Perspektif Alternatif Mengkaji al-Quran

quran

Interaksi mayoritas umat Islam dengan al-Quran hanyalah membaca, tanpa ada usaha signifikan untuk memahaminya, menghapalnya dan mengamalkannya. Memang, “sekedar” membaca al-Quran saja Insya Allah sudah mendapatkan pahala, akan tetapi kalau berhenti pada level ini saja tidaklah cukup. Perlu ada usaha yang kuat untuk bisa naik ke tingkat selanjutnya.

Salah satu alternatif untuk meniti titian ke tingkat selanjutnya adalah memahami al-Quran dan mengamalkannya untuk kehidupan sehari-hari. Namun ternyata ini tidak mudah. Untuk bisa menafsirkan al-Quran memerlukan beberapa perangkat ilmu yang cukup complicated. Mungkin sangat mustahil bagi orang awam yang tidak memiliki dasar kuat ilmu-ilmu bantu tersebut untuk bisa menafsirkan al-Quran. Misalnya,  ayat tentang “kalimah sawa” (Ali Imrah, 3:63) menghasilkan penafsiran yang berbeda secara tajam antar intelektual Muslim. Untuk menafsirkan ayat ini, kita harus menguasai beberapa ilmu bantu seperti balaghoh, nahwu, sharaf dan ilmu tafsir. Hal itu pun tidak akan membuat mereka bertemu pada konsesus yang sama karena setiap orang memakai perspektif yang berbeda ketika menafsirkan ayat.

Bagi orang awam – yang tidak memiliki dasar keilmuan bantu yang mumpuni – menafisrkan ayat tersebut tidaklah mudah – untuk tidak mengatakan mustahil. Orang awam seperti ini lebih baik belajar ilmu-ilmu naqliyah aplikatif yang sudah “jadi” seperti fiqh, tauhid, dan siyasah yang telah dikembangkan oleh para ulama otoritatif daripada langsung berinteraksi dengan al-Quran, supaya tidak menyebabkan penafsiran yang sesat.

Lalu apakah kita (baca: orang awam) bisa langsung menikmati al-Quran secara langsung tanpa harus merujuk kepada cabang-cabang ilmu naqliyah di atas? Menurut saya bisa. Caranya adalah dengan memahami ayat-ayat yang termasuk dalam kategori panduan kehidupan dan obat penawar bagi kerumitan hidup. Misalnya ayat yang berbunyi “bisa jadi apa yang baik bagi kamu, belum tentu baik menurut Allah” (Al-Baqarah, 2:216); kita bisa mengeksplorasi ayat ini untuk menasehati kita untuk bersabar ketika tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Ibaratnya ayat-ayat tersebut berperan menggantikan buku-buku “how-to” yang sangat laris di pasaran atau kutipan motivator ulung seperti Mario Teguh dan Andrie Wongso. Dalam kaca mata saya, hal ini berarti kita memposisikan al-Quran sebagai as-syifa’; obat bagi segala kompleknya hidup. Atau tombo ati; obat hati yang menjadi penawar bagi hati yang resah dan gundah gulana. Saya melihat banyak ayat yang termasuk dalam kategori ini yang bisa dipahami meskipun dengan keilmuan bantu yang tidak terlalu dalam. Dan justru, jenis ayat seperti ini kalau dikompilasikan dan disebarluaskan akan sangat laris – melebihi larisnya buku how to yang tirasnya mengalahkan buku-buku serius seperti ilmu politik dan hukum.

Tentunya perspektif ini bukan dalam rangka mengkerdilkan al-Quran, yang sejatinya luas maknanya. Saya percaya bahwa dalam al-Quran terdapat prinsip-prinsip yang membimbing kita bagaimana kita menyikapi permasalahan pendidikan, politik, hukum, ketatatanegaraan, ekonomi dan alam semesta. Tapi, bagi orang yang awam, hal itu sangat sulit dijangkau karena keterbatasan ilmu bantu yang mereka punya. Walhasiil, supaya mereka bisa menikmati interaksi dengan al-Quran secara langsung, maka alangkah baiknya kalau kita menyodorkan perspektif interaksi al-Quran seperti ini. Dan inilah yang sedang saya gagas dalam blog ini. Insya Allah, semoga Allah meridhai kita semua, amiin.

