Argumentasi Hari Kebangkitan (2): Kandungan Q.S. An-Naba’ ayat 1-16

hisab

Ayat-ayat dalam al-Quran al-Karim seringkali turun untuk merespon gejolak sosial yang terjadi dalam masyarakat Arab pada zaman Rasulullah saw. Namun begitu, esensi dari ayat tersebut bisa dijadikan sebagai jawaban terhadap permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat modern, karena pada dasarnya situasi sosial pada masa lampau dapat terulang kembali pada masa sekarang meskipun dengan situasi yang lebih kompleks.

Dalam Q.S. An-Naba’ ayat 1-5 diterangkan bahwa masyarakat Arab pada zaman Rasul saw saling berbantahan tentang kebenaran berita besar yang dibawakan oleh Muhammad saw perihal tiga hal: tauhid, kenabian dan hari kebangkitan. Khusus mengenai yang terakhir, diterangkan bahwa pernah suatu waktu ada di antara kaum Quraisy yang memungut tulang yang telah lapuk dari tanah dan bertanya kepada Nabi saw., “Siapakah pula yang akan dapat menghidupkan kembali tulang-belulang ini padahal dia telah lapuk?” (Q.S. Yaa-Siin ayat 78) Lalu turunlah ayat setelahnya yang berbunyi, “Yang akan menghidupkannya ialah yang menjadikannya pertama kali.” (Lihat tafsir al-Azhar, Buya Hamka halaman 8 Juz 30). Ini adalah argumentasi rasional sekaligus empiris yang menjawab kemungkinan adanya hari kebangkitan.

Ayat ini menjadi sekian ayat dalam al-Quran yang memberikan argumentasi tentang kemungkinan terjadinya hari kiamat dan kebangkitan. Pola yang digunakan al-Quran dalam memberikan argumentasinya adalah dengan menyodorkan fakta-fakta keajaiban dunia yang sekilas tidak mungkin, tapi karena keagungan Allah, hal itu bisa terjadi. Misal saja dalam Q.S. An-Nazi’aat ayat 27-33 Allah swt memaparkan bahwa Dia mampu menciptakan langit dan bumi, menegakannya, serta menciptakan siang dan malam, menghamparkan bumi, mengalirkan air dan menumbuhkan tumbuhan, serta menancapkan gunung di muka bumi. Kalau saja hal yang “sulit” itu bisa Allah lakukan, mengapa tidak dengan membangkitkan manusia di akhirat kelak?

Dalam Q.S. An-Naba’ ayat 6-16 Allah swt menjelaskan lagi dengan lebih gamblang bagaimana Dia mampu membuat hal-hal yang lebih hebat dari “hanya” sekedar membangkitkan manusia dari kematian. Dalam surat ini dibentangkan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah swt seperti bumi yang dibentangkan, gunung-gunung yang kokoh terpancang, makhluk yang diciptakan berpasangan, tidur yang dijadikan pelepas lelah, malam yang dijadikan pakaian, siang yang bisa dijadikan lahan kehidupan, tujuh langit yang dikokohkan, matahari yang  terang benderang, awan yang bercucuran sehingga dari sana bisa tumbuh biji-biji dan tumbuhan dalam kebun-kebun yang rindang dan lebat.

Serentetan bukti kekuasaan Allah swt tersebut hendaknya membuka mata kita akan betapa mudahnya bagi Dia untuk membangkitkan manusia di hari kiamat pada hari pembalasan kelak. Wallahu a’lam (*)

 

Kenikmatan yang Mencukupi – Kandungan Q.S. An-Naba’ 31-36

peaceful-morning-in-hobbiton-new-zealand-1680x1050-wide-wallpapers.net

Setiap pilihan ada konsekuensinya. Begitupun dengan pilihan untuk mentaati perintah-Nya dan berjalan atas syariat-Nya. Jika dalam Q.S. An-Naba’ ayat 21-30 Allah menggambarkan betapa pedihnya siksa neraka, maka dalam penggalan ayat selanjutnya, Dia melukiskan indahnya tinggal di surga. Allah menggambarkan surga dengan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat buah-buahan yang ranum, termasuk anggur yang sangat spesial. Selain itu ada perempuan-perempuan cantik sebaya dan gelas-gelas yang diisi penuh dengan minuman yang lezat.

