Dua Jenis Ujian

kpmg.com

Ujian dari Allah swt bagi umat manusia tidak hanya berbentuk kesusahan hidup, akan tetapi juga seringkali berwujud kesenangan dan kelapangan  seperti kemudahan mendapatkan harta dan memiliki banyak anak. Justru, jenis ujian seperti yang sering melenakan karena ujung-ujungnya bisa berupa takabbur (sombong) dan istighna (merasa tidak perlu) terhadap rahmat Allah swt.

Ketika zaman Rasul saw terdapat salah satu bangsawan Arab yang terpandang karena memiliki banyak harta dan anak. Namanya Walid bin Mughiroh. Untuk mengerek kebangsawanannya, dia sering mengaku berasal dari klan Quraisy – karena klan tersebut dianggap paling terpandang di bangsa Arab – meskipun kenyataannya dia tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan klan terhormat ini.

Saat Nabi saw mendeklarasikan kenabiannya dan menyebarkan risalah Allah swt di kalangan Jazirah Arab, Walid meradang. Mengapa bukan dia yang mendapatkan kehormatan ini? Dia merasa khawatir posisinya yang mulia di mata bangsa Arab saat itu dapat disaingi oleh Muhammad saw. Walhasil, dia menjadi salah satu dari segelintir orang yang didokumentasikan dalam al-Quran sebagai pihak yang paling menentang dakwah Rasul saw.

Bukan hanya Mughiroh, rata-rata orang yang menentang dakwah Rasul saw saat itu adalah kalangan berada dan terpandang. Dua di antara mereka adalah Abu Jahal dan Abu Lahab. Alih-alih mensyukuri nikmat yang Allah swt anugerahkan, mereka justru berada di garda terdepan yang menentang risalah-Nya. Dalam perspektif Q.S. Qalam, golongan ini – apabila tidak bertobat – dianggap sebagai kalangan yang gagal dalam menghadapi ujian kenikmatan.

Mengambil pelajaran dari kisah ini, kita harus waspada terhadap dua jenis ujian dari Allah; kesulitan dan kelapangan hidup. Wallahu a’lam. []

Advertisements

Semua karena Allah

snopes.com

Dia lah yang melindungimu dari segala macam marabahaya. Ketika bahaya dan musibah datang, maka tidak ada satu tentara pun yang bisa menolong-Mu – entah itu hartamu, anak buahmu, bosmu, rakyatmu, keluargamu, doktermu dan yang lainnya – kecuali datang rahmat dan karunia-Nya.

Di negeri adidaya Amerika Serikat – yang konon memiliki sumber daya teknologi yang paling canggih di seantro jagad – ketika Allah swt mengirimkan Katrina, luluh lantak lah semua yang ada di bumi. Rumah rata dengan tanah. Mobil-mobil berterbangan. Kematian mengelilingi warganya. Namun sayang, mereka tetap menjadi orang-orang yang tertipu.

Siapa yang akan menurunkan hujan – apabila Dia tidak sudi untuk menurunkannya? Tidak ada seorang pun, hatta perkembangan teknologi ciptaan manusia. Hujan itulah yang menghidupi tumbuhan – yang mana kita bisa memakannya untuk bertahan hidup. Hujan jualah yang memberi minum hewan – yang mana itu adalah sumber kekuatan bagi kita. Namun, ketika Allah berkehendak untuk tidak menurunkan hujan, tidak ada seorang pun yang mampu menolaknya.

Lihatlah bagaimana ketika kekeringan melanda benua Afrika. Beribu hektar kebun tidak bernyawa. Ribuan hewan mati sia-sia. Manusia – dengan segala kecongkakannya – tidak berdaya untuk berbuat apa-apa. Namun, sayangnya, kebanyakan mereka tetap sombong dan tidak mau percaya. Enggan untuk mengambil pelajaran dari ini semua.

Semuanya karena Allah swt; baik itu berita baik maupun berita buruk. Maka, mengapa tetap berpaling dari-Nya? (*)

Inspirasi Ayat:

Al-Mulk (67, 20-21)

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ جُنْدٌ لَكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِنْ دُونِ الرَّحْمَٰنِ ۚ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ (*)أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَلْ لَجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ

Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. (*) Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?