Akhirnya Orang Kafir Bertemu dengan Janji Allah swt – Q.S. Al-Ma’arij ayat 36 – 44: Ulasan Kitab Tafsir

FRAGMEN selanjutnya dari Q.S. Al-Ma’arij (pada ayat 36 – 44) menjelaskan tentang pengingkaran kaum kafir terhadap risalah yang dibawa oleh dari Nabi saw dan bantahan Allah swt atas kontradiksi keyakinan mereka tentang hari akhir: di satu sisi mereka menolak eksistensi hari akhir, tapi di sisi lain mereka berharap untuk tetap masuk surga jika memang akhirat itu ada. 

Setelah itu digambarkan kondisi kaum kafir di hari akhir, di mana mereka bersiap untuk mendapatkan hal yang dijanjikan yaitu siksa pedih di neraka. Mereka tertunduk malu dan ketakutan mengingat azab pedih yang akan mereka dapatkan di alam akhirat. 

Continue reading

Agar Terhindar dari Kegelisahan dan Ketamakan – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 35

DALAM Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 21 diterangkan bahwa manusia memiliki kecenderungan bersikap halu; gelisah, sedih dan cepat mengeluh ketika diberikan kesulitan hidup; sebaliknya, dia akan tamak, tidak bersyukur dan bakhil tatkala dianugerahkan kelapangan. 

Keadaan ini diperkuat oleh Hadits Nabi s.a.w yang berbunyi, “Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut.”

“Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut.”

Dalam Tafsir Al-Kabir, Fakhruddin Ar-Razi menyimpulkan bahwa sifat halu’ melekat kepada manusia tatkala mereka terjangkit kebutaan visi terkait hidup di dunia. Ketika seseorang sudah menjadikan dunia sebagai tujuan utama, maka serta merta dia akan terkena penyakit ini. Dia akan lupa bahwa segala kesusahan dan kesenangan hidup semuanya kembali kepada ketentuan dari Allah, dan tugas kita adalah ridha terhadap qadha dan qadar-Nya.  

Continue reading

Manusia makhluk yang suka berkeluh kesah, Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 21

Menurut Q.S. Al-Ma’arij ayat 19-20, secara fitrah, manusia dilahirkan dengan karakteristik penuh keluh kesah. Dia akan mengeluh ketika ditimpa kesusahan, dan jumawa serta menolak (bersedekah) tatkala diberikan kelapangan. Kecuali orang-orang beriman yang memiliki sepuluh karakterisitik yang termaktub dalam penjelasan ayat-ayat selanjutnya. 

Dalam Jami’ul Bayaan, Imam at-Thobari secara khusus menyematkan sifat ini pada orang-orang kafir, mereka yang tidak percaya akan ketuhanan Allah s.w.t dan orang musyrik, mereka yang menyekutukan-Nya. Sedangkan ‘halu’a’ dimaknai dengan perasaan sangat takut, gelisah dan tamak. Orang kafir, menurut ayat ini, disematkan sebuah sifat buruk, yaitu tatkala dia miskin akan merasa gelisah dan tidak sabar. Sebaliknya, jika diberikan kelimpahan harta, dia akan bakhil dan enggan untuk menggunakannya di jalan Allah. 

Dalam hemat saya, pernyataan Imam at-Thobari ini bisa dimaknai secara faktual maupun normatif. Artinya, bisa jadi memang secara faktual, mayoritas orang kafir memiliki sifat halu’; mereka sangat takut, gelisah dan tamak dengan harta. Tapi bisa juga ini dilihat dalam sudut pandang normatif, di mana umat Islam jangan sampai terjebak pada sifat halu’ yang mana karakter ini hanya pantas tersemat pada orang kafir. 

Lalu, apa sebenarnya makna halu’? 