Sekilas gambaran tersebut sama halnya dengan “kenikmatan” terlarang yang ada di dunia, yaitu para pelacur dan minuman keras dalam pesta seks yang penuh dengan hawa nafsu. Namun, dalam penggalan ayat selanjutnya Allah swt menjelaskan lebih jauh bahwa kenikmatan tersebut bukanlah atas dasar hawa nafsu karena di sana tidak akan ditemukan perkataan-perkataan yang sia-sia dan dusta yang timbul dari hawa nafsu. Hal ini beda dengan apa yang terjadi di dunia, di mana pesta seks tentu identik dengan perkataan kotor tersebut.

Tentunya, kita tidak bisa mengimajinasikan apa yang sebenarnya terjadi di surga dengan apa yang kita rasakan di dunia ini. Karena pada hakikatnya, apa yang terjadi di sana tidak pernah terlintas dalam pikiran, terdengar oleh telinga dan terlihat oleh mata kita di dunia. Artinya, kita serahkan kepada Allah tentang apa yang akan terjadi di sana. Yang penting, kita bisa lihat bahwa nikmat yang Allah berikan di surga sangatlah besar dan mencukupi. Bahkan lebih dari cukup.

Dan ini menjadi hadiah terindah bagi orang-orang yang mau menaklukan hawa nafsunya dan bersedia untuk berjalan di atas syariat-Nya. Wallahu a’lam. (*)

Balasan Setimpal – Kandungan Q.S. An-Naba’ ayat 21-30

kiamat1

Dalam Q.S. An-Nazi’aat 37-39 diungkapkan bahwa konsekuensi dari melanggar batas adalah neraka jahim. Lalu, dalam Q.S. An-Naba’ ayat 21-30 Allah menjelaskan gambaran dari siksaan bagi para penghuni neraka. Hal ini sengaja Dia paparkan sebagai peringatan dini bagi manusia yang memilih untuk melanggar batas dan kesengsrem dengan kehidupan dunia.

Dalam penggalan surat ini Allah swt kembali menegaskan bahwa neraka jahannam diperuntukan bagi thogiin (orang-orang yang melewati batas) atau sederhananya orang-orang durhaka. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azharnya menandaskan bahwa thogiin itu adalah orang-orang yang tidak mau untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Allah melalui al-Quran dan al-Hadits. Itu termasuk orang kafir atau mungkin saja orang yang beriman tapi tidak mau menjalankan syariat-Nya (na’udzubillah).

Bahwasanya neraka jahannam selalu siap mengintai bagi orang-orang yang durhaka sehingga ketika hari kebangkitan tiba neraka akan menjadi tempat kembali bagi mereka. Lalu berapa lamakah mereka akan tinggal di dalamnya? Al-Quran menggunakan terminologi ahqoba’ yang merupakan jama’ dari huqban. Menurut Buya Hamka, huqban itu selama 80 tahun. Itu artinya mereka akan tinggal di dalam neraka kelipatan dari 80 tahun. Menyitir al-Qurthubi, Buya Hamka menyatakan bahwa mungkin ini adalah kiasan dari keadaan bahwa mereka akan tinggal di dalamnya untuk selama-lamanya.

Selanjutnya, Allah menggambarkan keadaan pedih yang akan mereka alami di dalam neraka. Para penghuni neraka tidak akan merasakan kesejukan dan minuman pelepas dahaga. Apabila mereka kehausan, yang akan mereka dapatkan adalah air mendidih dan nanah yang berasal dari luka para penghuni neraka. Anda bisa mengimajinasikan sendiri bagaimana pedihnya hidup di dalam neraka. Di dalam dunia saja ketika kita mau meminum air panas, maka kita akan mendinginkannya dengan mendiamkannya atau memasukkannya ke dalam lemari es. Di neraka, mereka dipaksa untuk meminum air mendidih yang tentunya bukan menghilangkan rasa haus, akan tetapi merusak tubuh yang sudah rusak.

