Fir’aun dan Tsamud

Sejarah akan selalu berulang. Dalam satu fragmen sejarah, akan ada kaum kloningan Fir’aun dan Tsamud yang muncul dalam bentuk baru, tapi dengan sikap yang tidak jauh berbeda. Mereka terbuai dengan apa yang dimiliki, sehingga mengingkari akan keberadaan dan kekuasaan Allah. Sikap kekufurannya ini akan semakin bertambah, ketika ada orang yang menyerukan mereka kepada jalan Tuhan. Tak cukup di situ, mereka juga mengajak orang lain untuk sama-sama ingkar kepada-Nya. Bahkan kalau perlu, cara-cara kekerasan digunakan untuk memaksa orang lain mengikuti sikap kekufurannya. (Q.S. Al-Buruuj, 85: 17-20).

Advertisements

Tauhid vs. Amalan

ahok

Mana yang lebih penting, tauhid atau amalan? Yang pertama tentu tauhid terlebih dahulu. Tapi itu saja tidak cukup. Tauhid yang baik adalah terkejawantahkan dalam keyakinan, lisan dan perbuatan. Orang yang bartauhid baik, maka akan memiliki amalan yang baik. Untuk itu, sebagian ulama berpendapat bahwa akhlak yang baik merupakan refleksi dari tauhid yang baik.

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika ada dua pilihan pemimpin; yang satu seorang Muslim, tapi zalim; kedua seorang non-Muslim tapi adil? Dalam pandangan saya, kedua-duanya tidak cocok untuk dipilih. Ada yang salah dalam keimanan Muslim yang zalim, begitu juga dengan Non-Muslim yang adil. Tapi ketika ketika dituntut untuk memilih, mungkin, kita bisa melihatnya dalam perspektif mana yang akan memberikan madharat lebih sedikit. Wallahu a’lam.

 

Mereka yang Tetap Berpaling

renunganjiwa.blogspot.com

Kandungan Ayat: (Q.S. Al-Qasas: 56), (Q.S. Al-Kahf: 6), (Q.S. An-Nahhl: 93).

Ketika seseorang memutuskan untuk bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka dia harus berkomitmen untuk menjalankan syariat Islam dalam kehidupannya. Salah satu makna syahadatain adalah tunduk terhadap aturan yang telah ditetapkan Allah yang terkejawantahkan dalam al-Quran dan as-Sunnah. Saya yakin komitmen ini tidak bermakna sekuler, yakni memasungnya pada ruang-ruang privat setiap individu. Akan tetapi kita menjadikannya sebagai landasan dalam pembangunan tatanan sebuah masyarakat.

Continue reading

(In)toleransi

Gambar

Tahun 2006 silam, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa faham-faham modern seperti Sekulerisme, Liberalisme dan Pluralisme sesat dan haram. Mereka berkeyakinan bahwa faham-faham tersebut sangat bertentangan dengan dasar-dasar ajaran Islam. Sekulerisme misalnya, mencoba mengkerdilkan ajaran Islam  pada ruang privat manusia dan tidak berhak masuk ke dalam ruang publik seperti politik, pendidikan atau ekonomi. Contoh yang lain pluralisme, meyakini bahwa semua agama itu benar, baik itu Kristen, Budha, Hindu, Islam bahkan kejawen sekalipun, karena mereka yakin perbedaaan hanya terjadi pada level eksotresimenya saja, sedangkan pada hakikatnya sama yaitu menuhankan Tuhan.  Fatwa MUI ini lahir sebagai respon atas merebaknya faham Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme (Sepilis) pasca dideklarasikannya Jaringan Islam Liberal yang secara masif menyebarkan ajaran ini di Indonesia.

Continue reading

Atheis

hehemahita.wordpress.com

hehemahita.wordpress.com

Baru-baru ini dalam ceramahnya di Cedars-Sinai Medical Center, Los Angeles, Stephen Hawking, ilmuwan kenamaan asal Inggris, mengatakan bahwa setelah kematian tidak akan ada kehidupan. Manusia tidak akan menemukan apa yang orang beragama katakan ‘surga’ atau ‘neraka’. Dia menganalogikan manusia yang meninggal bak komputer yang mengalami korsleting karena beberapa kabelnya putus.  Tidak ada ‘balasan’ atau ‘hukuman’ atas apa yang manusia kerjakan di dunia.

Lebih jauh lagi dia memaparkan bahwa bumi ini tidak ada awalnya, dan juga tidak ada akhirnya. Dia juga menasehati kalau misalnya manusia mau tetap survive, tidak punah seperti beberapa spesies hewan dan tumbuhan, maka mereka harus mencari tempat berlindung di luar bumi. Manusia harus bermigrasi ke planet lain. Jika hal ini gagal, punahlah manusia selayaknya dinasaurus.

Continue reading

Orang Kafir

keajaibanislam.wordpress.com

keajaibanislam.wordpress.com

Hari-hari ini kita semakin antipati dengan kata “kafir”, seakan-akan nalar kita tidak bisa menentukan mana orang kafir, mana orang Muslim. Literatur Islam kontemporer “mengharamkan” kita untuk mencap kafir orang-orang yang memang dalam al-Quran jelas-jelas disebut kafir. Anda mungkin pernah menemukan statement dari seorang ‘ulama’ liberal yang mengatakan bahwa orang Budha, orang hindu, orang Nashrani, orang Yahudi, orang Majusi, orang ateis, orang Zoroaster bukanlah seorang kafir karena mereka hakikatnya menyembah tuhan yang sama. Faham ini kalau saya tidak salah dinamakan faham perenialisme dimana penggiat utamanya di Indonesia adalah senior saya di Gontor, Bapak Nurcholis Majid.

Continue reading