Azab Neraka Bagi Orang Kafir – Q.S. Al Mulk (67/ 6-11) – Ulasan Kitab Tafsir

Ayat 6

Orang-orang yang mendustakan eksistensi Allah, niscaya mereka akan mendapatkan neraka jahannam, yang mana itu adalah sejelek-jeleknya tempat kembali. Semenjak dahulu sampai sekarang, selalu ada golongan manusia yang secara terang-terangan mengingkari ketuhanan Allah swt dan menyerang orang-orang yang menyeru masyarakat kepada-Nya. Bahkan mereka membangun organisasi non-pemerintah (non-government organization) yang memfokuskan diri pada kampanye pengingkaran kepada Tuhan. Richard Dawkins, seorang biolog asal Inggris, misalnya, menulis banyak buku (salah satunya “God Delusion”) dan artikel yang mengkampanyekan ateisme dan mengolok-olok kaum beragama dan mendirikan sebuah NGO bernama Richard Dawkins Foundation for Reason and Science (RDFRS) untuk membantu menjalankan misinya ini. Dia menggandeng para public figure terutama dari kalangan selebriti barat untuk menarik masyarakat awam supaya bergabung dalam gerakannya. Sampai saat ini usahanya terbilang sukses karena mendapatkan pendanaan yang cukup.

Terhadap orang-orang seperti ini, Allah swt telah menjanjikan neraka jahannam sebagai tempat kembali mereka. Balasan ini disiapkan karena mereka tetap tidak mau beriman, meskipun Allah swt telah memperingati mereka dalam berbagai risalah yang disampaikan oleh utusan-utusan-Nya.

Dalam ayat-ayat selanjutnya, Allah swt menggambarkan neraka sebagai suatu hal yang mengerikan.

Ayat 7

Ketika kaum tidak beriman dilemparkan ke dalam api neraka, mereka mendengar suara yang mengerikan dan neraka menggelegak panas membara. Dalam ayat ini, terdapat dua sifat neraka; a) memiliki suara menggelegar yang memekakan telinga, dan 2) menggelegak karena saking panasnya.

Menurut Jalaluddin & Jalaluddin suara mengerikan yang terdengar ketika kaum kafir dilemparkan ke dalam api neraka menyerupai suara keledai yang berteriak dan memekakan telinga. Dalam konteks budaya Arab, suara keledai dianggap sebagai sejelek-jeleknya suara di seantro alam semesta. Di sini, Allah seakan ingin menunjukan betapa hinanya orang yang dimasukkan ke dalam neraka akibat perbuatannya di dunia.

Menurut ar-Razi kaum kafir dimasukkan ke dalam neraka bak kayu bakar yang dilemparkan ke dalam api yang besar dan menggelegak. Setiap hal yang mendidih, pasti mengeluarkan bunyi yang menggelegak. Gelegak ini berasal dari kuali yang didalamnya terdapat campuran asap, kemarahan, dan air mata. Deskripsi ini menggambarkan ekspresi kemarahan neraka kepada orang-orang yang menyiakan hidup mereka di dunia dengan menafikan eksistensi Tuhan setelah datang penerangan dari para rasul.

Hal ini diperkuat dengan penjelasan pada ayat-ayat selanjutnya;

Ayat 8

Neraka hampir pecah disebabkan kemarahannya kepada orang-orang yang dimasukkan ke dalamnya. Dia merasa nyinyir karena kaum kafir tidak mendengarkan seruan dari para rasul dan ulama selama mereka masih hidup di muka bumi.

Al-Maroghi mengutip pendapat Al-Razi menjelaskan deskripsi kemarahan neraka ini dengan analogi terhadap proses kemarahan anak manusia. Menurut dia, tatkala seseorang marah, maka akan menyebabkan bergejolaknya darah di dalam tubuh. Ketika itu, darah akan membesar melebihi ukurannya pada waktu normal. Pembuluh darah akan menegang, dan akan semakin kuat tegangannya tatkala kemarahan semakin memuncak. Bagi orang yang memiliki riwayat hipertensi, hal ini bisa mengakibatkan pecahnya pembuluh darah.

