Nasib Orang Bertakwa dan Bermaksiat di Akhirat – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Qalam ayat 34 – 43 

pinterest

Ayat 34: Balasan bagi orang yang bertakwa

Dalam ayat ini Allah swt menegaskan bahwa balasan setimpal bagi orang-orang yang bertakwa selama hidup di dunia adalah surga yang dipenuhi kenikmatan.

Menurut Prof. Wahbah Zuhaili, kenikmatan yang akan didapat oleh para muttaqin di akhirat kelak wujudnya tidaklah sama dengan apa yang mereka temukan di dunia. Jika nikmat duniawi seringkali dinodai hal-hal yang kotor seperti hawa nafsu, nikmat ukhrowi tidaklah seperti itu. Dia berwujud murni dan hakiki, tak terkotori apapun.

Jadi, jangan anda bayangkan bahwa bidadari-bidadari cantik di surga sama seperti perempuan-perempuan binal nan seksi di dunia. Tidak sama sekali! Apa yang terjadi di akhirat termasuk kenikmatan yang disediakan tidaklah pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati manusia di dunia saat ini. 

Lalu siapakah muttaqin itu? Nasafi dalam Madarikut Tanzil menegaskan bahwa muttaqin adalah mereka yang menjauhi kesyirikan selama hidup di dunia. Mereka beriman sepenuhnya kepada Allah swt dan Nabi saw yang membawa risalah-Nya.

Dalam Alquran kata takwa diulang sebanyak 259 kali dengan segala derivasinya. Di antara sekian karakteristik orang-orang yang bertakwa seperti yang dijelaskan oleh Alquran antara lain: beriman kepada yang gaib, mendirikan salat dan berinfak; beriman kepada kitab-kitab Allah dan meyakini adanya akhirat; beriman kepada Allah swt, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, para nabi, memerdekakan budak, mendirikan salat, zakat, menepati janji dan sabar; berpuasa di bulan Ramadan; tidak silau dengan keindahan duniawi; selalu berbuat kebajikan, bersegera kepada ampunan Allah swt; selalu mengingat Allah swt dan memohon ampunan atas dosa-dosanya; bersabar saat diuji harta dan dirinya; menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup; dan menyebarkan dakwah.

Selanjutnya, orang yang bertakwa senantiasa menutup aurat; berzikir manakala ditimpa kebimbangan; menyuruh keluarga mendirikan salat dan bersabar mengerjakannya; tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan; menjaga pandangan mata dan kata-kata dalam berbicara; membawa kebenaran dan membenarkannya; menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji; dan selalu mengambil pelajaran dari Alquran.

Ayat 35-41: Balasan yang berbeda bagi orang yang bertakwa dan bermaksiat dan argumen-argumennya

Muqotil seperti yang dikutip oleh Fakhruddin Ar-Razi menerangkan bahwa ayat ini adalah respon ketika ada sebagian pembesar kafir Quraisy menghadap Nabi Muhammad saw dan berkata, “Di dunia Allah swt memberikan keutaman lebih tinggi kepada kami (kafir Quraisy) daripada umat Islam. Tentu, di akhirat kami akan mendapatkan posisi yang sama. Kalaupun tidak, minimal sama dengan apa yang kami dapatkan di dunia.”

Allah swt membantah pernyataan pembesar Quraisy tersebut dengan memberikan bantahan-bantahan dalam ayat-ayat selanjutnya, baik berdasarkan naqli (nas) maupun secara logika. Bantahan ini setidaknya membuat mereka berpikir atas batilnya pendapat mereka.

Pertama, Allah swt mengajukan pertanyaan ingkar yang bertujuan untuk menegasikan pendapat ngawur para pembesar kaum Quraisy dengan bersabda, “Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?

Setelah itu, Alquran memberikan logical reasoning, yaitu sebuah pertanyaan tentang landasan rasional yang mendukung pernyataan bahwa kaum kafir sama-sama akan mendapatkan fadilah dari Allah swt dengan kaum yang bertakwa di akhirat kelak, sedangkan kita tahu bahwa keimanan kepada-Nya adalah sebuah kebenaran dan sebaliknya kesyirikan adalah sebuah kebatilan.

Secara logic, pandangan ini tentu tidak dapat diterima. Dalam nalar akal sehat kita akan mafhum bahwa kemuliaan hanya akan didapat bagi orang-orang yang melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.

Selanjutnya, Allah swt memberikan argumen naqli untuk membantah pernyataan kafir Quraisy ini dengan bersabda, “Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu.”

Allah swt menanyakan apakah mereka memiliki kitab suci sendiri – yang mereka pelajari dan praktikan – sehingga mereka bisa berhukum semau gue, termasuk dengan ‘fatwa’ bahwa mereka akan mendapatkan keutumaan di akhirat kelak, meskipun tidak mengikuti syariat yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

Tentu yang menjadi landasan mereka tidak lain adalah asumsi dan hawa nafsu. Dalam hal ketaatan kepada Allah swt, misalnya, ketika mereka diajak kepada agama dan syariat Allah, kepada hal-hal yang Allah wajibkan dan meninggalkan hal-hal yang Allah haramkan, mereka menolak, dengan alasan cukup bagi mereka untuk menempuh apa yang telah dilaksanakan oleh nenek moyang mereka. Padahal Allah menegaskan dalam Alquran bahwa nenek moyang mereka tidak mengetahui apapun dan tidak mendapatkan petunjuk. Itu artinya, kaum kafir tidak memiliki landasan yang kuat dalam menjalankan syariat agama mereka.

