Berangkat dan Pergi ke Muara yang Sama – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al Mulk Ayat 24

Katakanlah: “Dialah Yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya-lah kamu kelak dikumpulkan”.

Allah swt telah menciptakan manusia ke bumi ini beserta seperangkat fasilitasnya, sehingga ras ini bisa bertahan hidup dan berkembang. Pada awalnya, umat manusia berasal dari satu gen yang sama – yaitu Nabi Adam AS – namun karena seiring dengan berkembangnya waktu dan kompleksnya kehidupan mereka terus berkembang, menyebar ke seluruh penjuru bumi, hingga iklim dan udara membuat mereka berbeda baik dari segi bahasa, warna kulit, ras, agama dan budaya. Namun, di penghujung dunia kelak, mereka akan dikumpulkan pada Dzat yang sama untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka kerjakan di dunia.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwasanya Allah swt telah menciptakan umat manusia dari satu sumber. Lalu setelah itu, mereka menyebar ke seluruh penjuru dunia dan berkembang menjadi berbagai ras, suku, agama, bahasa dan budaya yang berbeda. Namun melalui ayat ini, Allah swt mengingatkan bahwasanya suatu saat – di padang mahsyar – mereka akan dikumpulkan lagi untuk sebuah pertanggungjawaban.

Menurut Buya Hamka beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan manusia dalam beberapa ras, suku, agama, bahasa dan budaya adalah pengaruh iklim dan cuaca, sehingga manusia perlu beradaptasi dengannya. Kesadaran akan realitas ini (baca: semua manusia berasal dari sumber yang sama) menjadi landasan atas ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia) yang mendampingi ukhuwah diniyah (persaudaraan seagama). Bahwasanya kita kalau tidak bisa menjadi saudara seakidah, maka kita adalah saudara sebagai sesama manusia yang berasal dari sumber yang sama: Nabi Adam AS dan Nabi Nuh AS. Lalu, kenapa manusia masih sering bertengkar satu sama lain?

Tonthowi memaknai dzara’a sebagai al-iktsar minal maujud. Bahwasanya Allah swt menciptakan manusia, setelah itu menyebarkannya ke seluruh penjuru negeri, lalu mengembangbiakannya sehingga populasinya semakin banyak seperti yang kita lihat sekarang dan pada akhirnya mengembalikan mereka kepada pangkuan-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Menurut ar-Razi ayat ini sekaligus penekanan atas permulaan dari surat al-Mulk yang menyatakan bahwasanya Allah swt menciptakan manusia untuk menguji siapa di antara mereka yang paling baik amalannya. Bahwasanya manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka kerjakan di muka bumi.

Lalu muncul pertanyaan, “Apakah mungkin manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar?” Jawaban atas pertanyaan ini telah saya ulas dalam bagian lain dari blog ini. Sebagai tambahan, Ar-Razi menyatakan bahwasanya sangat mungkin Allah swt mengumpulkan seluruh umat manusia yang telah diciptakan-Nya di Padang Mahsyar kelak sebagaimana hal yang mungkin Dia menciptakan seluruh umat manusia kemarin, sekarang dan esok hari. Bagi-Nya itu adalah perkara yang mudah.

Semoga kita dikumpulkan di Padang Mahsyar kelak dan dihisab sebagai orang-orang yang beruntung. Aamiin. (*)

Advertisements

Penciptaan Manusia dan Fasilitas Saluran-saluran Ilmu Pengetahuan – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk ayat 23

merdeka.com

Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.

Ayat ini menggambarkan berbagai macam nikmat yang Allah swt anugerahkan kepada makhluk-makhluk-Nya berupa penciptaan dari tiada menjadi ada dan fasilitas-fasilitas yang mengikutinya berupa pendengaran, penglihatan dan hati/akal. Namun sayangnya, banyak sekali di antara kita yang tidak mau bersyukur atas penciptaan ini dengan tidak menggunkan fasilitas-fasilitas tersebut sesuai dengan fungsinya.

Redaksi ayat ini terdapat dalam beberapa ayat al-Qur’an yang lain seperti dalam Q.S. An-Nahl ayat 78, Al-Mu’minun ayat 78 dan As-Sajdah ayat 9. Pola ayat-ayat tersebut hampir sama, yaitu bahwasanya manusia sedikit sekali yang bersyukur atas nikmat pendengaran, penglihatan dan hati/akal yang Allah swt anugerahkan kepada mereka.

Allah swt mengecam kekufuran ini dalam Q.S. Al-A’raf ayat 179 dan menggambarkan mereka sebagai calon penghuni neraka jahannam dan mereka bak binatang ternak (karena tidak mau memanfaatkan anugerah tersebut dengan benar) bahkan lebih sesat dari binatang.

Beberapa ahli tafsir menjelaskan bahwasanya melalui ayat ini Allah swt ingin menegaskan bahwasanya nasib manusia berada dalam gengaman-Nya karena penciptaannya pun merupakan sepenuhnya campur tangan Sang Maha Pencipta. Allah swt adalah Dzat yang satu-satunya memiliki kuasa untuk menciptakan manusia, maka tidak ada celah sedikit pun bagi manusia untuk menyombongkan diri atas apa yang dimilikinya.

Mengenai fungsi hakiki dari tiga anugerah di atas, Al-Maroghi berpendapat bahwasanya pendengaran merupakan alat untuk mendengarkan nasihat-nasihat, sedangkan penglihatan untuk melihat indahnya ciptaan Tuhan. Terakhir, hati harus digunakan untuk bertafakkur atas kehebatan ciptaan-Nya sehingga manusia bisa mengambil manfaat dari proses kontemplasi ini.

Buya Hamka melihat bahwasanya dua nikmat yang pertama (pendengaran dan penglihatan) merupakan wasilah yang menjadi penghubung antara manusia dengan dunia luar sedangkan hati/akal merupakan alat untuk mengolah informasi sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan yang membuat hidup manusia lebih berarti.

Informasi ini memberitahu kita tentang saluran-saluran ilmu pengetahuan yang dikenal dalam tradisi Islam. Yang pertama, pendengaran dan penglihatan membawa kita pada pintu gerbang empirisme di mana kita bisa mendengarkan dan melihat hal-hal yang kasat mata.

Namun, dua saluran itu saja tidak cukup. Dalam Islam dikenal juga ‘afidah’ yang bermakna akal atau hati. Saluran ini berfungsi untuk mengolah data yang didapat oleh indra pendengaran dan penglihatan. Dengan akal, manusia dapat mengonstruksi informasi tersebut menjadi informasi yang rasional, sedangkan hati membawa manusia pada kebajikan di mana etika sains sangat dijunjung dalam melakukan tindak-tutur ilmiah.

Hal ini juga mengafirmasi bahwasanya banyak ilmu yang datang dengan wasilah hati, yang mana dalam tradisi Islam seringkali disebut sebagai ilmu laduni. Ketika hati penuh dengan kebersihan, maka bisa saja Allah swt menganugerahkan ilmu kepada orang tersebut sebagai salah satu nikmat-Nya.

Perangkat, metode dan proses ini menjadi wasilah bagi setiap insan untuk bertransformasi dari keadaan bodoh (jahl) mejadi tahu (‘ilm). Itu artinya, perjalanan menuntut ilmu dalam tradisi Islam selamanya bersifat sakral dan erat kaitannya dengan ibadah/penghambaan kepada Allah swt. Maka dari sini timbulah etika dalam menuntut ilmu seperti banyak tertulis dalam berbagai literatur Islam. Wallahu a’lam. (*)