Perspektif Alternatif Mengkaji al-Quran

quran

Interaksi mayoritas umat Islam dengan al-Quran hanyalah membaca, tanpa ada usaha signifikan untuk memahaminya, menghapalnya dan mengamalkannya. Memang, “sekedar” membaca al-Quran saja Insya Allah sudah mendapatkan pahala, akan tetapi kalau berhenti pada level ini saja tidaklah cukup. Perlu ada usaha yang kuat untuk bisa naik ke tingkat selanjutnya.

Salah satu alternatif untuk meniti titian ke tingkat selanjutnya adalah memahami al-Quran dan mengamalkannya untuk kehidupan sehari-hari. Namun ternyata ini tidak mudah. Untuk bisa menafsirkan al-Quran memerlukan beberapa perangkat ilmu yang cukup complicated. Mungkin sangat mustahil bagi orang awam yang tidak memiliki dasar kuat ilmu-ilmu bantu tersebut untuk bisa menafsirkan al-Quran. Misalnya,  ayat tentang “kalimah sawa” (Ali Imrah, 3:63) menghasilkan penafsiran yang berbeda secara tajam antar intelektual Muslim. Untuk menafsirkan ayat ini, kita harus menguasai beberapa ilmu bantu seperti balaghoh, nahwu, sharaf dan ilmu tafsir. Hal itu pun tidak akan membuat mereka bertemu pada konsesus yang sama karena setiap orang memakai perspektif yang berbeda ketika menafsirkan ayat.

Bagi orang awam – yang tidak memiliki dasar keilmuan bantu yang mumpuni – menafisrkan ayat tersebut tidaklah mudah – untuk tidak mengatakan mustahil. Orang awam seperti ini lebih baik belajar ilmu-ilmu naqliyah aplikatif yang sudah “jadi” seperti fiqh, tauhid, dan siyasah yang telah dikembangkan oleh para ulama otoritatif daripada langsung berinteraksi dengan al-Quran, supaya tidak menyebabkan penafsiran yang sesat.

Lalu apakah kita (baca: orang awam) bisa langsung menikmati al-Quran secara langsung tanpa harus merujuk kepada cabang-cabang ilmu naqliyah di atas? Menurut saya bisa. Caranya adalah dengan memahami ayat-ayat yang termasuk dalam kategori panduan kehidupan dan obat penawar bagi kerumitan hidup. Misalnya ayat yang berbunyi “bisa jadi apa yang baik bagi kamu, belum tentu baik menurut Allah” (Al-Baqarah, 2:216); kita bisa mengeksplorasi ayat ini untuk menasehati kita untuk bersabar ketika tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Ibaratnya ayat-ayat tersebut berperan menggantikan buku-buku “how-to” yang sangat laris di pasaran atau kutipan motivator ulung seperti Mario Teguh dan Andrie Wongso. Dalam kaca mata saya, hal ini berarti kita memposisikan al-Quran sebagai as-syifa’; obat bagi segala kompleknya hidup. Atau tombo ati; obat hati yang menjadi penawar bagi hati yang resah dan gundah gulana. Saya melihat banyak ayat yang termasuk dalam kategori ini yang bisa dipahami meskipun dengan keilmuan bantu yang tidak terlalu dalam. Dan justru, jenis ayat seperti ini kalau dikompilasikan dan disebarluaskan akan sangat laris – melebihi larisnya buku how to yang tirasnya mengalahkan buku-buku serius seperti ilmu politik dan hukum.

Tentunya perspektif ini bukan dalam rangka mengkerdilkan al-Quran, yang sejatinya luas maknanya. Saya percaya bahwa dalam al-Quran terdapat prinsip-prinsip yang membimbing kita bagaimana kita menyikapi permasalahan pendidikan, politik, hukum, ketatatanegaraan, ekonomi dan alam semesta. Tapi, bagi orang yang awam, hal itu sangat sulit dijangkau karena keterbatasan ilmu bantu yang mereka punya. Walhasiil, supaya mereka bisa menikmati interaksi dengan al-Quran secara langsung, maka alangkah baiknya kalau kita menyodorkan perspektif interaksi al-Quran seperti ini. Dan inilah yang sedang saya gagas dalam blog ini. Insya Allah, semoga Allah meridhai kita semua, amiin.