Argumen selanjutnya yang dilontarkan Alquran untuk membantah pendapat kafir Quraisy adalah pertanyaan ingkar berupa perjanjian dengan Allah yang diikat dengan sumpah dan berlaku sampai hari kiamat yang membuat mereka sangat yakin akan pendapat mereka sehingga tidak mau menerima risalah dari Nabi Muhammad saw. Hal ini untuk menunjukan ‘ketakjuban’ Allah swt akan betapa keukeuh-nya mereka dengan pendapat yang mereka yakini, padahal beberapa argumen baik itu secara naqli maupun aqli tidak mendukung.

Terakhir, Allah swt menantang mereka untuk mendatangkan orang yang bisa menjamin kebenaran pendapat mereka, entah itu nabi, pembesar, ataupun ilmuwan dari kalangan mereka. Nyatanya mereka tidak memilikinya.

Menurut Nasafi, dari sini lengkaplah sudah bahwa kaum kafir Quraisy tidak memiliki kitab suci, sumpah yang diperkuat dengan janji Allah, dan teman yang bisa mengafirmasi pendapat batil mereka bahwasanya mereka akan hidup dengan nyaman di akhirat kelak, seperti halnya mereka dapatkan selama hidup di dunia.

Ayat 42-43: Orang kafir tidak mampu bersujud di akhirat kelak karena terbiasa dengan kekufuran selama hidup di dunia

Sudah menjadi pola dalam Alquran, bahwasanya setelah Allah menyeru untuk beriman dengan menghadirkan beberapa argumennya, Dia swt akan menjelaskan konsekuensi dari pilihan respon terhadap seruan tersebut. Manusia diberi kebebasan untuk memilih, akan tetapi diberikan juga gambaran konsekuensi atas pilihan tersebut.

Di penghujung penggalan Q.S. Al-Qalam ini, Allah swt menggambarkan keadaan kaum kafir yang akan menemui banyak kesulitan di akhirat kelak. Ketika tersibak dalam pandangan mereka pedihnya siksa neraka, mereka diminta untuk bersujud mengakui kesalahan pendapat mereka selama hidup di dunia. Mereka ingin bersujud karena takut akan siksaan yang akan mereka dapatkan, akan tetapi mereka tidak mampu melakukannya karena sudah terbiasa dengan kekufuran.

Menurut Fakhruddin Ar-Razi perintah bersujud ini bukanlah bentuk taklif, kewajiban yang harus ditaati, akan tetapi lebih pada penghinaan kepada mereka karena semasa hidup di dunia tidak mau untuk taat atas perintah Allah swt.   

Orang-orang kafir akan merasa menyesal karena mereka tidak mau bersujud (taat) atas perntah Tuhan selama hidup di dunia, padahal waktu itu mereka hidup dengan sejahtera tidak terhalang sesuatu apapun. Maka penyesalan tidaklah guna. Yang tersisa adalah kehinaan dan keterpurukan karena sisa hidup mereka di akhirat akan dipenuhi penderitaan yang tidak berujung. Wallahu a’lam. []  

Sumber kitab:

  1. Mafatih al-Ghayb, Muhammad ibn Umar Fakhr al-Din al-Razi.
  2. Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari.
  3. Madarikut Tanzil Wa Haqo’iqut Ta’wil, Imam Abul Barokat Abdulloh bin Ahmad bin Mahmud An-Nasafi.
  4. Tafsir al-Munir, Wahbah al-Zuhayli.
  5. Tafsir al-Azhar, Abdul Malik Karim Amrullah.  
Advertisements

Dua Jalan di Hari Pembalasan – Kandungan Q.S. Al-Insyiqaq

Inspirasi Ayat:

al-insyiqaq

Dalam beberapa tempat di al-Quran, Allah bersumpah bahwasanya hari pembalasan itu akan tiba. Dalam Q.S. Al-Insyiqaq, misalnya, Allah bersumpah dengan deskripsi hari kiamat – dimana bumi terbelah, dan memuntahkan semua yang ada di dalamnya – bahwasanya manusia akan menemukan balasan atas apa yang mereka perbuat selama di dunia. Dan saat itu manusia terbagi dua: 1) mereka yang mendapatkan kitab amalannya dengan tangan kanan, dan 2) mereka yang mendapakatkannya dari belakang punggungnya.

sumber: mejeng.co

sumber: mejeng.co

Dari deskripsi surat ini golongan pertama akan kembali kepada keluarga mereka dengan penuh kesenangan, sedangkan golongan kedua akan masuk kedalam nereka. Memang ketika di dunia mereka senang dengan mengikuti hawa nafsunya, dan menyangka bahwasanya apa yang mereka lakukan tidak ada hubungan dengan pembalasan di hari kiamat.

Dari sini saya mencatat bahwa apapun, amalan kita memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana keadaan kita di akhirat kelak, meskipun penentu utama adalah Rahmat dari Sang Maha Kuasa. Lebih lagi, kesadaran kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan selama di dunia memang berasal dari rahmat-Nya.

Dalam surat ini juga diungkapkan frase yang sering Allah gunakan untuk menunjukan “keheranan”Nya terhadap sikap kaum kafir yang tetap konsisten dalam pembangkangannya meskipun Allah telah menunjukan tanda-tanda akan adanya hari pembalasan. Saya melihat ini bukan berarti Allah greget, atau putus asa, akan tetapi menunjukan betapa dahsyatnya konsekuensi dari pembangkangan yang konsisten dilakukan oleh kaum kafir.

Dan diakhir surat, Allah menegaskan bahwasanya kaum kafir akan mendapatkan siksaan yang pedih, kecuali mereka yang mau meninggalkan kekafirannya dan memilih untuk beriman dan beramal shaleh.