Allah swt menangguhkan azab bagi orang zalim – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 43 – 52

pinterest.

Seringkali Allah swt mengazab kaum zalim dalam arah yang tidak mereka sadari. Ujug-ujug terjadi bencana. Tanpa tedeng aling timbul resesi ekonomi.

Azab Allah swt sifatnya tidak cash and carry. Tapi seringkali ditangguhkan. Sehingga sangat mungkin ini membuat mereka merasa congkak dan aman dari konsekuensi pengingkaran terhadap kebenaran Alquran.

Lihat saja sekarang. Orang-orang yang melakukan kerusakan di muka bumi ini bisa hidup aman. Bahkan mereka mengolok-olok kaum beriman, “Lihatlah kami! Tanpa beriman kepada Tuhan pun, kita bisa hidup dengan aman dan tenteram.”

Namun, kita sebagai manusia beriman percaya bahwa azab Allah swt pastilah adanya. “Kami menangguhkan azab kepada mereka, tapi rencana Kami sangatlah dahsyat,” begitu firman Allah dalam Q.S. Al-Qalam ayat 45.

Ini adalah ancaman keras dari Allah swt kepada orang-orang yang mendustakan Alquran. Memang Allah swt kadang lembut dan demokratis, tapi di lain tempat bisa jadi sangat keras kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran Alquran. Tentu kita sebagai umat beriman harus bijak menyikapinya.

Alangkah baiknya peringatan ini, sebelum ditujukan kepada orang lain, diarahkan dulu pada diri kita pribadi, keluarga dan lingkungan di sekitar kita. Apakah kita sudah menjadi orang yang pertama kali mencintai dan mengamalkan Alquran? Apakah keluarga dan lingkungan kita sudah melakukan hal yang sama dengan kita? Saya kira itu lebih baik, dari sekedar menunjuk hidung orang lain dan merasa diri paling benar. Wallahu a’lam. []

Advertisements

Tentang resistensi kaum kafir, biarkan Allah swt menunaikan janji-Nya – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 44 – 52

Richard Dawkins. Pinterest.

SUDAH menjadi mafhum bahwa perjuangan menegakkan risalah Allah swt di muka bumi akan disertai jalan terjal berupa cemoohan, olok-olok bahkan ancaman pembunuhan.

Apalagi konteks sekarang, ketika ras manusia berada pada puncak kemajuannya, akan sangat sulit bagi mereka untuk menerima kebenaran yang berasal dari Tuhan yang termaktub dalam kitab suci yang dibawa oleh Nabi saw.

Saat ini pertentangan ideologi dan nilai-nilai semakin keras di saat tumbuh subur isme-isme hasil dialektika manusia dengan alam pikirannya dan realitas sosial. Paham-paham yang mengingkari eksistensi Tuhan dan menolak syariat-Nya semakin beragam dan berevolusi menjadi sebuah gerakan kesadaran terutama dukungan terhadap humanisme dan penyelidikan ilmiah.

Orang model Richard Dawkins tidak hanya mendeklarasikan diri sebagai seorang ateis, akan tetapi juga menjadi ‘nabi’ bagi orang-orang yang menolak eksistensi Tuhan. Selayaknya nabi pada umumnya, dia membuat sebuah gerakan masif untuk memengaruhi masyarakat tentang betapa pentingnya penyelidikan ilmiah dan bahaya ‘tahayul’ agama dalam gerakan ini.

Usaha yang dilakukan Dawkins yang didukung oleh para pesohor dunia maupun lokal akan terus berbenturan dengan para agamawan yang menjalankan misi mereka untuk melanjutkan perjuangan para nabi dalam menyebarkan risalah Tuhan.

‘Perang’ ini tidak hanya terjadi dalam ruang fisik, akan tetapi muncul juga dalam ruang non-fisik (maya) yaitu perseteruan di media sosial, bahkan dalam eskalasinya dalam titik tertentu melebihi dunia nyata.

Maka wajar apabila muncul olokan dari mereka kepada kaum agamawan dan manusia beragama lainnya sebagai kaum delusional yang tertipu sihir kitab suci, seperti halnya Nabi Muhammad saw dicap sebagai orang gila oleh pembesar Kafir Quraisy.