Sekilas kata ini mirip dengan bahasa gaul yang digunakan oleh anak muda sekarang, ‘halu’. Namun, ternyata memiliki arti yang berbeda. Dalam bahasa gaul, ‘halu’ merupakan kependekan dari halusinasi, suatu sifat di mana kita memiliki keinginan yang sangat banyak. Akan tetapi, kata ‘halu’ dalam ayat ini bermakna keadaan cepat bersedih ketika menghadapi kesusahan, dan bakhil ketika mendapatkan kelapangan hidup (Al-Maroghi)

Prof. Wahbah Az-Zuhaili mengutip pernyataan Az-Zamaksyari mengatakan bahwa kata ‘halu’ bermakna cepat resah ketika terkena musibah, dan menolak (bersedekah) tatkala mendapatkan kebaikan. 

Muhammad Ibnu Thahir bertanya kepada Tsa’lab seperti yang dikutip oleh Al-Maroghi tentang makna ‘halu’ dalam ayat 19, beliau mengatakan bahwa dua ayat berikutnya (20-21) sudah sangat jelas mendeskripsikan makna sifat tersebut. 

Mungkin sifat dasar manusia – seperti yang dideskripsikan dalam ayat ini – ini bisa diuji secara empiris dalam kajian psikologi agama. Apakah manusia secara fitrah bersifat sangat resah, takut dan rakus? Mungkin penjelasan di bawah ini bisa sedikit memberikan gambaran. 

Menurut Hamka, perasaan keluh kesah, tidak tenang hati, selalu merasa kurang, cemas dan takut bisa dibarengi dengan beberapa penyakit jiwa lainnya seperti depresi (depression), cemas (anxiety), dan yang lainnya. Ketika sudah terkena keadaan ini, maka dia tidak bisa mengendalikan emosinya (jazu’), menyalahkan orang lain dan menyesali nasib. 

Ini adalah kondisi yang jamak kita lihat dalam masyarakat modern di mana segala bentuk tekanan (pressure) menghantui kehidupan mereka. 

Dalam sebuah video dokumenter dijelaskan bahwa di balik kemajuan negara Korea Selatan, negeri tersebut memiliki sisi buruk yang suatu saat dikhawatirkan menjadi bom waktu. Gemerlap kapitalisme yang dibarengi dengan kuatnya budaya konsumerisme menyebabkan masyarakat Korsel berlomba-lomba untuk membeli barang. Mereka dijejali janji-janji palsu yang ditayangkan melalui tayangan iklan di TV, billboard maupun media massa. Segala cara mereka lakukan agar terlihat keren seperti tayangan iklan, meskipun itu harus terjerat utang. 

Beberapa dari mereka harus memuaskan hasrat konsumerisme dengan cara berhutang memakai kartu kredit. Karena tingkat keinginan yang tidak sesuai dengan pemasukan akhirnya mereka terjebak pada hutang yang menggunung. Kemudahan berhutang yang diberikan oleh kartu kredit membuat keadaan semakin parah. Walhasil, ketika kondisi ini sudah mencapai limit-nya, mereka dipaksa untuk membayar. Kalau tidak mampu, mobil, rumah dan properti yang mereka miliki harus disita untuk membayar hutang yang gagal bayar. 

Kondisi ini tentu membuat mereka gelisah, cemas dan takut. Mayoritas dari mereka akan mengalami depresi, dan sebagian memilih untuk mengakhiri hidup sebagai jalan akhir. Ini adalah kondisi faktual yang relevan dengan apa yang disampaikan oleh Al-Qur’an melalui ayat ini. 

Prof. Al-Maroghi menyatakan bahwa kondisi halu’ lebih disebabkan oleh cinta dunia, yaitu senantiasa sibuk dengan urusan-urusan duniawi. Masyarakat modern terjebak pada ide materialisme, yang mementingkan urusan duniawi (dunia materi) dan meninggalkan urusan ukhrowi, urusan rohani. Hidup mereka kering, karena hanya peduli dengan jasad, sedangkan ruh mereka campakkan. 