Al-Razi kemudian memberikan beberapa argumen apabila ada yang mempermasalahkan analogi pecahnya neraka dengan meledaknya kemarahan seseorang, karena neraka bukanlah makhluk hidup seperti halnya manusia. Menurut dia ada tiga argument; 1) Konstruksi suatu hal tidaklah menjadi syarat kehidupan sesuatu, bisa saja Allah swt menciptakan neraka sebagai makhluk hidup, 2) ini merupakan analogi gelegar suara api neraka dengan mendidihnya kemarahan seseorang, dan 3) mungkin saja ini merupakan analogi kemarahan seseorang dengan kemarahan malaikat penjaga neraka.

Tatkala golongan manusia dari kaum kafir dimasukkan ke dalam api neraka, malaikat penjaga neraka, yaitu malaikat Malik yang dibantu dengan para malaikat Zabaniah, bertanya dengan sindiran tentang apakah telah dating kepada mereka pemberi peringatan (para rasul, wali, ulama dsb.) selama hidup di muka bumi. Ayat ini merupakan keadilan Allah swt bahwasanya taklif hanya berlaku kepada seseorang ketika dia sudah mendapatkan informasi tentang risalah Islam. Menurut Ar-Razi beberapa ulama berpendapat bahwa ayat ini menunjukan bahwa Allah swt hanya akan mengazab seseorang jika telah sampai kepadanya seorang pemberi peringatan baik dari para rasul, wali, ulama, dsb. Maka apabila belum datang kepadanya informasi tentang Islam, maka Allah tidak akan memberi azab di akhirat kelak.

Dalam dua ayat selanjutnya, Allah swt menggambarkan jawaban sekaligus penyesalan dari kaum kafir tentang sikap kufur selama hidup di dunia.

Ayat 9

Mereka mengakui bahwa selama di dunia, mereka telah mendapatkan informasi tentang risalah Islam dari para rasul dan penggantinya dari golongan wali dan ulama. Sayangnya, alih-alih membenarkan dan mengikuti kebenaran ini, mereka mengingkarinya, bahkan menuduh para rasul dan ulama dalam kesesatan yang nyata.

Kaum kafir melihat bahwasanya apa yang dibawa oleh para rasul bukanlah berasal dari Tuhan, dan mereka melihat tidak ada keistimewaan yang didapat oleh mereka sebagai pembawa risalah-Nya di muka bumi. “Kamu bukanlah seseorang, melainkan manusia seperti kita,” tandas mereka kepada para rasul.

“Kamu adalah orang-orang yang mengaku membawa kebenaran, padahal apa yang kamu sampaikan jauh darinya,” tambah mereka di hadapan para rasul.

Jelaslah mereka mengakui pengingkaran mereka terhadap risalah yang dibawa oleh para rasul dan diteruskan oleh para wali dan ulama. Ini adalah sebuah kezaliman yang telah mereka perbuat karena mereka sebenarnya telah diperingati tentang hal ini sebelumnya. Akan tetapi hawa nafsu mereka telah menutupi hati mereka untuk menerima kebenaran. Maka, sungguh sangat adil apabila Allah swt mengazab mereka di negeri akhirat.

Ayat 10

Akhirnya kaum kafir mengungkapkan penyesalan mereka yang tidak memanfaatkan anugerah telinga untuk mendengar dan akal untuk berpikir dan mencerna mencerna kebenaran yang dibawa oleh para rasul dan penerusnya dari golongan wali dan ulama, sehingga mereka tertipu oleh kenikmatan dunia dan konsekuensinya harus merasakan pedihnya siksa neraka di negeri akhirat.

