Akhirnya Orang Kafir Bertemu dengan Janji Allah swt – Q.S. Al-Ma’arij ayat 36 – 44: Ulasan Kitab Tafsir

FRAGMEN selanjutnya dari Q.S. Al-Ma’arij (pada ayat 36 – 44) menjelaskan tentang pengingkaran kaum kafir terhadap risalah yang dibawa oleh dari Nabi saw dan bantahan Allah swt atas kontradiksi keyakinan mereka tentang hari akhir: di satu sisi mereka menolak eksistensi hari akhir, tapi di sisi lain mereka berharap untuk tetap masuk surga jika memang akhirat itu ada. 

Setelah itu digambarkan kondisi kaum kafir di hari akhir, di mana mereka bersiap untuk mendapatkan hal yang dijanjikan yaitu siksa pedih di neraka. Mereka tertunduk malu dan ketakutan mengingat azab pedih yang akan mereka dapatkan di alam akhirat. 

Continue reading

Bagai Keledai Liar Lari dari Terkaman Singa – Inspirasi Q.S. Al-Ma’arij ayat 42-43

 

Seekor keledai lari dari terkaman singa. (Pinterest)

Inspirasi Ayat: 

Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka; (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia),

Q.S. Al-Ma’arij ayat 42-43

 

HIDAYAH adalah kenikmatan paling agung yang Allah anugerahkan kepada setiap kaum beriman. Bagaimana tidak? Hanya dengannya kita bisa mengecap indahnya keimanan – yang mana hal itu adalah prasyarat untuk bisa selamat dari azab neraka di kehidupan abadi kelak. 

Lihatlah orang-orang kafir – yang luput dari kenikmatan hidayah dan keimanan dalam jiwa mereka. Mereka bergegas lari pada kekufuran. Hidup mereka penuh kebencian dengan apa yang ditetapkan oleh Allah di muka bumi. 

Continue reading

Jalan Takwa

Jalan takwa senantiasa berliku dan penuh tantangan. (Google Images)

Inspirasi Ayat: 

أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ () كَلَّا ۖ إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَ

Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan?, Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani).

Q.S. Al-Ma’arij ayat 39 – 39

SETIAP manusia diciptakan dari segumpal mani yang masuk dalam rahim seorang perempuan dalam sebuah proses – mohon maaf – persetubuhan. Kegiatan ini dianggap sebagai perbuatan rendah, meskipun itu berlangsung dalam sebuah ikatan pernikahan – karena saat itu manusia mengeluarkan semua nafsu birahi seperti halnya hewan. Momen ini dianggap sebagai salah satu kegiatan yang memiliki derajat rendah dalam kehidupan manusia. 

Continue reading

Percaya pada Hari Akhir – Kandungan Q.S. Al-Ma’arij ayat 26

dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,

Al-Ma’arij: 26

SIFAT keempat yang mengeluarkan seseorang dari fitrahnya yang selalu gelisah dan tamak adalah kesediaan untuk percaya atas kabar gaib tentang hari pembalasan. Nalar rasional selalu menolak eksistensi kehidupan setelah kematian, akan tetapi berita dari “langit” memberitahukan hal yang berbeda. Dan ternyata, kepercayaan ini berimplikasi pada bagaimana kita bersikap di kehidupan sekarang. 

Baca juga: Agar Terhindar dari Kegelisahan dan Ketamakan

Buya Hamka menyampaikan kepercayaan ini akan menjadi control system yang mengerem kehendak bebas yang dimiliki manusia. Manusia model ini akan sadar bahwa apa yang dia perbuat di dunia akan berimplikasi pada nasib mereka di kehidupan yang kedua. Untuk itu, dia akan selalu menyelaraskan hidupnya supaya tidak masuk dalam kubangan perbuatan-perbuatan maksiat yang desktruktif. 

Pernyataan Hamka tersebut sesuai dengan pernyataan Maroghi yang melihat bahwa keimanan sejati adalah keselarasan antara apa yang dikerjakan dengan apa yang dikatakan dan diyakini. Orang yang beriman pada hari pembalasan akan mengerjakan amalan yang berimplikasi baik dan menjauhi hal-hal yang bisa menghadirkan azab di akhirat. Ini adalah sebuah harmoni indah: keselarasan antara keyakinan, pikiran dan amalan. 

Manusia yang percaya akan adanya hari pembalasan berusaha bagaimana mengembalikan semuanya pada tuntunan Ilahi. Seberat apapun beban yang harus dia pikul, dia akan yakin bahwa itu berasal dari-Nya. Maka kegelisahan yang berlebih adalah sesuatu yang sia-sia. 