Advertisements

Allah Maka Kuasa Terhadap Segala Sesuatu – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk (67, 20-21)

kabarmakkah.com

Sesungguhnya tidak ada satu orang pun yang menjadi penolong yang dapat menahan azab yang diturunkan oleh Allah swt jika Dia berkehendak, termasuk tuhannya orang-orang kafir. Hanya Allah swt lah – dengan sifat rahman-Nya – yang memiliki kuasa untuk melakukan itu semua.

Sesungguhnya tidak akan ada orang yang mampu mencegah ketika Allah swt berkendak untuk tidak menurunkan rezeki-Nya bagi umat manusia, termasuk tuhannya orang-orang kafir yang tidak memiliki kuasa sedikit pun. Allah swt – dengan sifat rahman-Nya – mencurahkan nikmat kepada setiap makhluk-Nya tanpa melihat apakah dia orang yang suka berbuat kebaikan atau orang yang suka berbuat maksiat, burung-burung di langit dan hewan-hewan di bumi. Semuanya merata mendapatkan nikmat dari-Nya.

Sayangnya, orang-orang kafir tetap dalam keadaan tertipu dan terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri dari kebenaran.

Menurut Al-Maroghi sesungguhnya mereka mengetahui itu semua dengan sebenar-benarnya, akan tetapi mereka tetap menyembah selain Dia. Perbuatan mereka ini tidak lain adalah pertentangan, kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran, dan yang menyebabkan mereka berani untuk berbuat seperti ini adalah bisikan setan yang menipu mereka, sehingga mereka menyangka bahwa tuhan-tuhan mereka akan memberi manfaat, menolak bencana dari mereka.

Dalam konteks modern, banyak manusia yang menuhankan ilmu pengetahuan. Mereka percaya, bahwasanya semakin canggih perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka semakin mereka tidak memerlukan kehadiran tuhan. Mereka yakin bahwasanya hal itu dapat menjauhkan mereka dari marabahaya yang selama ini ditakutkan oleh umat manusia seperti kelaparan dan bencana alam. Faktanya, iptek tetap tidak dapat mencegah manusia dari marabahaya berupa kelaparan akibat resesi ekonomi dan bencana alam.

Menurut Ar-Razi penyebab dari keengganan kaum kafir dalam menerima kebenaran ada dua: kekuatan yang berasal dari harta dan kekuasaan serta keyakinan bahwa berhala mereka (termasuk ilmu pengetahuan) dapat memberikan kebaikan dan mencegah dari semua kerusakan. Dan Allah swt menyanggah pendapat mereka ini dengan turunnya kedua ayat ini. (*)

Semua karena Allah

snopes.com

Dia lah yang melindungimu dari segala macam marabahaya. Ketika bahaya dan musibah datang, maka tidak ada satu tentara pun yang bisa menolong-Mu – entah itu hartamu, anak buahmu, bosmu, rakyatmu, keluargamu, doktermu dan yang lainnya – kecuali datang rahmat dan karunia-Nya.

Di negeri adidaya Amerika Serikat – yang konon memiliki sumber daya teknologi yang paling canggih di seantro jagad – ketika Allah swt mengirimkan Katrina, luluh lantak lah semua yang ada di bumi. Rumah rata dengan tanah. Mobil-mobil berterbangan. Kematian mengelilingi warganya. Namun sayang, mereka tetap menjadi orang-orang yang tertipu.

Siapa yang akan menurunkan hujan – apabila Dia tidak sudi untuk menurunkannya? Tidak ada seorang pun, hatta perkembangan teknologi ciptaan manusia. Hujan itulah yang menghidupi tumbuhan – yang mana kita bisa memakannya untuk bertahan hidup. Hujan jualah yang memberi minum hewan – yang mana itu adalah sumber kekuatan bagi kita. Namun, ketika Allah berkehendak untuk tidak menurunkan hujan, tidak ada seorang pun yang mampu menolaknya.

Lihatlah bagaimana ketika kekeringan melanda benua Afrika. Beribu hektar kebun tidak bernyawa. Ribuan hewan mati sia-sia. Manusia – dengan segala kecongkakannya – tidak berdaya untuk berbuat apa-apa. Namun, sayangnya, kebanyakan mereka tetap sombong dan tidak mau percaya. Enggan untuk mengambil pelajaran dari ini semua.