Sejatinya, terselip dalam lubuk hati mereka keyakinan akan kebenaran wahyu Tuhan. Namun, karena nafsu angkara menjadi pegangan, hal ini menutup hati mereka untuk menerima kebenaran tersebut. Walhasil penyesalan menjadi sia-sia, dan mereka harus siap menghadapi siksa neraka.

Ayat 11

Penyesalan terhadap pengingkaran eksistensi Tuhan selama hidup di dunia menjadi sia-sia, karena alam akhirat adalah waktu pembalasan. Maka kebinasaan akan menghampiri bagi orang-orang kafir selama hidup mereka di akhirat, sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan selama hidup di dunia. (*)

 

Advertisements

Penyesalan yang Sia-Sia – Kandungan Q.S. Al-Mulk (67: 6-11)

sumber foto: jokowarino.id

Dalam beberapa tempat di al-Qur’an, Allah swt mendeskripsikan pedihnya siksa neraka yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir, yang mengingkari eksistensi Tuhan dan menolak untuk menjalankan syariat-Nya yang dibawa oleh para rasul.

Dalam Q.S. Al-Mulk (67: 6-11) misalnya Dia menyebut neraka sebagai sejelek-jeleknya tempat kembali bagi manusia, tatkala mereka memasuki negeri akhirat. Neraka akan menyambut para calon penghuninya dengan lengkingan yang menggelegar seperti erangan keledai yang begitu memekikan telinga. Hampir saja neraka terbelah karena erangan kemarahan yang sangat memuncak ketika kaum kafir hendak dijebloskan ke dalamnya.

Seperti dalam ayat-ayat lain yang menggambarkan pedihnya siksa neraka, tipikal ayat seperti ini selalu bersifat fenomenal dan dahsyat. Hal ini seakan ingin menunjukan betapa hinanya pengingkaran terhadap Tuhan dan syariat-Nya yang dibawa oleh para rasul selama hidup di dunia.

Beberapa ahli berpendapat bahwa deskripsi detail tentang pedihnya neraka – dan indahnya surga – mengandung makna majazi, mengingat dalam keterangan lain disebutkan bahwa gambaran tentang keindahan surga tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Artinya, kita tidak mungkin bisa membayangkan apa yang terjadi di sana, sama persis dengan apa yang kita temui di dunia.

Intinya, gambaran tersebut hanya ingin menunjukan betapa indahnya kenikmatan surga dan pedihnya siksa neraka tanpa berpretensi untuk memberikan deskripsi detail tentang apa yang terjadi di sana secara real.

***

Gambaran tentang pedihnya siksa neraka selalu disisipi ungkapan penyesalan yang dilontarkan oleh kaum kafir yang secara nyata melihat kebenaran kalam Tuhan ketika mereka sudah masuk ke alam akhirat. Dalam Q.S. An-Naba’ (78: 40) diceritakan bahwa kaum kafir berharap dilahirkan menjadi debu saja tatkala melihat hisaban amalan mereka di dunia dan bayangan pedihnya siksa neraka yang akan mereka hadapi.

Dalam Q.S. Al-Mulk (67: 6-11) pun diceritakan penyesalan kaum kafir karena mereka tidak mau menggunakan akal dan telinga mereka untuk mencerna kebenaran yang dibawa oleh para rasul, sehingga harus menanggung konsekuensinya di akhirat. Namun tentunya, penyesalan itu adalah sia-sia dan mereka akan tetap terjauh dari rahmat Allah swt di alam akhirat. (*)

Kesempurnaan Ciptaan Allah swt vs Ketidaksempurnaan Ciptaan Manusia

dream.co.id

Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan cepat sebagai buah dari penelitian yang dilakukan secara masif dan berkelanjutan serta didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni dan berdedikasi.

