Perspektif Alternatif Mengkaji al-Quran

quran

Interaksi mayoritas umat Islam dengan al-Quran hanyalah membaca, tanpa ada usaha signifikan untuk memahaminya, menghapalnya dan mengamalkannya. Memang, “sekedar” membaca al-Quran saja Insya Allah sudah mendapatkan pahala, akan tetapi kalau berhenti pada level ini saja tidaklah cukup. Perlu ada usaha yang kuat untuk bisa naik ke tingkat selanjutnya.

Salah satu alternatif untuk meniti titian ke tingkat selanjutnya adalah memahami al-Quran dan mengamalkannya untuk kehidupan sehari-hari. Namun ternyata ini tidak mudah. Untuk bisa menafsirkan al-Quran memerlukan beberapa perangkat ilmu yang cukup complicated. Mungkin sangat mustahil bagi orang awam yang tidak memiliki dasar kuat ilmu-ilmu bantu tersebut untuk bisa menafsirkan al-Quran. Misalnya,  ayat tentang “kalimah sawa” (Ali Imrah, 3:63) menghasilkan penafsiran yang berbeda secara tajam antar intelektual Muslim. Untuk menafsirkan ayat ini, kita harus menguasai beberapa ilmu bantu seperti balaghoh, nahwu, sharaf dan ilmu tafsir. Hal itu pun tidak akan membuat mereka bertemu pada konsesus yang sama karena setiap orang memakai perspektif yang berbeda ketika menafsirkan ayat.

Bagi orang awam – yang tidak memiliki dasar keilmuan bantu yang mumpuni – menafisrkan ayat tersebut tidaklah mudah – untuk tidak mengatakan mustahil. Orang awam seperti ini lebih baik belajar ilmu-ilmu naqliyah aplikatif yang sudah “jadi” seperti fiqh, tauhid, dan siyasah yang telah dikembangkan oleh para ulama otoritatif daripada langsung berinteraksi dengan al-Quran, supaya tidak menyebabkan penafsiran yang sesat.

Lalu apakah kita (baca: orang awam) bisa langsung menikmati al-Quran secara langsung tanpa harus merujuk kepada cabang-cabang ilmu naqliyah di atas? Menurut saya bisa. Caranya adalah dengan memahami ayat-ayat yang termasuk dalam kategori panduan kehidupan dan obat penawar bagi kerumitan hidup. Misalnya ayat yang berbunyi “bisa jadi apa yang baik bagi kamu, belum tentu baik menurut Allah” (Al-Baqarah, 2:216); kita bisa mengeksplorasi ayat ini untuk menasehati kita untuk bersabar ketika tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Ibaratnya ayat-ayat tersebut berperan menggantikan buku-buku “how-to” yang sangat laris di pasaran atau kutipan motivator ulung seperti Mario Teguh dan Andrie Wongso. Dalam kaca mata saya, hal ini berarti kita memposisikan al-Quran sebagai as-syifa’; obat bagi segala kompleknya hidup. Atau tombo ati; obat hati yang menjadi penawar bagi hati yang resah dan gundah gulana. Saya melihat banyak ayat yang termasuk dalam kategori ini yang bisa dipahami meskipun dengan keilmuan bantu yang tidak terlalu dalam. Dan justru, jenis ayat seperti ini kalau dikompilasikan dan disebarluaskan akan sangat laris – melebihi larisnya buku how to yang tirasnya mengalahkan buku-buku serius seperti ilmu politik dan hukum.

Tentunya perspektif ini bukan dalam rangka mengkerdilkan al-Quran, yang sejatinya luas maknanya. Saya percaya bahwa dalam al-Quran terdapat prinsip-prinsip yang membimbing kita bagaimana kita menyikapi permasalahan pendidikan, politik, hukum, ketatatanegaraan, ekonomi dan alam semesta. Tapi, bagi orang yang awam, hal itu sangat sulit dijangkau karena keterbatasan ilmu bantu yang mereka punya. Walhasiil, supaya mereka bisa menikmati interaksi dengan al-Quran secara langsung, maka alangkah baiknya kalau kita menyodorkan perspektif interaksi al-Quran seperti ini. Dan inilah yang sedang saya gagas dalam blog ini. Insya Allah, semoga Allah meridhai kita semua, amiin.