Semuanya karena Allah swt; baik itu berita baik maupun berita buruk. Maka, mengapa tetap berpaling dari-Nya? (*)

Inspirasi Ayat:

Al-Mulk (67, 20-21)

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ جُنْدٌ لَكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِنْ دُونِ الرَّحْمَٰنِ ۚ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ (*)أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَلْ لَجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ

Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. (*) Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?

Ulasan Kitab Tafsir: Surah al-Mulk ayat 16 – 19: Orang Kafir Tidak Dapat Menghindar Dari Azab Allah

hdwallpaperbackgrounds.net

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt memperlihatkan sifat tegas sekaligus rahmat-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya. Dia menunjukan bahwa Dia bisa menelan bumi dengan menggoncangkannya, atau mengirim badai yang disertai bebatuan sebagai balasan bagi orang-orang yang ingkar terhadap risalah-Nya, sebagaimana Dia melakukan hal-hal tersebut kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw. Namun, Dia pun menunjukan sifat rahmat-Nya ketika menjelaskan bahwa burung-burung dapat terbang untuk mencari rejeki, dan tidak terjatuh meskipun daya gravitasi senantiasa merongrongnya.

Al-Mulk 16 dan 17: Kuasa Allah untuk Mendatangkan Azab Bagi Kaum yang Ingkar

Dalam ayat-ayat di atas Allah swt memperingati manusia bahwasanya Dia sangat Maha Kuasa untuk mengguncangkan bumi dengan gempa yang sangat besar dan/atau mengirim badai yang disertai batu pada mereka secara tiba-tiba. Hal tersebut adalah bentuk peringatan bagi kaum kafir yang merasa nyaman dengan kekufurannya dan yakin bahwasanya mereka tidak akan mendapatkan bencana. Kelak mereka akan sadar bahwasanya pembangkangan ini mengandung konsekuensi yang pedih. Padahal, tercatat dalam sejarah, Dia swt melakukan hal serupa pada kaum-kaum terdahulu yang tidak mau menerima risalah yang dibawa oleh para rasul-Nya.

Menurut Al-Maroghi dan Jalaluddin & Jalaluddin bentuk peringatan atau ancaman yang pertama adalah goncangan bumi/gempa seperti yang menimpa Qorun yang menelan seluruh hartanya. Sedangkan ancaman yang kedua adalah badai yang disertai batuan kecil seperti yang menimpa Kaum Luth, dan ketika itu baru sadar akan dahsyat-Nya hukuman Tuhan, namun sayangnya penyesalan tidak akan bermanfaat ketika azab sudah menimpa.

Dalam beberapa ayat lain, Allah swt memberikan peringatan serupa kepada orang-orang kafir seperti dalam Q.S. Al-An’am (6/65), “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.

Atau dalam Q.S. Al-Isra’ (17/68), “Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu.”

Ar-Razi melihat bahwasanya pernyataan “Allah yang di langit” tidak mungkin untuk ditafsirkan secara tekstual berdasarkan penampakan ayat, karena eksistensi Allah di langit menunjukan bahwasanya langit meliputi-Nya dari segala sisi, maka Allah lebih kecil dari langit, dan langit lebih kecil dari ‘Arsy, dan keadaan Allah lebih kecil bila dibandingkan dengan ‘Arsy adalah suatu hal yang mustahil dalam kesepakatan Ahli Islam. Dalam ayat lain Allah swt bersabda, “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Bila merujuk pada ayat ini, kalau saja Allah swt berada di langit maka dia menjadi Penguasa bagi diri-Nya, dan ini adalah suatu hal yang mustahil. Maka kita mengetahui bahwasanya ayat ini harus ditakwil dari zahirnya.

Untuk diketahui bahwa perdebatan tentang “Di mana Allah bersemayam?” telah menjadi bahan perdebatan antara para ahli kalam dari dulu sampai sekarang.

Dalam kedua penggalan ayat tersebut, Allah swt menakut-nakuti para kaum kafir dengan memberikan contoh dan bukti. Salah satunya adalah apa yang menimpa kaum-kaum sebelum Nabi Muhammad saw.