Ideologi kapitalisme menciptakan sebuah kelas yang diisi oleh orang-orang kaya yang tidak perlu hidup dengan susah payah, karena hanya dengan menanam saham pada perusahaan-perusahaan, otomatis mereka akan mendapat income yang tidak pernah berhenti. Di beberapa negara yang menganut ide liberalisme, kondisi ini menyebabkan gap yang cukup lebar antara elit minoritas yang menguasai mayoritas uang, dengan masyarakat luas yang harus hidup hemat untuk bertahan hidup. 

Sayangnya, kelas menengah ke atas tidak mau berbagi dengan kelas pekerja. Alih-alih menyedekahkan hartanya untuk kemaslahatan bersama, mereka berlomba-lomba untuk memuaskan hasrat konsumtifnya. Kita bisa melihat bagaimana orang kaya menghabiskan uang milyaran rupiah hanya untuk menutupi badannya yang sebenarnya bisa dibeli dengan cukup ratusan ribu rupiah. 

Fenomena ini selaras dengan hadits Nabi saw yang berbunyi, “Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut” H.R. Abu Daud, Ibnu Hibban, dan Ahmad. 

Semoga Allah swt menjauhkan kita dari sifat takut, gelisah dan tamak seperti yang tergambar dalam ayat ini. Aamiin. [] 

Dahsyatnya Siksa Neraka – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij Ayat 8 – 18

Pada ayat selanjutnya, Allah s.w.t mendeskripsikan secuil gambaran dahsyatnya hari kiamat. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dicerna oleh manusia, Allah s.w.t menggambarkan bahwa pada hari kiamat langit terbelah bagaikan lelehan perak (muhl). Ia bak perak atau logam lainnya (mis, tembaga dan timah) yang dicairkan dan melebur serta tidak keras lagi. 

Continue reading

Permintaan Azab yang Dijanjikan – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij ayat 1 – 7

Seorang kafir Quraisy, Nadhir bin Harits, meminta – dengan nada ejekan – Nabi saw untuk segera menurunkan azab yang dijanjikan. Allah swt menjawab bahwa azab itu pasti ada dan tidak ada seorang pun yang bisa menolaknya. Azab itu berasal dari Allah swt yang memiliki ma’arij – tangga di mana Jibril as dan para malaikat turun dan naik menemui Allah swt. 

Suatu hari, datang kepada Nabi s.a.w seorang kafir Quraisy untuk meminta diturunkan azab yang dijanjikan oleh dia s.a.w melalui wahyu yang termaktub di dalam Al-Qur’an. Di hadapan Rasul s.a.w pemuka Quraisy itu berkata, “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih” (Q.S. Al-Anfaal: 32).

“Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”

Q.S. Al-Anfaal: 32

Orang tersebut adalah Nadhir bin Harits dan permintaannya dibayar langsung oleh Allah s.w.t dengan kematian yang mengenaskan dalam perang Badar. 

Baca juga: Nadhir bin Harits 

Sebenarnya Nadhir tidak sungguh-sungguh meminta azab ini. Ini adalah bentuk satire untuk mengolok-olok dakwah Nabi s.a.w (lihat Prof. Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Muniir) yang menjanjikan surga bagi kaum beriman, dan neraka bagi mereka yang menolak untuk mengikuti risalahnya. 

Menurut Ar-Razi, Allah s.w.t menjawab permintaan tersebut dengan turunnya ayat ini, yang menyatakan dengan tegas bahwa azab yang dijanjikan pasti akan datang, dan tidak ada satu pun yang bisa mencegahnya (lihat Tafsir Mafatihul Ghaib, Fakhruddin Ar-Razi). 

Ketetapan Allah s.w.t ini benar adanya, dan azab tersebut – tanpa harus diminta – benar-benar akan menimpanya. Tidak ada yang mampu mencegahnya, bahkan menurut pendapat sebagian ulama yang dikutip oleh Ar-Razi dikatakan “Tidak mungkin pencegah azab itu berasal dari sisi Allah. Kebijaksanaan mewajibkan Allah untuk tidak mencegah datangnya azab bagi orang-orang kafir.”

