Cemoohan terhadap Datangnya Hari Kiamat – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk 25-27

Dan mereka berkata: “Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?”

Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.

Ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka) inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.

DALAM ayat sebelumnya Allah swt menyatakan bahwasanya manusia – di kehidupan setelah kematian – akan berkumpul di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka selama hidup di dunia. Dalam ayat ini, Dia swt menceritakan tentang pertanyaan dari Kaum Kafir Quraisy yang menantang Nabi saw untuk memberi tahu mereka kapan janji tentang hari kiamat itu akan tiba. Allah swt memerintahkan Rasul saw untuk menjawab bahwasanya beliau saw hanya bertugas untuk menyampaikan risalah ini sebagai bentuk peringatan, sedangkan Dzat Yang Maha Mengetahui tentang hal ini hanyalah Allah swt.

Nyatanya, wajah kaum kafir tetap saja berubah pecat dan bingung ketika janji Allah tersebut benar-benar datang mendekati mereka. Dengan nada mengolok-olok, para malaikat penunggu neraka bertanya kepada mereka, “Inkah apa yang engkau minta supaya segera datang menimpa kalian?”

Menurut Ar-Razi yang dimaksudkan dengan janji di sini adalah hari kiamat dan azab yang meliputinya. Sedangkan menurut Tontowi makna janji dalam ayat ini adalah kebangkitan setelah kematian, hisab – perhitungan amal umat manusia selama hidup di dunia dan balasan atas itu semua baik berupan surga maupun neraka.

Menurut Nasafi pertanyaan ini bukanlah usaha untuk menemukan kebenaran tentang hari kiamat, akan tetapi lebih cenderung pada olokan sekaligus cemoohan akan kebenaran yang Rasul saw bawa. Bagaimana tidak? Seorang Qusaisy – yang tidak memiliki status sosial yang tinggi – dari kota Mekkah membawa kabar tentang hari kiamat dan nilai-nilai lainnya yang mendobrak tatanan nilai setempat yang sudah mapan, hal ini tentunya – dalam pandangan kaum kafir – sebagai sebuah kegilaan belaka yang patut mendapatkan olokan dan cemoohan.

Tentu saja Nabi Muhammad SAW tidaklah mengetahui persis kapan kiamat akan tiba. Itu merupakan domain Allah SWT. Pengetahuan tentang suatu kejadian, tidak mesti harus tahu kapan kejadian tersebut akan datang. Dalam konsep Islam tidak pernah dikenal kabar sahih tentang waktu eksak kedatangan hari kiamat. Yang ada adalah berita tentang tanda-tanda hari kiamat sebagai bentuk peringatan kepada umat manusia untuk terus berbenah dan memperbaiki diri. Hal ini berbeda dengan beberapa sekte keagamaan yang seringkali membuat ramalan dan prediksi tentang hari kiamat, yang mana sampai detik ini belum terbukti adanya.

Yang menarik, dalam ayat ini Allah swt menggunakan diksi “yaquluna” yang merupakan fi’il mudhori’. Menurut Ar-Razi hal ini menunjukan masa depan. Namun, bisa juga menunjukan masa lalu karena ada kata “kaanuu” (wa kaanuu yaquuluuna) yang tidak ditulis eksplisit di sini.

Dua waktu yang terkandung dalam makna ayat ini menunjukan bahwa dalam sejarah umat manusia akan selalu ada orang-orang yang mengolok-olok eksistensi hari kiamat dan azab serta nikmat yang ada di dalamnya meskipun telah diberitahukan kepada mereka peringatan-peringatan dari Tuhan melalui para Nabi-Nya. Dewasa ini, di beberapa belahan dunia – terutama negara-negara Barat – mayoritas masyarakatnya tidak mempercayai hal ini, bahkan seringkali menjadi bahan guyonan bagi mereka.

Kecongkakan kaum kafir ternyata hanya sebatas lip service. Dalam ayat 27, Allah swt menggambarkan bagaimana wajah mereka tetap saja pucat tatkala Dia swt menepati janjinya di hari kiamat. Apa yang mereka dustakan dan menjadi bahan olokan, ternyata benar adanya! Walhasil, kesombongan berubah menjadi kegetiran dan penyasalan yang tak berguna. “… Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (Q.S. 39: 47-48).

