Penjelasan Tafsir Jalalain Q.S. Nuh 5 – 20 (Bagian Pertama): Kerja Keras Nuh dan Penolakan Kaumnya

5. Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, 

6. maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). 

7. Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.

8. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,

9. kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam,

5. (Nuh berkata, "Ya Rabbku! Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang) terus-menerus tanpa mengenal waktu. 

Nabi Nuh a.s. mengeluh kepada Allah s.w.t. bahwa misi yang telah beliau tunaikan selama 950 tahun tidak membuahkan hasil maksimal, padahal semua upaya telah dijalankan secara maksimal. Nuh berdakwah kepada kaumnya siang dan malam tanpa henti; menggunakan berbagai macam strategi, metode dan konten dakwah yang bervariasi, tapi itu tidak menunjukan hasil yang diharapkan. 

Menurut Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi keluh kesah Nuh kepada Allah swt ini adalah bentuk akuntabilitas beliau terhadap amanat yang diberikan, sehingga beliau tidak ingin berdosa dengan meninggalkan tugas mulia ini. Adapun terkait respons kaumnya, hal itu beliau kembalikan kepada kehendak Tuhan. Itu adalah urusan Dia dengan hamba-Nya. 

6. (Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari) dari iman.

Ajakan untuk kembali kepada ajaran tauhid berbalas penolakan. Alih-alih mengikuti ajaran Nuh, orang-orang semakin menjauh dan mantap dengan keyakinan mereka. Dalam Tafsir As-Sya’rawi dijelaskan bahwa pada zaman itu setiap orang tua (menjelang ajal mereka) selalu mewasiatkan kepada anak-anaknya untuk tidak mendengarkan apa yang disampaikan oleh Nuh dan tetap menyembah patung-patung yang telah mereka buat. 

7. (Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka, agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya) supaya mereka tidak dapat mendengar seruanku (dan menutupkan bajunya ke mukanya) supaya mereka tidak melihatku (dan mereka tetap) dalam kekafiran mereka (dan menyombongkan diri) tidak mau beriman (dengan sangat.)

Dalam ayat ini terlihat jelas bagaimana masyarakat merespon ajakan dari Nabi Nuh a.s; selain tidak mau menerimanya, mereka juga enggan untuk sekedar mendengarkan dan melihat dakwah Nabi Nuh serta bangga dengan kekufuran mereka. Mereka menyombongkan diri dengan keadaan mereka dan tidak mau beriman kepada Allah s.w.t. Ini adalah level kekufuran paling tinggi: tidak mau mengikuti ajakan rasul, menolak untuk mendengarkan dakwah rasul, bergeming dalam kekufuran, dan menyombongkan diri dengan identitas kekufurannya.  

Ahmad Ibn Muhammad Al-Showi Al-Maliki mengatakan penolakan kaum Nabi Nuh kepada rasul mereka mencakup hal lahir dan batin. Dari sisi pertama, mereka enggan mendengarkan dakwah Nabi Nuh dan tidak mau melihat wujud beliau di hadapan mereka. Hal ini karena ketakutan mereka jatuh pada rayuan beliau. Sisi yang kedua, mereka bergeming dalam kekufuran, bahkan menyombongkan diri dengan identitas mereka. 

Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi menjelaskan bahwa tidak mungkin seseorang memasukkan seluruh jari mereka ke dalam telinga (ja’alū aṣābi’ahum fī āżānihim). Ini menunjukan bentuk mubalagoh dari penolakan kaum kafir. Mereka sangat membenci Nuh dan enggan mendengarkan apa yang keluar dari mulut beliau. Mereka tidak mau beranjak dari keyakinan yang telah dianut selama bertahun-tahun. 

Ditambah lagi mereka menutup kepala mereka dengan pakaian (wastagsyau ṡiyābahum), sehingga tidak bisa melihat wujud Nuh secara personal. Ini mengisyaratkan penolakan total atas usaha yang disampaikan oleh Nuh, dan menutup kemungkinan bagi mereka untuk mendapatkan hidayah Allah s.w.t. 

Tingkah mereka – masih menurut As-Sya’rawi – sama dengan sikap Kaum Kafir Quraisy dalam menyikapi dakwah Nabi Muhammad s.a.w. seperti yang didokumentasikan dalam Q.S. Fushilat ayat 26, yang berbunyi, “Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”.” 

Di sini mafhum, bahwa pola penolakan kaum Nabi Nuh dan Kafir Quraisy memiliki kemiripan, yaitu keengganan mereka untuk sekedar mendengarkan materi dakwah dari para nabi sehingga menutup kemungkinan mereka untuk menjemput hidayah. 

Dalam pemikiran Buya Hamka, sikap seperti ini adalah wujud inferioritas mereka terhadap keyakinan yang mereka anut, karena enggan disandingkan dengan pemikiran yang bertolak belakang. Mereka sangat rentan dan keimanannya sangat rendah karena masih takut jika dikomparasikan dengan keyakinan lain. 

Melihat penolakan kaumnya yang tidak kunjung surut, Nabi Nuh berpikir keras bagaimana supaya dakwahnya lebih diterima oleh mereka. Akhirnya, beliau memperkaya metode dan materi dakwahnya dengan harapan bisa memberikan hasil yang lebih maksimal. 

8 - 9. (Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan terang-terangan) dengan sekuat suaraku. [] (Kemudian sesungguhnya aku telah mengeraskan kepada mereka) suaraku (dan pula telah membisikkan) suaraku atau seruanku (kepada mereka dengan sangat rahasia.)

Nabi Nuh a.s. tidak mau berdosa dengan meninggalkan kewajiban untuk berdakwah kepada kaumnya, meskipun penolakan yang sangat masif dari mereka. Untuk itu, beliau berpikir keras bagaimana agar dakwahnya dapat lebih diterima di kalangan mereka dengan memvariasikan metode dan materi dakwah yang disampaikan. 

Menurut Prof. Wahbah Zuḥaylī, setidaknya ada tiga tahapan metode dakwah yang dilakukan oleh Nuh a.s. Tahap pertama, Nuh memulainya dengan memberikan nasihat secara sembunyi-sembunyi, siang dan malam. Sayangnya, alih-alih mengikuti ajakan ini, umat Nabi Nuh semakin menjauh dari keimanan. 

Tahap kedua, Nuh melanjutkan dengan dakwah secara terang-terangan seperti di pasar dan tempat-tempat umum lainnya. Usaha ini pun tidak membuahkan hasil karena nasihat di dalam keramaian biasanya dianggap sebagai sebuah penghinaan. 

Tahap terakhir, Nuh menggabungkan antara dakwah terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Sayangnya, hal ini pun tampaknya tidak memberikan hasil yang memuaskan. 

Ahmad Ibn Muhammad Al-Showi Al-Maliki melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Nuh a.s. adalah selaras dengan orang-orang yang berjuang dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, di mana beliau memulai sesuatu dengan menyampaikan hal-hal yang ringan terlebih dahulu, setelah itu melangkah kepada materi-materi yang lebih ringan. 

Kegigihan dalam berdakwah yang dipertontonkan oleh Nabi Nuh a.s. sejatinya adalah bentuk kecintaan beliau kepada kaumnya, agar mereka tidak mendapatkan azab Allah, jika tetap bergeming dalam kekufuran. Meskipun begitu, kita tahu bahwa cinta ini bertepuk sebelah tangan, karena mayoritas dari kaumnya enggan mengikuti ajakan beliau untuk kembali ke ajaran tauhid seperti halnya nenek moyang mereka, Adam a.s. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s