Tidak Ada Kekhawatiran dalam Benak Seorang Muslim

ensobehavioralhealthcare.com

Inspirasi ayat:
Q.S. Al-Mulk (67: 29-30)
Q.S. Ar-Ra’d (13: 11).

BAGI seorang Muslim, tidak perlu ada rasa takut dalam menghadapi suatu hal – entah itu kelaparan, kemiskinan, ancaman peperangan dan kesulitan hidup lainnya – setelah dia beriman kepada Allah swt dan bertawakal kepada-Nya.

Hal ini disebabkan karena setiap Muslim yakin bahwasanya dia memiliki Allah swt yang mana hanya karena kuasa-Nya pintu rezeki dapat dibukakan dan sumber air yang kering dapat dialirkan lagi, sehingga kemakmuran dan kedamaian akan senantiasa meliputi alam semesta.

Tetunya sikap beriman dan bertawakal harus didahului dengan usaha yang sungguh-sungguh, karena Allah swt tak serta merta merubah suatu kaum, sampai mereka merubah nasib mereka sendiri. (*)

Berangkat dan Pergi ke Muara yang Sama – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al Mulk Ayat 24

Katakanlah: “Dialah Yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya-lah kamu kelak dikumpulkan”.

Allah swt telah menciptakan manusia ke bumi ini beserta seperangkat fasilitasnya, sehingga ras ini bisa bertahan hidup dan berkembang. Pada awalnya, umat manusia berasal dari satu gen yang sama – yaitu Nabi Adam AS – namun karena seiring dengan berkembangnya waktu dan kompleksnya kehidupan mereka terus berkembang, menyebar ke seluruh penjuru bumi, hingga iklim dan udara membuat mereka berbeda baik dari segi bahasa, warna kulit, ras, agama dan budaya. Namun, di penghujung dunia kelak, mereka akan dikumpulkan pada Dzat yang sama untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka kerjakan di dunia.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwasanya Allah swt telah menciptakan umat manusia dari satu sumber. Lalu setelah itu, mereka menyebar ke seluruh penjuru dunia dan berkembang menjadi berbagai ras, suku, agama, bahasa dan budaya yang berbeda. Namun melalui ayat ini, Allah swt mengingatkan bahwasanya suatu saat – di padang mahsyar – mereka akan dikumpulkan lagi untuk sebuah pertanggungjawaban.

Menurut Buya Hamka beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan manusia dalam beberapa ras, suku, agama, bahasa dan budaya adalah pengaruh iklim dan cuaca, sehingga manusia perlu beradaptasi dengannya. Kesadaran akan realitas ini (baca: semua manusia berasal dari sumber yang sama) menjadi landasan atas ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia) yang mendampingi ukhuwah diniyah (persaudaraan seagama). Bahwasanya kita kalau tidak bisa menjadi saudara seakidah, maka kita adalah saudara sebagai sesama manusia yang berasal dari sumber yang sama: Nabi Adam AS dan Nabi Nuh AS. Lalu, kenapa manusia masih sering bertengkar satu sama lain?

Tonthowi memaknai dzara’a sebagai al-iktsar minal maujud. Bahwasanya Allah swt menciptakan manusia, setelah itu menyebarkannya ke seluruh penjuru negeri, lalu mengembangbiakannya sehingga populasinya semakin banyak seperti yang kita lihat sekarang dan pada akhirnya mengembalikan mereka kepada pangkuan-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Menurut ar-Razi ayat ini sekaligus penekanan atas permulaan dari surat al-Mulk yang menyatakan bahwasanya Allah swt menciptakan manusia untuk menguji siapa di antara mereka yang paling baik amalannya. Bahwasanya manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka kerjakan di muka bumi.

Lalu muncul pertanyaan, “Apakah mungkin manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar?” Jawaban atas pertanyaan ini telah saya ulas dalam bagian lain dari blog ini. Sebagai tambahan, Ar-Razi menyatakan bahwasanya sangat mungkin Allah swt mengumpulkan seluruh umat manusia yang telah diciptakan-Nya di Padang Mahsyar kelak sebagaimana hal yang mungkin Dia menciptakan seluruh umat manusia kemarin, sekarang dan esok hari. Bagi-Nya itu adalah perkara yang mudah.

Semoga kita dikumpulkan di Padang Mahsyar kelak dan dihisab sebagai orang-orang yang beruntung. Aamiin. (*)

Ulasan Kitab Tafsir: Surah al-Mulk ayat 16 – 19: Orang Kafir Tidak Dapat Menghindar Dari Azab Allah

hdwallpaperbackgrounds.net

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt memperlihatkan sifat tegas sekaligus rahmat-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya. Dia menunjukan bahwa Dia bisa menelan bumi dengan menggoncangkannya, atau mengirim badai yang disertai bebatuan sebagai balasan bagi orang-orang yang ingkar terhadap risalah-Nya, sebagaimana Dia melakukan hal-hal tersebut kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw. Namun, Dia pun menunjukan sifat rahmat-Nya ketika menjelaskan bahwa burung-burung dapat terbang untuk mencari rejeki, dan tidak terjatuh meskipun daya gravitasi senantiasa merongrongnya.