Umat manusia melakukan investasi besar-besaran dalam bidang sains dengan menyiapkan pendanaan tak terbatas (unlimited funding) untuk menyekolahkan para ilmuwan, membangun laboratorium-laboratorium penelitian, hingga mengembangkan sumber daya alam terbarukan (renewable natural resources). Kolaborasi antara ilmuwan dan penyandang dana menghasilkan penemuan-penemuan yang diharapkan mampu membawa manusia pada kesejahteraan yang paripurna.

Sayangnya, harapan tidak mesti sesuai dengan kenyataan. Keinginan untuk meraih kesejahteraan tidak sepenuhnya dapat diraih, karena dalam titik tertentu pencapaian mengagumkan ras manusia ini justru menimbulkan masalah-masalah baru yang tidak terpikirkan oleh mereka sebelumnya.

Disamping hal-hal positif yang dinikmati manusia sebagai berkat perkembangan iptek, ada ekses negatif yang tidak bisa kita anggap sepele. Misalnya, tren perkembangan teknologi gawai nyatanya dibarengi dengan tercerabutnya kohesi sosial dalam pergaulan manusia. Dewasa ini, manusia milenial lebih tertarik berinteraksi secara maya daripada bertemu secara nyata. Sering kita baca berita tentang remaja yang meninggal karena terlalu lama bermain permainan daring (online game), atau potret pertemuan keluarga masa kini, di mana yang dulunya hangat dengan obrolan antar anggota, kini dingin karena semua orang disibukkan dengan ponsel pintar mereka.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak didasari dengan kebijaksanaan menimbulkan berbagai masalah kompleks seperti kerusakan lingkungan yang akut. Pertumbuhan kota-kota industri sebagai respons dari permintaan (demand) masyarakat modern akan produk-produk hasil rekayasa industri, menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius. Di beberapa kota industri di negeri Tiongkok, misalnya, masyarakat harus rela kehilangan hak mereka untuk mendapatkan udara dan air bersih karena dua kebutuhan dasar tersebut telah tercemari sebagai akibat pertumbuhan pabrik-pabrik yang tidak terkontrol.

Para ahli berpendapat bahwa kerusakan lingkungan ini mengancam keberlanjutan hidup umat manusia di masa yang akan datang. Pemanasan global (global warming) yang disebabkan oleh penggunaan zat-zat berbahaya dalam konsumsi rumah tangga (misalnya penggunaan freon yang berlebihan) membawa bumi pada ambang kehancuran. Eksploitasi sumber daya alam yang rakus menyebabkan kelangkaan energi terutama bagi umat manusia di masa yang akan datang.

Karya cipta manusia yang penuh dengan kekurangan sangat kontras dengan ciptaan Allah yang begitu paripurna. Allah menciptakan alam semesta tanpa meninggalkan cacat sama sekali. Bahkan dalam “kecacatan” pun ada kesempurnaan. Misalnya, orang dengan disabilitas, meskipun dianggap penuh kekurangan, tapi nyatanya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia normal pada umumnya.

Planet bumi yang berada dalam sistem galaksi yang sangat luas, nyatanya bisa aman dari gesekan atau serangan benda-benda luar angkasa lainnya karena ada lapisan atmosfir yang melindunginya. Langit yang tinggi menjulang tidak runtuh meskipun tidak ada tiang yang menyangganya. Air yang sangat banyak tidak tumpah, meskipun bumi ini bulat. Berbagai kesempurnaan ini seharusnya membuat manusia semakin kagum akan ciptaan-Nya.

