Perspektif Alternatif Mengkaji al-Quran

quran

Interaksi mayoritas umat Islam dengan al-Quran hanyalah membaca, tanpa ada usaha signifikan untuk memahaminya, menghapalnya dan mengamalkannya. Memang, “sekedar” membaca al-Quran saja Insya Allah sudah mendapatkan pahala, akan tetapi kalau berhenti pada level ini saja tidaklah cukup. Perlu ada usaha yang kuat untuk bisa naik ke tingkat selanjutnya.

Salah satu alternatif untuk meniti titian ke tingkat selanjutnya adalah memahami al-Quran dan mengamalkannya untuk kehidupan sehari-hari. Namun ternyata ini tidak mudah. Untuk bisa menafsirkan al-Quran memerlukan beberapa perangkat ilmu yang cukup complicated. Mungkin sangat mustahil bagi orang awam yang tidak memiliki dasar kuat ilmu-ilmu bantu tersebut untuk bisa menafsirkan al-Quran. Misalnya,  ayat tentang “kalimah sawa” (Ali Imrah, 3:63) menghasilkan penafsiran yang berbeda secara tajam antar intelektual Muslim. Untuk menafsirkan ayat ini, kita harus menguasai beberapa ilmu bantu seperti balaghoh, nahwu, sharaf dan ilmu tafsir. Hal itu pun tidak akan membuat mereka bertemu pada konsesus yang sama karena setiap orang memakai perspektif yang berbeda ketika menafsirkan ayat.

Bagi orang awam – yang tidak memiliki dasar keilmuan bantu yang mumpuni – menafisrkan ayat tersebut tidaklah mudah – untuk tidak mengatakan mustahil. Orang awam seperti ini lebih baik belajar ilmu-ilmu naqliyah aplikatif yang sudah “jadi” seperti fiqh, tauhid, dan siyasah yang telah dikembangkan oleh para ulama otoritatif daripada langsung berinteraksi dengan al-Quran, supaya tidak menyebabkan penafsiran yang sesat.

Lalu apakah kita (baca: orang awam) bisa langsung menikmati al-Quran secara langsung tanpa harus merujuk kepada cabang-cabang ilmu naqliyah di atas? Menurut saya bisa. Caranya adalah dengan memahami ayat-ayat yang termasuk dalam kategori panduan kehidupan dan obat penawar bagi kerumitan hidup. Misalnya ayat yang berbunyi “bisa jadi apa yang baik bagi kamu, belum tentu baik menurut Allah” (Al-Baqarah, 2:216); kita bisa mengeksplorasi ayat ini untuk menasehati kita untuk bersabar ketika tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Ibaratnya ayat-ayat tersebut berperan menggantikan buku-buku “how-to” yang sangat laris di pasaran atau kutipan motivator ulung seperti Mario Teguh dan Andrie Wongso. Dalam kaca mata saya, hal ini berarti kita memposisikan al-Quran sebagai as-syifa’; obat bagi segala kompleknya hidup. Atau tombo ati; obat hati yang menjadi penawar bagi hati yang resah dan gundah gulana. Saya melihat banyak ayat yang termasuk dalam kategori ini yang bisa dipahami meskipun dengan keilmuan bantu yang tidak terlalu dalam. Dan justru, jenis ayat seperti ini kalau dikompilasikan dan disebarluaskan akan sangat laris – melebihi larisnya buku how to yang tirasnya mengalahkan buku-buku serius seperti ilmu politik dan hukum.

Tentunya perspektif ini bukan dalam rangka mengkerdilkan al-Quran, yang sejatinya luas maknanya. Saya percaya bahwa dalam al-Quran terdapat prinsip-prinsip yang membimbing kita bagaimana kita menyikapi permasalahan pendidikan, politik, hukum, ketatatanegaraan, ekonomi dan alam semesta. Tapi, bagi orang yang awam, hal itu sangat sulit dijangkau karena keterbatasan ilmu bantu yang mereka punya. Walhasiil, supaya mereka bisa menikmati interaksi dengan al-Quran secara langsung, maka alangkah baiknya kalau kita menyodorkan perspektif interaksi al-Quran seperti ini. Dan inilah yang sedang saya gagas dalam blog ini. Insya Allah, semoga Allah meridhai kita semua, amiin.