Menurut Prof. Wahbah Az-Zuhaili, ayat 27 merupakan jawaban atas pertanyaan olokan kafir Quraisy (dan tentunya kaum kafir yang datang setelah mereka) yang termaktub dalam ayat 25. Kaum ‘Aad – yang hidup jauh sebelum Kaum Kafir Quraisy – juga pernah melakukan tantangan yang sama. Dengan pongahnya mereka menjawab ajakan dakwah Nabi Hud AS seraya berkata, “… “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.” (Q.S. 46: 22). (*)

 

Advertisements

Berangkat dan Pergi ke Muara yang Sama – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al Mulk Ayat 24

Katakanlah: “Dialah Yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya-lah kamu kelak dikumpulkan”.

Allah swt telah menciptakan manusia ke bumi ini beserta seperangkat fasilitasnya, sehingga ras ini bisa bertahan hidup dan berkembang. Pada awalnya, umat manusia berasal dari satu gen yang sama – yaitu Nabi Adam AS – namun karena seiring dengan berkembangnya waktu dan kompleksnya kehidupan mereka terus berkembang, menyebar ke seluruh penjuru bumi, hingga iklim dan udara membuat mereka berbeda baik dari segi bahasa, warna kulit, ras, agama dan budaya. Namun, di penghujung dunia kelak, mereka akan dikumpulkan pada Dzat yang sama untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka kerjakan di dunia.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwasanya Allah swt telah menciptakan umat manusia dari satu sumber. Lalu setelah itu, mereka menyebar ke seluruh penjuru dunia dan berkembang menjadi berbagai ras, suku, agama, bahasa dan budaya yang berbeda. Namun melalui ayat ini, Allah swt mengingatkan bahwasanya suatu saat – di padang mahsyar – mereka akan dikumpulkan lagi untuk sebuah pertanggungjawaban.

Menurut Buya Hamka beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan manusia dalam beberapa ras, suku, agama, bahasa dan budaya adalah pengaruh iklim dan cuaca, sehingga manusia perlu beradaptasi dengannya. Kesadaran akan realitas ini (baca: semua manusia berasal dari sumber yang sama) menjadi landasan atas ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia) yang mendampingi ukhuwah diniyah (persaudaraan seagama). Bahwasanya kita kalau tidak bisa menjadi saudara seakidah, maka kita adalah saudara sebagai sesama manusia yang berasal dari sumber yang sama: Nabi Adam AS dan Nabi Nuh AS. Lalu, kenapa manusia masih sering bertengkar satu sama lain?

Tonthowi memaknai dzara’a sebagai al-iktsar minal maujud. Bahwasanya Allah swt menciptakan manusia, setelah itu menyebarkannya ke seluruh penjuru negeri, lalu mengembangbiakannya sehingga populasinya semakin banyak seperti yang kita lihat sekarang dan pada akhirnya mengembalikan mereka kepada pangkuan-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Menurut ar-Razi ayat ini sekaligus penekanan atas permulaan dari surat al-Mulk yang menyatakan bahwasanya Allah swt menciptakan manusia untuk menguji siapa di antara mereka yang paling baik amalannya. Bahwasanya manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka kerjakan di muka bumi.

Lalu muncul pertanyaan, “Apakah mungkin manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar?” Jawaban atas pertanyaan ini telah saya ulas dalam bagian lain dari blog ini. Sebagai tambahan, Ar-Razi menyatakan bahwasanya sangat mungkin Allah swt mengumpulkan seluruh umat manusia yang telah diciptakan-Nya di Padang Mahsyar kelak sebagaimana hal yang mungkin Dia menciptakan seluruh umat manusia kemarin, sekarang dan esok hari. Bagi-Nya itu adalah perkara yang mudah.

Semoga kita dikumpulkan di Padang Mahsyar kelak dan dihisab sebagai orang-orang yang beruntung. Aamiin. (*)

Penciptaan Manusia dan Fasilitas Saluran-saluran Ilmu Pengetahuan – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk ayat 23

merdeka.com

Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.

Ayat ini menggambarkan berbagai macam nikmat yang Allah swt anugerahkan kepada makhluk-makhluk-Nya berupa penciptaan dari tiada menjadi ada dan fasilitas-fasilitas yang mengikutinya berupa pendengaran, penglihatan dan hati/akal. Namun sayangnya, banyak sekali di antara kita yang tidak mau bersyukur atas penciptaan ini dengan tidak menggunkan fasilitas-fasilitas tersebut sesuai dengan fungsinya.

Redaksi ayat ini terdapat dalam beberapa ayat al-Qur’an yang lain seperti dalam Q.S. An-Nahl ayat 78, Al-Mu’minun ayat 78 dan As-Sajdah ayat 9. Pola ayat-ayat tersebut hampir sama, yaitu bahwasanya manusia sedikit sekali yang bersyukur atas nikmat pendengaran, penglihatan dan hati/akal yang Allah swt anugerahkan kepada mereka.