Ayat 18: Hukuman untuk Kaum Terdahulu

Dalam beberapa ayat al-Quran, Allah swt telah menunjukan bukti bahwasanya Dia telah menghukum kaum yang tidak mau menerima risalah-Nya. Di antaranya adalah Qorun yang ditenggelamkan beserta hartanya, Kaum Luth yang diserbu badai disertai bebatuan, kaum Nuh yang telah ditenggelamkan banjir mahadahsyat, kaum Syuaib yang telah dibinasakan dengan petir, serta Fir’aun dan kaumnya telah ditenggelamkan di Laut Merah.

Hal ini untuk menunjukan bahwasanya Allah Mahabenar dengan semua peringatannya tentang turunnya azab bagi orang-orang yang ingkar kepada-Nya.

Untuk menunjukan kuasa-Nya, Allah swt memperlihatkan salah satu ayat-Nya, yaitu burung yang dapat terbang meskipun hal itu harus melawan gaya gravitasi.

Ayat 19: Burung-burung yang Beterbangan Sebagai Bentuk Kuasa-Nya

Al-Maroghi berkata, “Apakah mereka lalai akan Kuasa Kami dan tidak melihat burung-burung yang beterbangan di atas mereka. Terkadang burung-burung itu mengembangkan sayapnya ketika terbang dan kadang mengatupkannya. Tidak ada yang menahan burung-burung itu di udara ketika beterbangan dan melayang-layang dari kejauhan dan daya tarik bumi, meski bertentangan dengan tabiat organismenya yang berat. Selain dari keluasan rahmat pencipta-Nya yang telah menciptakannya dalam berbagai bentuk dan karakteristik. Dia-lah yang mengetahui dan mengajarkan kepadanya gerakan-gerakan yang dapat membantunya untuk belari di udara menempuh jarak yang jauh guna mendapatkan makanan dan mencari rejeki.

Al-Maroghi melanjutkan, “Sesungguhnya Allah swt Maha Mengetahui segala sesuatu, hal yang lembut maupun yang besar. Dia mengetahui bagaimana Dia harus menciptakanya menurut sunnah-sunnah yang Dia ketahui faidahnya bagi hamba-hamba-Nya.”

Buya Hamka, mengutip filosof Pakistan kenamaan, Allamah Muhammad Iqbal mengatakan bahwasanya fenomena tentang keseimbangan alam seperti contoh di atas adalah akibat dari Sifat Rahman dari Allah swt, sebagaimana dalam firman-Nya dalam Q.S. Al-An’am (6/12), “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.” (*)

Al-Mulk 15: Menjemput Rezeki

(15. Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.)

Syukur alhamdulillah, dan ini memang bentuk kuasa-Nya, bahwasanya Dia menciptakan bumi mudah untuk digarap. Dalam pemaknaan kata “dzalula: mudah” ada beberapa pendapat seperti yang ditulis oleh Ar-Razi;

Pertama, bahwasanya Allah swt tidak menjadikan bumi keras seperti gurun yang membuat kita susah untuk berjalan di atasnya.

Kedua, Allah swt menjadikan bumi lembut sehingga memungkinkan untuk digali, dan dibangun bangunan di atasnya. Kalau misalnya keras, maka akan sangat sulit untuk mengolahnya.

Ketiga, Kalau misalnya keras seperti batu, atau seperti emas dan besi, maka akan panas ketika musim panas, dan sangat dingin ketika musim dingin, dan hal ini akan sulit untuk ditanami.

Keempat, Allah swt membentangkan bumi ini dengan mengontrol pergerakan udaranya, sehingga, meskipun pada hakikatnya selalu bergerak dan berputar,  dia akan tetap terkontrol.

Ayat ini menganjurkan kita untuk meninggalkan rumah ke tempat kerja, entah itu kantor, lapak, ladang, hutan atau yang lainnya dengan maksud menjemput rezeki yang memang telah disiapkan oleh Allah swt.

Para ahli tafsir berselisih pendapat ketika menafsirkan kata “manakib”. Ada yang mengartikan gunung-gunung, pelosok-pelosok, pinggir-pinggir, dan ujung-ujungnya. Dalam konteks dunia modern saat ini – menurut hemat saya – tentu hal itu bisa ditafsirkan sebagai macam-macam lapangan pekerjaan yang memiliki medan berbeda-beda. Bisa jadi kantor untuk para pekerja kantoran, lapak untuk para pedagang, ladang untuk para petani, bahkan bisa juga rumah untuk mereka yang bergerak dalam bidang internet marketing. Yang penting, untuk menjemput rezekinya, kita harus bergerak dan terus berusaha.  