Advertisements

Penciptaan Manusia dan Fasilitas Saluran-saluran Ilmu Pengetahuan – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk ayat 23

merdeka.com

Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.

Ayat ini menggambarkan berbagai macam nikmat yang Allah swt anugerahkan kepada makhluk-makhluk-Nya berupa penciptaan dari tiada menjadi ada dan fasilitas-fasilitas yang mengikutinya berupa pendengaran, penglihatan dan hati/akal. Namun sayangnya, banyak sekali di antara kita yang tidak mau bersyukur atas penciptaan ini dengan tidak menggunkan fasilitas-fasilitas tersebut sesuai dengan fungsinya.

Redaksi ayat ini terdapat dalam beberapa ayat al-Qur’an yang lain seperti dalam Q.S. An-Nahl ayat 78, Al-Mu’minun ayat 78 dan As-Sajdah ayat 9. Pola ayat-ayat tersebut hampir sama, yaitu bahwasanya manusia sedikit sekali yang bersyukur atas nikmat pendengaran, penglihatan dan hati/akal yang Allah swt anugerahkan kepada mereka.

Allah swt mengecam kekufuran ini dalam Q.S. Al-A’raf ayat 179 dan menggambarkan mereka sebagai calon penghuni neraka jahannam dan mereka bak binatang ternak (karena tidak mau memanfaatkan anugerah tersebut dengan benar) bahkan lebih sesat dari binatang.

Beberapa ahli tafsir menjelaskan bahwasanya melalui ayat ini Allah swt ingin menegaskan bahwasanya nasib manusia berada dalam gengaman-Nya karena penciptaannya pun merupakan sepenuhnya campur tangan Sang Maha Pencipta. Allah swt adalah Dzat yang satu-satunya memiliki kuasa untuk menciptakan manusia, maka tidak ada celah sedikit pun bagi manusia untuk menyombongkan diri atas apa yang dimilikinya.

Mengenai fungsi hakiki dari tiga anugerah di atas, Al-Maroghi berpendapat bahwasanya pendengaran merupakan alat untuk mendengarkan nasihat-nasihat, sedangkan penglihatan untuk melihat indahnya ciptaan Tuhan. Terakhir, hati harus digunakan untuk bertafakkur atas kehebatan ciptaan-Nya sehingga manusia bisa mengambil manfaat dari proses kontemplasi ini.

Buya Hamka melihat bahwasanya dua nikmat yang pertama (pendengaran dan penglihatan) merupakan wasilah yang menjadi penghubung antara manusia dengan dunia luar sedangkan hati/akal merupakan alat untuk mengolah informasi sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan yang membuat hidup manusia lebih berarti.

Informasi ini memberitahu kita tentang saluran-saluran ilmu pengetahuan yang dikenal dalam tradisi Islam. Yang pertama, pendengaran dan penglihatan membawa kita pada pintu gerbang empirisme di mana kita bisa mendengarkan dan melihat hal-hal yang kasat mata.

Namun, dua saluran itu saja tidak cukup. Dalam Islam dikenal juga ‘afidah’ yang bermakna akal atau hati. Saluran ini berfungsi untuk mengolah data yang didapat oleh indra pendengaran dan penglihatan. Dengan akal, manusia dapat mengonstruksi informasi tersebut menjadi informasi yang rasional, sedangkan hati membawa manusia pada kebajikan di mana etika sains sangat dijunjung dalam melakukan tindak-tutur ilmiah.

Hal ini juga mengafirmasi bahwasanya banyak ilmu yang datang dengan wasilah hati, yang mana dalam tradisi Islam seringkali disebut sebagai ilmu laduni. Ketika hati penuh dengan kebersihan, maka bisa saja Allah swt menganugerahkan ilmu kepada orang tersebut sebagai salah satu nikmat-Nya.

