Dua Jenis Ujian (2)

billmoyers.com

Ada dua jenis ujian dalam kehidupan; kesulitan dan kemudahan. Sikap terbaik yang dapat kita lakukan ketika mendapati kesulitan adalah dengan bersabar, sedangkan tatkala menemukan kelapangan adalah dengan bersyukur. Kedua sikap tersebut adalah karakter khas kaum beriman yang membuat mereka termasuk kalangan yang beruntung menurut Rasulullah saw.

Sayangnya, mayoritas manusia justru merasa putus asa ketika mendapatkan kesulitan hidup. Takdir akan terasa tidak adil, tatkala melihat orang lain hidup dalam kecukupan. Mengapa saya yang harus hidup susah? Apa dosa saya? Apa salah saya? Mengapa bukan orang lain?

Padahal kita tahu Allah swt telah menetapkan satu ujian bagi seorang mukmin sesuai dengan kadar keimannya. Sesuai dengan kekuatan kita menghadapinya. Hanya saja, justru kita tidak ingin melihat musibah dengan kaca mata ini. Kita hanya ingin menyalahkan-Nya dengan menyebut takdir yang tidak memihak.

Sebaliknya, ketika hidup bergelimangan harta dan kemudahan, justru mayoritas manusia sering lupa dan terlena. Tidak ada waktu untuk mengingat-Nya. Semua daya digunakan untuk mencari kekayaan dan menikmatinya. Manusia menjadi jumawa. Mereka menjadi terlena. Mereka melihat bahwa apa yang didapatkan adalah hasil kerja keras dan peluh yang mereka keluarkan.

Bahkan, dalam beberapa kasus, kelapangan hidup ini membuat mereka memilih untuk menjadi garda depan yang menolak risalah-Nya. Atas dasar kemanusiaan, mereka menolah eksistensi Tuhan dan agama. Mereka melihat manusia mampu mengurus kehidupannya di dunia, tanpa bantuan Tuhan sekalipun! Na’udzubillah.

Al-Qur’an memberikan banyak contoh tentang kecenderungan ini dalam ayat-ayatnya yang mulia. Salah satunya adalah apa yang terkandung dalam Q.S. Al-Qalam (68, 8-33). Karena dikaruniai kekayaan yang terbatas dan kedudukan yang terpandang, Walid bin Mughiroh, salah satu pembesar kaum Arab zaman Rasul saw, memilih untuk menjadi salah satu penantang utama dakwah Rasul saw. Meskipun dalam hati dia tahu akan kebenaran risalah yang Rasul bawa, namun atas nama gengsi dan wibawa, dia memilih untuk menolak.

Tentunya kita meminta perlindungan dari Allah swt atas nikmat yang tak tersyukuri dan musibah yang tak mampu kita bersikap sabar atasnya. Wallahu a’lam. []

Advertisements

Dua Jenis Ujian

kpmg.com

Ujian dari Allah swt bagi umat manusia tidak hanya berbentuk kesusahan hidup, akan tetapi juga seringkali berwujud kesenangan dan kelapangan  seperti kemudahan mendapatkan harta dan memiliki banyak anak. Justru, jenis ujian seperti yang sering melenakan karena ujung-ujungnya bisa berupa takabbur (sombong) dan istighna (merasa tidak perlu) terhadap rahmat Allah swt.

Ketika zaman Rasul saw terdapat salah satu bangsawan Arab yang terpandang karena memiliki banyak harta dan anak. Namanya Walid bin Mughiroh. Untuk mengerek kebangsawanannya, dia sering mengaku berasal dari klan Quraisy – karena klan tersebut dianggap paling terpandang di bangsa Arab – meskipun kenyataannya dia tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan klan terhormat ini.