Advertisements

Perhitungan Allah swt Kepada Kaum yang Mendustakan Ajaran Al-Qur’an – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Qalam ayat 44-45

Ilustrasi

Ketika menjalankan misi dakwahnya, Rasul saw seringkali mendapatkan resistensi dari orang-orang yang mendustakan risalah kenabian beliau. Ada yang mencap beliau gila. Ada juga yang meludahi beliau ketika hendak pergi ke masjid, dan mengencingi tempat salat beliau. Bahkan, beberapa pembesar Kaum Quraisy memprovokasi paman beliau untuk menghentikan dakwah keponakannya. Dan banyak intimidasi lainnya, yang tentu secara manusiawi membuat Nabi saw gelisah.

Namun, Allah swt, melalui ayat ini menegaskan bahwa urusan dengan orang-orang tersebut janganlah Nabi saw pusingkan. Percayakan perhitungannya kepada Allah swt, karena Allah swt telah menyiapkan azab dari arah yang mereka tidak duga.

Sekilas, memang azab ini tidak kelihatan karena bentuknya adalah ‘kenikmatan’ yang banyak dan kehidupan yang normal. Seakan tidak akan terjadi apa-apa dengan melakukan pembangkangan. Namun, semua itu hakikatnya adalah tipu daya yang melenakan. Karena sifatnya yang laten, mereka menjadi lengah, sehingga ketika azab Allah swt datang pada waktunya, mereka tidak memiliki persiapan sama sekali.

***

Prof. Maroghi melihat bahwa ayat ini adalah respon dari Allah swt untuk menghibur Nabi saw di saat tantangan yang datang bertubi-tubi saat mengemban tugas kenabian. Lebih jauh, Prof. Hamka menerangkan bahwa Rasul saw diperintahkan untuk terus berjuang, tanpa harus mengindahkan hinaan, cacian dan olokan dari kaum Kafir Quraisy. Allah swt telah menyiapkan perangkap (kaid) bagi mereka berupa nikmat yang banyak dan penangguhan azab yang membuat mereka lengah dan congkak; sampai pada satu saat azab datang di hadapan mereka.

Perihal nikmat yang diberikan kepada kaum kafir di saat resistensi mereka yang kuat terhadap dakwah Nabi saw, Fakhruddin Ar-Razi berpendapat bahwa kebaikan (nikmat) tersebut besifat matanah (keras), karena efeknya yang dapat mendorong pada kerusakan. Model azab seperti ini – dinamakan juga istidraj – justru lebih berbahaya dari siksaan langsung, karena membuat orang terlena dan merasa tidak perlu untuk bertobat.

Menurut Hamka, kenikmatan yang mereka dapatkan akan membuat mereka semakin congkak dan besar kepala. Pembangkangan mereka kepada usaha dakwah Nabi saw semakin hari semakin besar karena mereka merasa aman atas apa yang mereka perbuat. Mereka tidak tahu, bahwa sesungguhnya Allah swt telah menyiapkan siksa yang sangat pedih dalam arah yang mereka tidak ketahui.  

Fakhruddin Ar-Razi mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah swt menegaskan Kemahakuasaan-Nya dalam bertindak, dan tidak ada satu pun yang bisa mencegah-Nya. Orang kafir boleh saja membuat makar yang sangat keras kepada dakwah Nabi saw, namun hal itu tidak sebanding dengan makar Allah swt terhadap mereka.

Pertarungan Wacana – Inspirasi Alquran

sumber foto: pinterest

PERTARUNGAN wacana senantiasa menghiasi ruang publik kita. Dulu, ketika Nabi saw sedang fokus menyebarkan dakwah, dan hal itu dirasa mengancam eksistensi kaum kafir Quraisy – terutama para pembesarnya, beliau mendapatkan serangan baik secara fisik maupun psikis.

Khusus serangan psikis, itu ditujukan untuk menyerang Rasul saw secara psikologis melalui pelemparan wacana kepada khalayak ramai, agar dia saw dan pengikutnya merasa terpojok dalam ruang publik. Salah satu serangan yang gencar dilakukan adalah penyebaran isu bahwasanya Nabi saw memiliki cacat mental. Serangan ini nampaknya cukup efektif. Buktinya beberapa kali Rasul saw down, dan secara khusus harus mendapatkan motivasi dari Allah swt melalui wahyu yang diturunkan.