Apabila kondisi kampung kita tidak kondusif untuk menjemput rezeki-Nya, maka kita dianjurkan untuk pergi merantau, mencarinya di tempat lain, yang memang masih merupakan bumi Allah yang mudah untuk digarap.

Namun tentunya hal ini harus dibarengi dengan sikap tawakkal kepada Allah swt. Usaha harus tetap dibarengi dengan tawakkal, karena pada hakikatnya semua rezeki itu adalah milik Allah. Hal ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan oleh Umar Bin Khattab RA ”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

Ibnu Katsir mengatakan, “bepergianlah semau kamu di seluruh penjuru bumi dengan berbagai macam pekerjaan dan perdagangan, dan ketahuilah bahwasanya usaha kamu akan sia-sia, kecuali Allah swt. memudahkan urusanmu.”

(… Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.)

Ar-Razi menulis, “Kehidupan dunia yang dipenuhi rezeki dari-Nya adalah kehidupan orang yang tahu bahwasanya tempat kembali-Nya adalah Allah swt, yakin bahwa perjalanan-Nya adalah menuju Allah.”

Penggalan ayat ini, pada hakikatnya, merupakan peringatan untuk menjauhi kekufuran dan kemaksiatan, baik di kala sendiri maupun di depan umum. Keselamatan kita di dunia merupakan kehendak dan rahmat-Nya, dan kalau saja Dia berkehendak maka bisa saja Dia membalikkan keadaan; seketika menurunkan hujan yang merusak dari awan yang dipaksa atas kehendak-Nya.

Azab Neraka Bagi Orang Kafir – Q.S. Al Mulk (67/ 6-11) – Ulasan Kitab Tafsir

Ayat 6

Orang-orang yang mendustakan eksistensi Allah, niscaya mereka akan mendapatkan neraka jahannam, yang mana itu adalah sejelek-jeleknya tempat kembali. Semenjak dahulu sampai sekarang, selalu ada golongan manusia yang secara terang-terangan mengingkari ketuhanan Allah swt dan menyerang orang-orang yang menyeru masyarakat kepada-Nya. Bahkan mereka membangun organisasi non-pemerintah (non-government organization) yang memfokuskan diri pada kampanye pengingkaran kepada Tuhan. Richard Dawkins, seorang biolog asal Inggris, misalnya, menulis banyak buku (salah satunya “God Delusion”) dan artikel yang mengkampanyekan ateisme dan mengolok-olok kaum beragama dan mendirikan sebuah NGO bernama Richard Dawkins Foundation for Reason and Science (RDFRS) untuk membantu menjalankan misinya ini. Dia menggandeng para public figure terutama dari kalangan selebriti barat untuk menarik masyarakat awam supaya bergabung dalam gerakannya. Sampai saat ini usahanya terbilang sukses karena mendapatkan pendanaan yang cukup.

Terhadap orang-orang seperti ini, Allah swt telah menjanjikan neraka jahannam sebagai tempat kembali mereka. Balasan ini disiapkan karena mereka tetap tidak mau beriman, meskipun Allah swt telah memperingati mereka dalam berbagai risalah yang disampaikan oleh utusan-utusan-Nya.

Dalam ayat-ayat selanjutnya, Allah swt menggambarkan neraka sebagai suatu hal yang mengerikan.

Ayat 7

Ketika kaum tidak beriman dilemparkan ke dalam api neraka, mereka mendengar suara yang mengerikan dan neraka menggelegak panas membara. Dalam ayat ini, terdapat dua sifat neraka; a) memiliki suara menggelegar yang memekakan telinga, dan 2) menggelegak karena saking panasnya.

Menurut Jalaluddin & Jalaluddin suara mengerikan yang terdengar ketika kaum kafir dilemparkan ke dalam api neraka menyerupai suara keledai yang berteriak dan memekakan telinga. Dalam konteks budaya Arab, suara keledai dianggap sebagai sejelek-jeleknya suara di seantro alam semesta. Di sini, Allah seakan ingin menunjukan betapa hinanya orang yang dimasukkan ke dalam neraka akibat perbuatannya di dunia.

