Perspektif Alternatif Mengkaji al-Quran

quran

Interaksi mayoritas umat Islam dengan al-Quran hanyalah membaca, tanpa ada usaha signifikan untuk memahaminya, menghapalnya dan mengamalkannya. Memang, “sekedar” membaca al-Quran saja Insya Allah sudah mendapatkan pahala, akan tetapi kalau berhenti pada level ini saja tidaklah cukup. Perlu ada usaha yang kuat untuk bisa naik ke tingkat selanjutnya.

Salah satu alternatif untuk meniti titian ke tingkat selanjutnya adalah memahami al-Quran dan mengamalkannya untuk kehidupan sehari-hari. Namun ternyata ini tidak mudah. Untuk bisa menafsirkan al-Quran memerlukan beberapa perangkat ilmu yang cukup complicated. Mungkin sangat mustahil bagi orang awam yang tidak memiliki dasar kuat ilmu-ilmu bantu tersebut untuk bisa menafsirkan al-Quran. Misalnya,  ayat tentang “kalimah sawa” (Ali Imrah, 3:63) menghasilkan penafsiran yang berbeda secara tajam antar intelektual Muslim. Untuk menafsirkan ayat ini, kita harus menguasai beberapa ilmu bantu seperti balaghoh, nahwu, sharaf dan ilmu tafsir. Hal itu pun tidak akan membuat mereka bertemu pada konsesus yang sama karena setiap orang memakai perspektif yang berbeda ketika menafsirkan ayat.

Bagi orang awam – yang tidak memiliki dasar keilmuan bantu yang mumpuni – menafisrkan ayat tersebut tidaklah mudah – untuk tidak mengatakan mustahil. Orang awam seperti ini lebih baik belajar ilmu-ilmu naqliyah aplikatif yang sudah “jadi” seperti fiqh, tauhid, dan siyasah yang telah dikembangkan oleh para ulama otoritatif daripada langsung berinteraksi dengan al-Quran, supaya tidak menyebabkan penafsiran yang sesat.

Lalu apakah kita (baca: orang awam) bisa langsung menikmati al-Quran secara langsung tanpa harus merujuk kepada cabang-cabang ilmu naqliyah di atas? Menurut saya bisa. Caranya adalah dengan memahami ayat-ayat yang termasuk dalam kategori panduan kehidupan dan obat penawar bagi kerumitan hidup. Misalnya ayat yang berbunyi “bisa jadi apa yang baik bagi kamu, belum tentu baik menurut Allah” (Al-Baqarah, 2:216); kita bisa mengeksplorasi ayat ini untuk menasehati kita untuk bersabar ketika tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Ibaratnya ayat-ayat tersebut berperan menggantikan buku-buku “how-to” yang sangat laris di pasaran atau kutipan motivator ulung seperti Mario Teguh dan Andrie Wongso. Dalam kaca mata saya, hal ini berarti kita memposisikan al-Quran sebagai as-syifa’; obat bagi segala kompleknya hidup. Atau tombo ati; obat hati yang menjadi penawar bagi hati yang resah dan gundah gulana. Saya melihat banyak ayat yang termasuk dalam kategori ini yang bisa dipahami meskipun dengan keilmuan bantu yang tidak terlalu dalam. Dan justru, jenis ayat seperti ini kalau dikompilasikan dan disebarluaskan akan sangat laris – melebihi larisnya buku how to yang tirasnya mengalahkan buku-buku serius seperti ilmu politik dan hukum.

Tentunya perspektif ini bukan dalam rangka mengkerdilkan al-Quran, yang sejatinya luas maknanya. Saya percaya bahwa dalam al-Quran terdapat prinsip-prinsip yang membimbing kita bagaimana kita menyikapi permasalahan pendidikan, politik, hukum, ketatatanegaraan, ekonomi dan alam semesta. Tapi, bagi orang yang awam, hal itu sangat sulit dijangkau karena keterbatasan ilmu bantu yang mereka punya. Walhasiil, supaya mereka bisa menikmati interaksi dengan al-Quran secara langsung, maka alangkah baiknya kalau kita menyodorkan perspektif interaksi al-Quran seperti ini. Dan inilah yang sedang saya gagas dalam blog ini. Insya Allah, semoga Allah meridhai kita semua, amiin.