Al-Mulk 16 dan 17: Kuasa Allah untuk Mendatangkan Azab Bagi Kaum yang Ingkar

Dalam ayat-ayat di atas Allah swt memperingati manusia bahwasanya Dia sangat Maha Kuasa untuk mengguncangkan bumi dengan gempa yang sangat besar dan/atau mengirim badai yang disertai batu pada mereka secara tiba-tiba. Hal tersebut adalah bentuk peringatan bagi kaum kafir yang merasa nyaman dengan kekufurannya dan yakin bahwasanya mereka tidak akan mendapatkan bencana. Kelak mereka akan sadar bahwasanya pembangkangan ini mengandung konsekuensi yang pedih. Padahal, tercatat dalam sejarah, Dia swt melakukan hal serupa pada kaum-kaum terdahulu yang tidak mau menerima risalah yang dibawa oleh para rasul-Nya.

Menurut Al-Maroghi dan Jalaluddin & Jalaluddin bentuk peringatan atau ancaman yang pertama adalah goncangan bumi/gempa seperti yang menimpa Qorun yang menelan seluruh hartanya. Sedangkan ancaman yang kedua adalah badai yang disertai batuan kecil seperti yang menimpa Kaum Luth, dan ketika itu baru sadar akan dahsyat-Nya hukuman Tuhan, namun sayangnya penyesalan tidak akan bermanfaat ketika azab sudah menimpa.

Dalam beberapa ayat lain, Allah swt memberikan peringatan serupa kepada orang-orang kafir seperti dalam Q.S. Al-An’am (6/65), “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.

Atau dalam Q.S. Al-Isra’ (17/68), “Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu.”

Ar-Razi melihat bahwasanya pernyataan “Allah yang di langit” tidak mungkin untuk ditafsirkan secara tekstual berdasarkan penampakan ayat, karena eksistensi Allah di langit menunjukan bahwasanya langit meliputi-Nya dari segala sisi, maka Allah lebih kecil dari langit, dan langit lebih kecil dari ‘Arsy, dan keadaan Allah lebih kecil bila dibandingkan dengan ‘Arsy adalah suatu hal yang mustahil dalam kesepakatan Ahli Islam. Dalam ayat lain Allah swt bersabda, “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Bila merujuk pada ayat ini, kalau saja Allah swt berada di langit maka dia menjadi Penguasa bagi diri-Nya, dan ini adalah suatu hal yang mustahil. Maka kita mengetahui bahwasanya ayat ini harus ditakwil dari zahirnya.

Untuk diketahui bahwa perdebatan tentang “Di mana Allah bersemayam?” telah menjadi bahan perdebatan antara para ahli kalam dari dulu sampai sekarang.

Dalam kedua penggalan ayat tersebut, Allah swt menakut-nakuti para kaum kafir dengan memberikan contoh dan bukti. Salah satunya adalah apa yang menimpa kaum-kaum sebelum Nabi Muhammad saw.

Ayat 18: Hukuman untuk Kaum Terdahulu

Dalam beberapa ayat al-Quran, Allah swt telah menunjukan bukti bahwasanya Dia telah menghukum kaum yang tidak mau menerima risalah-Nya. Di antaranya adalah Qorun yang ditenggelamkan beserta hartanya, Kaum Luth yang diserbu badai disertai bebatuan, kaum Nuh yang telah ditenggelamkan banjir mahadahsyat, kaum Syuaib yang telah dibinasakan dengan petir, serta Fir’aun dan kaumnya telah ditenggelamkan di Laut Merah.

Hal ini untuk menunjukan bahwasanya Allah Mahabenar dengan semua peringatannya tentang turunnya azab bagi orang-orang yang ingkar kepada-Nya.

Untuk menunjukan kuasa-Nya, Allah swt memperlihatkan salah satu ayat-Nya, yaitu burung yang dapat terbang meskipun hal itu harus melawan gaya gravitasi.

Ayat 19: Burung-burung yang Beterbangan Sebagai Bentuk Kuasa-Nya

Al-Maroghi berkata, “Apakah mereka lalai akan Kuasa Kami dan tidak melihat burung-burung yang beterbangan di atas mereka. Terkadang burung-burung itu mengembangkan sayapnya ketika terbang dan kadang mengatupkannya. Tidak ada yang menahan burung-burung itu di udara ketika beterbangan dan melayang-layang dari kejauhan dan daya tarik bumi, meski bertentangan dengan tabiat organismenya yang berat. Selain dari keluasan rahmat pencipta-Nya yang telah menciptakannya dalam berbagai bentuk dan karakteristik. Dia-lah yang mengetahui dan mengajarkan kepadanya gerakan-gerakan yang dapat membantunya untuk belari di udara menempuh jarak yang jauh guna mendapatkan makanan dan mencari rejeki.

Al-Maroghi melanjutkan, “Sesungguhnya Allah swt Maha Mengetahui segala sesuatu, hal yang lembut maupun yang besar. Dia mengetahui bagaimana Dia harus menciptakanya menurut sunnah-sunnah yang Dia ketahui faidahnya bagi hamba-hamba-Nya.”

Buya Hamka, mengutip filosof Pakistan kenamaan, Allamah Muhammad Iqbal mengatakan bahwasanya fenomena tentang keseimbangan alam seperti contoh di atas adalah akibat dari Sifat Rahman dari Allah swt, sebagaimana dalam firman-Nya dalam Q.S. Al-An’am (6/12), “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.” (*)