketika ditanya oleh sahabat tentang keperibadian/akhlak Rasul Saw, beliau Ra menyatakan bahwa akhlak Rasul Saw adalah al-Qur’an. Padahal kita tahu bahwasanya al-Qur’an adalah rujukan utama dalam beragama. Maka dapat dikatakan bahwa salah inti esensial dari agama itu adalah akhlak.

Menurut Hamka, salah satu kunci keberhasilan dakwah Rasul saw adalah kesanggupan menahan hati dalam menerima celaan dan makian yang semena-mena dari orang-orang yang tidak paham. Perbuatan tercela dibalas dengan kebaikan, sehingga tidak jarang banyak orang kafir menjemput hidayahnya dengan wasilah akhlak Rasul saw yang mulia.

Ayat 5 – 7: Siapa sebenarnya yang gila?

Kaum kafir – dari dulu sampai sekarang – merasa yakin akan kebenaran langkah mereka dalam mengingkari eksistensi Allah swt. Mereka melabeli kaum beragama sebagai orang gila, fanatik, barbar, bahkan teroris. Seperti halnya yang dilakukan oleh Kaum Kafir Quraisy terhadap misi kenabian yang dijalankan oleh Rasul saw. Mereka mencap beliau saw sebagai gila, setan bahkan dukun / tukang sihir.

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt menantang mereka untuk melihat kelak di hari kiamat siapakah yang sebenarnya mendapatkan ujian gila; Rasul saw atau justru mereka sendiri.

Di beberapa tempat dalam al-Quran (seperti yang tersurat dalam Q.S. Al-Mulk ayat 9 – 11), dijelaskan pada akhirnya, kaum kafir akan menyadari bahwa merekalah yang tersesat; dan menyesali atas apa yang mereka ingkari selama hidup di dunia.

Menurut Wahbah az-Zuhaili, yang dimaksud dengan kesesatan dalam penggalan ayat 7 adalah sesat dalam hal agama dan akidah, sedangkan makna hidayah adalah hidayah agama.

***

Hamka menilai ayat ini merupakan janji Allah swt akan kemenangan orang-orang yang tertindas. Sejarah perjuangan nabi, rasul dan para pelanjutnya, selalu diliputi keadaan lemah, miskin, tertindas, dan tidak memiliki kekuasaan.

Para penentang mereka selalu memiliki kekuasaan yang digunakan untuk berbuat kezaliman terhadap jalan dakwah mereka, namun pada akhirnya Allah swt selalu memberikan kemenangan pada orang-orang yang tertindas.

Inilah juga yang terlihat dalam kemenangan umat Islam di Perang Badar.

Menurut Hamka, ayat ini ingin memberikan petunjuk bahwa kebenaran akan menang, dan kezaliman tidak akan bertahan lama. Saya kira penafsirannya bisa dibuat dengan konteks yang berbeda-beda.

***

Penggalan terakhir dalam ayat ketujuh menyisakan cerita yang menarik. Di sini, Allah swt menantang mereka untuk melihat kelak di hari kiamat siapakah yang sebenarnya mendapatkan ujian gila; Rasul saw atau justru mereka sendiri. Namun, Allah swt menggarisbawahi bahwasa satu-satunya Dzat yang mengetahui hal ini hanyalah Dia semata dengan sifatnya yang Maha Mengetahui dan Maha Memberi Petunjuk.

Jangan sampai – dengan dalih ayat ini – kini terperangkap pada kebiasaan mencap sesat pada kelompok lain yang memiliki pemahaman keagamaan yang berbeda dalam tataran furu’iyyah. Wallahu a’lam. [*]

Cemoohan terhadap Datangnya Hari Kiamat – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk 25-27

Dan mereka berkata: “Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?”

Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.

Ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka) inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.

DALAM ayat sebelumnya Allah swt menyatakan bahwasanya manusia – di kehidupan setelah kematian – akan berkumpul di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka selama hidup di dunia. Dalam ayat ini, Dia swt menceritakan tentang pertanyaan dari Kaum Kafir Quraisy yang menantang Nabi saw untuk memberi tahu mereka kapan janji tentang hari kiamat itu akan tiba. Allah swt memerintahkan Rasul saw untuk menjawab bahwasanya beliau saw hanya bertugas untuk menyampaikan risalah ini sebagai bentuk peringatan, sedangkan Dzat Yang Maha Mengetahui tentang hal ini hanyalah Allah swt.