Saat Nabi saw mendeklarasikan kenabiannya dan menyebarkan risalah Allah swt di kalangan Jazirah Arab, Walid meradang. Mengapa bukan dia yang mendapatkan kehormatan ini? Dia merasa khawatir posisinya yang mulia di mata bangsa Arab saat itu dapat disaingi oleh Muhammad saw. Walhasil, dia menjadi salah satu dari segelintir orang yang didokumentasikan dalam al-Quran sebagai pihak yang paling menentang dakwah Rasul saw.

Bukan hanya Mughiroh, rata-rata orang yang menentang dakwah Rasul saw saat itu adalah kalangan berada dan terpandang. Dua di antara mereka adalah Abu Jahal dan Abu Lahab. Alih-alih mensyukuri nikmat yang Allah swt anugerahkan, mereka justru berada di garda terdepan yang menentang risalah-Nya. Dalam perspektif Q.S. Qalam, golongan ini – apabila tidak bertobat – dianggap sebagai kalangan yang gagal dalam menghadapi ujian kenikmatan.

Mengambil pelajaran dari kisah ini, kita harus waspada terhadap dua jenis ujian dari Allah; kesulitan dan kelapangan hidup. Wallahu a’lam. []

Agar Keluar dari Kesulitan Hidup – Kandungan Q.S. Al-Insyirah

Hidup ini memiliki misi, dan misi utamanya adalah penghambaan tanpa batas kepada Allah swt yang dikejawantahkan dalam kerja-kerja baik.

Mengembangkan pesantren menjadi lebih besar dan memiliki pengaruh yang kuat dan mengakar dalam masyarakat, misalnya, adalah, Insya Allah, misi mulia yang masih ada dalam ruang lingkup penghambaan tanpa batas kepada-Nya, Sang Pencipta alam semesta.

Tentunya, selayaknya nabi Muhammad saw dalam menyebarkan syariat-Nya, kita akan menemukan pelbagai tantangan dan rintangan. Entah itu kesulitan ekonomi, sakit, cemoohan orang, sampai kemalasan yang tak tertahankan. Semuanya seringkali memikat kita untuk berhenti sampai di sini, membuang semua idealisme hidup dan berapologi pada kekurangan-kekurangan diri.

Tidak sama sekali. Kesulitan adalah bumbu kehidupan, dan Allah swt telah menyiapkan kemudahan setelahnya. Namun, Allah memberikan prasyarat; kita harus terus cape dan tetap merendahkan diri di hadapan-Nya.

Iya benar, cape adalah salah satu inti daripada kehidupan. Ia adalah gambaran kehidupan kita yang penuh dengan dinamika, usaha, peperangan dengan hawa nafsu, ambisi dan cita-cita. Orang yang tak pernah cape tidak mungkin bisa merasakan enaknya hidup. Wamalladzatu ba’da ta’abi. Maka sungguh sangat dipahami apabila Pak Zar, pendiri Pondok Modern Gontor sering mengungkapkan bahwa istirahat itu di surga, arrahatu fil jannah.  Atau ungkapan semangat Pak Syukri yang sering berkata, “Kalau mau sukses jangan pernah cape”. Dan ternyata semua ungkapannya itu sangat benar, terbukti dengan karya-karya dahsyat mereka.

Syarat kedua adalah sikap tawadhu dan tadharru’ kita di hadapan Allah swt. Bagaimanapun juga Dia lah yang memberikan kita kekuatan untuk bisa berusaha. Secara hakikat, tidak ada sebab akibat yang ditempelkan kepada manusia di dunia ini. Semuanya adalah oleh-Nya dan berkat-Nya. Maka, sangat penting apabila kita tetap bersikap humble, misalnya, ketika kita telah meraih apa yang kita dapatkan. Kita tidak boleh jumawa terhadap apa yang kita capai. Sikap yang tepat adalah selalu bersyukur dan selalu mengaitkan ini sebagai pertolongan Allah. Pun sebaliknya, ketika kita merasa lelah dan payah dalam mencapai tujuan akhir dari pengabdian kita, maka titipkanlah harapan ini kepada-Nya, Sang Penguasa alam semesta.

Wallahu a’lam.