Agar Terhindar dari Kegelisahan dan Ketamakan – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 35

DALAM Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 21 diterangkan bahwa manusia memiliki kecenderungan bersikap halu; gelisah, sedih dan cepat mengeluh ketika diberikan kesulitan hidup; sebaliknya, dia akan tamak, tidak bersyukur dan bakhil tatkala dianugerahkan kelapangan. 

Keadaan ini diperkuat oleh Hadits Nabi s.a.w yang berbunyi, “Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut.”

“Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut.”

Dalam Tafsir Al-Kabir, Fakhruddin Ar-Razi menyimpulkan bahwa sifat halu’ melekat kepada manusia tatkala mereka terjangkit kebutaan visi terkait hidup di dunia. Ketika seseorang sudah menjadikan dunia sebagai tujuan utama, maka serta merta dia akan terkena penyakit ini. Dia akan lupa bahwa segala kesusahan dan kesenangan hidup semuanya kembali kepada ketentuan dari Allah, dan tugas kita adalah ridha terhadap qadha dan qadar-Nya.  

Namun, Allah s.w.t memberikan pengecualian kepada orang-orang yang melakukan hal-hal tertentu seperti yang termaktub pada ayat-ayat selanjutnya (Q.S. Al-Ma’arij ayat 22 – 34). Berikut adalah penjelasannya:  

  • Mereka yang mendirikan shalat 

Menurut Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, kata mushollin di sini berarti orang-orang yang beriman. Seorang Mukmin tidak akan pernah meninggalkan shalat lima waktu karena itu sudah menjadi pekerjaan yang melekat pada dirinya. 

Seorang muslim sedang menunaikan shalat. (Pinterest)

Itu maknanya sesederhana menjadi seorang beriman (yang senantiasa mendawamkan shalat) sudah cukup untuk menjauhkan seseorang terjebak dalam sifat halu’ seperti yang digambarkan pada ayat sebelumnya. 

Namun, shalat yang mencegah manusia dari sifat halu’ memiliki kriteria tertentu yang dijelaskan dalam ayat selanjutnya. 

  • Mendawamkan shalat

Shalat yang dapat mencegah seseorang terjebak dalam pusaran sifat halu’ memiliki kriteria tertentu. Salah satunya adalah yang dawam (berkesinambungan). Seorang mukmin tidak akan pernah meninggalkan kewajiban shalat sesibuk apapun pekerjaan yang dia hadapi. 

Kata dawam menjadi kunci dalam melaksanakan ibadah. Ini juga yang menjadi sabab turunnya hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah R.A. yang berbunyi, 

“Wahai sekalian manusia, beramalah menurut yang kalian sanggupi, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan, sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.”

Beberapa ulama ahli tafsir memberikan catatan tambahan terkait kriteria mendawamkan shalat. Ibnu Wahab seperti dikutip oleh Ibnu Thobari dalam Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, beliau mengatakan bahwa orang yang mendawamkan shalat tidak akan pernah menengok ke belakang; kanan dan kiri; dia akan menjaga kekhusyuan dalam beribadah. 

Buya Hamka lebih jauh menjelaskan bahwa ibadah ini bukanlah ritual nirmakna; sebuah kebiasaan tanpa dipahami maknanya. Perlu ada pengosongan diri dari sesuatu di luar Allah swt ketika shalat. Bahkan semua gerak langkah kita di dunia hendaknya seperti kita shalat; khusyuk, tenang dan bermakna. 

Maka dengan sembahyang kita akan merasa dekat dengan Allah (taqorrub illallah), sehingga kondisi ini membawa kita pada ketenangan. Kita akan insaf bahwa segala hal adalah ketentuan Allah, dan tugas kita adalah meridhai semua ketentuan-Nya. 