Perangkat, metode dan proses ini menjadi wasilah bagi setiap insan untuk bertransformasi dari keadaan bodoh (jahl) mejadi tahu (‘ilm). Itu artinya, perjalanan menuntut ilmu dalam tradisi Islam selamanya bersifat sakral dan erat kaitannya dengan ibadah/penghambaan kepada Allah swt. Maka dari sini timbulah etika dalam menuntut ilmu seperti banyak tertulis dalam berbagai literatur Islam. Wallahu a’lam. (*)

Hidup dengan Tujuan – Inspirasi al-Quran – Q.S. Al Mulk Ayat 22

Allah swt telah memberikan informasi tentang jalan lurus yang harus dilalui oleh manusia, supaya mereka bisa mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Sayangnya, masih banyak orang yang tidak mau mengambilnya, dan lebih memilih jalan terjal, meskipun mereka sudah tahu konsekuensi yang akan mereka hadapi.

Hal ini bukan karena pemahaman kognitif mereka yang rendah tentang hal tersebut, tapi lebih pada aspek psikomotorik dan afektif, di mana mereka lebih mengindahkan hawa nafsu daripada akal sehat untuk mencerna kebenaran yang dibawakan oleh para utusan Allah di muka bumi.

Secara fitrah, kaum beriman memiliki arah dan tujuan yang jelas ketika menjalani kehidupan, karena semuanya telah dijelaskan dengan gamblang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah; bahwasanya kita dilahirkan ke dunia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya dan tugas kita adalah menjadi pengganti-Nya (khalifah) di muka bumi. Maka, orang mukmin akan berjalan dengan tegak menempuh perjalanan ini tanpa harus merangkak, tertatih dan memalingkan muka.

Sebaliknya, kaum kafir senantiasa diliputi oleh kebingungan, karena hidupnya didedikasikan untuk mencari jawaban tentang tujuan kehidupan yang tak pernah selesai. Pijakan mereka terbatas pada hal-hal empiris saja, yang mana hal itu tidak mungkin menjangkau tujuan hidup yang hakiki. Walhasil, perjalanan mereka di dunia menjadi tertatih-tatih, seringkali jatuh kembali setelah bangun. Penuh dekonstruksi yang meluluhlantakkan struktur yang telah dibangun dengan susah payah oleh para pendahulu.

Tentunya orang yang menempuh jalan lurus yang telah digariskan oleh Tuhan lebih memiliki kesempatan untuk hidup selamat dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat dibandingkan mereka yang memilih jalan terjal. Namun tetap saja manusia tidak mau menuruti kata nuraninya. Semoga Allah swt senantiasa memberikan kita bimbingan dan hidayah menuju jalan yang diridainya. Amin. (*)

Inspirasi Ayat:

Al Mulk Ayat 22

أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

Jalan Lurus vs. Jalan Berliku – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk Ayat 22

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

Menurut Jalaluddin dan Jalaluddin ayat ini membandingkan antara kaum beriman dan kaum kafir – mana di antara mereka yang lebih layak untuk mendapatkan hidayah dari Allah swt. Dalam hal ini kaum kafir dianalogikan sebagai orang yang berjalan merangkak dengan wajah tertelungkup, sedangkan orang beriman dimisalkan sebagai orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus.

Buya Hamka mendeskripsikan orang kafir sebagai orang yang lupa dari mana dia datang, di mana dia sekarang dan ke mana perjalanan hidupnya ini akan diteruskannya. Dia berjalan di muka bumi sambil menjungkir balik, ataupun menelungkup; dan mukanya menghadap ke bumi. Orang seperti ini meskipun mencoba berdiri, dia akan terjatuh kembali karena kakinya linglung, menggigil menginjak bumi, karena tidak tahu ke mana akan diarahkan. Gambaran ini kontras dengan orang mukmin yang berjalan tegak lurus, langkah tetap, mata memandang ke muka, memikirkan tujuan yang jauh tetapi pasti dan tidak pernah mengencong ke luar garis yang ditentukan.

Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa orang mukmin yang berjalan tegak lurus karena telah memiliki pegangan hidup akan lebih memiliki peluang untuk hidup selamat dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat daripada orang kafir yang berjalan merangkak sambil menelungkup ke bumi karena tidak memiliki tujuan hidup.

Tafsir al-Qur’am terbitan Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa perjalanan hidup orang-orang kafir itu adalah perjalanan hidup menuju kesengsaraan dan penderitaan yang sangat. Mereka akan mudah tersesat dalam perjalanannya mengarungi samudera hidup di dunia fana ini, sedang di akhirat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebaliknya, orang-orang mukmin menempuh jalan yang baik dan lurus, yaitu jalan yang diridai Allah, tidak akan tersesat dalam perjalanan hidupnya di dunia ini dan pasti akan sampai kepada tujuan yang diinginkannya. Di akhirat nanti, mereka akan menempati surga yang penuh kenikmatan yang disediakan Allah bagi mereka yang bertakwa.(*)

Allah Maka Kuasa Terhadap Segala Sesuatu – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk (67, 20-21)

kabarmakkah.com

Sesungguhnya tidak ada satu orang pun yang menjadi penolong yang dapat menahan azab yang diturunkan oleh Allah swt jika Dia berkehendak, termasuk tuhannya orang-orang kafir. Hanya Allah swt lah – dengan sifat rahman-Nya – yang memiliki kuasa untuk melakukan itu semua.

Sesungguhnya tidak akan ada orang yang mampu mencegah ketika Allah swt berkendak untuk tidak menurunkan rezeki-Nya bagi umat manusia, termasuk tuhannya orang-orang kafir yang tidak memiliki kuasa sedikit pun. Allah swt – dengan sifat rahman-Nya – mencurahkan nikmat kepada setiap makhluk-Nya tanpa melihat apakah dia orang yang suka berbuat kebaikan atau orang yang suka berbuat maksiat, burung-burung di langit dan hewan-hewan di bumi. Semuanya merata mendapatkan nikmat dari-Nya.

Sayangnya, orang-orang kafir tetap dalam keadaan tertipu dan terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri dari kebenaran.

Menurut Al-Maroghi sesungguhnya mereka mengetahui itu semua dengan sebenar-benarnya, akan tetapi mereka tetap menyembah selain Dia. Perbuatan mereka ini tidak lain adalah pertentangan, kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran, dan yang menyebabkan mereka berani untuk berbuat seperti ini adalah bisikan setan yang menipu mereka, sehingga mereka menyangka bahwa tuhan-tuhan mereka akan memberi manfaat, menolak bencana dari mereka.

Dalam konteks modern, banyak manusia yang menuhankan ilmu pengetahuan. Mereka percaya, bahwasanya semakin canggih perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka semakin mereka tidak memerlukan kehadiran tuhan. Mereka yakin bahwasanya hal itu dapat menjauhkan mereka dari marabahaya yang selama ini ditakutkan oleh umat manusia seperti kelaparan dan bencana alam. Faktanya, iptek tetap tidak dapat mencegah manusia dari marabahaya berupa kelaparan akibat resesi ekonomi dan bencana alam.

Menurut Ar-Razi penyebab dari keengganan kaum kafir dalam menerima kebenaran ada dua: kekuatan yang berasal dari harta dan kekuasaan serta keyakinan bahwa berhala mereka (termasuk ilmu pengetahuan) dapat memberikan kebaikan dan mencegah dari semua kerusakan. Dan Allah swt menyanggah pendapat mereka ini dengan turunnya kedua ayat ini. (*)

Semua karena Allah

snopes.com

Dia lah yang melindungimu dari segala macam marabahaya. Ketika bahaya dan musibah datang, maka tidak ada satu tentara pun yang bisa menolong-Mu – entah itu hartamu, anak buahmu, bosmu, rakyatmu, keluargamu, doktermu dan yang lainnya – kecuali datang rahmat dan karunia-Nya.