Allah swt menantang manusia untuk menemukan cacat dalam ciptaan-Nya (Q.S. 67: 3-4). Dia swt mengklaim bahwa manusia tidak akan pernah menemukannya. Semakin manusia menggali ciptaan-Nya, semakin mereka kagum dan tercengang. Kekaguman ini jika dilandasi dengan keimanan akan menghasilkan pribadi ilmuwan yang rendah hati dan antusias dalam mengorek lagi misteri yang belum tersibak dari alam semesta. Mereka akan menganggap bahwa semua penciptaan Allah tidak sia-sia.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”” (Q.S. 3: 190-191). (*)

Tentang Kematian

tumblr.com

Tidak ada seorang pun yang bisa menangguhkan datangnya kematian yang telah digariskan oleh Allah swt. Ajal akan tetap datang meskipun kita mencoba segala cara untuk mencegahnya (Q.S. 63: 11). Entah itu dengan bersembunyi di benteng yang tinggi dan kokoh (Q.S. 4: 78), atau pergi ke luar angkasa yang mana kita anggap tidak ada satu pun bahaya yang bisa mengintai, tetap saja dia akan menghampiri.

Manusia memiliki siklus kehidupan yang jelas. Dia diciptakan dari ketiadaan, lalu dimatikan lagi, dan akhirnya berujung pada kehidupan yang kekal di akhirat kelak (Q.S. 2: 28).

Iya, sekilas itu nampak mustahil, namun mari kita berpikir lebih jauh. Apakah mungkin seseorang dibangkitkan dari kematian? Sangat mungkin, semungkin manusia dihidupkan dari ketiadaan, yang merupakan buah “perkelahian” antara sperma dan ovum (Q.S. 76: 2). Lalu apa beda fenomena ini dengan kebangkitan setelah kematian?

Dahulu kala ada seorang nenek yang memungut tulang-belulang yang telah lapuk dari tanah, lalu bertanya kepada Sang Bijak, “Siapakah pula yang akan dapat menghidupkan kembali tulang-belulang ini padahal dia telah lapuk?” (Q.S. 36: 78)

Lalu jawaban pun datang, “Yang akan menghidupkannya ialah yang menjadikannya pertama kali.” (Q.S. 36: 79).

Lihat! Dulu sesosok manusia pernah mengalami sebuah “ketiadaan” yang mana namanya tidak pernah disebut (Q.S. 76: 1), dan tidak pernah dikenal. Namun, kini dia menjadi seseorang yang masyhur, namanya dipuja dan dipuji, sampai seringkali hal itu melalaikannya untuk mengingat kematian yang akan segera datang menjemput. Namun, pada ujungnya dia akan menemui sang ajal, yang telah menanti semenjak kedatangannya ke kolong langit ini. Dan apa yang didapat hilang tak berbekas, kecuali amalan saleh yang dia ukir selama hidup. Pantas saja Sang Bijak berdawuh, “Yang mengikuti mayit ke kuburnya ada tiga, lalu dua kembali dan yang tinggal bersamanya hanya satu; yang mengikutinya adalah keluarganya, hartanya dan amalnya, lalu kembali keluarga dan hartanya, dan yang tinggal hanya amalnya.”

Beliau pun mengabarkan kematian sebagai berikut, “Allah swt menghinakan manusia dengan kematian, dan menjadikan dunia sebagai tempat kehidupan yang fana, dan menjadikan akhirat sebagai tempat pembalasan yang kekal.”

Eksistensi kematian – dan juga kehidupan – dimaksudkan untuk menguji sejauh mana manusia berbuat kebajikan di muka bumi (Q.S. 67: 2). Barangsiapa yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh, nerakalah tempat tinggalnya. Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sunguh, surgalah tempat tinggalnya (Q.S. 79: 37 – 41).

Semoga Allah menempatkan kita dalam golongan orang-orang yang mendapatkan karunia-Nya di kehidupan akhirat kelak. Amin. (*)

Berlindung kepada Kuasa-Nya: Inspirasi Q.S. Al-Mulk/67: 1

kabarmakkah.com

Seringkali kita luput untuk meminta kepada Allah Yang Maha Kuasa ketika berada dalam kondisi yang lemah tak berdaya dalam menghadapi permasalahan hidup. Yang kita jadikan pegangan justru makhluk-Nya yang notabene kekuatannya tidak sehebat daru kita sebagai sesama makhluk-Nya.