Namun, tidak ada yang bisa menahan laju kehendak Allah swt. Beberapa counter-attack dilakukan melalui turunnya wahyu yang merespon serangan ini. Wahyu tersebut memiliki dua fungsi: sebagai healing bagi Nabi saw dan pengikutnya sekaligus menjadi serangan balik bagi kaum Kafir Quraisy.

Dan nyatanya Alquran melakukan hal ini dengan sangat baik; memberikan fakta-fakta logis yang memperkuat argumen serangan.  Pertama, Alquran menjelaskan bahwa bagaimana mungkin orang yang baik akhlaknya dan luhur budinya – seperti halnya Rasul saw – bisa dicap sebagai orang gila. Tentu ini sangat bertentangan dengan akal sehat. Kedua, argumen yang menunjukan bahwa justru serangan tanpa tedeng-aling tersebut mempertontonkan keputus-asaan mereka dalam menahan laju dakwah Rasul saw, sehingga tuduhan tentang cacat mental justru dengan mudah kembali kepada mereka.

***

Fakta sejarah di atas menunjukan bahwa perebutan wacana dalam ruang publik sudah lumrah dilakukan sebagai salah satu strategi dalam menyerang lawan secara psikologis. Ini juga yang kita lihat dalam proses berbangsa di negeri ini, terutama ketika menghadapi hajat limat tahunan pemilihan umum.  

Dalam masa kampanye ruang publik kita penuh dengan saling lempar tuduhan antar pendukung paslon: antek PKI, antek-asing, anti-ulama, antek-hizbut tahrir, radikal, dan tuduhan peyoratif lainnya yang berfungsi untuk menghancurkan karakter lawan. Dan ini berhasil: publik mengonsumsi mentah-mentah isu ini sehingga menimbulkan kecurigaan antar anak bangsa.

Paska pencoblosan, hiruk pikuk tak otomatis berhenti. Kedua kubu saling klaim kemenangan dan melancarkan wacana-wacana yang memengaruhi publik. Beberapa saluran komunikasi massa dimanfaatkan untuk melancarkan usaha ini sehingga setiap detik ruang publik kita senantiasa riuh dengan bahasa perpolitikan tanpa ujung ini.

Entah siapa yang benar, akan tetapi hal ini jelas kontra-produktif mengingat yang sedang berkelahi adalah sama-sama anak bangsa, bukan antara kafir dengan muslim seperti yang terjadi di zaman Rasul saw. Atau antara kolonial dengan pribumi seperti yang terjadi pada masa pra-kemerdekaan.

Dalam pandangan picik saya sudah saatnya kita mengakhiri konflik horizontal tak berkesudahan ini. Energi bangsa ini insya Allah akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk perbaikan umat ke depan. Semoga Allah swt senantiasa melindungi seluruh bangsa Indonesia. Wallahu a’lam. []

Istidraj – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 44-45

pinterest

Apakah nikmat yang Allah swt berikan adalah anugrah kemuliaan dari-Nya? Belum tentu. Bisa jadi justru itu adalah bentuk penghinaan-Nya sebagai balasan atas pengingkaran pada syariat-Nya dan pembangkangan terhadap-Nya.

How come?

Kenikmatan jenis ini – yang sejatinya adalah penghinaan atau dalam bahasa Alquran dinamakan istidraj – entah itu berbentuk umur yang panjang, kesehatan yang prima, dan harta yang melimpah adalah bentuk penangguhan Allah swt atas azab yang akan Dia timpakan kepada penerimanya.

Limpahan nikmat tersebut akan membuat mereka terlena dan merasa percaya diri: everything’s fine with their life. Lalu, hal itu membuat mereka tidak perlu merasa bersalah, meskipun telah menjadi bagian terdepan dari mereka yang menentang syariat Allah swt.

Mereka percaya bahwa menyerang syariat-Nya tidak akan berdampak apa-apa, baik itu untuk kehidupan mereka di dunia maupun di akhirat. Buktinya, selama ini mereka baik-baik saja. Mereka tidak salat, misalnya, akan tetapi tetap bisa makan, bahkan melebihi dari apa yang didapat oleh orang-orang yang tunduk pada syariat-Nya.

