Keutamaan Akhlak Mulia

sumber: Republika.co.id

 

SIKAP keberagamaan kita tidak akan sempurna tanpa diikuti dengan akhlak yang baik sebagai hasil dari pemahaman tauhid yang benar. Kedekatan pada Allah Swt – melalui berbagai ritual ibadah yang dilakukan sepanjang waktu – seyogyanya membimbing kita berperilaku terpuji (akhlaq mahmudah) dalam sikap keseharian.

Sebagian ulama menyandingkan agama dengan akhlak. Dalam sebuah hadits masyhur diriwayatkan bahwa Rasul Saw diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak. Para ulama berpendapat bahwasanya makna akhlak di sini adalah agama.

Aisyah Ra ketika ditanya oleh sahabat tentang keperibadian/akhlak Rasul Saw, beliau Ra menyatakan bahwa akhlak Rasul Saw adalah al-Qur’an. Padahal kita tahu bahwasanya al-Qur’an adalah rujukan utama dalam beragama. Maka dapat dikatakan bahwa salah inti esensial dari agama itu adalah akhlak.

Keagungan akhlak Rasul Saw menjadi salah satu parameter kesalahan fatal tuduhan gila yang dilontarkan oleh Kaum Kafir Quraisy ketika mereka mendengar kenabian Rasul Saw. Bagaimana mungkin orang yang memiliki akhlak yang terpuji pada saat yang sama memiliki sifat yang diidentikan dengan orang gila. Tentu itu adalah hal yang mustahil. Statement logis ini diceritakan dalam permulaan Q.S. Al-Qalam.

Tentunya, kita sebagai umatnya, harus meneladani sifat-sifat beliau Rasul Saw yang mulia. Dalam beberapa hadits diriwayatkan bahwa Rasul Saw tidak pernah menghardik pembantu, tidak pernah berkata “huss”, dan tidak pernah memukul kecuali dalam peperangan. Dalam pribadi Rasul Saw terkumpul pekerti yang agung seperti rasa malu untuk berbuat maksiat, dermawan, berani, bijaksana, lembut, pemaaf dan berbagai pekerti baik lainnya. Kesempurnaan akhlak beliau menjadi bukti akan kebenaran agama Islam. Wallahu a’lam. []

Insipirasi ayat: Q.S. Al-Qalam (68: 1-7)

Advertisements

Jalan Terjal Perjalanan Dakwah

Perjuangan dakwah harus kita lalui dengan jalan terjal dan berliku. Tak jarang kita akan mendapatkan cacian, cemoohan, hinaan bahkan serangan fisik saat kita memilih untuk melewati fase kehidupan ini. Sudah merupakan sunatullah bahwa perjuangan ini akan mendapatkan ujian yang tak bertepi. Namun apabila kita sabar menghadapinya, maka Allah swt telah menjanjikan kenikmatan yang tidak ada batasnya.

Kita dapat memetik hikmah dari khabar yang kita dapatkan dalam al-Quran tentang bagaimana para Nabi senantiasa mendapatkan tantangan yang berat ketika berhadapan dengan kaum mereka. Nabi Musa AS harus berhadapan dengan penguasa yang zalim nan melegenda dalam sejarah, Fir’aun. Pun, Nabi Ibrahim AS, harus tahan mendapatkan pressure dari raja di masanya, Namruz. Nabi Daud AS harus menghadapi peperangan yang tak seimbang dengan pasukan yang dipimpin oleh Goliath (Jalut). Walakhir, Nabi Muhammad SAW mendapatkan ujian berupa cemoohan, serangan, hinaan, dan menjadi korban hoax keji yang disebarkan para punggawa Kafir Quraisy. Salah satu fitnah tersebut adalah tuduhan bahwasanya beliau SAW adalah orang gila dan tidak berakal.