  • Membayar zakat dan kewajiban finansial 

Siapa nyana ternyata kegiatan-kegiatan filantropis bisa mengeluarkan seseorang dari jebakan sifat halu’ yang sangat mengganggu ketenangan hidup. Dalam konsep Islam, di dalam harta seseorang terdapat hak orang lain yang harus diberikan. Jika kewajiban ini ditunaikan, maka hartanya akan bersih dan bisa jadi itu wasilah yang menghantarkan ketenangan hidup. 

Menyisihkan sebagian rezeki akan mendatangkan ketenangan hidup. (Pinterest)

Menurut Buya Hamka, kesediaan mengeluarkan zakat adalah bentuk pengejawantahan iman terhadap Allah swt dan buah dari pelaksanaan ibadah shalat. Orang yang benar shalatnya akan meningkat kadar keimanan dan ketakwaannya dan akan siap untuk menjalankan perintah-perintah-Nya, termasuk kewajiban dalam mengeluarkan sebagian harta dalam bentuk zakat, infak, sedekah, nafkah dan yang lainnya. 

Para ulama ahli tafsir bebeda pendapat tentang makna haqqun maklum seperti yang termaktub dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 24. Namun, Fakhruddin Ar-Razi menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan haqqun maklum di sini adalah zakat. Dia memberikan  dua argumen: 

  1. Haqqun maklum bermakna hak yang sudah ditetapkan. Artinya, ini merujuk pada ibadah zakat yang memang sudah memiliki takaran yang ditetapkan oleh nash
  1. Ayat ini mengeluarkan seseorang dari perbuatan tercela yang telah disebutkan dalam ayat sebelumnya – yaitu halu’. Untuk itu, ibadah ini lebih tepat ditujukan kepada zakat, dibanding dengan ibadah lain yang sifatnya sunnah seperti infak dan sedekah. 

Ulama yang berpendapat tentang ini adalah Ibnu Abbas, Hasan Ibnu Sirrin dan Qotadah. Sebaliknya, Mujahid, Atho’ dan An-Nakhoi berpendapat berbeda. Mereka melihat bahwa yang dimaksud dengan terma ini merujuk pada ibadah bukan zakat, tapi sedekah yang disunnahkan. 

Apapun itu, ayat ini memberikan kita satu resep untuk mengobati sifat fitrah manusia yang selalu gelisah ketika dilanda kekurangan dan kikir ketika dianugerahi kelapangan, yaitu dengan mengeluarkan sebagian harta kita baik itu melalui zakat, infak, sedekah, wakaf, nadzar, nafkah, dll sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dan empati kepada sesama manusia. 

  • Meyakini hari akhir 

Kepercayaan terhadap kehidupan lain setelah kematian menurut Al-Qur’an dapat membebaskan manusia dari jebakan sifat halu’. Ini mencakup keyakinan, tanpa ada keraguan sedikit pun, bahwa apa yang kita lakukan selama hidup di dunia akan mendapatkan balasan yang setimpal di akhirat kelak. 

Hari akhir adalah sebuah keniscayaan. (hdwallpaperbackgrounds.net)

Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsir Al-Munir-nya mengungkapkan bahwa keimanan terhadap hari akhir akan berdampak pada tiga aspek sekaligus: keyakinan, perkataan dan perbuatan. Ketiganya berjalan beriringan sehingga membangun sebuah harmoni kehidupan yang penuh dengan ketaatan terhadap perintah Tuhan. 

Menurut Hamka, keimanan terhadap kehidupan lain setelah kehidupan pertama di dunia akan menjadi media kontrol atas sikap dan tingkah laku kita di kehidupan sekarang, sehingga diharapkan bisa menyelamatkan kita dari hal-hal yang menjerumuskan. 

  • Takut terhadap azab Allah 

Ajaran Islam selalu terkait dengan keseimbangan antara dua hal; harapan (raja’) akan Rahmat Allah yang begitu luas dan takut (khauf) terhadap azab-Nya yang begitu dahsyat. Setiap orang yang beriman harus memiliki keyakinan bahwa siapapun tidak akan mampu untuk menyelematkan diri dari pedihnya api neraka, kecuali atas rahmat dan kasih sayang Tuhan.  