Lalu kenapa kaum kafir belum mendapatkan azab seperti yang dijanjikan Allah s.w.t? Menurut Al-Maroghi ada hikmah di balik delayed-nya balasan untuk mereka. Allah s.w.t akan menyimpan mereka di tingkatan paling bawah dari neraka karena konsistensi mereka dalam kekufuran.

Tangga – tempat Naik 

Azab yang dijanjikan tersebut berasal dari Allah s.w.t yang memiliki ma’arij. Para ahli tafsir memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang makna ma’arij seperti yang tertulis dalam ayat ini. 

Menurut Imam Suyuthi & Mahalli dalam Tafsir Jalalain maknanya adalah tangga (tempat naik) bagi para malaikat. Hal ini selaras dengan pendapat Prof. Wahbah Az-Zuhaili yang mengatakan maksud dari ma’arij adalah maso’id, tempat naik para malaikat. 

Selanjutnya, Prof. Wahbah mengutip Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan ma’arij adalah langit. Dikatakan demikian, karena para malaikat berjalan naik di langit tersebut. Beda dengan Ibnu Abbas, Qatadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ma’arij adalah keutamaan (fadhilah) dan nikmat. Hal ini karena “tangan-tangan Allah, wajah-wajah-Nya dan kenikmatan-Nya memiliki tingkatan-tingkatan. Itu semua sampai kepada manusia berdasarkan tingkatan-tingkatan yang berlainan.” 

Pendapat Qatadah selaras dengan Al-Maroghi yang memaknai ma’arij dengan “nikmat-nikmat yang derajatnya bertingkat-tingkat, sehingga sampai kepada makhluk dalam berbagai martabatnya.”

Pendapat berbeda datang dari Fakhruddin Ar-Razi. Beliau mengatakan seperti halnya langit yang bertingkat-tingkat berbeda dari segi tinggi, rendah, besar dan kecil; begitu juga ruh-ruh malaikat berbeda-beda dari sisi kekuatan, kelemahan, kesempurnaan, kekurangan, luasnya pengetahuan dan kekuatan dalam mengelola alam. Maka, yang dimaksud dengan ma’arij  di sini adalah isyarat bahwa ruh (malaikat) yang berbeda-beda tersebut bak tempat naik yang memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda dan tempat turun untuk turunnya rahmat kepada kita. 

Penantian Panjang 

Jibril a.s dan para malaikat lainnya menaiki tangga tersebut untuk bertemu Allah s.w.t dalam waktu sehari yang ekuivalen dengan lima puluh ribu tahun waktu dunia apabila manusia hendak menaiki tangga yang sama (Lihat Prof. Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir). Hal ini menunjukan relativitas waktu dunia dan akhirat; bahwa masa hidup di akhirat lebih lama dari waktu dunia. 

Baca juga: Penantian Panjang Menuju Alam Akhirat 

Apa relevansi antara permintaan orang kafir terhadap azab dan naiknya malaikat? Ini untuk Ini untuk menunjukan bahwa dunia yang orang kafir anggap lama, sebenarnya sangat sebentar bila dibandingkan dengan lamanya waktu di akhirat. Menurut Prof Wahbah, penyebutan waktu yaitu 1 hari : 50.000 tahun tidak berpretensi untuk menunjukan waktu yang spesifik, tapi lebih pada perbandingan yang sangat jauh antara dua masa tersebut. 

Dalam menafsirkan ayat ini, para ahli memiliki pendapat yang berbeda. 

Prof. Al-Maroghi mengatakan bahwa ma’arij seperti yang dibahas dalam ayat sebelumnya bermakna tingkatan nikmat yang disediakan oleh Allah s.w.t di akhirat kelak. Orang-orang mukmin dan para malaikat berada pada derajat-derajat yang tinggi sedangkan orang kafir berada pada lapisan bawah. 

Para malaikat dan Jibril a.s menaiki tangga-tangga ke tempat yang bertingkat-tingkat itu memerlukan waktu hanya satu hari, sedangkan para penghuni dunia memerlukan waktu lima puluh ribu tahun untuk menempuh jarak yang sama. 