Di negeri adidaya Amerika Serikat – yang konon memiliki sumber daya teknologi yang paling canggih di seantro jagad – ketika Allah swt mengirimkan Katrina, luluh lantak lah semua yang ada di bumi. Rumah rata dengan tanah. Mobil-mobil berterbangan. Kematian mengelilingi warganya. Namun sayang, mereka tetap menjadi orang-orang yang tertipu.

Siapa yang akan menurunkan hujan – apabila Dia tidak sudi untuk menurunkannya? Tidak ada seorang pun, hatta perkembangan teknologi ciptaan manusia. Hujan itulah yang menghidupi tumbuhan – yang mana kita bisa memakannya untuk bertahan hidup. Hujan jualah yang memberi minum hewan – yang mana itu adalah sumber kekuatan bagi kita. Namun, ketika Allah berkehendak untuk tidak menurunkan hujan, tidak ada seorang pun yang mampu menolaknya.

Lihatlah bagaimana ketika kekeringan melanda benua Afrika. Beribu hektar kebun tidak bernyawa. Ribuan hewan mati sia-sia. Manusia – dengan segala kecongkakannya – tidak berdaya untuk berbuat apa-apa. Namun, sayangnya, kebanyakan mereka tetap sombong dan tidak mau percaya. Enggan untuk mengambil pelajaran dari ini semua.

Semuanya karena Allah swt; baik itu berita baik maupun berita buruk. Maka, mengapa tetap berpaling dari-Nya? (*)

Inspirasi Ayat:

Al-Mulk (67, 20-21)

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ جُنْدٌ لَكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِنْ دُونِ الرَّحْمَٰنِ ۚ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ (*)أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَلْ لَجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ

Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. (*) Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?

Ulasan Kitab Tafsir: Surah al-Mulk ayat 16 – 19: Orang Kafir Tidak Dapat Menghindar Dari Azab Allah

hdwallpaperbackgrounds.net

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt memperlihatkan sifat tegas sekaligus rahmat-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya. Dia menunjukan bahwa Dia bisa menelan bumi dengan menggoncangkannya, atau mengirim badai yang disertai bebatuan sebagai balasan bagi orang-orang yang ingkar terhadap risalah-Nya, sebagaimana Dia melakukan hal-hal tersebut kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw. Namun, Dia pun menunjukan sifat rahmat-Nya ketika menjelaskan bahwa burung-burung dapat terbang untuk mencari rejeki, dan tidak terjatuh meskipun daya gravitasi senantiasa merongrongnya.

Al-Mulk 16 dan 17: Kuasa Allah untuk Mendatangkan Azab Bagi Kaum yang Ingkar

Dalam ayat-ayat di atas Allah swt memperingati manusia bahwasanya Dia sangat Maha Kuasa untuk mengguncangkan bumi dengan gempa yang sangat besar dan/atau mengirim badai yang disertai batu pada mereka secara tiba-tiba. Hal tersebut adalah bentuk peringatan bagi kaum kafir yang merasa nyaman dengan kekufurannya dan yakin bahwasanya mereka tidak akan mendapatkan bencana. Kelak mereka akan sadar bahwasanya pembangkangan ini mengandung konsekuensi yang pedih. Padahal, tercatat dalam sejarah, Dia swt melakukan hal serupa pada kaum-kaum terdahulu yang tidak mau menerima risalah yang dibawa oleh para rasul-Nya.

Menurut Al-Maroghi dan Jalaluddin & Jalaluddin bentuk peringatan atau ancaman yang pertama adalah goncangan bumi/gempa seperti yang menimpa Qorun yang menelan seluruh hartanya. Sedangkan ancaman yang kedua adalah badai yang disertai batuan kecil seperti yang menimpa Kaum Luth, dan ketika itu baru sadar akan dahsyat-Nya hukuman Tuhan, namun sayangnya penyesalan tidak akan bermanfaat ketika azab sudah menimpa.