Dalam merespon serangan terhadap misi Nabi saw dan para penerusnya, Allah swt menegaskan kepada mereka untuk tidak terlalu memikirkannya. Apapun cobaan yang mereka hadapi, dakwah harus terus berjalan. The show must go on. Kita tidak boleh selangkah pun mundur dari perjuangan ini.

Allah swt menyuruh kita untuk mengambil pelajaran dari pertaubatan Nabi Yunus as yang meninggalkan misi perjuangan hanya karena mendapatkan resistensi dari kaumnya. Untungnya, beliau menyadari kesalahannya dan diangkat derajatnya oleh Allah swt sebagai orang-orang yang salih dalam barisan para nabi dan rasul.

Adapun perhitungan bagi mereka yang konsisten menentang misi ini, kita kembalikan kepada Allah swt. Dia swt berjanji bahwa mereka akan setahap demi setahap menerima balasan dari-Nya dari arah yang mereka tidak ketahui. Kalaupun tidak sekarang, suatu saat nanti, mereka akan menerima konsekuensinya. Kalau tidak dunia, tentu mereka tidak akan mengelak dari siksa Allah di akhirat kelak.

Tentang hinaan dan olokan kaum sekuler yang tidak suka Islam menyebar di muka bumi, kita harus menahan diri. Jangan itu membuat kita kalap, sehingga kita membalasnya dengan serupa olokan yang jauh dari akhlak Islam. Atau menjadi merasa letih dan memutuskan untuk berhenti dalam berjuang. Kita kembalikan semuanya kepada Allah swt. Wallahu a’lam. []

Nasib Orang Bertakwa dan Bermaksiat di Akhirat – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Qalam ayat 34 – 43 

pinterest

Ayat 34: Balasan bagi orang yang bertakwa

Dalam ayat ini Allah swt menegaskan bahwa balasan setimpal bagi orang-orang yang bertakwa selama hidup di dunia adalah surga yang dipenuhi kenikmatan.

Menurut Prof. Wahbah Zuhaili, kenikmatan yang akan didapat oleh para muttaqin di akhirat kelak wujudnya tidaklah sama dengan apa yang mereka temukan di dunia. Jika nikmat duniawi seringkali dinodai hal-hal yang kotor seperti hawa nafsu, nikmat ukhrowi tidaklah seperti itu. Dia berwujud murni dan hakiki, tak terkotori apapun.

Jadi, jangan anda bayangkan bahwa bidadari-bidadari cantik di surga sama seperti perempuan-perempuan binal nan seksi di dunia. Tidak sama sekali! Apa yang terjadi di akhirat termasuk kenikmatan yang disediakan tidaklah pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati manusia di dunia saat ini. 

Lalu siapakah muttaqin itu? Nasafi dalam Madarikut Tanzil menegaskan bahwa muttaqin adalah mereka yang menjauhi kesyirikan selama hidup di dunia. Mereka beriman sepenuhnya kepada Allah swt dan Nabi saw yang membawa risalah-Nya.

Dalam Alquran kata takwa diulang sebanyak 259 kali dengan segala derivasinya. Di antara sekian karakteristik orang-orang yang bertakwa seperti yang dijelaskan oleh Alquran antara lain: beriman kepada yang gaib, mendirikan salat dan berinfak; beriman kepada kitab-kitab Allah dan meyakini adanya akhirat; beriman kepada Allah swt, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, para nabi, memerdekakan budak, mendirikan salat, zakat, menepati janji dan sabar; berpuasa di bulan Ramadan; tidak silau dengan keindahan duniawi; selalu berbuat kebajikan, bersegera kepada ampunan Allah swt; selalu mengingat Allah swt dan memohon ampunan atas dosa-dosanya; bersabar saat diuji harta dan dirinya; menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup; dan menyebarkan dakwah.

Selanjutnya, orang yang bertakwa senantiasa menutup aurat; berzikir manakala ditimpa kebimbangan; menyuruh keluarga mendirikan salat dan bersabar mengerjakannya; tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan; menjaga pandangan mata dan kata-kata dalam berbicara; membawa kebenaran dan membenarkannya; menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji; dan selalu mengambil pelajaran dari Alquran.