Beda halnya dengan yang lain, Ar-Razi memiliki pendapat yang berbeda. ‘Uruj di sini bermakna masa penantian manusia untuk mendapatkan giliran penghitungan amalan. Pada masa ini, orang-orang kafir harus menunggu selama lima puluh ribu tahun lamanya. Ini tidak berarti waktu yang eksak, akan tetapi lebih kepada metafora betapa lamanya penantian orang kafir untuk menunggu masa penghisaban mereka. 

Akan tetapi, orang-orang mukmin tidak merasakan masa penantian yang lama. Mereka menunggu tidak lebih dari satu hari, bahkan bisa jadi hanya selama kita menunaikan salat fardu. Hal ini seperti yang diutarakan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abi Sa’id dari Ahmad bahwa masa penantian seorang mukmin diringankan menjadi hanya seperti menunggu salat wajib. 

Pendapat ulama yang berbeda-beda dalam menafsirkan ayat ini memiliki benang merah yang sama, yaitu perbandingan yang sangat jauh akan kehidupan dunia dan akhirat, terutama dari sisi waktu. Ini juga untuk mengingatkan kita – terutama orang kafir yang meminta (dengan nada ejekan) azab yang dijanjikan bahwa Dia s.w.t tidak main-main dengan ancaman ini.

Kewajiban untuk bersabar dalam perjuangan 

Perjuangan Nabi saw dalam menyiarkan risalah agama Islam di kalangan kaum Quraisy mengalami resistensi yang sangat kuat, terutama dari para elit mereka. Seperti halnya yang dikemukakan di awal surat ini, ada di antara mereka yang mengolok-olok Nabi saw dengan menghadirkan azab di hadapan mereka pada saat itu juga, bila memang ajaran yang dibawa Nabi saw itu benar adanya. 

Tentunya, sifat manusiawi Rasul saw bersedih atas olokan ini, namun Allah swt memerintahkan Nabi saw untuk bersabar dan menunggu. 

Baca juga: Akhlak Agung Baginda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Menurut para ahli tafsir seperti Imam Suyuthi & Mahalli dan Al-Bagowi, ayat ini turun sebelum instruksi dari Allah swt untuk memerangi orang-orang yang menghalangi dakwah Nabi saw. 

Bantahan orang kafir akan datangnya azab bagi mereka 

Meskipun permintaan Nadhir bin Harits telah dijawab oleh Allah swt dalam permulaan ayat ini, akan tetapi orang kafir tetap membantah bahwa azab akan benar-benar datang kepada mereka. Mereka anggap itu adalah sesuatu hal yang mustahil dan mengada-ada. 

Tentu saja mereka menolak, karena pada dasarnya mereka juga tidak mau menerima adanya hari kiamat, surga dan neraka. Bagi mereka hal itu adalah absurd dan tidak dapat diterima oleh nalar. Sebagaimana kita tahu, orang-orang kafir kontemporer dalam tradisi filsafat Barat menganut paham materialisme dan empirisme yang menolak metafisika secara mentah-mentah. Itu artinya, konsep tentang hari kiamat, surga dan neraka tidak dapat mereka terima karena bertentangan dengan paham yang mereka anut. 

Para ulama tafsir seperti Fakhruddin Ar-Razi dan Imam Suyuthi & Mahalli mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “ba’id (jauh)” di sini adalah jauh dari kemungkinan adanya. Artinya, mereka berpendapat mustahil bagi mereka mendapatkan azab dari Allah swt karena sikap kekufuran ini. 

Namun, Allah swt menegaskan dalam ayat berikutnya bahwa azab itu mungkin adanya, bahkan dalam waktu yang sangat dekat. Sebagaimana kita tahu, perbandingan waktu antara dunia dan akhirat yaitu 1 hari : 50.000 tahun. Itu artinya, dalam kacamata akhirat, hari kiamat – di mana orang kafir bersiap untuk menerima balasan atas sikap kekufuran mereka – sangatlah dekat.