Seperti yang telah saya ungkapkan di muka, sejatinya nikmat tersebut adalah tipu daya Allah swt terhadap mereka, sehingga mereka tidak sadar bahwa suatu saat nanti, secara perlahan, Allah swt akan menjerumuskan mereka pada jurang kehinaan. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah min zalik.


Allah swt menangguhkan azab bagi orang zalim – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 43 – 52

pinterest.

Seringkali Allah swt mengazab kaum zalim dalam arah yang tidak mereka sadari. Ujug-ujug terjadi bencana. Tanpa tedeng aling timbul resesi ekonomi.

Azab Allah swt sifatnya tidak cash and carry. Tapi seringkali ditangguhkan. Sehingga sangat mungkin ini membuat mereka merasa congkak dan aman dari konsekuensi pengingkaran terhadap kebenaran Alquran.

Lihat saja sekarang. Orang-orang yang melakukan kerusakan di muka bumi ini bisa hidup aman. Bahkan mereka mengolok-olok kaum beriman, “Lihatlah kami! Tanpa beriman kepada Tuhan pun, kita bisa hidup dengan aman dan tenteram.”

Namun, kita sebagai manusia beriman percaya bahwa azab Allah swt pastilah adanya. “Kami menangguhkan azab kepada mereka, tapi rencana Kami sangatlah dahsyat,” begitu firman Allah dalam Q.S. Al-Qalam ayat 45.

Ini adalah ancaman keras dari Allah swt kepada orang-orang yang mendustakan Alquran. Memang Allah swt kadang lembut dan demokratis, tapi di lain tempat bisa jadi sangat keras kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran Alquran. Tentu kita sebagai umat beriman harus bijak menyikapinya.

Alangkah baiknya peringatan ini, sebelum ditujukan kepada orang lain, diarahkan dulu pada diri kita pribadi, keluarga dan lingkungan di sekitar kita. Apakah kita sudah menjadi orang yang pertama kali mencintai dan mengamalkan Alquran? Apakah keluarga dan lingkungan kita sudah melakukan hal yang sama dengan kita? Saya kira itu lebih baik, dari sekedar menunjuk hidung orang lain dan merasa diri paling benar. Wallahu a’lam. []

Tentang resistensi kaum kafir, biarkan Allah swt menunaikan janji-Nya – Inspirasi Q.S. Al-Qalam 44 – 52

Richard Dawkins. Pinterest.

SUDAH menjadi mafhum bahwa perjuangan menegakkan risalah Allah swt di muka bumi akan disertai jalan terjal berupa cemoohan, olok-olok bahkan ancaman pembunuhan.

Apalagi konteks sekarang, ketika ras manusia berada pada puncak kemajuannya, akan sangat sulit bagi mereka untuk menerima kebenaran yang berasal dari Tuhan yang termaktub dalam kitab suci yang dibawa oleh Nabi saw.

Saat ini pertentangan ideologi dan nilai-nilai semakin keras di saat tumbuh subur isme-isme hasil dialektika manusia dengan alam pikirannya dan realitas sosial. Paham-paham yang mengingkari eksistensi Tuhan dan menolak syariat-Nya semakin beragam dan berevolusi menjadi sebuah gerakan kesadaran terutama dukungan terhadap humanisme dan penyelidikan ilmiah.

Orang model Richard Dawkins tidak hanya mendeklarasikan diri sebagai seorang ateis, akan tetapi juga menjadi ‘nabi’ bagi orang-orang yang menolak eksistensi Tuhan. Selayaknya nabi pada umumnya, dia membuat sebuah gerakan masif untuk memengaruhi masyarakat tentang betapa pentingnya penyelidikan ilmiah dan bahaya ‘tahayul’ agama dalam gerakan ini.

Usaha yang dilakukan Dawkins yang didukung oleh para pesohor dunia maupun lokal akan terus berbenturan dengan para agamawan yang menjalankan misi mereka untuk melanjutkan perjuangan para nabi dalam menyebarkan risalah Tuhan.

‘Perang’ ini tidak hanya terjadi dalam ruang fisik, akan tetapi muncul juga dalam ruang non-fisik (maya) yaitu perseteruan di media sosial, bahkan dalam eskalasinya dalam titik tertentu melebihi dunia nyata.