Ayat 35-41: Balasan yang berbeda bagi orang yang bertakwa dan bermaksiat dan argumen-argumennya

Muqotil seperti yang dikutip oleh Fakhruddin Ar-Razi menerangkan bahwa ayat ini adalah respon ketika ada sebagian pembesar kafir Quraisy menghadap Nabi Muhammad saw dan berkata, “Di dunia Allah swt memberikan keutaman lebih tinggi kepada kami (kafir Quraisy) daripada umat Islam. Tentu, di akhirat kami akan mendapatkan posisi yang sama. Kalaupun tidak, minimal sama dengan apa yang kami dapatkan di dunia.”

Allah swt membantah pernyataan pembesar Quraisy tersebut dengan memberikan bantahan-bantahan dalam ayat-ayat selanjutnya, baik berdasarkan naqli (nas) maupun secara logika. Bantahan ini setidaknya membuat mereka berpikir atas batilnya pendapat mereka.

Pertama, Allah swt mengajukan pertanyaan ingkar yang bertujuan untuk menegasikan pendapat ngawur para pembesar kaum Quraisy dengan bersabda, “Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?

Setelah itu, Alquran memberikan logical reasoning, yaitu sebuah pertanyaan tentang landasan rasional yang mendukung pernyataan bahwa kaum kafir sama-sama akan mendapatkan fadilah dari Allah swt dengan kaum yang bertakwa di akhirat kelak, sedangkan kita tahu bahwa keimanan kepada-Nya adalah sebuah kebenaran dan sebaliknya kesyirikan adalah sebuah kebatilan.

Secara logic, pandangan ini tentu tidak dapat diterima. Dalam nalar akal sehat kita akan mafhum bahwa kemuliaan hanya akan didapat bagi orang-orang yang melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.

Selanjutnya, Allah swt memberikan argumen naqli untuk membantah pernyataan kafir Quraisy ini dengan bersabda, “Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu.”

Allah swt menanyakan apakah mereka memiliki kitab suci sendiri – yang mereka pelajari dan praktikan – sehingga mereka bisa berhukum semau gue, termasuk dengan ‘fatwa’ bahwa mereka akan mendapatkan keutumaan di akhirat kelak, meskipun tidak mengikuti syariat yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

Tentu yang menjadi landasan mereka tidak lain adalah asumsi dan hawa nafsu. Dalam hal ketaatan kepada Allah swt, misalnya, ketika mereka diajak kepada agama dan syariat Allah, kepada hal-hal yang Allah wajibkan dan meninggalkan hal-hal yang Allah haramkan, mereka menolak, dengan alasan cukup bagi mereka untuk menempuh apa yang telah dilaksanakan oleh nenek moyang mereka. Padahal Allah menegaskan dalam Alquran bahwa nenek moyang mereka tidak mengetahui apapun dan tidak mendapatkan petunjuk. Itu artinya, kaum kafir tidak memiliki landasan yang kuat dalam menjalankan syariat agama mereka.

Argumen selanjutnya yang dilontarkan Alquran untuk membantah pendapat kafir Quraisy adalah pertanyaan ingkar berupa perjanjian dengan Allah yang diikat dengan sumpah dan berlaku sampai hari kiamat yang membuat mereka sangat yakin akan pendapat mereka sehingga tidak mau menerima risalah dari Nabi Muhammad saw. Hal ini untuk menunjukan ‘ketakjuban’ Allah swt akan betapa keukeuh-nya mereka dengan pendapat yang mereka yakini, padahal beberapa argumen baik itu secara naqli maupun aqli tidak mendukung.

Terakhir, Allah swt menantang mereka untuk mendatangkan orang yang bisa menjamin kebenaran pendapat mereka, entah itu nabi, pembesar, ataupun ilmuwan dari kalangan mereka. Nyatanya mereka tidak memilikinya.

Menurut Nasafi, dari sini lengkaplah sudah bahwa kaum kafir Quraisy tidak memiliki kitab suci, sumpah yang diperkuat dengan janji Allah, dan teman yang bisa mengafirmasi pendapat batil mereka bahwasanya mereka akan hidup dengan nyaman di akhirat kelak, seperti halnya mereka dapatkan selama hidup di dunia.