Dalam beberapa ayat lain, Allah swt memberikan peringatan serupa kepada orang-orang kafir seperti dalam Q.S. Al-An’am (6/65), “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.

Atau dalam Q.S. Al-Isra’ (17/68), “Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu.”

Ar-Razi melihat bahwasanya pernyataan “Allah yang di langit” tidak mungkin untuk ditafsirkan secara tekstual berdasarkan penampakan ayat, karena eksistensi Allah di langit menunjukan bahwasanya langit meliputi-Nya dari segala sisi, maka Allah lebih kecil dari langit, dan langit lebih kecil dari ‘Arsy, dan keadaan Allah lebih kecil bila dibandingkan dengan ‘Arsy adalah suatu hal yang mustahil dalam kesepakatan Ahli Islam. Dalam ayat lain Allah swt bersabda, “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Bila merujuk pada ayat ini, kalau saja Allah swt berada di langit maka dia menjadi Penguasa bagi diri-Nya, dan ini adalah suatu hal yang mustahil. Maka kita mengetahui bahwasanya ayat ini harus ditakwil dari zahirnya.

Untuk diketahui bahwa perdebatan tentang “Di mana Allah bersemayam?” telah menjadi bahan perdebatan antara para ahli kalam dari dulu sampai sekarang.

Dalam kedua penggalan ayat tersebut, Allah swt menakut-nakuti para kaum kafir dengan memberikan contoh dan bukti. Salah satunya adalah apa yang menimpa kaum-kaum sebelum Nabi Muhammad saw.

Ayat 18: Hukuman untuk Kaum Terdahulu

Dalam beberapa ayat al-Quran, Allah swt telah menunjukan bukti bahwasanya Dia telah menghukum kaum yang tidak mau menerima risalah-Nya. Di antaranya adalah Qorun yang ditenggelamkan beserta hartanya, Kaum Luth yang diserbu badai disertai bebatuan, kaum Nuh yang telah ditenggelamkan banjir mahadahsyat, kaum Syuaib yang telah dibinasakan dengan petir, serta Fir’aun dan kaumnya telah ditenggelamkan di Laut Merah.

Hal ini untuk menunjukan bahwasanya Allah Mahabenar dengan semua peringatannya tentang turunnya azab bagi orang-orang yang ingkar kepada-Nya.

Untuk menunjukan kuasa-Nya, Allah swt memperlihatkan salah satu ayat-Nya, yaitu burung yang dapat terbang meskipun hal itu harus melawan gaya gravitasi.

Ayat 19: Burung-burung yang Beterbangan Sebagai Bentuk Kuasa-Nya

Al-Maroghi berkata, “Apakah mereka lalai akan Kuasa Kami dan tidak melihat burung-burung yang beterbangan di atas mereka. Terkadang burung-burung itu mengembangkan sayapnya ketika terbang dan kadang mengatupkannya. Tidak ada yang menahan burung-burung itu di udara ketika beterbangan dan melayang-layang dari kejauhan dan daya tarik bumi, meski bertentangan dengan tabiat organismenya yang berat. Selain dari keluasan rahmat pencipta-Nya yang telah menciptakannya dalam berbagai bentuk dan karakteristik. Dia-lah yang mengetahui dan mengajarkan kepadanya gerakan-gerakan yang dapat membantunya untuk belari di udara menempuh jarak yang jauh guna mendapatkan makanan dan mencari rejeki.

Al-Maroghi melanjutkan, “Sesungguhnya Allah swt Maha Mengetahui segala sesuatu, hal yang lembut maupun yang besar. Dia mengetahui bagaimana Dia harus menciptakanya menurut sunnah-sunnah yang Dia ketahui faidahnya bagi hamba-hamba-Nya.”