Baca juga: Dahsyatnya Siksa Neraka 

Sebaliknya, ketika dia ditakdirkan dengan kehidupan yang lapang, maka dia tidak akan melihatnya sebagai sebuah alasan untuk hidup penuh kepongohan, karena sejatinya semua berasal dari kasih sayang Allah swt. Dia tidak akan berpikir panjang untuk menggunakan previlege yang dia miliki untuk melakukan kerja-kerja kemanusiaan sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah dan empati kepada sesama manusia. Wallahu a’lam. [] 

Podcast: Agar Terhindar dari Kegelisahan dan Ketamakan

Kenikmatan Ukhrowi

Banyak orang yang berlomba untuk meraih kebahagiaan di dunia dengan mengeluarkan segenap upaya yang mereka miliki. Tak jarang, untuk meraih itu, mereka harus mengorbankan kehidupan keluarga, masa muda, bahkan kesempatan beribadah sebagai bekal menuju alam akhirat. 

Tentunya, Islam tidak melarang setiap manusia bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup di dunia. Namun, seyogyanya itu dilakukan secukupnya, tidak menunjukkan sikap berlebih-lebihan. “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela; yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung; dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya; sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthomah,” Allah s.w.t mengingatkan kita dalam Q.S. Al-Humazah ayat 1 – 4. 

Tidak jarang dari mereka yang tidak bisa membedakan mana kenikmatan yang semu dan mana yang sebenarnya. Paham empirisme dan materialisme membutakan mata kita dengan membuat sebuah pemahaman bahwa yang real adalah apa yang kita temukan sekarang di dunia. Itulah yang konkret. Sedangkan surga dan neraka adalah sesuatu yang belum pasti kebenarannya, karena tidak bisa diverifikasi secara ilmiah. 

Pandangan hidup Islam menolak pemahaman ini. Tentu, dalam satu sisi, kita bisa menerima empirisme, tapi itu bukanlah satu-satunya sumber kebenaran. Dalam perspektif Islam, akhirat adalah lebih baik dari dunia. Allah s.w.t menjelaskannya dalam Q.S. Ad-Duha ayat 4, “Dan sesungguhnya hari kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan/dunia).”

Lebih jauh Al-Quran memberikan gambaran perbandingan dunia dan akhirat. Dari segi waktu, misalnya, satu hari di akhirat berbanding dengan lima puluh ribu tahun di dunia. Tentu, ini tidak berpretensi menunjukan gambaran spesifik perbandingan waktu antara dunia dan akhirat, akan tetapi dari sini kita bisa mengetahui bahwa perbandingan dunia dan akhirat dari perspektif waktu bak sumur dan langit, sangat jauh menganga. 

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.  

Q.S. Al-Ma’arij ayat 4.

Jika kita telah memahami bahwa kehidupan dunia sangat kecil bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat, tentu kita akan menentukan prioritas yang tepat. Kita tidak akan dibutakan oleh kenikmatan dunia, akan tetapi akan menjadikannya sebagai bekal supaya kita bisa menikmati indahnya kehidupan di akhirat kelak. 

Lalu kenikmatan ukhrowi apa yang sesungguhnya kita idam-idamkan? 

Apakah itu bidadari yang cantik dan perawan? Atau khamr yang nikmat dan memabukkan? Atau bisa jadi rumah yang megah dan indah? 

Alangkah rendahnya derajat kita apabila kenikmatan ukhrowi diukur oleh hal-hal berbau materialis tersebut. Memang, surga menyediakan hal itu semua – seperti yang termaktub dalam ratusan ayat al-Qur’an tentang deskripsi kenikmatan surgawi. Namun, dibalik itu semua ada kenikmatan yang lebih tinggi dan seharusnya menjadi dambaan seorang Mukmin hakiki. Yaitu, kenikmatan musyahadah melihat Allah s.w.t (rukyatullah) secara langsung – sesuatu hal yang musykil kita dapatkan ketika masih hidup di dunia. Allah s.w.t bersabda, “Wajah orang-orang yang berbahagia pada Hari Kiamat akan berbinar, bersuka cita dan bergembira, wajah-wajah itu akan melihat Penciptanya dan pemegang urusannya, maka wajah-wajah itu mendapatkan kenikmatan karenanya.” Q.S. Al-Qiyamah 22-23. 

Wallahu a’lam bisshawab. []