Maka wajar apabila muncul olokan dari mereka kepada kaum agamawan dan manusia beragama lainnya sebagai kaum delusional yang tertipu sihir kitab suci, seperti halnya Nabi Muhammad saw dicap sebagai orang gila oleh pembesar Kafir Quraisy.

Dalam merespon serangan terhadap misi Nabi saw dan para penerusnya, Allah swt menegaskan kepada mereka untuk tidak terlalu memikirkannya. Apapun cobaan yang mereka hadapi, dakwah harus terus berjalan. The show must go on. Kita tidak boleh selangkah pun mundur dari perjuangan ini.

Allah swt menyuruh kita untuk mengambil pelajaran dari pertaubatan Nabi Yunus as yang meninggalkan misi perjuangan hanya karena mendapatkan resistensi dari kaumnya. Untungnya, beliau menyadari kesalahannya dan diangkat derajatnya oleh Allah swt sebagai orang-orang yang salih dalam barisan para nabi dan rasul.

Adapun perhitungan bagi mereka yang konsisten menentang misi ini, kita kembalikan kepada Allah swt. Dia swt berjanji bahwa mereka akan setahap demi setahap menerima balasan dari-Nya dari arah yang mereka tidak ketahui. Kalaupun tidak sekarang, suatu saat nanti, mereka akan menerima konsekuensinya. Kalau tidak dunia, tentu mereka tidak akan mengelak dari siksa Allah di akhirat kelak.

Tentang hinaan dan olokan kaum sekuler yang tidak suka Islam menyebar di muka bumi, kita harus menahan diri. Jangan itu membuat kita kalap, sehingga kita membalasnya dengan serupa olokan yang jauh dari akhlak Islam. Atau menjadi merasa letih dan memutuskan untuk berhenti dalam berjuang. Kita kembalikan semuanya kepada Allah swt. Wallahu a’lam. []

Nasib Orang Bertakwa dan Bermaksiat di Akhirat – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Qalam ayat 34 – 43 

pinterest

Ayat 34: Balasan bagi orang yang bertakwa

Dalam ayat ini Allah swt menegaskan bahwa balasan setimpal bagi orang-orang yang bertakwa selama hidup di dunia adalah surga yang dipenuhi kenikmatan.

Menurut Prof. Wahbah Zuhaili, kenikmatan yang akan didapat oleh para muttaqin di akhirat kelak wujudnya tidaklah sama dengan apa yang mereka temukan di dunia. Jika nikmat duniawi seringkali dinodai hal-hal yang kotor seperti hawa nafsu, nikmat ukhrowi tidaklah seperti itu. Dia berwujud murni dan hakiki, tak terkotori apapun.

Jadi, jangan anda bayangkan bahwa bidadari-bidadari cantik di surga sama seperti perempuan-perempuan binal nan seksi di dunia. Tidak sama sekali! Apa yang terjadi di akhirat termasuk kenikmatan yang disediakan tidaklah pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati manusia di dunia saat ini. 

Lalu siapakah muttaqin itu? Nasafi dalam Madarikut Tanzil menegaskan bahwa muttaqin adalah mereka yang menjauhi kesyirikan selama hidup di dunia. Mereka beriman sepenuhnya kepada Allah swt dan Nabi saw yang membawa risalah-Nya.

Dalam Alquran kata takwa diulang sebanyak 259 kali dengan segala derivasinya. Di antara sekian karakteristik orang-orang yang bertakwa seperti yang dijelaskan oleh Alquran antara lain: beriman kepada yang gaib, mendirikan salat dan berinfak; beriman kepada kitab-kitab Allah dan meyakini adanya akhirat; beriman kepada Allah swt, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, para nabi, memerdekakan budak, mendirikan salat, zakat, menepati janji dan sabar; berpuasa di bulan Ramadan; tidak silau dengan keindahan duniawi; selalu berbuat kebajikan, bersegera kepada ampunan Allah swt; selalu mengingat Allah swt dan memohon ampunan atas dosa-dosanya; bersabar saat diuji harta dan dirinya; menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup; dan menyebarkan dakwah.

Selanjutnya, orang yang bertakwa senantiasa menutup aurat; berzikir manakala ditimpa kebimbangan; menyuruh keluarga mendirikan salat dan bersabar mengerjakannya; tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan; menjaga pandangan mata dan kata-kata dalam berbicara; membawa kebenaran dan membenarkannya; menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji; dan selalu mengambil pelajaran dari Alquran.