Advertisements

Tantangan Perjuangan

Saat ini kita sedang berjuang di medan pendidikan, berbentuk pondok pesantren. Lembaga ini tidak hanya menjadi sumber ilmu-ilmu keagamaan (qauliyah) dan ilmu-ilmu tentang kehidupan (kauniyah) akan tetapi juga tempat pendadaran para calon pemimpin Muslim. Di dalamnya tercakup pengajaran Islam sekaligus pendidikan Islam yang integral dan komprehensif.

Tentu berjuang di pesantren tidaklah mudah. Ada banyak tantangan, godaan bahkan mungkin hinaan yang membuat hati ini ciut. Beberapa di antaranya adalah tantangan berupa murid yang tidak taat pada aturan, keterbatasan sumber daya baik material maupun finansial dan gesekan dengan kolega dan pimpinan.

Murid-murid di pesantren tidaklah homogen, melainkan heterogen; terdiri dari berbagai karakter dan latar belakang. Banyak santri yang taat terhadap aturan dan siap untuk mendapatkan pendidikan di pesantren, akan tetapi banyak pula santri yang tidak siap dengan peraturan yang ada. Walhasil, banyak santri-santri devian karena tidak mampu beradapsi dengan lingkungan pesantren.

Belum lagi tekanan dari orang tua yang seringkali tidak paham dengan kultur pesantren. Ada orang tua yang memosisikan diri sebagai majikan (karena sudah membayar) dan melihat stakeholders pesantren sebagai jongos (karena sudah dibayar). Pesantren seringkali disetir oleh orang tua supaya bisa menjadi apa yang mereka inginkan. Hal ini seringkali membuat sekolah sulit untuk meraih goal yang sudah ditetapkan.

Karena pondok pesantren sepenuhnya swasta, tentu kita akan mudah sekali berhadapan dengan keterbatasan, baik dalam hal material maupun finansial. Karena sepenuhnya bergantung pada iuran dari santri, maka pondok selalu memiliki kekurangan dalam hal fasilitas seperti sumber belajar, sarana olahraga, sarana umum, dan lain sebagainya. Sebagai seorang guru tentu ini sangat membuat frustasi karena kita tidak bisa mengembangkan pengajaran ideal yang memberdayakan media pembelajaran yang maksimal.

Di sisi lain, beban kerja yang berat seringkali tidak berbanding dengan kesejahteraan yang diberikan oleh pondok. Boro-boro mikir kesejahteraan, pondok sudah cukup sulit berkubang dengan permasalahan sarana dan prasarana karena iuran santri tidak cukup untuk mendanai proses pendidikan. Walhasil ini menjadi tantangan sendiri bagi para guru terutama bab keikhlasan.

Pesantren adalah sebuah entitas sosial tersendiri yang di dalamnya terbentuk stratifikasi sosial yang cukup mapan. Ada kiai sebagai orang nomor satu di lembaga. Ditambah dengan putra-putri, adik-kakak, bibi-paman kiai biasanya menempati posisi puncak di pesantren.

Guru seringkali berada pada posisi subordinan dan menjadi obyek penderita atas semua permasalahan yang ada di pesantren. Maka wajar para guru akan sering mendapatkan koreksi, teguran dan tekanan-tekanan psikologis lainnya ketika menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Ini pun akan menjadi tantangan yang cukup membuat kita ketar-ketir.

Tantangan yang sangat besar di pesantren berbanding lurus dengan godaan yang menggiurkan di luar pesantren. Di luar sana ada banyak tawaran untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan beban kerja yang relatif tidak berat dan membuat stress. Faktor tantangan internal menjadi daya dorong dan faktor godaan eksternal menjadi daya tarik kita untuk meninggalkan tugas mulai mendidik anak-anak bangsa di pondok pesantren.  

Kalau kita tidak pandai tentu hal ini akan membuat kita menyerah. Pada titik tertentu kita akan bersikap apatis dan mungkin berpaling dari kewajiban. Banyak para pejuang kita yang berguguran karena tidak siap menghadapi tantangan yang begitu besar di pondok dan godaan menggiurkan yang ditawarkan oleh dunia luar.

Supaya kita tidak terjebak dalam kondisi ini, alangkah lebih baiknya apabila kita merenungkan hikmah dari Q.S. Al-Qalam ayat 48-50.

Karena tidak kuat dengan resistensi kaum yang diserunya, Nabi Yunus a.s. meninggalkan medan dakwah dan pulang ke kampung halamannya. Dia a.s merasa tidak akan berhasil selama orang yang diserunya konsisten dalam memberikan penolakan atas misinya.