Ketika kita memutuskan untuk berjalan di jalan ini, maka tidak mungkin kita melewatinya tanpa mencicipi bumbu-bumbu yang telah para Rasul rasakan. Maka, kita harus memperkuat jalan ini dengan ritual, latihan, thariqat, dan riyadhoh yang ketat dan konsisten untuk mendekati-Nya. Kekuatan kita bukan pada usaha yang kita lakukan, akan tetapi serta merta merupakan pertolongan dari kuasa-Nya yang tak terbatas. Kita tidak mengharapkan pembelaan dari manusia, akan tetapi kita menunggu iradah-Nya untuk senantiasa menuntun dan membimbing kita pada jalan keluar yang nyata.

Tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti dan mundur menghindari cabaran yang kita hadapi dalam merengkuh perjalanan dakwah. Teruslah maju dan tatap semuanya dengan penuh optimisme dan keyakinan bahwasanya Dia akan selalu bersama kita. Kuatkan usaha dan lipatkan doa, semoga Allah swt membimbing kita ke jalan yang benar. Aamiin. [*]

Inspirasi Ayat: Al-Qolam (68: 2 – 3)

Melabeli Sesat – Inspirasi al-Qur’an – Q.S. Al-Qalam ayat 7

chicago tribune

 

DALAM rentang panjang sejarah umat Islam, selalu muncul golongan yang merasa paling benar dalam keislaman mereka dan sayangnya menuduh salah, sesat, dan kafir pada golongan lain yang tidak sejalan dengan pemahaman keislaman mereka. Dalam titik ekstrim, golongan ini menggunakan kekerasan seperti pembunuhan, penyerangan, pemboman, bahkan yang hangat menjadi perbincangan saat ini adalah bom bunuh diri untuk menyerang kelompok yang mereka anggap merusak dan menghalangi cita-cita keagamaan mereka.

Tentunya, merasa benar atas keyakinan kita adalah prasyarat mutlak sahnya keimanan kita. Namun, yang menjadi masalah adalah tudingan sesat dan kafir kepada golongan umat Islam arus utama yang masih memegang syarat minimal keislaman dan keimanan seperti tetap memegang teguh rukun iman dan menjalankan rukun Islam. Apalagi kalau hal ini diiringi dengan cacian, gunjingan dan penggunaan kekerasan – dimana poin terakhir – sebenarnya merupakan opsi terakhir dari cara dakwah yang dilakukan oleh Rasul saw (Q.S. 16: 125)

Sikap eksklusifitas yang berujung pada kekerasan menjadi noda hitam dalam sejarah umat Islam yang tidak akan pernah terlupakan. Bahkan dalam beberapa segi, efek yang ditimbulkan masih terasa sampai saat ini berupa perpecahan tak berujung di kalangan kelompok-kelompok Islam.

Sebut saja misalnya pembunuhan Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW oleh Abdurrahman Ibnu Muljam, seorang Khawarij yang fasih dalam membaca al-Qur’an dan ahli ibadah. Tragedi pembunuhan ini menjadi salah satu pemicu terbelahnya faksi umat Islam menjadi dua golongan besar: Sunni dan Syiah. Sampai saat ini kedua faksi ini masih terus berselisih apalagi dibumbui persaingan politik dan ekonomi antara dua negara besar pengusung kedua ajaran tersebut; Kerajaan Saudi Arabia dan Republik Islam Iran.

Dalam hal ini, hendaknya kita merenungi sabda Allah swt dalam Q.S. 68: 7 yang mengingatkan kita bahwa hanya Dia lah yang mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan yang mendapatkan petunjuk. Ayat ini bermula dari tuduhan yang dilontarkan oleh Kaum Kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad saw bahwasanya Dia saw adalah manusia gila, sesat dan setan berwujud manusia. Namun, Allah swt membantah tuduhan tersebut dengan turunnya Q.S. 68:  1-7.

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt menantang mereka untuk melihat kelak di hari kiamat siapakah yang sebenarnya mendapatkan ujian gila; Rasul saw atau justru mereka sendiri. Namun, Allah swt menggarisbawahi bahwasa satu-satunya Dzat yang mengetahui hal ini hanyalah Dia semata dengan sifatnya yang Maha Mengetahui dan Maha Memberi Petunjuk.