***

Pedihnya siksaan neraka itu adalah balasan setimpal bagi para pelanggar batas yang tidak mau mendengar peringatan dengan tidak mempercayai akan adanya hari pembalasan dan tanda-tanda kekuasaan Allah swt yang begitu banyak. Allah sudah sangat baik dengan memberikan peringatan dini dalam kitab-Nya, namun ternyata masih banyak manusia yang tetap dalam pengingkarannya. Maka dengan sendirinya dia secara sadar memilih untuk menerima balasan setimpal di akhirat kelak berupa siksaan neraka yang begitu pedih. Wal ‘iyyad billah. Wallahu a’lam. (*)

 

Amalan tidak Mungkin Berkhianat – Kandungan Q.S. An-Nazi’aat ayat 34 – 41

khianat

Hidup adalah proses memilih di antara sekalian pilihan yang ada dalam kehidupan. Uniknya, manusia diberikan kebebasan oleh Allah swt untuk memilih jalan hidupnya; apakah dia mau taat atau ingkar; takwa atau durhaka dan lurus atau bengkok. Tentunya, setiap pilihan memiliki konsekuensi tersendiri dan dibebankan pada kita yang telah memutuskan pilihan tersebut.

Misi manusia di muka bumi adalah untuk beribadah kepada Allah swt, Sang Pencipta Alam. Namun begitu, Allah swt tetap memberikan kebebasan bagi manusia apakah mau menjalankan misi ini, atau dia memilih untuk meninggalkannya. Tentunya sebagai bentuk tanggungjawab terhadap pilihan ini, Allah juga telah menyiapkan balasan atas setiap pilihan. Dalam Q.S. An-Nazi’aat ayat 34-41, Allah swt menjelaskan dua konsekuensi terhadap pilihan yang telah diambil oleh manusia. Pertama, apabila manusia memilih untuk melanggar batas dan mengutamakan dunia, maka neraka jahim telah Allah swt persiapkan baginya di akhirat kelak. Sebaliknya, apabila dia takut kepada Tuhannya dan menahan diri untuk mengikuti hawa nafsunya, maka surga telah disiapkan baginya.

Ayat ini mengajarkan kita bahwa setiap keputusan mesti ada resiko yang melingkupinya. Misalnya saja kita memilih untuk beriman kepada-Nya dan menjalankan syariat-Nya, maka kita harus membayarnya dengan “menggadaikan” kesenangan duniawi kita demi Allah yang Maha Kuasa. Namun, pengorbanan ini insya Allah akan berujung bahagia karena Allah telah menciptakan surga baginya di akhirat kelak.

Sebaliknya, apabila kita lebih memilih kesenangan duniawi dengan mengabaikan semua peringatan Allah swt di muka bumi, maka itu pun memiliki konsekuensi. Kita harus ridha untuk mendapatkan jatah siksa neraka saat sasangkala ditiupkan oleh malaikat untuk yang kedua kalinya.

Kita coba lebarkan contohnya dengan kehidupan nyata manusia. Ketika seseorang memutuskan untuk bekerja keras dalam hidupnya, maka barang tentu Allah swt memberikan reward kepadanya berupa beberapa kesenangan duniawi seperti kekayaan yang melimpah, isteri yang shalehah atau putra-putri yang membanggakan. Namun, apabila orang tersebut memilih sebaliknya, maka kesulitan hidup sudah barang tentu siap menghampirinya; Insya Allah amalan kita tidak berkhianat, meskipun semuanya kembali kepada hak prerogratif-Nya untuk mengatur kehidupan. (*)

 

Kalau tidak mau beriman kepada-Nya dan berjalan dalam syariat-Nya, lebih baik menjadi debu saja, karena ketahuilah siksaan Allah begitu pedih.

pinterest.com

pinterest.com

 

Dalam pelbagai tempat di al-Quran (seperti Q.S. An-Naba’ ayat 39-40), Allah swt telah memperingatkan umat manusia tentang tujuan penciptaannya dan misinya di muka bumi. Bahwasanya Allah telah menyediakan syariat-Nya untuk menjadi panduan bagi umat dalam melangkah di muka bumi, namun sayang, karena mengikuti hawa nafsu desktruktif, banyak manusia yang tidak mau taat dan patuh terhadap syariat-Nya. Bahkan, beberapa di antara mereka cenderung untuk mengolok-olok seruan ini padahal ini semua adalah untuk kebaikan umat manusia.