Syukur Alhamdulillah, Allah swt masih menyayanginya. Dia swt menegur Yunus a.s. dengan membuatnya dilempar dari perahu yang ditumpanginya dan dimakan oleh paus yang cukup besar. Di dalam ikan, Nabi Yunus a.s akhirnya bertobat seraya memohon ampunan pada-Nya.

Setelah diselamatkan dari perut ikan, Yunus a.s. kembali berdakwah di kaumnya dan berhasil mengislamkan mereka. Walhasil dia a.s. ditempatkan menjadi orang-orang yang terpilih dari kaum saleh.

Tadabbur ayat ini hendaknya menguatkan kita untuk terus berjuang di pondok pesantren sebagai ladang amal kita. Apabila kita berhasil berdamai dengan tantangan dan godaan yang menghadang, Insya Allah kita akan menuai hasil dari apa yang telah kita tanam. Aamiin.

Dua Alasan Pengingkaran Kaum Kafir dan Bantahan Terhadapnya – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Qalam ayat 46-47

Allah swt menyebutkan beberapa kemungkinan kaum kafir enggan untuk percaya terhadap risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw (baca: Risalah Alquran). Pertama, mereka berpikir bahwa untuk mengikuti kajian-kajian yang diadakan Rasul saw, mereka harus menyiapkan upah – yang kelak menjadi hutang bagi mereka – sebagai balasan atas kerja Rasul saw. Kedua, pengetahuan mereka terhadap hal-hal yang gaib sehingga mampu menyangkal kenabian Muhammad saw.

Dalam realitanya, kedua hujjah tersebut tidak pernah terbukti. Dalam menjalankan misi-Nya, Rasul saw tidak pernah mengutip upah sepeser pun. Justru beliau harus banyak berkorban baik harta maupun tenaga demi tegaknya risalah Islam. Pun begitu, Kaum Kafir Quraisy tidak pernah memiliki informasi tentang hal-hal gaib, sehingga tidak ada satu pun argumen yang bisa mereka gunakan untuk membantah kenabian Muhammad saw.

***

Namun, pada akhirnya, menurut Al-Maroghi Kaum Kafir Quraisy tetap enggan untuk mengikuti Rasul saw meskipun telah terbentang di hadapan mereka bantahan atas kemungkinan alasan atas keraguan mereka terhadap risalah yang dibawa oleh Alquran.

Fakta bahwa Nabi saw tidak pernah mengutip sepeserpun ujrah atas misi kenabiannya dan ketidaktahuannya Kafir Quraisy atas apa yang tertulis di lauhul mahfudz tidak terbantahkan. Tapi, kebodohan (jahl) dan keras kepala (‘inad) membuat mereka tetap jauh dari hidayah.

Menurut Buya Hamka kedua ayat ini adalah pertanyaan ingkar dari Allah swt atas fakta pengingkaran Kafir Quraisy. Tentu, Allah swt bukan tidak mengetahui hal ini sehingga perlu menanyakannya, akan tetapi lebih dimaksudkan menohok argumen yang mereka yakini.

***

Ada sejuta alasan untuk kita tidak mempercayai risalah Islam, tetapi ada berjuta argumen lainnya yang membantahnya, baik  dari ayat-ayat qauliyah seperti termaktub dalam Alquran dan Hadis, maupun ayat-ayat kauniyah yang terbentang dalam alam semesta ini.

Namun, kebodohan dan sikap keras kepala akan tetap membuat kita semakin jauh dari pintu hidayah. Na’udzubillah. []

Perhitungan Allah swt Kepada Kaum yang Mendustakan Ajaran Al-Qur’an – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Qalam ayat 44-45

Ilustrasi

Ketika menjalankan misi dakwahnya, Rasul saw seringkali mendapatkan resistensi dari orang-orang yang mendustakan risalah kenabian beliau. Ada yang mencap beliau gila. Ada juga yang meludahi beliau ketika hendak pergi ke masjid, dan mengencingi tempat salat beliau. Bahkan, beberapa pembesar Kaum Quraisy memprovokasi paman beliau untuk menghentikan dakwah keponakannya. Dan banyak intimidasi lainnya, yang tentu secara manusiawi membuat Nabi saw gelisah.

Namun, Allah swt, melalui ayat ini menegaskan bahwa urusan dengan orang-orang tersebut janganlah Nabi saw pusingkan. Percayakan perhitungannya kepada Allah swt, karena Allah swt telah menyiapkan azab dari arah yang mereka tidak duga.