Rasa takut terhadap azab ini selalu dimunculkan dalam setiap fragmen kehidupan, sehingga hal ini membuat dia selalu waspada dan mawas diri; tidak kemaruk dalam menjalani hidup. Semua pasti akan ditimbang baik dan buruknya. 

Azab Allah menunggu bagi orang yang mendustakan ajaran agama. (jokowarino.id)

Menurut Al-Maroghi, para sahabat dan ulama salaf senantiasa menjaga perasaan takut ini, meskipun mereka telah mencapai maqom ketaatan yang sempurna kepada Tuhan. Bahkan tak jarang dari mereka menangis – ketika tahu bahwa siapapun, tanpa kehadiran Rahmat-Nya, tidak akan bisa selamat dari panasnya api neraka. Beberapa dari mereka berucap, “Andai saja saya tidak pernah dilahirkan oleh ibu saya (tentu saya akan selamat dari siksa neraka.)”

Sebagian yang lain berkata, “Jika saja saya adalah sebatang pohon yang kokoh dan dimakan buahnya (tentu saya akan lepas dari jerat api neraka.)” 

Tentunya, buah dari rasa takut ini adalah ketentraman jiwa karena kita mampu terlepas dari hal yang menjerumuskan pada perilaku negatif. Kita akan melihat bahwa dunia adalah senda gurau belaka, sehingga tidak perlu mendapatkan perhatian yang berlebih, yang mana itu adalah awal dari kesempitan jiwa. 

  • Menjaga diri dari perbuatan keji 

Salah satu cara untuk menjauhkan diri kita dari jiwa yang gelisah adalah dengan menghindari perbuatan-perbuatan tercela, seperti menjaga kemaluan dari hal-hal yang diharamkan. 

Islam telah membatasi persetubuhan hanya pada sebuah ikatan pernikahan yang sah dan menganggap kegiatan seks di luar itu sebagai sebuah kehinaan. 

Islam membatasi hubungan seksual dalam ikatan perkawinan. (Pinterest)

Menurut Buya Hamka, syarat menjaga kehidupan adalah dengan menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh manusia untuk menggauli pasangannya. Hal ini demi mencegah kerusakan di muka bumi, terutama berkaitan dengan merawat keturunan (hifdzun nasl) yang merupakan bagian dari hifzud din (menjaga agama). 

Sayangnya, banyak manusia modern yang tidak mengindahkan hal ini. Saat ini kegiatan seks suka sama suka (consent sex) dilegalkan oleh negara, bahkan dianjurkan oleh para pegiat Hak Asasi Manusia dengan dalih kebebasan individu (indvidual freedom) dan menghindari pemerkosaan (atas dasar paksaan). 

Lebih jauh, pegiat HAM tersebut juga mengecam institusi pernikahan karena dianggap sebagai biang “pemerkosaan” dan penindasan hak-hak perempuan karena seringkali ikatan ini menempatkan mereka pada pekerjaan-pekerjaan domestik. 

Menurut hemat penulis, ini adalah biang dari merebaknya penyakit-penyakit jiwa yang banyak menjangkiti manusia-manusia modern dewasa ini (bahkan zaman jahiliyah tempo dulu). Mereka lebih mementingkan pemuasan hawa nafsu daripada akal sehat dan ajaran-ajaran agama. 

Sikap kita untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh ajaran agama akan membawa kita pada ketenangan hidup dan kestabilan jiwa. 

  • Menunaikan amanat 

Islam mewajibkan setiap pemeluknya untuk menjaga amanat yang telah diberikan, baik itu dari Allah maupun sesama manusia. Ini selaras dengan ayat Al-Qur’an lain yang berbunyi, 

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”

Q.S. An-Nisa ayat 58

Menunaikan amanat menjadi ciri orang beriman dan dikontraskan dengan ciri orang munafik. Sudah maklum dalam hadis masyhur bahwa salah satu ciri orang munafik adalah mereka yang diberi amanat, akan tetapi tidak menunaikannya dengan baik. 