Nyatanya, wajah kaum kafir tetap saja berubah pecat dan bingung ketika janji Allah tersebut benar-benar datang mendekati mereka. Dengan nada mengolok-olok, para malaikat penunggu neraka bertanya kepada mereka, “Inkah apa yang engkau minta supaya segera datang menimpa kalian?”

Menurut Ar-Razi yang dimaksudkan dengan janji di sini adalah hari kiamat dan azab yang meliputinya. Sedangkan menurut Tontowi makna janji dalam ayat ini adalah kebangkitan setelah kematian, hisab – perhitungan amal umat manusia selama hidup di dunia dan balasan atas itu semua baik berupan surga maupun neraka.

Menurut Nasafi pertanyaan ini bukanlah usaha untuk menemukan kebenaran tentang hari kiamat, akan tetapi lebih cenderung pada olokan sekaligus cemoohan akan kebenaran yang Rasul saw bawa. Bagaimana tidak? Seorang Qusaisy – yang tidak memiliki status sosial yang tinggi – dari kota Mekkah membawa kabar tentang hari kiamat dan nilai-nilai lainnya yang mendobrak tatanan nilai setempat yang sudah mapan, hal ini tentunya – dalam pandangan kaum kafir – sebagai sebuah kegilaan belaka yang patut mendapatkan olokan dan cemoohan.

Tentu saja Nabi Muhammad SAW tidaklah mengetahui persis kapan kiamat akan tiba. Itu merupakan domain Allah SWT. Pengetahuan tentang suatu kejadian, tidak mesti harus tahu kapan kejadian tersebut akan datang. Dalam konsep Islam tidak pernah dikenal kabar sahih tentang waktu eksak kedatangan hari kiamat. Yang ada adalah berita tentang tanda-tanda hari kiamat sebagai bentuk peringatan kepada umat manusia untuk terus berbenah dan memperbaiki diri. Hal ini berbeda dengan beberapa sekte keagamaan yang seringkali membuat ramalan dan prediksi tentang hari kiamat, yang mana sampai detik ini belum terbukti adanya.

Yang menarik, dalam ayat ini Allah swt menggunakan diksi “yaquluna” yang merupakan fi’il mudhori’. Menurut Ar-Razi hal ini menunjukan masa depan. Namun, bisa juga menunjukan masa lalu karena ada kata “kaanuu” (wa kaanuu yaquuluuna) yang tidak ditulis eksplisit di sini.

Dua waktu yang terkandung dalam makna ayat ini menunjukan bahwa dalam sejarah umat manusia akan selalu ada orang-orang yang mengolok-olok eksistensi hari kiamat dan azab serta nikmat yang ada di dalamnya meskipun telah diberitahukan kepada mereka peringatan-peringatan dari Tuhan melalui para Nabi-Nya. Dewasa ini, di beberapa belahan dunia – terutama negara-negara Barat – mayoritas masyarakatnya tidak mempercayai hal ini, bahkan seringkali menjadi bahan guyonan bagi mereka.

Kecongkakan kaum kafir ternyata hanya sebatas lip service. Dalam ayat 27, Allah swt menggambarkan bagaimana wajah mereka tetap saja pucat tatkala Dia swt menepati janjinya di hari kiamat. Apa yang mereka dustakan dan menjadi bahan olokan, ternyata benar adanya! Walhasil, kesombongan berubah menjadi kegetiran dan penyasalan yang tak berguna. “… Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (Q.S. 39: 47-48).

Menurut Prof. Wahbah Az-Zuhaili, ayat 27 merupakan jawaban atas pertanyaan olokan kafir Quraisy (dan tentunya kaum kafir yang datang setelah mereka) yang termaktub dalam ayat 25. Kaum ‘Aad – yang hidup jauh sebelum Kaum Kafir Quraisy – juga pernah melakukan tantangan yang sama. Dengan pongahnya mereka menjawab ajakan dakwah Nabi Hud AS seraya berkata, “… “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.” (Q.S. 46: 22). (*)