Dalam beberapa segi, mengikuti syariat yang telah digariskan oleh Allah memang cukup sulit, apalagi kalau hawa nafsu telah menjadi hamba manusia. Sisi iblis yang dimiliki oleh manusia akan memperdaya aspek malaikat yang dimilikinya sehingga kenikmatan dunia akan menyilaukan gerak langkah umat manusia di muka bumi. Sebenarnya, secara common sense manusia bisa memilah mana hal yang baik dan buruk, akan tetapi kecenderungan terhadap hawa nafsu membutakan mata hatinya. Akibatnya, kerusakan di muka bumi tidak bisa dielakkan lagi sebagai imbas dari pendewaan terhadap hawa nafsu.

Atas dalih humanisme dan kebebasan, segala bentuk kontrol terhadap hawa nafsu menjadi hal yang dianggap durhaka dan mencederai kemerdekaan manusia atas dirinya. Tangan Tuhan dibungkam dengan dalih-dalih hermeneutis yang membuat perintah Tuhan bias dan seakan tidak bisa dipahami oleh manusia. Maka yang muncul adalah nilai-nilai relatif yang paramaternya menjadi liar, sehingga nilai-nilai fundamental agama hancur tak berbekas.

Walhasil, manusia menjadi kalap dan merasa sangat berat untuk mengikuti segala aturan yang telah Allah terapkan dalam berbagai sumber keagamaan. Firman-Nya tak boleh didengungkan dan diganti oleh fatwa-fatwa hawa nafsu yang liar dan merusak. Kemaksiatan menjadi raja yang merajalela dan membungihanguskan orang-orang yang konsisten untuk berjalan di atas bara panas syariat-Nya. Peringatan-peringatan tentang balasan atas angkara murka ini menjadi lirih dan sayup terdengar oleh telinga manusia. Kalau sampai ke telinga manusia, maka akan serta merta diabaikan karena suara kemungkaran lebih keras terdengarnya.

Jikalau manusia enggan untuk beriman dan mengikuti perintah-Nya, alangkah lebih baik dia menjadi debu sehingga tidak perlu mempertanggungjawabkan segala amalannya selama di dunia. Penyesalan hanyalah sia-sia karena tidak akan bisa memutar waktu yang telah lampau. (*)

 

 

Argumentasi Hari Kebangkitan – Kandungan Q.S. An-Nazi’aat ayat 27-33

hisab

Tentulah sangat mudah bagi Allah swt untuk membangkitkan manusia dari kematian meskipun dalam pandangan empiris kita itu adalah hal yang tidak bisa dicerna oleh akal. Allah swt melalui firman-Nya yang agung dalam al-Quran menyatakan bahwa bagi Allah membangkitkan manusia setelah kematiannya adalah semudah menciptakan mereka dari ketiadaan.

Dalam penjelasan-Nya di Q.S. An-Nazi’aat ayat 27-33 Allah swt seakan memberikan argumentasi nalar rasional bagi orang-orang yang meragukan akan adanya kebangkitan setelah kematian; Dia menyatakan bahwasanya membangkitkan manusia setelah kematiannya tidaklah “sesulit” seperti Dia menciptakan langit dan bumi, menegakannya, serta menciptakan siang dan malam, menghamparkan bumi, mengalirkan air dan menumbuhkan tumbuhan, serta menancapkan gunung di muka bumi. Kalau saja hal yang “sulit” itu bisa Allah lakukan, mengapa tidak dengan membangkitkan manusia di akhirat kelak?

