Kalau tidak mau beriman kepada-Nya dan berjalan dalam syariat-Nya, lebih baik menjadi debu saja, karena ketahuilah siksaan Allah begitu pedih.

pinterest.com

pinterest.com

 

Dalam pelbagai tempat di al-Quran (seperti Q.S. An-Naba’ ayat 39-40), Allah swt telah memperingatkan umat manusia tentang tujuan penciptaannya dan misinya di muka bumi. Bahwasanya Allah telah menyediakan syariat-Nya untuk menjadi panduan bagi umat dalam melangkah di muka bumi, namun sayang, karena mengikuti hawa nafsu desktruktif, banyak manusia yang tidak mau taat dan patuh terhadap syariat-Nya. Bahkan, beberapa di antara mereka cenderung untuk mengolok-olok seruan ini padahal ini semua adalah untuk kebaikan umat manusia.

Dalam beberapa segi, mengikuti syariat yang telah digariskan oleh Allah memang cukup sulit, apalagi kalau hawa nafsu telah menjadi hamba manusia. Sisi iblis yang dimiliki oleh manusia akan memperdaya aspek malaikat yang dimilikinya sehingga kenikmatan dunia akan menyilaukan gerak langkah umat manusia di muka bumi. Sebenarnya, secara common sense manusia bisa memilah mana hal yang baik dan buruk, akan tetapi kecenderungan terhadap hawa nafsu membutakan mata hatinya. Akibatnya, kerusakan di muka bumi tidak bisa dielakkan lagi sebagai imbas dari pendewaan terhadap hawa nafsu.

Atas dalih humanisme dan kebebasan, segala bentuk kontrol terhadap hawa nafsu menjadi hal yang dianggap durhaka dan mencederai kemerdekaan manusia atas dirinya. Tangan Tuhan dibungkam dengan dalih-dalih hermeneutis yang membuat perintah Tuhan bias dan seakan tidak bisa dipahami oleh manusia. Maka yang muncul adalah nilai-nilai relatif yang paramaternya menjadi liar, sehingga nilai-nilai fundamental agama hancur tak berbekas.

Walhasil, manusia menjadi kalap dan merasa sangat berat untuk mengikuti segala aturan yang telah Allah terapkan dalam berbagai sumber keagamaan. Firman-Nya tak boleh didengungkan dan diganti oleh fatwa-fatwa hawa nafsu yang liar dan merusak. Kemaksiatan menjadi raja yang merajalela dan membungihanguskan orang-orang yang konsisten untuk berjalan di atas bara panas syariat-Nya. Peringatan-peringatan tentang balasan atas angkara murka ini menjadi lirih dan sayup terdengar oleh telinga manusia. Kalau sampai ke telinga manusia, maka akan serta merta diabaikan karena suara kemungkaran lebih keras terdengarnya.

Jikalau manusia enggan untuk beriman dan mengikuti perintah-Nya, alangkah lebih baik dia menjadi debu sehingga tidak perlu mempertanggungjawabkan segala amalannya selama di dunia. Penyesalan hanyalah sia-sia karena tidak akan bisa memutar waktu yang telah lampau. (*)

 

 

Advertisements

Musa vs. Fir’aun – Kandungan Q.S. An-Nazi’at ayat 15-26

unnamed

Tatkala Nabi Muhammad saw sedih karena melihat dakwah tidak begitu efektif dan masyarakat semakin menunjukkan pengingkaran mereka terhadap Allah dan rasul-Nya, Allah swt menceritakan kepadanya berita tentang Musa dan Fir’aun melalui Q.S. An-Naazi’at ayat 15-26. Pemaknaan terhadap cerita tentang dua orang penting ini haruslah diperluas, karena dalam penggalan ayat tersebut, Allah menyiratkan bahwa harus ada pelajaran yang dipetik, terutama bagi orang-orang yang takut kepada-Nya.

Musa adalah simbol orang-orang yang saleh dan menyerukan kebenaran Tuhan di muka bumi, sedangkan Fir’aun adalah potret orang-orang lalim yang membuat kerusakan di atas bumi dan mengikrarkan diri sebagai tuhan atas nama keserekahan dan kesombongan. Bagaimana tidak, golongan kedua ini mengolok-olok seruan dari para pemuka agama tentang kewajiban untuk berjalan dalam tuntunan agama dan menjadikannya guyonan receh di warung kopi. Mereka menyangka bahwa kemajuan yang mereka dapat sebagai buah eksplorasi alam dan akal bisa melepaskan mereka dari jerat Tuhan dan kuasa-Nya.

Sekali lagi, ada sebuah kecenderungan bahwa semakin maju suatu kaum, maka semakin rendah tingkat keberagamaan mereka. Ini adalah fakta sosiologis yang tidak terbantahkan. Atas nama ilmu pengetahuan, manusia modern menolak hal-hal yang berbau metafisis dan melihatnya sebagai mistis dan anti-tesis dari peradaban modern. Tepatlah kalau misalnya dalam kajian humanisme manusia menjadi sentral dan semuanya harus tunduk di hadapannya, termasuk Tuhan.

Marilah kita melongok ke negara-negara “maju” seperti Amerika Serikat dan Britania Raya maka di sana kita akan menemukan tuhan-tuhan jenis baru. Di Amerika Serikat para artis menjadi tuhan dan uang serta ketenaran adalah agamanya. Di Inggris, orang-orang mengatakan bahwa agama yang populer di sana adalah sepak bola dan uang adalah tuhannya. Di lembaga-lembaga semisal perguruan tinggi dan lembaga riset, ilmu penggetahuan adalah rajanya, dan akidah mesti tergadai dalam laboratorium-laboratorium dan eksprimen di dalamnya. Lihat saja bagaimana para ilmuwan merasa sangat yakin – atas nama penemuan ilmu pengetahuan – bahwa nabi Adam adalah seorang manusia monyet yang tingkat kecerdasannya sangat rendah bila dibandingkan dengan manusia modern.

Dunia akan mengulangi sejarahnya dan cerita tentang Musa dan Fir’aun akan ada sepanjang manusia masih menghembuskan nafas di muka bumi dan membangun peradabannya. Maka kita sebagai umat yang diberikan anugerah keimanan harus mengikuti jejak nabi agung Musa alaihissalam dengan menentang kesewenangan manusia-manusia congkak model Fir’aun al-Walid bin Arrayan. (*)