Pohon Hijau itu Kini Menguning

Pada awalnya, pohon itu hijau dan tumbuh dengan subur, namun akhirnya akan menguning, layu dan pesonanya memudar. Pun dengan kehidupan manusia. Dia lahir, tumbuh dan meraup nikmatnya kehidupan duniawi. Namun itu bukanlah hal yang selamanya. Akan ada batas dimana kejayaan manusia memudar, dan bersiap untuk dipanggil kembali mandat kehidupannya oleh Sang Maha Pencipta. (Al-A’la, 87, 4-5)

Mukmin vs. Kafir – Kandungan Q.S. Al-Bayyinah

orang-kafir

keajaibanislam.wordpress.com

Quran Surat al-Bayyinah menjelaskan tentang perbedaan respon kaum kafir dan beriman dalam menyikapi ayat-ayat Allah dan jani-Nya untuk mereka di alam akhirat.

  1. Rasulullah saw adalah perwakilan dari Allah swt dalam menyampaikan risalah ketauhidan ke seluruh umat manusia, termasuk ahlul kitab (yahudi dan nasrani), musyrikin (penganut agama lain dari bangsa Arab dan non-Arab).
  2. Di sini kita tahu bahwa kedatangan Islam adalah sebagai penyempurna dari agama-agama sebelumnya, dan menasakh agama Yahudi dan Nasrani dan menggantinya dengan ajaran Islam yang dibawa Muhammad saw.
  3. Ketika risalah Allah sampai kepada kaum kafir, mereka terpecah-pecah. Ada yang menerima, namun banyak juga yang menolak. Allah swt menggambarkan bahwa sebenarnya yang menolak pun banyak yang percaya akan kebenaran yang dibawa Nabi Muhamamd saw, namun karena beberapa hal seperti faktor sosiologis, mereka menolak kata hati mereka.
  4. Agama yang lurus itu adalah; beribadah Allah dengan ikhlas, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat.
  5. Ayat ini juga menggambarkan nasib kaum kafir di akhirat; mereka akan tanggal di neraka jahannam dan tinggal di dalamnya. Allah juga mendeskripsikan mereka sebagai sejelek-jeleknya makhluk (karena tidak mau percaya Allah).
  6. Selain itu, kaum beriman yang mengerjakan amal shaleh mereka akan tinggal di surgaadn selamanya, yang mana mengalir di dalamnya sungai. Orang beriman adalah sebaik-baiknya makhluk karena mau percaya akan eksistensi Allah swt.
  7. Allah meridhai mereka, dan mereka ridha menyatakan Allah sebagai Tuhan mereka. Mereka juga sangat takut kepada Allah, dengan menjauhi larangan-Nya, dan mengerjakan perintah-Nya.

Islam yang Murni

quran2

Dahulu, Allah swt mengutus sayyidaana Musa dan Isa As untuk menyampaikan risalah ketauhidan kepada masyarakat mereka. Namun dalam perjalanan waktu, ketika mereka telah wafat, banyak penyimpangan yang membuat legitimasi ketuhanan Allah ‘dirusak’ dengan pemahaman-pemahaman non-tauhidik.

Misalnya, dalam risalah Nabi Musa as dikenal anak Allah, yaitu Ezra. Pun dengan risalah Nabi Isa AS, beliau ditahbiskan sebagai putra Allah, dan berganti nama menjad Yesus.

Dalam Islam pun, tidak menutup kemungkinan terjadi hal seperti itu. Lihat saja bagaimana orang mengkultuskan Nabi Muhammad saw, sehingga peringkatnya hampir sama dengan Allah. Tentunya, saya tidak sedang mengkritisi tradisi rajaban dan muludan sepeti yang ada dalam tradisi NU. Kita merayakannya hanya untuk mengenangnya dan bershalawat padanya. Bukan dalam rangka mengkultuskannya.

Yang cukup mengkhawatirkan, sekarang tumbuh subur tarekat-tarekat yang mensyaratkan baiat kepada mursyid sebagai jalan menuju Allah. Dalam pandangan saya, kita bisa mengenal Allah tanpa perantara manusia yang lain. Tentunya, kita minta pertolongan dari Allah supaya bisa selamat dari segala godaan keimanan.

Lalu bagaimana dengan syafaat Nabi Muhammad saw? Saya belum tahu. Saya harus menelusurinya lebih jauh.

Terlena dengan Dunia

Keseimbangan Hidup

Pada kenyataannya dunia ini memang melenakan, sehingga ribuan orang terpedaya karenanya. Bak fatamorgana, orang-orang berlarian mengejar kenikmatan semu dunia, dan melupakan kenikmatan hakiki di akhirat kelak.