Ayat 42-43: Orang kafir tidak mampu bersujud di akhirat kelak karena terbiasa dengan kekufuran selama hidup di dunia

Sudah menjadi pola dalam Alquran, bahwasanya setelah Allah menyeru untuk beriman dengan menghadirkan beberapa argumennya, Dia swt akan menjelaskan konsekuensi dari pilihan respon terhadap seruan tersebut. Manusia diberi kebebasan untuk memilih, akan tetapi diberikan juga gambaran konsekuensi atas pilihan tersebut.

Di penghujung penggalan Q.S. Al-Qalam ini, Allah swt menggambarkan keadaan kaum kafir yang akan menemui banyak kesulitan di akhirat kelak. Ketika tersibak dalam pandangan mereka pedihnya siksa neraka, mereka diminta untuk bersujud mengakui kesalahan pendapat mereka selama hidup di dunia. Mereka ingin bersujud karena takut akan siksaan yang akan mereka dapatkan, akan tetapi mereka tidak mampu melakukannya karena sudah terbiasa dengan kekufuran.

Menurut Fakhruddin Ar-Razi perintah bersujud ini bukanlah bentuk taklif, kewajiban yang harus ditaati, akan tetapi lebih pada penghinaan kepada mereka karena semasa hidup di dunia tidak mau untuk taat atas perintah Allah swt.   

Orang-orang kafir akan merasa menyesal karena mereka tidak mau bersujud (taat) atas perntah Tuhan selama hidup di dunia, padahal waktu itu mereka hidup dengan sejahtera tidak terhalang sesuatu apapun. Maka penyesalan tidaklah guna. Yang tersisa adalah kehinaan dan keterpurukan karena sisa hidup mereka di akhirat akan dipenuhi penderitaan yang tidak berujung. Wallahu a’lam. []  

Sumber kitab:

  1. Mafatih al-Ghayb, Muhammad ibn Umar Fakhr al-Din al-Razi.
  2. Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari.
  3. Madarikut Tanzil Wa Haqo’iqut Ta’wil, Imam Abul Barokat Abdulloh bin Ahmad bin Mahmud An-Nasafi.
  4. Tafsir al-Munir, Wahbah al-Zuhayli.
  5. Tafsir al-Azhar, Abdul Malik Karim Amrullah.  

Apakah orang beriman sama dengan orang kafir?

muslimobsession.com


Inspirasi al-Quran Q.S. Al-Qalam (68: 34-43)

DALAM sebuah video wawancara yang dilakukan oleh salah satu Vlogger berkebangsaan Indonesia yang sedang studi di Jerman memperlihatkan kepercayaan salah seorang penganut Protestan yang berpendapat bahwa mereka akan baik-baik saja di akhirat meskipun selama di dunia tidak pernah mau melaksanakan titah Tuhan Yang Maha Kuasa yang termaktub dalam kitab suci dan hadis Rasul.

Mereka melihat bahwa kenyamanan hidup di dunia menjadi jaminan bahwa mereka juga akan hidup bahagia di akhirat kelak. Mereka tak percaya dengan pedihnya siksa neraka seperti yang jamak terdengar di telinga kita.

Ternyata kejadian ini juga pernah terjadi di zaman Rasul saw, di mana kaum Pagan Arab merasa yakin bahwasanya mereka akan mengecap nikmatnya surga seperti halnya mereka bisa menikmati kehidupan di dunia.

Mereka berkeyakinan tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang kehidupan akhirat. Selama ini, mereka mampu untuk hidup nyaman di dunia. Hal itu akan menjadi jaminan bahwasanya mereka akan hidup bahagia di akhirat, tanpa perlu mengikuti risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Namun, pendapat tersebut dibantah oleh Allah swt melalui Q.S. Al-Qalam (68: 34-43).

Allah swt bersabda bahwasanya nikmat surga adalah eksklusif bagi orang-orang yang bertakwa, “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” (Q.S. 68: 34)

Dia swt juga menyangkal bahwasanya derajat umat Islam sama dengan orang-orang yang selalu berbuat dosa, “Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?” (Q.S. 68: 35)

Lalu Allah swt menantang pijakan kaum kafir yang menganggap bahwa mereka akan baik-bak saja di akhirat kelak,

“Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu. Atau apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka: “Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?” Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar.” (Q.S. 68: 36 – 41).