Sekilas, memang azab ini tidak kelihatan karena bentuknya adalah ‘kenikmatan’ yang banyak dan kehidupan yang normal. Seakan tidak akan terjadi apa-apa dengan melakukan pembangkangan. Namun, semua itu hakikatnya adalah tipu daya yang melenakan. Karena sifatnya yang laten, mereka menjadi lengah, sehingga ketika azab Allah swt datang pada waktunya, mereka tidak memiliki persiapan sama sekali.

***

Prof. Maroghi melihat bahwa ayat ini adalah respon dari Allah swt untuk menghibur Nabi saw di saat tantangan yang datang bertubi-tubi saat mengemban tugas kenabian. Lebih jauh, Prof. Hamka menerangkan bahwa Rasul saw diperintahkan untuk terus berjuang, tanpa harus mengindahkan hinaan, cacian dan olokan dari kaum Kafir Quraisy. Allah swt telah menyiapkan perangkap (kaid) bagi mereka berupa nikmat yang banyak dan penangguhan azab yang membuat mereka lengah dan congkak; sampai pada satu saat azab datang di hadapan mereka.

Perihal nikmat yang diberikan kepada kaum kafir di saat resistensi mereka yang kuat terhadap dakwah Nabi saw, Fakhruddin Ar-Razi berpendapat bahwa kebaikan (nikmat) tersebut besifat matanah (keras), karena efeknya yang dapat mendorong pada kerusakan. Model azab seperti ini – dinamakan juga istidraj – justru lebih berbahaya dari siksaan langsung, karena membuat orang terlena dan merasa tidak perlu untuk bertobat.

Menurut Hamka, kenikmatan yang mereka dapatkan akan membuat mereka semakin congkak dan besar kepala. Pembangkangan mereka kepada usaha dakwah Nabi saw semakin hari semakin besar karena mereka merasa aman atas apa yang mereka perbuat. Mereka tidak tahu, bahwa sesungguhnya Allah swt telah menyiapkan siksa yang sangat pedih dalam arah yang mereka tidak ketahui.  

Fakhruddin Ar-Razi mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah swt menegaskan Kemahakuasaan-Nya dalam bertindak, dan tidak ada satu pun yang bisa mencegah-Nya. Orang kafir boleh saja membuat makar yang sangat keras kepada dakwah Nabi saw, namun hal itu tidak sebanding dengan makar Allah swt terhadap mereka.

Pertarungan Wacana – Inspirasi Alquran

sumber foto: pinterest

PERTARUNGAN wacana senantiasa menghiasi ruang publik kita. Dulu, ketika Nabi saw sedang fokus menyebarkan dakwah, dan hal itu dirasa mengancam eksistensi kaum kafir Quraisy – terutama para pembesarnya, beliau mendapatkan serangan baik secara fisik maupun psikis.

Khusus serangan psikis, itu ditujukan untuk menyerang Rasul saw secara psikologis melalui pelemparan wacana kepada khalayak ramai, agar dia saw dan pengikutnya merasa terpojok dalam ruang publik. Salah satu serangan yang gencar dilakukan adalah penyebaran isu bahwasanya Nabi saw memiliki cacat mental. Serangan ini nampaknya cukup efektif. Buktinya beberapa kali Rasul saw down, dan secara khusus harus mendapatkan motivasi dari Allah swt melalui wahyu yang diturunkan.

Namun, tidak ada yang bisa menahan laju kehendak Allah swt. Beberapa counter-attack dilakukan melalui turunnya wahyu yang merespon serangan ini. Wahyu tersebut memiliki dua fungsi: sebagai healing bagi Nabi saw dan pengikutnya sekaligus menjadi serangan balik bagi kaum Kafir Quraisy.

Dan nyatanya Alquran melakukan hal ini dengan sangat baik; memberikan fakta-fakta logis yang memperkuat argumen serangan.  Pertama, Alquran menjelaskan bahwa bagaimana mungkin orang yang baik akhlaknya dan luhur budinya – seperti halnya Rasul saw – bisa dicap sebagai orang gila. Tentu ini sangat bertentangan dengan akal sehat. Kedua, argumen yang menunjukan bahwa justru serangan tanpa tedeng-aling tersebut mempertontonkan keputus-asaan mereka dalam menahan laju dakwah Rasul saw, sehingga tuduhan tentang cacat mental justru dengan mudah kembali kepada mereka.

***

Fakta sejarah di atas menunjukan bahwa perebutan wacana dalam ruang publik sudah lumrah dilakukan sebagai salah satu strategi dalam menyerang lawan secara psikologis. Ini juga yang kita lihat dalam proses berbangsa di negeri ini, terutama ketika menghadapi hajat limat tahunan pemilihan umum.  