Lihat saja, jutaan orang menghabiskan hidupnya untuk bekerja, mencari uang, menghitungnya, dan menumpuknya. Seringkali, karena harus mengikuti proses ini, mereka melupakan hal-hal yang lebih penting. Mereka mampu bekerja 12 jam non-stop, tapi tak mampu meluangkan waktu 15 menit untuk rehat sejenak, bertemu Allah melalui shalat. Mereka bisa bekerja 7 hari seminggu, tapi tak mampu untuk sekedar bersapa dengan keluarga. Dunia sudah menutup mata kita untuk bertindak bijaksana.

Harta yang mereka tumpuk tidak akan pernah cukup, dan merasa harus untuk terus menambahnya. Jika hari ini dapat seribu, besok harus dua ribu. Jika besok dapat dua ribu, lusa harus tiga ribu. Begitu dan seterusnya, sampai mereka sampai pada satu titik, bahwa harta mereka akan membuat mereka kekal.

Hal itu tidak lain adalah untuk mendapat kenikmatan semu. Titel bergengsi, posisi prestisius, penghormatan yang tinggi, dan hal lainnya, yang justru mereka akan tinggalkan ketika ajal menjemput.

Dunia Penuh Kebencian

stabbing3

Saat ini kita hidup di dunia yang penuh dengan kebencian dan kecurigaan antar orang, antar kelompok, antar golongan, dll. Sumpah serapah, tuduhan tanpa dasar, cercaan tak terkontrol seakan menjadi media kita untuk menjustifikasi orang lain yang tidak sepaham dengan kita. Apalagi hal ini didukung dengan pesatnya media sosial yang memungkinkan seseorang untuk mencerca orang lain di ruang publik dengan mudah.

Coba saja anda lihat timeline facebook atau twitter anda, berapa banyak dapat kita temuakan ujaran kebencian terhadap orang lain, dari yang hanya sebatas sindiran sampai yang sarkas. Atau juga komentar-komentar dalam laman-laman berita portal, akan anda temukan komentator-komentator yang merasa paling benar.

bahkan saat ini kita temukan banyak laman website yang mengkhususkan diri untuk mencerca kelompok lain dengan dalih penyimpangan keagaaman. Tapi seringkali saya menemukan yang dituduh bukanlah esensi dari penyimpangan tersebut, akan tetapi penyebaran aib seseorang atau kelompok secara masif, seakan hal ini menjadi inti dari ajaran Islam.

Lalu apakah memang wajah Islam begitu garang, sehingga mereka rasa perlu untuk menyebar kebencian, menyibakkan aib seseorang atau kelompok yang tidak sepaham?

Saya kira tidak. Saya tidak melihat hal itu dalam pembacaan saya terhadap al-Quran.

Allah justru memberikan peringatan kepada orang-orang yang suka menyibakkan aib orang lain dan menyebarkannya, bahkan melebih-lebihkannya, seakan orang tersebut menikam dari belakang. Lumazah dan humazah adalah terminologi yang Allah gunakan untuk menamakan mereka.

Kalau memang kita menemukan aib seseorang, mengapa harus menyebarkannya? Apakah lebih baik untuk menasehatinya secara langsung supaya orang itu langsung berubah? Atau biarkan sajalah, toh, Insya Allah suatu saat nanti akan menyibakkan sendiri keburukan orang tersebut.

 

Pemanfaatan Anugerah Intelektual

singapore

Mekkah adalah daerah tandus, di mana tumbuhan sulit untuk tumbuh di sana. Maka, penduduknya akan sangat tergantung dari hasil impor makanan yang dipasok dari daerah lain.

Namun Allah Maha Adil. Dia menganugerahkan keterampilan berdagang pada masyarakat Makkah, sehingga mereka tidak tergantung pada sumber daya alam. Mereka bisa memenuhi kebutuhan pangan mereka dengan melakukan perniagaan, yaitu ke negeri Yaman ketika musim panas, dan ke Negeri Syam ketika musim dingin.

Ini adalah pelajaran bahwa tidak penting seberapa melimpah sumber daya alam yang Allah anugerahkan pada tempat kita tinggal, tapi sejauh mana kita mampu untuk memaksimalkan anugerah intelektual dari-Nya. Lihat saja negeri Singapura. Negeri ini tidak memiliki cadangan minyak, tapi mampu menjadi negara pengekspor minyak berpengaruh di dunia. Atau saja Swis. Negeri ini sangat terkenal dengan kualitas coklatnya yang tinggi, padahal di negeri kita tidak bisa menemukan tanaman coklat.

Lebih jauh lagi, pelajaran ini bisa kita nisbatkan pada diri kita. Sejauh mana kita telah memaksimalkan anguerah yang Allah berikan, sehingga bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi kita.