Kita diwajibkan untuk menunaikan amanat.

Menurut At-Thobari salah satu amanat yang harus ditunaikan dengan baik adalah amanat kehidupan yang Allah berikan kepada setiap manusia. Cara memikul amanat ini adalah dengan menjalani kehidupan sebaik-baiknya, dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Bagi seorang Mukmin, tidak ada pilihan lain dalam hidup kecuali berjalan dalam jalur takwa – yang mana ini adalah syarat mutlak dalam meraih kehidupan di dunia dan akhirat. 

  • Menepati janji 

Langkah selanjutnya yang bisa menyelamatkan kita dari kehidupan halu’ adalah menepati janji yang telah kita ikrarkan kepada Tuhan maupun sesama manusia. Ini juga yang membedakan antara kaum beriman dan munafik, di mana lalai terhadap janji – seperti dalam hadis Nabi yang masyhur – menjadi salah satu ciri orang munafik. 

Seorang Muslim harus menepati janji yang telah dibuat. (Pinterest)

Dalam hubungan manusia dengan sesamanya, selalu ada perjanjian-perjanjian yang mengikat baik itu menyangkut hubungan sosial, perdagangan, pendidikan, politik dan lain sebagainya. Dalam hal politik, misalnya, Rasulullah s.a.w. pernah mengadakan Perjanjian Hudaibiyah dengan Kaum Kafir Quraisy. Beliau juga pernah melaksanakan perjanjian dengan suku-suku di Yatsrib (Madinah) dalam sebuah piagam yang dinamakan Piagam Madinah (shahifatul madinah). Dalam setiap perjanjian yang dibuat, Rasulullah s.a.w selalu menepatinya dengan baik. 

  • Bersaksi dengan jujur 

Menurut Al-Maroghi, persaksian adalah bentuk dari penunaian amanat; namun hal ini disebut lagi dalam ayat selanjutnya sebagai bentuk penegasan akan pentingnya persaksian dengan jujur jika diminta.  

Seorang Muslim harus bersaksi dengan jujur. (Pinterest)

Lebih jauh, Prof. Wahbah Az-Zuhaili memaparkan bahwa bersaksi dengan jujur adalah dengan tidak menambahkan dan mengurangi, tidak menyembunyikan dan merubahnya sedikit pun. Semua disampaikan apa adanya. 

Jika seseorang bersaksi dengan tidak jujur, tentu hal itu akan berakibat merugikan bagi sebagian orang dan ini akan menghantui dia dalam sisa hidupnya. 

  • Menjaga shalat yang sempurna

Seakan menguatkan poin sebelumnya, yang mengatakan bahwa seorang beriman adalah mereka yang mendawamkan shalat, maka ayat ini menegaskan bahwa orang beriman akan menjaga kesempurnaan shalat-nya. 

Dalam catatan Al-Maroghi, menyempurnakan shalat mencakup: 1) memahami bacaan shalat dan menghayatinya; 2) menjaga syarat-syarat dan menyempurnakan fardhu-nya; dan 3) mengosongkan diri dari selain Allah ketika mulai menegakkan shalat. 

At-Thobari melihat bahwa yang termasuk menjaga shalat adalah dengan menunaikan shalat pada waktunya serta tidak menyia-nyiakan waktu shalat sehingga pada waktu-waktu terakhirnya. 

Seorang mukmin yang ingin terhindar dari kondisi halu’ harus menunaikan shalat dengan sempurna sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan. 

Ganjaran bagi orang yang memiliki sifat sepuluh di atas – selain terhindar dari kondisi halu’ – tapi juga dijanjikan oleh Allah swt kehidupan surgawi yang kekal dan mulia. Tentu ini adalah dambaan setiap mukmin. Semoga Allah swt memberikan taufiq dan ‘inayah agar dimasukkan ke dalam orang-orang yang beriman dan mengamalkan semua perintah-Nya. Aamiin. []  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s