Ayat 35-41: Balasan yang berbeda bagi orang yang bertakwa dan bermaksiat dan argumen-argumennya

Muqotil seperti yang dikutip oleh Fakhruddin Ar-Razi menerangkan bahwa ayat ini adalah respon ketika ada sebagian pembesar kafir Quraisy menghadap Nabi Muhammad saw dan berkata, “Di dunia Allah swt memberikan keutaman lebih tinggi kepada kami (kafir Quraisy) daripada umat Islam. Tentu, di akhirat kami akan mendapatkan posisi yang sama. Kalaupun tidak, minimal sama dengan apa yang kami dapatkan di dunia.”

Allah swt membantah pernyataan pembesar Quraisy tersebut dengan memberikan bantahan-bantahan dalam ayat-ayat selanjutnya, baik berdasarkan naqli (nas) maupun secara logika. Bantahan ini setidaknya membuat mereka berpikir atas batilnya pendapat mereka.

Pertama, Allah swt mengajukan pertanyaan ingkar yang bertujuan untuk menegasikan pendapat ngawur para pembesar kaum Quraisy dengan bersabda, “Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?

Setelah itu, Alquran memberikan logical reasoning, yaitu sebuah pertanyaan tentang landasan rasional yang mendukung pernyataan bahwa kaum kafir sama-sama akan mendapatkan fadilah dari Allah swt dengan kaum yang bertakwa di akhirat kelak, sedangkan kita tahu bahwa keimanan kepada-Nya adalah sebuah kebenaran dan sebaliknya kesyirikan adalah sebuah kebatilan.

Secara logic, pandangan ini tentu tidak dapat diterima. Dalam nalar akal sehat kita akan mafhum bahwa kemuliaan hanya akan didapat bagi orang-orang yang melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.

Selanjutnya, Allah swt memberikan argumen naqli untuk membantah pernyataan kafir Quraisy ini dengan bersabda, “Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu.”

Allah swt menanyakan apakah mereka memiliki kitab suci sendiri – yang mereka pelajari dan praktikan – sehingga mereka bisa berhukum semau gue, termasuk dengan ‘fatwa’ bahwa mereka akan mendapatkan keutumaan di akhirat kelak, meskipun tidak mengikuti syariat yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

Tentu yang menjadi landasan mereka tidak lain adalah asumsi dan hawa nafsu. Dalam hal ketaatan kepada Allah swt, misalnya, ketika mereka diajak kepada agama dan syariat Allah, kepada hal-hal yang Allah wajibkan dan meninggalkan hal-hal yang Allah haramkan, mereka menolak, dengan alasan cukup bagi mereka untuk menempuh apa yang telah dilaksanakan oleh nenek moyang mereka. Padahal Allah menegaskan dalam Alquran bahwa nenek moyang mereka tidak mengetahui apapun dan tidak mendapatkan petunjuk. Itu artinya, kaum kafir tidak memiliki landasan yang kuat dalam menjalankan syariat agama mereka.

Argumen selanjutnya yang dilontarkan Alquran untuk membantah pendapat kafir Quraisy adalah pertanyaan ingkar berupa perjanjian dengan Allah yang diikat dengan sumpah dan berlaku sampai hari kiamat yang membuat mereka sangat yakin akan pendapat mereka sehingga tidak mau menerima risalah dari Nabi Muhammad saw. Hal ini untuk menunjukan ‘ketakjuban’ Allah swt akan betapa keukeuh-nya mereka dengan pendapat yang mereka yakini, padahal beberapa argumen baik itu secara naqli maupun aqli tidak mendukung.

Terakhir, Allah swt menantang mereka untuk mendatangkan orang yang bisa menjamin kebenaran pendapat mereka, entah itu nabi, pembesar, ataupun ilmuwan dari kalangan mereka. Nyatanya mereka tidak memilikinya.

Menurut Nasafi, dari sini lengkaplah sudah bahwa kaum kafir Quraisy tidak memiliki kitab suci, sumpah yang diperkuat dengan janji Allah, dan teman yang bisa mengafirmasi pendapat batil mereka bahwasanya mereka akan hidup dengan nyaman di akhirat kelak, seperti halnya mereka dapatkan selama hidup di dunia.