Menurut ar-Razi kaum kafir dimasukkan ke dalam neraka bak kayu bakar yang dilemparkan ke dalam api yang besar dan menggelegak. Setiap hal yang mendidih, pasti mengeluarkan bunyi yang menggelegak. Gelegak ini berasal dari kuali yang didalamnya terdapat campuran asap, kemarahan, dan air mata. Deskripsi ini menggambarkan ekspresi kemarahan neraka kepada orang-orang yang menyiakan hidup mereka di dunia dengan menafikan eksistensi Tuhan setelah datang penerangan dari para rasul.

Hal ini diperkuat dengan penjelasan pada ayat-ayat selanjutnya;

Ayat 8

Neraka hampir pecah disebabkan kemarahannya kepada orang-orang yang dimasukkan ke dalamnya. Dia merasa nyinyir karena kaum kafir tidak mendengarkan seruan dari para rasul dan ulama selama mereka masih hidup di muka bumi.

Al-Maroghi mengutip pendapat Al-Razi menjelaskan deskripsi kemarahan neraka ini dengan analogi terhadap proses kemarahan anak manusia. Menurut dia, tatkala seseorang marah, maka akan menyebabkan bergejolaknya darah di dalam tubuh. Ketika itu, darah akan membesar melebihi ukurannya pada waktu normal. Pembuluh darah akan menegang, dan akan semakin kuat tegangannya tatkala kemarahan semakin memuncak. Bagi orang yang memiliki riwayat hipertensi, hal ini bisa mengakibatkan pecahnya pembuluh darah.

Al-Razi kemudian memberikan beberapa argumen apabila ada yang mempermasalahkan analogi pecahnya neraka dengan meledaknya kemarahan seseorang, karena neraka bukanlah makhluk hidup seperti halnya manusia. Menurut dia ada tiga argument; 1) Konstruksi suatu hal tidaklah menjadi syarat kehidupan sesuatu, bisa saja Allah swt menciptakan neraka sebagai makhluk hidup, 2) ini merupakan analogi gelegar suara api neraka dengan mendidihnya kemarahan seseorang, dan 3) mungkin saja ini merupakan analogi kemarahan seseorang dengan kemarahan malaikat penjaga neraka.

Tatkala golongan manusia dari kaum kafir dimasukkan ke dalam api neraka, malaikat penjaga neraka, yaitu malaikat Malik yang dibantu dengan para malaikat Zabaniah, bertanya dengan sindiran tentang apakah telah dating kepada mereka pemberi peringatan (para rasul, wali, ulama dsb.) selama hidup di muka bumi. Ayat ini merupakan keadilan Allah swt bahwasanya taklif hanya berlaku kepada seseorang ketika dia sudah mendapatkan informasi tentang risalah Islam. Menurut Ar-Razi beberapa ulama berpendapat bahwa ayat ini menunjukan bahwa Allah swt hanya akan mengazab seseorang jika telah sampai kepadanya seorang pemberi peringatan baik dari para rasul, wali, ulama, dsb. Maka apabila belum datang kepadanya informasi tentang Islam, maka Allah tidak akan memberi azab di akhirat kelak.

Dalam dua ayat selanjutnya, Allah swt menggambarkan jawaban sekaligus penyesalan dari kaum kafir tentang sikap kufur selama hidup di dunia.

Ayat 9

Mereka mengakui bahwa selama di dunia, mereka telah mendapatkan informasi tentang risalah Islam dari para rasul dan penggantinya dari golongan wali dan ulama. Sayangnya, alih-alih membenarkan dan mengikuti kebenaran ini, mereka mengingkarinya, bahkan menuduh para rasul dan ulama dalam kesesatan yang nyata.

Kaum kafir melihat bahwasanya apa yang dibawa oleh para rasul bukanlah berasal dari Tuhan, dan mereka melihat tidak ada keistimewaan yang didapat oleh mereka sebagai pembawa risalah-Nya di muka bumi. “Kamu bukanlah seseorang, melainkan manusia seperti kita,” tandas mereka kepada para rasul.

“Kamu adalah orang-orang yang mengaku membawa kebenaran, padahal apa yang kamu sampaikan jauh darinya,” tambah mereka di hadapan para rasul.