Terakhir, Allah swt memastikan bahwa orang kafir akan mendapatkan kehinaan di akhirat kelak,

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera..” (Q.S. 68: 42 – 43)

Semoga Allah swt membimbing kita pada jalan keselamatan. Aamiin. []

Setelah Sumpah Palsu – Inspirasi al-Quran Q.S. Al-Qalam (8 – 16)

fastcompany.net

SUMPAH palsu dan kebohongan adalah sumber kemaksiatan dan memicu perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Dalam Q.S. Al-Qalam (8 – 16) digambarkan beberapa perbuatan keji yang mungkin dapat dipicu dari kebiasaan bersumpah dan berbohong.

Orang yang sering bersumpah biasanya memiliki pikiran kotor. Aura negatif senantiasa melingkupi pemikirannya. Dia akan terbiasa dengan sikap suuzhan terhadap apa yang diperbuat oleh rekannya, tanpa melihat fakta dan data. Apabila tabiat ini dibiarkan, maka tidak mungkin semua perilaku dia akan bersifat negatif dan kontra-produktif.

Selanjutnya, manusia tipe ini tidak akan memiliki teman sejati, hatta keluarga yang sangat dekat dengannya. Karena persepsi negatif selalu menyesaki pikirannya, dia tidak akan pernah memiliki teman kepercayaan. Dia akan menikam sahabat karibnya tanpa diketahui olehnya. Rahasia pribadi yang disampaikan oleh rekannya akan dia umbar sebagai bentuk pembunuhan karakter dan penikaman dari belakang. 

Maka dari itu dia tidak akan pernah menjadi orang yang konsisten. Perilakunya disesuaikan dengan kepentingan pada masanya. Pada saat golongan A jaya, dia akan menjadi bagian darinya dan meraup keuntungan di dalamnya. Tapi, tatkala golongan tersebut meredup, dia akan meninggalkannya dan menjadi oposan utama; menyebarkan aib internal golongan tersebut pada musuh bebuyutannya – yang sekarang menjadi sahabat karibnya.

Manusia jenis ini pada dasarnya bersifat egois – hanya mementingkan ego pribadi dan mengabaikan kepentingan bersama. Maka wajar apabila dia sangat bakhil dengan hartanya. Dia tidak mau menginfakkan hartanya pada jalan yang telah disyariatkan oleh Allah swt. Dia berpikir bahwa harta yang dia dapatkan semata adalah hasil dari jerih payah yang ia kumpulkan tanpa lelah, maka tak layak untuk diberikan secara percuma kepada orang lain.

Kalaupun dia mengeluarkan sebagian hartanya, hal itu tidaklah murni atas dasar kemanusiaan, akan tetapi lebih pada bagiamana dia mengerek popularitasnya di mata manusia lain. Ya, dia mengambil keuntungan duniawi dari kegiatan filantropisnya. Lihat saja bagaimana dia mengekspos ‘kedermawanannya’ sehingga hampir seluruh manusia tahu.

Walakhir, sikap-sikap negatif ini akan menjadi sebuah kepribadian yang melekat pada dirinya. Akan sangat sulit baginya untuk merubahnya. Dia akan terbiasa dengan perbuatan-perbuatan yang menguntungkan dirinya dan menzalimi orang lain, tanpa melihat apakah hal ini dibolehkan dalam agama.

Seyogyanya, tugas kita adalah menjauhi tipikal manusia seperti ini, karena pada dasarnya akhlak tercela itu menyebar. Kita berlindung pada Allah swt dari perbuatan-perbuatan keji di atas. []

Dua Jenis Ujian (2)

billmoyers.com

Ada dua jenis ujian dalam kehidupan; kesulitan dan kemudahan. Sikap terbaik yang dapat kita lakukan ketika mendapati kesulitan adalah dengan bersabar, sedangkan tatkala menemukan kelapangan adalah dengan bersyukur. Kedua sikap tersebut adalah karakter khas kaum beriman yang membuat mereka termasuk kalangan yang beruntung menurut Rasulullah saw.

Sayangnya, mayoritas manusia justru merasa putus asa ketika mendapatkan kesulitan hidup. Takdir akan terasa tidak adil, tatkala melihat orang lain hidup dalam kecukupan. Mengapa saya yang harus hidup susah? Apa dosa saya? Apa salah saya? Mengapa bukan orang lain?