Ayat 42-43: Orang kafir tidak mampu bersujud di akhirat kelak karena terbiasa dengan kekufuran selama hidup di dunia

Sudah menjadi pola dalam Alquran, bahwasanya setelah Allah menyeru untuk beriman dengan menghadirkan beberapa argumennya, Dia swt akan menjelaskan konsekuensi dari pilihan respon terhadap seruan tersebut. Manusia diberi kebebasan untuk memilih, akan tetapi diberikan juga gambaran konsekuensi atas pilihan tersebut.

Di penghujung penggalan Q.S. Al-Qalam ini, Allah swt menggambarkan keadaan kaum kafir yang akan menemui banyak kesulitan di akhirat kelak. Ketika tersibak dalam pandangan mereka pedihnya siksa neraka, mereka diminta untuk bersujud mengakui kesalahan pendapat mereka selama hidup di dunia. Mereka ingin bersujud karena takut akan siksaan yang akan mereka dapatkan, akan tetapi mereka tidak mampu melakukannya karena sudah terbiasa dengan kekufuran.

Menurut Fakhruddin Ar-Razi perintah bersujud ini bukanlah bentuk taklif, kewajiban yang harus ditaati, akan tetapi lebih pada penghinaan kepada mereka karena semasa hidup di dunia tidak mau untuk taat atas perintah Allah swt.   

Orang-orang kafir akan merasa menyesal karena mereka tidak mau bersujud (taat) atas perntah Tuhan selama hidup di dunia, padahal waktu itu mereka hidup dengan sejahtera tidak terhalang sesuatu apapun. Maka penyesalan tidaklah guna. Yang tersisa adalah kehinaan dan keterpurukan karena sisa hidup mereka di akhirat akan dipenuhi penderitaan yang tidak berujung. Wallahu a’lam. []  

Sumber kitab:

  1. Mafatih al-Ghayb, Muhammad ibn Umar Fakhr al-Din al-Razi.
  2. Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari.
  3. Madarikut Tanzil Wa Haqo’iqut Ta’wil, Imam Abul Barokat Abdulloh bin Ahmad bin Mahmud An-Nasafi.
  4. Tafsir al-Munir, Wahbah al-Zuhayli.
  5. Tafsir al-Azhar, Abdul Malik Karim Amrullah.  

Keyakinan kaum kafir akan kehidupan yang baik di hari kiamat dan bantahan Allah swt terhadapnya

Allah swt mengungkapkan ‘keheranan-Nya’ atas keyakinan kaum Kafir (Quraisy) bahwa mereka akan mendapatkan keutamaan (fadhilah) di akhirat kelak, sebagaimana mereka mendapatkannya ketika hidup di dunia. Hal ini terungkap dalam Q.S. Al-Qalam ayat 35.

Lalu Allah swt membantah keyakinan ini dengan memberikan pertanyaan ingkar (pertanyaan yang bertujuan meniadakan) apakah Dia swt pernah memberikan janji kepada mereka yang diperkuat dengan sumpah dan berlaku sampai hari kiamat, sehingga mereka benar-benar yakin akan pendapat tersebut.

Dalam ayat ini, Allah swt memberikan beberapa penekanan secara spesifik tentang janji yang dimaksudkan; 1) janji yang diperkuat dengan sumpah, dan 2) janji yang dilekatkan dengan jangka waktu spesifik.

Tak tangung-tanggung, janji tersebut dilekatkan pada hari akhir (kiamat) yang menunjukan kekuatan dan kesempurnaan dari janji Allah swt ini.

Spesifikasi yang detail akan ‘janji Allah’ ini berfungsi untuk menunjukan ‘keheranan-Nya’ sekaligus pengingkarannya akan keyakinan Kaum Kafir Quraisy tersebut. Allah swt tidak pernah berjanji seperti ini kepada kaum yang tidak beriman kepada-Nya. Sebaliknya, Dia swt menjanjikan azab yang pedih bagi mereka sebagai konsekuensi atas kekufurannya.

Dalam hemat saya, jika kita merenungi ayat-ayat al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa janji yang tertuang dalam ayat ini Allah swt tujukan bagi mereka yang bersedia berserah diri dan tunduk pada syariat yang telah ditentukan-Nya. Wallahu a’lam. []

Sumber: Tafsir Mafatihul Ghaib Fakhruddin ar-Razi