Jelaslah mereka mengakui pengingkaran mereka terhadap risalah yang dibawa oleh para rasul dan diteruskan oleh para wali dan ulama. Ini adalah sebuah kezaliman yang telah mereka perbuat karena mereka sebenarnya telah diperingati tentang hal ini sebelumnya. Akan tetapi hawa nafsu mereka telah menutupi hati mereka untuk menerima kebenaran. Maka, sungguh sangat adil apabila Allah swt mengazab mereka di negeri akhirat.

Ayat 10

Akhirnya kaum kafir mengungkapkan penyesalan mereka yang tidak memanfaatkan anugerah telinga untuk mendengar dan akal untuk berpikir dan mencerna mencerna kebenaran yang dibawa oleh para rasul dan penerusnya dari golongan wali dan ulama, sehingga mereka tertipu oleh kenikmatan dunia dan konsekuensinya harus merasakan pedihnya siksa neraka di negeri akhirat.

Sejatinya, terselip dalam lubuk hati mereka keyakinan akan kebenaran wahyu Tuhan. Namun, karena nafsu angkara menjadi pegangan, hal ini menutup hati mereka untuk menerima kebenaran tersebut. Walhasil penyesalan menjadi sia-sia, dan mereka harus siap menghadapi siksa neraka.

Ayat 11

Penyesalan terhadap pengingkaran eksistensi Tuhan selama hidup di dunia menjadi sia-sia, karena alam akhirat adalah waktu pembalasan. Maka kebinasaan akan menghampiri bagi orang-orang kafir selama hidup mereka di akhirat, sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan selama hidup di dunia. (*)

 

Penyesalan yang Sia-Sia – Kandungan Q.S. Al-Mulk (67: 6-11)

sumber foto: jokowarino.id

Dalam beberapa tempat di al-Qur’an, Allah swt mendeskripsikan pedihnya siksa neraka yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir, yang mengingkari eksistensi Tuhan dan menolak untuk menjalankan syariat-Nya yang dibawa oleh para rasul.

Dalam Q.S. Al-Mulk (67: 6-11) misalnya Dia menyebut neraka sebagai sejelek-jeleknya tempat kembali bagi manusia, tatkala mereka memasuki negeri akhirat. Neraka akan menyambut para calon penghuninya dengan lengkingan yang menggelegar seperti erangan keledai yang begitu memekikan telinga. Hampir saja neraka terbelah karena erangan kemarahan yang sangat memuncak ketika kaum kafir hendak dijebloskan ke dalamnya.

Seperti dalam ayat-ayat lain yang menggambarkan pedihnya siksa neraka, tipikal ayat seperti ini selalu bersifat fenomenal dan dahsyat. Hal ini seakan ingin menunjukan betapa hinanya pengingkaran terhadap Tuhan dan syariat-Nya yang dibawa oleh para rasul selama hidup di dunia.

Beberapa ahli berpendapat bahwa deskripsi detail tentang pedihnya neraka – dan indahnya surga – mengandung makna majazi, mengingat dalam keterangan lain disebutkan bahwa gambaran tentang keindahan surga tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Artinya, kita tidak mungkin bisa membayangkan apa yang terjadi di sana, sama persis dengan apa yang kita temui di dunia.

Intinya, gambaran tersebut hanya ingin menunjukan betapa indahnya kenikmatan surga dan pedihnya siksa neraka tanpa berpretensi untuk memberikan deskripsi detail tentang apa yang terjadi di sana secara real.

***

Gambaran tentang pedihnya siksa neraka selalu disisipi ungkapan penyesalan yang dilontarkan oleh kaum kafir yang secara nyata melihat kebenaran kalam Tuhan ketika mereka sudah masuk ke alam akhirat. Dalam Q.S. An-Naba’ (78: 40) diceritakan bahwa kaum kafir berharap dilahirkan menjadi debu saja tatkala melihat hisaban amalan mereka di dunia dan bayangan pedihnya siksa neraka yang akan mereka hadapi.

Dalam Q.S. Al-Mulk (67: 6-11) pun diceritakan penyesalan kaum kafir karena mereka tidak mau menggunakan akal dan telinga mereka untuk mencerna kebenaran yang dibawa oleh para rasul, sehingga harus menanggung konsekuensinya di akhirat. Namun tentunya, penyesalan itu adalah sia-sia dan mereka akan tetap terjauh dari rahmat Allah swt di alam akhirat. (*)

Kesempurnaan Ciptaan Allah swt vs Ketidaksempurnaan Ciptaan Manusia

dream.co.id

Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan cepat sebagai buah dari penelitian yang dilakukan secara masif dan berkelanjutan serta didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni dan berdedikasi.