Dalam masa kampanye ruang publik kita penuh dengan saling lempar tuduhan antar pendukung paslon: antek PKI, antek-asing, anti-ulama, antek-hizbut tahrir, radikal, dan tuduhan peyoratif lainnya yang berfungsi untuk menghancurkan karakter lawan. Dan ini berhasil: publik mengonsumsi mentah-mentah isu ini sehingga menimbulkan kecurigaan antar anak bangsa.

Paska pencoblosan, hiruk pikuk tak otomatis berhenti. Kedua kubu saling klaim kemenangan dan melancarkan wacana-wacana yang memengaruhi publik. Beberapa saluran komunikasi massa dimanfaatkan untuk melancarkan usaha ini sehingga setiap detik ruang publik kita senantiasa riuh dengan bahasa perpolitikan tanpa ujung ini.

Entah siapa yang benar, akan tetapi hal ini jelas kontra-produktif mengingat yang sedang berkelahi adalah sama-sama anak bangsa, bukan antara kafir dengan muslim seperti yang terjadi di zaman Rasul saw. Atau antara kolonial dengan pribumi seperti yang terjadi pada masa pra-kemerdekaan.

Dalam pandangan picik saya sudah saatnya kita mengakhiri konflik horizontal tak berkesudahan ini. Energi bangsa ini insya Allah akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk perbaikan umat ke depan. Semoga Allah swt senantiasa melindungi seluruh bangsa Indonesia. Wallahu a’lam. []

Istidraj – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 44-45

pinterest

Apakah nikmat yang Allah swt berikan adalah anugrah kemuliaan dari-Nya? Belum tentu. Bisa jadi justru itu adalah bentuk penghinaan-Nya sebagai balasan atas pengingkaran pada syariat-Nya dan pembangkangan terhadap-Nya.

How come?

Kenikmatan jenis ini – yang sejatinya adalah penghinaan atau dalam bahasa Alquran dinamakan istidraj – entah itu berbentuk umur yang panjang, kesehatan yang prima, dan harta yang melimpah adalah bentuk penangguhan Allah swt atas azab yang akan Dia timpakan kepada penerimanya.

Limpahan nikmat tersebut akan membuat mereka terlena dan merasa percaya diri: everything’s fine with their life. Lalu, hal itu membuat mereka tidak perlu merasa bersalah, meskipun telah menjadi bagian terdepan dari mereka yang menentang syariat Allah swt.

Mereka percaya bahwa menyerang syariat-Nya tidak akan berdampak apa-apa, baik itu untuk kehidupan mereka di dunia maupun di akhirat. Buktinya, selama ini mereka baik-baik saja. Mereka tidak salat, misalnya, akan tetapi tetap bisa makan, bahkan melebihi dari apa yang didapat oleh orang-orang yang tunduk pada syariat-Nya.

Seperti yang telah saya ungkapkan di muka, sejatinya nikmat tersebut adalah tipu daya Allah swt terhadap mereka, sehingga mereka tidak sadar bahwa suatu saat nanti, secara perlahan, Allah swt akan menjerumuskan mereka pada jurang kehinaan. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah min zalik.


Allah swt menangguhkan azab bagi orang zalim – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 43 – 52

pinterest.

Seringkali Allah swt mengazab kaum zalim dalam arah yang tidak mereka sadari. Ujug-ujug terjadi bencana. Tanpa tedeng aling timbul resesi ekonomi.

Azab Allah swt sifatnya tidak cash and carry. Tapi seringkali ditangguhkan. Sehingga sangat mungkin ini membuat mereka merasa congkak dan aman dari konsekuensi pengingkaran terhadap kebenaran Alquran.

Lihat saja sekarang. Orang-orang yang melakukan kerusakan di muka bumi ini bisa hidup aman. Bahkan mereka mengolok-olok kaum beriman, “Lihatlah kami! Tanpa beriman kepada Tuhan pun, kita bisa hidup dengan aman dan tenteram.”

Namun, kita sebagai manusia beriman percaya bahwa azab Allah swt pastilah adanya. “Kami menangguhkan azab kepada mereka, tapi rencana Kami sangatlah dahsyat,” begitu firman Allah dalam Q.S. Al-Qalam ayat 45.

Ini adalah ancaman keras dari Allah swt kepada orang-orang yang mendustakan Alquran. Memang Allah swt kadang lembut dan demokratis, tapi di lain tempat bisa jadi sangat keras kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran Alquran. Tentu kita sebagai umat beriman harus bijak menyikapinya.