Padahal kita tahu Allah swt telah menetapkan satu ujian bagi seorang mukmin sesuai dengan kadar keimannya. Sesuai dengan kekuatan kita menghadapinya. Hanya saja, justru kita tidak ingin melihat musibah dengan kaca mata ini. Kita hanya ingin menyalahkan-Nya dengan menyebut takdir yang tidak memihak.

Sebaliknya, ketika hidup bergelimangan harta dan kemudahan, justru mayoritas manusia sering lupa dan terlena. Tidak ada waktu untuk mengingat-Nya. Semua daya digunakan untuk mencari kekayaan dan menikmatinya. Manusia menjadi jumawa. Mereka menjadi terlena. Mereka melihat bahwa apa yang didapatkan adalah hasil kerja keras dan peluh yang mereka keluarkan.

Bahkan, dalam beberapa kasus, kelapangan hidup ini membuat mereka memilih untuk menjadi garda depan yang menolak risalah-Nya. Atas dasar kemanusiaan, mereka menolah eksistensi Tuhan dan agama. Mereka melihat manusia mampu mengurus kehidupannya di dunia, tanpa bantuan Tuhan sekalipun! Na’udzubillah.

Al-Qur’an memberikan banyak contoh tentang kecenderungan ini dalam ayat-ayatnya yang mulia. Salah satunya adalah apa yang terkandung dalam Q.S. Al-Qalam (68, 8-33). Karena dikaruniai kekayaan yang terbatas dan kedudukan yang terpandang, Walid bin Mughiroh, salah satu pembesar kaum Arab zaman Rasul saw, memilih untuk menjadi salah satu penantang utama dakwah Rasul saw. Meskipun dalam hati dia tahu akan kebenaran risalah yang Rasul bawa, namun atas nama gengsi dan wibawa, dia memilih untuk menolak.

Tentunya kita meminta perlindungan dari Allah swt atas nikmat yang tak tersyukuri dan musibah yang tak mampu kita bersikap sabar atasnya. Wallahu a’lam. []

Dua Jenis Ujian

kpmg.com

Ujian dari Allah swt bagi umat manusia tidak hanya berbentuk kesusahan hidup, akan tetapi juga seringkali berwujud kesenangan dan kelapangan  seperti kemudahan mendapatkan harta dan memiliki banyak anak. Justru, jenis ujian seperti yang sering melenakan karena ujung-ujungnya bisa berupa takabbur (sombong) dan istighna (merasa tidak perlu) terhadap rahmat Allah swt.

Ketika zaman Rasul saw terdapat salah satu bangsawan Arab yang terpandang karena memiliki banyak harta dan anak. Namanya Walid bin Mughiroh. Untuk mengerek kebangsawanannya, dia sering mengaku berasal dari klan Quraisy – karena klan tersebut dianggap paling terpandang di bangsa Arab – meskipun kenyataannya dia tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan klan terhormat ini.

Saat Nabi saw mendeklarasikan kenabiannya dan menyebarkan risalah Allah swt di kalangan Jazirah Arab, Walid meradang. Mengapa bukan dia yang mendapatkan kehormatan ini? Dia merasa khawatir posisinya yang mulia di mata bangsa Arab saat itu dapat disaingi oleh Muhammad saw. Walhasil, dia menjadi salah satu dari segelintir orang yang didokumentasikan dalam al-Quran sebagai pihak yang paling menentang dakwah Rasul saw.

Bukan hanya Mughiroh, rata-rata orang yang menentang dakwah Rasul saw saat itu adalah kalangan berada dan terpandang. Dua di antara mereka adalah Abu Jahal dan Abu Lahab. Alih-alih mensyukuri nikmat yang Allah swt anugerahkan, mereka justru berada di garda terdepan yang menentang risalah-Nya. Dalam perspektif Q.S. Qalam, golongan ini – apabila tidak bertobat – dianggap sebagai kalangan yang gagal dalam menghadapi ujian kenikmatan.

Mengambil pelajaran dari kisah ini, kita harus waspada terhadap dua jenis ujian dari Allah; kesulitan dan kelapangan hidup. Wallahu a’lam. []