Tentang Kematian

tumblr.com

Tidak ada seorang pun yang bisa menangguhkan datangnya kematian yang telah digariskan oleh Allah swt. Ajal akan tetap datang meskipun kita mencoba segala cara untuk mencegahnya (Q.S. 63: 11). Entah itu dengan bersembunyi di benteng yang tinggi dan kokoh (Q.S. 4: 78), atau pergi ke luar angkasa yang mana kita anggap tidak ada satu pun bahaya yang bisa mengintai, tetap saja dia akan menghampiri.

Manusia memiliki siklus kehidupan yang jelas. Dia diciptakan dari ketiadaan, lalu dimatikan lagi, dan akhirnya berujung pada kehidupan yang kekal di akhirat kelak (Q.S. 2: 28).

Iya, sekilas itu nampak mustahil, namun mari kita berpikir lebih jauh. Apakah mungkin seseorang dibangkitkan dari kematian? Sangat mungkin, semungkin manusia dihidupkan dari ketiadaan, yang merupakan buah “perkelahian” antara sperma dan ovum (Q.S. 76: 2). Lalu apa beda fenomena ini dengan kebangkitan setelah kematian?

Dahulu kala ada seorang nenek yang memungut tulang-belulang yang telah lapuk dari tanah, lalu bertanya kepada Sang Bijak, “Siapakah pula yang akan dapat menghidupkan kembali tulang-belulang ini padahal dia telah lapuk?” (Q.S. 36: 78)

Lalu jawaban pun datang, “Yang akan menghidupkannya ialah yang menjadikannya pertama kali.” (Q.S. 36: 79).

Lihat! Dulu sesosok manusia pernah mengalami sebuah “ketiadaan” yang mana namanya tidak pernah disebut (Q.S. 76: 1), dan tidak pernah dikenal. Namun, kini dia menjadi seseorang yang masyhur, namanya dipuja dan dipuji, sampai seringkali hal itu melalaikannya untuk mengingat kematian yang akan segera datang menjemput. Namun, pada ujungnya dia akan menemui sang ajal, yang telah menanti semenjak kedatangannya ke kolong langit ini. Dan apa yang didapat hilang tak berbekas, kecuali amalan saleh yang dia ukir selama hidup. Pantas saja Sang Bijak berdawuh, “Yang mengikuti mayit ke kuburnya ada tiga, lalu dua kembali dan yang tinggal bersamanya hanya satu; yang mengikutinya adalah keluarganya, hartanya dan amalnya, lalu kembali keluarga dan hartanya, dan yang tinggal hanya amalnya.”

Beliau pun mengabarkan kematian sebagai berikut, “Allah swt menghinakan manusia dengan kematian, dan menjadikan dunia sebagai tempat kehidupan yang fana, dan menjadikan akhirat sebagai tempat pembalasan yang kekal.”

Eksistensi kematian – dan juga kehidupan – dimaksudkan untuk menguji sejauh mana manusia berbuat kebajikan di muka bumi (Q.S. 67: 2). Barangsiapa yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya. Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sunguh, surgalah tempat tinggalnya (Q.S. 79: 37 – 41).

Semoga Allah menempatkan kita dalam golongan orang-orang yang mendapatkan karunia-Nya di kehidupan akhirat kelak. Amin. (*)

Advertisements

Argumentasi Hari Kebangkitan (2): Kandungan Q.S. An-Naba’ ayat 1-16

hisab

Ayat-ayat dalam al-Quran al-Karim seringkali turun untuk merespon gejolak sosial yang terjadi dalam masyarakat Arab pada zaman Rasulullah saw. Namun begitu, esensi dari ayat tersebut bisa dijadikan sebagai jawaban terhadap permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat modern, karena pada dasarnya situasi sosial pada masa lampau dapat terulang kembali pada masa sekarang meskipun dengan situasi yang lebih kompleks.

Dalam Q.S. An-Naba’ ayat 1-5 diterangkan bahwa masyarakat Arab pada zaman Rasul saw saling berbantahan tentang kebenaran berita besar yang dibawakan oleh Muhammad saw perihal tiga hal: tauhid, kenabian dan hari kebangkitan. Khusus mengenai yang terakhir, diterangkan bahwa pernah suatu waktu ada di antara kaum Quraisy yang memungut tulang yang telah lapuk dari tanah dan bertanya kepada Nabi saw., “Siapakah pula yang akan dapat menghidupkan kembali tulang-belulang ini padahal dia telah lapuk?” (Q.S. Yaa-Siin ayat 78) Lalu turunlah ayat setelahnya yang berbunyi, “Yang akan menghidupkannya ialah yang menjadikannya pertama kali.” (Lihat tafsir al-Azhar, Buya Hamka halaman 8 Juz 30). Ini adalah argumentasi rasional sekaligus empiris yang menjawab kemungkinan adanya hari kebangkitan.

Ayat ini menjadi sekian ayat dalam al-Quran yang memberikan argumentasi tentang kemungkinan terjadinya hari kiamat dan kebangkitan. Pola yang digunakan al-Quran dalam memberikan argumentasinya adalah dengan menyodorkan fakta-fakta keajaiban dunia yang sekilas tidak mungkin, tapi karena keagungan Allah, hal itu bisa terjadi. Misal saja dalam Q.S. An-Nazi’aat ayat 27-33 Allah swt memaparkan bahwa Dia mampu menciptakan langit dan bumi, menegakannya, serta menciptakan siang dan malam, menghamparkan bumi, mengalirkan air dan menumbuhkan tumbuhan, serta menancapkan gunung di muka bumi. Kalau saja hal yang “sulit” itu bisa Allah lakukan, mengapa tidak dengan membangkitkan manusia di akhirat kelak?

Dalam Q.S. An-Naba’ ayat 6-16 Allah swt menjelaskan lagi dengan lebih gamblang bagaimana Dia mampu membuat hal-hal yang lebih hebat dari “hanya” sekedar membangkitkan manusia dari kematian. Dalam surat ini dibentangkan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah swt seperti bumi yang dibentangkan, gunung-gunung yang kokoh terpancang, makhluk yang diciptakan berpasangan, tidur yang dijadikan pelepas lelah, malam yang dijadikan pakaian, siang yang bisa dijadikan lahan kehidupan, tujuh langit yang dikokohkan, matahari yang  terang benderang, awan yang bercucuran sehingga dari sana bisa tumbuh biji-biji dan tumbuhan dalam kebun-kebun yang rindang dan lebat.

Serentetan bukti kekuasaan Allah swt tersebut hendaknya membuka mata kita akan betapa mudahnya bagi Dia untuk membangkitkan manusia di hari kiamat pada hari pembalasan kelak. Wallahu a’lam (*)