Alangkah baiknya peringatan ini, sebelum ditujukan kepada orang lain, diarahkan dulu pada diri kita pribadi, keluarga dan lingkungan di sekitar kita. Apakah kita sudah menjadi orang yang pertama kali mencintai dan mengamalkan Alquran? Apakah keluarga dan lingkungan kita sudah melakukan hal yang sama dengan kita? Saya kira itu lebih baik, dari sekedar menunjuk hidung orang lain dan merasa diri paling benar. Wallahu a’lam. []

Tentang resistensi kaum kafir, biarkan Allah swt menunaikan janji-Nya – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 44 – 52

Richard Dawkins. Pinterest.

SUDAH menjadi mafhum bahwa perjuangan menegakkan risalah Allah swt di muka bumi akan disertai jalan terjal berupa cemoohan, olok-olok bahkan ancaman pembunuhan.

Apalagi konteks sekarang, ketika ras manusia berada pada puncak kemajuannya, akan sangat sulit bagi mereka untuk menerima kebenaran yang berasal dari Tuhan yang termaktub dalam kitab suci yang dibawa oleh Nabi saw.

Saat ini pertentangan ideologi dan nilai-nilai semakin keras di saat tumbuh subur isme-isme hasil dialektika manusia dengan alam pikirannya dan realitas sosial. Paham-paham yang mengingkari eksistensi Tuhan dan menolak syariat-Nya semakin beragam dan berevolusi menjadi sebuah gerakan kesadaran terutama dukungan terhadap humanisme dan penyelidikan ilmiah.

Orang model Richard Dawkins tidak hanya mendeklarasikan diri sebagai seorang ateis, akan tetapi juga menjadi ‘nabi’ bagi orang-orang yang menolak eksistensi Tuhan. Selayaknya nabi pada umumnya, dia membuat sebuah gerakan masif untuk memengaruhi masyarakat tentang betapa pentingnya penyelidikan ilmiah dan bahaya ‘tahayul’ agama dalam gerakan ini.

Usaha yang dilakukan Dawkins yang didukung oleh para pesohor dunia maupun lokal akan terus berbenturan dengan para agamawan yang menjalankan misi mereka untuk melanjutkan perjuangan para nabi dalam menyebarkan risalah Tuhan.

‘Perang’ ini tidak hanya terjadi dalam ruang fisik, akan tetapi muncul juga dalam ruang non-fisik (maya) yaitu perseteruan di media sosial, bahkan dalam eskalasinya dalam titik tertentu melebihi dunia nyata.

Maka wajar apabila muncul olokan dari mereka kepada kaum agamawan dan manusia beragama lainnya sebagai kaum delusional yang tertipu sihir kitab suci, seperti halnya Nabi Muhammad saw dicap sebagai orang gila oleh pembesar Kafir Quraisy.

Dalam merespon serangan terhadap misi Nabi saw dan para penerusnya, Allah swt menegaskan kepada mereka untuk tidak terlalu memikirkannya. Apapun cobaan yang mereka hadapi, dakwah harus terus berjalan. The show must go on. Kita tidak boleh selangkah pun mundur dari perjuangan ini.

Allah swt menyuruh kita untuk mengambil pelajaran dari pertaubatan Nabi Yunus as yang meninggalkan misi perjuangan hanya karena mendapatkan resistensi dari kaumnya. Untungnya, beliau menyadari kesalahannya dan diangkat derajatnya oleh Allah swt sebagai orang-orang yang salih dalam barisan para nabi dan rasul.

Adapun perhitungan bagi mereka yang konsisten menentang misi ini, kita kembalikan kepada Allah swt. Dia swt berjanji bahwa mereka akan setahap demi setahap menerima balasan dari-Nya dari arah yang mereka tidak ketahui. Kalaupun tidak sekarang, suatu saat nanti, mereka akan menerima konsekuensinya. Kalau tidak dunia, tentu mereka tidak akan mengelak dari siksa Allah di akhirat kelak.

Tentang hinaan dan olokan kaum sekuler yang tidak suka Islam menyebar di muka bumi, kita harus menahan diri. Jangan itu membuat kita kalap, sehingga kita membalasnya dengan serupa olokan yang jauh dari akhlak Islam. Atau menjadi merasa letih dan memutuskan untuk berhenti dalam berjuang. Kita kembalikan semuanya kepada Allah swt. Wallahu a’lam. []