Buya Hamka, mengutip filosof Pakistan kenamaan, Allamah Muhammad Iqbal mengatakan bahwasanya fenomena tentang keseimbangan alam seperti contoh di atas adalah akibat dari Sifat Rahman dari Allah swt, sebagaimana dalam firman-Nya dalam Q.S. Al-An’am (6/12), “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.” (*)

Al-Mulk 15: Menjemput Rezeki

(15. Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.)

Syukur alhamdulillah, dan ini memang bentuk kuasa-Nya, bahwasanya Dia menciptakan bumi mudah untuk digarap. Dalam pemaknaan kata “dzalula: mudah” ada beberapa pendapat seperti yang ditulis oleh Ar-Razi;

Pertama, bahwasanya Allah swt tidak menjadikan bumi keras seperti gurun yang membuat kita susah untuk berjalan di atasnya.

Kedua, Allah swt menjadikan bumi lembut sehingga memungkinkan untuk digali, dan dibangun bangunan di atasnya. Kalau misalnya keras, maka akan sangat sulit untuk mengolahnya.

Ketiga, Kalau misalnya keras seperti batu, atau seperti emas dan besi, maka akan panas ketika musim panas, dan sangat dingin ketika musim dingin, dan hal ini akan sulit untuk ditanami.

Keempat, Allah swt membentangkan bumi ini dengan mengontrol pergerakan udaranya, sehingga, meskipun pada hakikatnya selalu bergerak dan berputar,  dia akan tetap terkontrol.

Ayat ini menganjurkan kita untuk meninggalkan rumah ke tempat kerja, entah itu kantor, lapak, ladang, hutan atau yang lainnya dengan maksud menjemput rezeki yang memang telah disiapkan oleh Allah swt.

Para ahli tafsir berselisih pendapat ketika menafsirkan kata “manakib”. Ada yang mengartikan gunung-gunung, pelosok-pelosok, pinggir-pinggir, dan ujung-ujungnya. Dalam konteks dunia modern saat ini – menurut hemat saya – tentu hal itu bisa ditafsirkan sebagai macam-macam lapangan pekerjaan yang memiliki medan berbeda-beda. Bisa jadi kantor untuk para pekerja kantoran, lapak untuk para pedagang, ladang untuk para petani, bahkan bisa juga rumah untuk mereka yang bergerak dalam bidang internet marketing. Yang penting, untuk menjemput rezekinya, kita harus bergerak dan terus berusaha.  

Apabila kondisi kampung kita tidak kondusif untuk menjemput rezeki-Nya, maka kita dianjurkan untuk pergi merantau, mencarinya di tempat lain, yang memang masih merupakan bumi Allah yang mudah untuk digarap.

Namun tentunya hal ini harus dibarengi dengan sikap tawakkal kepada Allah swt. Usaha harus tetap dibarengi dengan tawakkal, karena pada hakikatnya semua rezeki itu adalah milik Allah. Hal ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan oleh Umar Bin Khattab RA ”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

Ibnu Katsir mengatakan, “bepergianlah semau kamu di seluruh penjuru bumi dengan berbagai macam pekerjaan dan perdagangan, dan ketahuilah bahwasanya usaha kamu akan sia-sia, kecuali Allah swt. memudahkan urusanmu.”

(… Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.)

Ar-Razi menulis, “Kehidupan dunia yang dipenuhi rezeki dari-Nya adalah kehidupan orang yang tahu bahwasanya tempat kembali-Nya adalah Allah swt, yakin bahwa perjalanan-Nya adalah menuju Allah.”

Penggalan ayat ini, pada hakikatnya, merupakan peringatan untuk menjauhi kekufuran dan kemaksiatan, baik di kala sendiri maupun di depan umum. Keselamatan kita di dunia merupakan kehendak dan rahmat-Nya, dan kalau saja Dia berkehendak maka bisa saja Dia membalikkan keadaan; seketika menurunkan hujan yang merusak dari awan yang dipaksa atas kehendak-Nya.