Ayat ini seakan menjawab pandangan sinis kaum ateis dalam menyikapi kabar tentang kebangkitan manusia. Bagi mereka, setelah manusia menemui ajalnya dan disemayamkan, maka jasadnya akan kembali ke alam dan menjadi fosil. Dalam beberapa praktek di dunia Barat, ada sebagian manusia yang “mewakafkan” jasadnya untuk menjadi pupuk organik yang menurut mereka lebih bermanfaat daripada hanya menjadi tugu peringatan kematian yang dikenang oleh kerabatnya. Tentu saja hal itu mereka lakukan karena tidak mempercayai cerita tentang siksa kubur, alam akhirat serta surga dan neraka. Dalam banyak tempat di al-Quran, Allah swt memberi peringatan terhadap golongan umat manusia ini disertai beberapa argumentasi rasional yang membantah pendapat mereka. (*)

Musa vs. Fir’aun – Kandungan Q.S. An-Nazi’at ayat 15-26

unnamed

Tatkala Nabi Muhammad saw sedih karena melihat dakwah tidak begitu efektif dan masyarakat semakin menunjukkan pengingkaran mereka terhadap Allah dan rasul-Nya, Allah swt menceritakan kepadanya berita tentang Musa dan Fir’aun melalui Q.S. An-Naazi’at ayat 15-26. Pemaknaan terhadap cerita tentang dua orang penting ini haruslah diperluas, karena dalam penggalan ayat tersebut, Allah menyiratkan bahwa harus ada pelajaran yang dipetik, terutama bagi orang-orang yang takut kepada-Nya.

Musa adalah simbol orang-orang yang saleh dan menyerukan kebenaran Tuhan di muka bumi, sedangkan Fir’aun adalah potret orang-orang lalim yang membuat kerusakan di atas bumi dan mengikrarkan diri sebagai tuhan atas nama keserekahan dan kesombongan. Bagaimana tidak, golongan kedua ini mengolok-olok seruan dari para pemuka agama tentang kewajiban untuk berjalan dalam tuntunan agama dan menjadikannya guyonan receh di warung kopi. Mereka menyangka bahwa kemajuan yang mereka dapat sebagai buah eksplorasi alam dan akal bisa melepaskan mereka dari jerat Tuhan dan kuasa-Nya.

Sekali lagi, ada sebuah kecenderungan bahwa semakin maju suatu kaum, maka semakin rendah tingkat keberagamaan mereka. Ini adalah fakta sosiologis yang tidak terbantahkan. Atas nama ilmu pengetahuan, manusia modern menolak hal-hal yang berbau metafisis dan melihatnya sebagai mistis dan anti-tesis dari peradaban modern. Tepatlah kalau misalnya dalam kajian humanisme manusia menjadi sentral dan semuanya harus tunduk di hadapannya, termasuk Tuhan.

Marilah kita melongok ke negara-negara “maju” seperti Amerika Serikat dan Britania Raya maka di sana kita akan menemukan tuhan-tuhan jenis baru. Di Amerika Serikat para artis menjadi tuhan dan uang serta ketenaran adalah agamanya. Di Inggris, orang-orang mengatakan bahwa agama yang populer di sana adalah sepak bola dan uang adalah tuhannya. Di lembaga-lembaga semisal perguruan tinggi dan lembaga riset, ilmu penggetahuan adalah rajanya, dan akidah mesti tergadai dalam laboratorium-laboratorium dan eksprimen di dalamnya. Lihat saja bagaimana para ilmuwan merasa sangat yakin – atas nama penemuan ilmu pengetahuan – bahwa nabi Adam adalah seorang manusia monyet yang tingkat kecerdasannya sangat rendah bila dibandingkan dengan manusia modern.

Dunia akan mengulangi sejarahnya dan cerita tentang Musa dan Fir’aun akan ada sepanjang manusia masih menghembuskan nafas di muka bumi dan membangun peradabannya. Maka kita sebagai umat yang diberikan anugerah keimanan harus mengikuti jejak nabi agung Musa alaihissalam dengan menentang kesewenangan manusia-manusia congkak model Fir’aun al-Walid bin Arrayan. (*)