Umat manusia melakukan investasi besar-besaran dalam bidang sains dengan menyiapkan pendanaan tak terbatas (unlimited funding) untuk menyekolahkan para ilmuwan, membangun laboratorium-laboratorium penelitian, hingga mengembangkan sumber daya alam terbarukan (renewable natural resources). Kolaborasi antara ilmuwan dan penyandang dana menghasilkan penemuan-penemuan yang diharapkan mampu membawa manusia pada kesejahteraan yang paripurna.

Sayangnya, harapan tidak mesti sesuai dengan kenyataan. Keinginan untuk meraih kesejahteraan tidak sepenuhnya dapat diraih, karena dalam titik tertentu pencapaian mengagumkan ras manusia ini justru menimbulkan masalah-masalah baru yang tidak terpikirkan oleh mereka sebelumnya.

Disamping hal-hal positif yang dinikmati manusia sebagai berkat perkembangan iptek, ada ekses negatif yang tidak bisa kita anggap sepele. Misalnya, tren perkembangan teknologi gawai nyatanya dibarengi dengan tercerabutnya kohesi sosial dalam pergaulan manusia. Dewasa ini, manusia milenial lebih tertarik berinteraksi secara maya daripada bertemu secara nyata. Sering kita baca berita tentang remaja yang meninggal karena terlalu lama bermain permainan daring (online game), atau potret pertemuan keluarga masa kini, di mana yang dulunya hangat dengan obrolan antar anggota, kini dingin karena semua orang disibukkan dengan ponsel pintar mereka.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak didasari dengan kebijaksanaan menimbulkan berbagai masalah kompleks seperti kerusakan lingkungan yang akut. Pertumbuhan kota-kota industri sebagai respons dari permintaan (demand) masyarakat modern akan produk-produk hasil rekayasa industri, menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius. Di beberapa kota industri di negeri Tiongkok, misalnya, masyarakat harus rela kehilangan hak mereka untuk mendapatkan udara dan air bersih karena dua kebutuhan dasar tersebut telah tercemari sebagai akibat pertumbuhan pabrik-pabrik yang tidak terkontrol.

Para ahli berpendapat bahwa kerusakan lingkungan ini mengancam keberlanjutan hidup umat manusia di masa yang akan datang. Pemanasan global (global warming) yang disebabkan oleh penggunaan zat-zat berbahaya dalam konsumsi rumah tangga (misalnya penggunaan freon yang berlebihan) membawa bumi pada ambang kehancuran. Eksploitasi sumber daya alam yang rakus menyebabkan kelangkaan energi terutama bagi umat manusia di masa yang akan datang.

Karya cipta manusia yang penuh dengan kekurangan sangat kontras dengan ciptaan Allah yang begitu paripurna. Allah menciptakan alam semesta tanpa meninggalkan cacat sama sekali. Bahkan dalam “kecacatan” pun ada kesempurnaan. Misalnya, orang dengan disabilitas, meskipun dianggap penuh kekurangan, tapi nyatanya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia normal pada umumnya.

Planet bumi yang berada dalam sistem galaksi yang sangat luas, nyatanya bisa aman dari gesekan atau serangan benda-benda luar angkasa lainnya karena ada lapisan atmosfir yang melindunginya. Langit yang tinggi menjulang tidak runtuh meskipun tidak ada tiang yang menyangganya. Air yang sangat banyak tidak tumpah, meskipun bumi ini bulat. Berbagai kesempurnaan ini seharusnya membuat manusia semakin kagum akan ciptaan-Nya.

Allah swt menantang manusia untuk menemukan cacat dalam ciptaan-Nya (Q.S. 67: 3-4). Dia swt mengklaim bahwa manusia tidak akan pernah menemukannya. Semakin manusia menggali ciptaan-Nya, semakin mereka kagum dan tercengang. Kekaguman ini jika dilandasi dengan keimanan akan menghasilkan pribadi ilmuwan yang rendah hati dan antusias dalam mengorek lagi misteri yang belum tersibak dari alam semesta. Mereka akan menganggap bahwa semua penciptaan Allah tidak sia-sia.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”” (Q.S. 3: 190-191). (*)