Syariat Islam

Cita-cita untuk membangun masyarakat berbasis syariat Islam bukan bermaksud menciptakan manusia-manusia hipokrit, seperti yang seringkali dilontarkan oleh saudara Ulil Absar, akan tetapi membuat sebuah lingkungan yang dapat mencegah dari penghambaan total terhadap hawa nafsu. Misalnya, ada memang orang yang diciptakan dalam fitrah sebagai penyuka sesama jenis, akan tetapi ketika syariat melarangnya, maka dia bisa menahan hawa nafsu untuk melakukan perbuatan seks menyimpang yang tercela. Di sini syariat Islam mencegah orang tersebut bebas menuruti hawa nafsunya, meskipun tentu saja ada satu dua yang tetap saja luput dari perhatian.

Dan manusia pun secara fitrah menyukai hawa nafsu, namun kesiapan kita dan pembentukan lingkungan untuk mengontrol hawa nafsu adalah kunci dari keselamatan kita di dunia. Untuk itu, masyarakat berbasis syariat Islam akan membantu masyarakat untuk bisa mengontrol hawa nafsunya sehingga mudah-mudahan tercipta masyarakat yang tertib dan kondusif. Wallahu a’lam.

Fir’aun dan Tsamud

Sejarah akan selalu berulang. Dalam satu fragmen sejarah, akan ada kaum kloningan Fir’aun dan Tsamud yang muncul dalam bentuk baru, tapi dengan sikap yang tidak jauh berbeda. Mereka terbuai dengan apa yang dimiliki, sehingga mengingkari akan keberadaan dan kekuasaan Allah. Sikap kekufurannya ini akan semakin bertambah, ketika ada orang yang menyerukan mereka kepada jalan Tuhan. Tak cukup di situ, mereka juga mengajak orang lain untuk sama-sama ingkar kepada-Nya. Bahkan kalau perlu, cara-cara kekerasan digunakan untuk memaksa orang lain mengikuti sikap kekufurannya. (Q.S. Al-Buruuj, 85: 17-20).