Ketika hutang mendera, misalnya, yang kita dewa-dewakan justru adalah uang, atau pertolongan orang lain, untuk menutupi permasalahan tersebut. Maka, kita akan berusaha sekuat tenaga bagaimana mendapatkan uang tersebut, karena kita yakin bahwa itu adalah solusi dari permasalahan yang sedang kita hadapi. Maka, kita akan berusaha untuk berhutang kesana-kemari untuk menutupi hutang yang telah jatuh tempo. Ketika hutang baru tersebut akan jatuh tempo, maka kita kelabakan dan mencari hutang lagi, bagaimanapun caranya. Bahkan, cara-cara licik pun terpaksa kita gunakan, misalnya, dengan menggadaikan/menjual barang yang bukan milik kita. Begitulah kalau kita tidak meminta kepada Allah untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang kita miliki.

Padahal apabila kita merasa beriman kepada-Nya, maka segala bentuk kesusahan yang kita hadapi, akan kita konsultasikan kepada-Nya. Memang, Allah tidak serta merta mejatuhkan uang dari langit, tapi Insya Allah Dia akan berikan jalan yang akan membantu kita untuk menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi. Ketika kita dililit hutang, misalnya, terus berkonsultasi kepada Allah, maka mungkin Allah akan menghadirkan rizki yang kita tidak pernah menyangkanya. Siapa tahu, oplah penjualan perusahaan ujug-ujug meningkat. Atau bos memberikan bonus yang cukup besar sebagai imbalan dari pekerjaan yang melampaui target. Atau bisa jadi, hutang yang jatuh tempo tersebut bisa diperpanjang lagi, sehingga kita memiliki waktu lebih untuk melunasinya.

Di dalam Q.S. Al-Mulk ayat 1, jelas dikatakan bahwasanya Allah swt mampu untuk melakukan apa-apa yang Dia kehendaki, tanpa ada satu orang pun yang mampu mengintervensi-Nya. Jika begitu, maka siapa yang akan mencegah pertolongan Allah ketika kita sangat membutuhkannya? Tentu tidak akan ada yang mampu melakukannya! Maka sungguh sangat aneh, apabila kita tidak menangis meminta pertolongan dari-Nya tatkala dalam kesulitan. Apabila hal ini luput dilakukan, maka keimanan kita masih dipertanyakan.

Memang, seringkali sikap angkuh – yang mana hal itu sudah menjadi penyakit akut manusia modern – mencegah kita untuk meminta langsung kepada-Nya. Seorang intelektual Muslim liberal mengatakan bahwasanya doa adalah bentuk “kecemenan” kita sebagai manusia, padahal Allah swt telah menganugerahkan segalanya bagi manusia. Tentu kita tidak beranggapan seperti itu. Sekeras apapun usaha kita, tidak akan menandingi kuasa-Nya. Doa adalah bentuk pengakuan kita akan kegungan Tuhan yang mana tidak ada seorang makhluk pun yang mampu menandinginya. (*)

Q.S. Al Insaan 23 – 31: Perintah Allah swt Kepada Nabi Muhammad saw

sumber foto: bintang.com

Sinopsis

Penggalan ayat ini memaparkan perintah Allah swt kepada Nabi Muhammad saw untuk bersabar terhadap segala ancaman dari kaum kafir Quraisy. Setelah itu, Allah swt mewajibkan Rasul saw untuk shalat lima waktu dan tahajjud pada sepertiga malam.

Selain itu, Allah swt memberikan pilihan kepada umat manusia untuk beriman atau kafir disertai konsekensi yang mengikutinya. Namun, perihal siapa saja yang berhak untuk masuk ke surga dan neraka, itu adalah hak mutlak milik Allah swt yang mana tidak seorang atau sesuatupun yang bisa mengintervensinya.

Klik di sini untuk mengunduh file lengkapnya.