Jalan Terjal Perjalanan Dakwah

Perjuangan dakwah harus kita lalui dengan jalan terjal dan berliku. Tak jarang kita akan mendapatkan cacian, cemoohan, hinaan bahkan serangan fisik saat kita memilih untuk melewati fase kehidupan ini. Sudah merupakan sunatullah bahwa perjuangan ini akan mendapatkan ujian yang tak bertepi. Namun apabila kita sabar menghadapinya, maka Allah swt telah menjanjikan kenikmatan yang tidak ada batasnya.

Kita dapat memetik hikmah dari khabar yang kita dapatkan dalam al-Quran tentang bagaimana para Nabi senantiasa mendapatkan tantangan yang berat ketika berhadapan dengan kaum mereka. Nabi Musa AS harus berhadapan dengan penguasa yang zalim nan melegenda dalam sejarah, Fir’aun. Pun, Nabi Ibrahim AS, harus tahan mendapatkan pressure dari raja di masanya, Namruz. Nabi Daud AS harus menghadapi peperangan yang tak seimbang dengan pasukan yang dipimpin oleh Goliath (Jalut). Walakhir, Nabi Muhammad SAW mendapatkan ujian berupa cemoohan, serangan, hinaan, dan menjadi korban hoax keji yang disebarkan para punggawa Kafir Quraisy. Salah satu fitnah tersebut adalah tuduhan bahwasanya beliau SAW adalah orang gila dan tidak berakal.

Ketika kita memutuskan untuk berjalan di jalan ini, maka tidak mungkin kita melewatinya tanpa mencicipi bumbu-bumbu yang telah para Rasul rasakan. Maka, kita harus memperkuat jalan ini dengan ritual, latihan, thariqat, dan riyadhoh yang ketat dan konsisten untuk mendekati-Nya. Kekuatan kita bukan pada usaha yang kita lakukan, akan tetapi serta merta merupakan pertolongan dari kuasa-Nya yang tak terbatas. Kita tidak mengharapkan pembelaan dari manusia, akan tetapi kita menunggu iradah-Nya untuk senantiasa menuntun dan membimbing kita pada jalan keluar yang nyata.

Tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti dan mundur menghindari cabaran yang kita hadapi dalam merengkuh perjalanan dakwah. Teruslah maju dan tatap semuanya dengan penuh optimisme dan keyakinan bahwasanya Dia akan selalu bersama kita. Kuatkan usaha dan lipatkan doa, semoga Allah swt membimbing kita ke jalan yang benar. Aamiin. [*]

Inspirasi Ayat: Al-Qolam (68: 2 – 3)

Advertisements

Risalah Islam tentang Baca Tulis

sbs.com.au

ISLAM sangat menghargai kegiatan baca tulis. Menurut sebagian riwayat, ayat al-Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah perintah untuk membaca. Saat itu, Nabi Muhammad SAW sedang melakukan ‘uzlah di Gua Hira’, lalu mendapatkan wahyu berupa perintah untuk membaca atas nama Allah Yang Maha Pencipta.

Lalu, dalam riwayat lain diceritakan bahwasanya makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah swt adalah sebuah pena yang mana dengannya Allah menciptakan makhluk lainnya. Pena menjadi “senjata pamungkas” Sang Pencipta untuk menciptakan “masterpiece” yang lainnya.

Selepas Rasul SAW wafat dan memparipurnakan tugasnya sebagai utusan Allah SWT, risalah Islam menyebar ke seluruh jazirah Arab dan penjuru dunia lainnya. Islam dan komunitas Muslim bertransformasi menjadi sebuah peradaban maju, salah satunya adalah berkat penghargaan terhadap budaya baca tulis. Ribuan naskah dari bangsa Yunani dibaca lalu ditulis ulang dengan memakai bahasa Arab. Penjelasan dan penafsiran ulang atas karya-karya tersebut menjadi kunci lahirnya peradaban baru yang diilhami oleh nilai yang terkandung dalam al-Qur’an.

Kini peradaban berpindah ke dunia Barat. Bisa ditebak, peradaban baru ini maju karena penghormatan kepada budaya baca tulis. Rennaisans menjadi tonggak bagi orang Barat untuk keluar dari dogma Kristen yang memasung kegiatan intelektual.

Dari fakta di atas, adalah sunatullah bahwasanya komunitas yang menghargai budaya baca tulis akan mencapai titik teratas dari peradabannya. Tak mungkin sebuah peradaban muncul tanpa ada budaya ilmu yang established yang didukung dengan kebiasaan membaca dan menulis. Karena dengan membaca kita bisa memahami realitas, dan dengan menulis kita mendokumentasikannya untuk diwariskan dan dikembangkan oleh generasi setelah kita. Wallahu a’lam.[]

Inspirasi Ayat: Al-Qalam (68: 1)