Berkaca dari ayat ini, seyogyanya kita tidak dengan mudah melabelkan sesat terutama pada orang-orang yang masih ada dalam batas-batas keimanan. Perbedaan pendapat dalam bingkai ilmiah dibolehkan, akan tetapi tudingan dan pelabelan adalah hal yang tidak bijak mengingat posisi kita tidak memiliki kuasa untuk menghakimi keimanan seseorang.

Sikap suudzan terhadap amalan kita dan husnuzan kepada amalan orang lain, sebenarnya merupakan sifat al-Qur’an yang selalu membuat kita mawas diri dalam menjalani kehidupan. Alih-alih menuding orang lain, lebih baik instrospeksi sejauh mana kita telah mengamalkan perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Wallahu a’lam. (*)

Sinopsis Q.S. Al-Qalam (68: 10-8)

inspirasi.co

ALLAH swt memulai surat ini dengan huruf “nun” yang mana para ulama berselisih pendapat tentang maknanya mengingat tidak ada nash – baik dari al-Qur’an maupun dari sunnah Rasul saw – yang berbicara secara eksplisit tentang hal ini. Perselisihan pendapat ini tentu sendirinya akan selesai ketika kita mengembalikan makna sebenarnya kepada Allah swt yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Lalu, Allah swt bersumpah dengan pena, di mana para malaikat menggunakannya untuk menulis takdir seluruh ciptaan-Nya di Lauhul Mahfudz, bahwa Nabi Muhammad saw – berkat nikmat dan karunia-Nya berupa risalah kenabian – tidaklah gila seperti apa yang dituduhkan oleh para Kafir Quraisy.

Rasul saw mendapatkan limpahan nikmat yang tidak terputus dari-Nya berupa akhlak/agama yang agung. Dari sini dapat kita melihat siapa sebenarnya yang gila – pribadi Nabi Muhammad saw atau para kafir Quraisy.

Tentunya, hanya Allah swt yang memiliki otoritas untuk menentukan siapa di antara manusia yang sesat dan siapa yang mendapatkan petunjuk. []

Risalah Islam tentang Baca Tulis

sbs.com.au

ISLAM sangat menghargai kegiatan baca tulis. Menurut sebagian riwayat, ayat al-Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah perintah untuk membaca. Saat itu, Nabi Muhammad SAW sedang melakukan ‘uzlah di Gua Hira’, lalu mendapatkan wahyu berupa perintah untuk membaca atas nama Allah Yang Maha Pencipta.

Lalu, dalam riwayat lain diceritakan bahwasanya makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah swt adalah sebuah pena yang mana dengannya Allah menciptakan makhluk lainnya. Pena menjadi “senjata pamungkas” Sang Pencipta untuk menciptakan “masterpiece” yang lainnya.

Selepas Rasul SAW wafat dan memparipurnakan tugasnya sebagai utusan Allah SWT, risalah Islam menyebar ke seluruh jazirah Arab dan penjuru dunia lainnya. Islam dan komunitas Muslim bertransformasi menjadi sebuah peradaban maju, salah satunya adalah berkat penghargaan terhadap budaya baca tulis. Ribuan naskah dari bangsa Yunani dibaca lalu ditulis ulang dengan memakai bahasa Arab. Penjelasan dan penafsiran ulang atas karya-karya tersebut menjadi kunci lahirnya peradaban baru yang diilhami oleh nilai yang terkandung dalam al-Qur’an.

Kini peradaban berpindah ke dunia Barat. Bisa ditebak, peradaban baru ini maju karena penghormatan kepada budaya baca tulis. Rennaisans menjadi tonggak bagi orang Barat untuk keluar dari dogma Kristen yang memasung kegiatan intelektual.

Dari fakta di atas, adalah sunatullah bahwasanya komunitas yang menghargai budaya baca tulis akan mencapai titik teratas dari peradabannya. Tak mungkin sebuah peradaban muncul tanpa ada budaya ilmu yang established yang didukung dengan kebiasaan membaca dan menulis. Karena dengan membaca kita bisa memahami realitas, dan dengan menulis kita mendokumentasikannya untuk diwariskan dan dikembangkan oleh generasi setelah kita. Wallahu a’lam.[]

Inspirasi Ayat: Al-Qalam (68: 1)