Allah swt mengecam kekufuran ini dalam Q.S. Al-A’raf ayat 179 dan menggambarkan mereka sebagai calon penghuni neraka jahannam dan mereka bak binatang ternak (karena tidak mau memanfaatkan anugerah tersebut dengan benar) bahkan lebih sesat dari binatang.

Beberapa ahli tafsir menjelaskan bahwasanya melalui ayat ini Allah swt ingin menegaskan bahwasanya nasib manusia berada dalam gengaman-Nya karena penciptaannya pun merupakan sepenuhnya campur tangan Sang Maha Pencipta. Allah swt adalah Dzat yang satu-satunya memiliki kuasa untuk menciptakan manusia, maka tidak ada celah sedikit pun bagi manusia untuk menyombongkan diri atas apa yang dimilikinya.

Mengenai fungsi hakiki dari tiga anugerah di atas, Al-Maroghi berpendapat bahwasanya pendengaran merupakan alat untuk mendengarkan nasihat-nasihat, sedangkan penglihatan untuk melihat indahnya ciptaan Tuhan. Terakhir, hati harus digunakan untuk bertafakkur atas kehebatan ciptaan-Nya sehingga manusia bisa mengambil manfaat dari proses kontemplasi ini.

Buya Hamka melihat bahwasanya dua nikmat yang pertama (pendengaran dan penglihatan) merupakan wasilah yang menjadi penghubung antara manusia dengan dunia luar sedangkan hati/akal merupakan alat untuk mengolah informasi sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan yang membuat hidup manusia lebih berarti.

Informasi ini memberitahu kita tentang saluran-saluran ilmu pengetahuan yang dikenal dalam tradisi Islam. Yang pertama, pendengaran dan penglihatan membawa kita pada pintu gerbang empirisme di mana kita bisa mendengarkan dan melihat hal-hal yang kasat mata.

Namun, dua saluran itu saja tidak cukup. Dalam Islam dikenal juga ‘afidah’ yang bermakna akal atau hati. Saluran ini berfungsi untuk mengolah data yang didapat oleh indra pendengaran dan penglihatan. Dengan akal, manusia dapat mengonstruksi informasi tersebut menjadi informasi yang rasional, sedangkan hati membawa manusia pada kebajikan di mana etika sains sangat dijunjung dalam melakukan tindak-tutur ilmiah.

Hal ini juga mengafirmasi bahwasanya banyak ilmu yang datang dengan wasilah hati, yang mana dalam tradisi Islam seringkali disebut sebagai ilmu laduni. Ketika hati penuh dengan kebersihan, maka bisa saja Allah swt menganugerahkan ilmu kepada orang tersebut sebagai salah satu nikmat-Nya.

Perangkat, metode dan proses ini menjadi wasilah bagi setiap insan untuk bertransformasi dari keadaan bodoh (jahl) mejadi tahu (‘ilm). Itu artinya, perjalanan menuntut ilmu dalam tradisi Islam selamanya bersifat sakral dan erat kaitannya dengan ibadah/penghambaan kepada Allah swt. Maka dari sini timbulah etika dalam menuntut ilmu seperti banyak tertulis dalam berbagai literatur Islam. Wallahu a’lam. (*)

Jalan Lurus vs. Jalan Berliku – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk Ayat 22

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?

Menurut Jalaluddin dan Jalaluddin ayat ini membandingkan antara kaum beriman dan kaum kafir – mana di antara mereka yang lebih layak untuk mendapatkan hidayah dari Allah swt. Dalam hal ini kaum kafir dianalogikan sebagai orang yang berjalan merangkak dengan wajah tertelungkup, sedangkan orang beriman dimisalkan sebagai orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus.

Buya Hamka mendeskripsikan orang kafir sebagai orang yang lupa dari mana dia datang, di mana dia sekarang dan ke mana perjalanan hidupnya ini akan diteruskannya. Dia berjalan di muka bumi sambil menjungkir balik, ataupun menelungkup; dan mukanya menghadap ke bumi. Orang seperti ini meskipun mencoba berdiri, dia akan terjatuh kembali karena kakinya linglung, menggigil menginjak bumi, karena tidak tahu ke mana akan diarahkan. Gambaran ini kontras dengan orang mukmin yang berjalan tegak lurus, langkah tetap, mata memandang ke muka, memikirkan tujuan yang jauh tetapi pasti dan tidak pernah mengencong ke luar garis yang ditentukan.

Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa orang mukmin yang berjalan tegak lurus karena telah memiliki pegangan hidup akan lebih memiliki peluang untuk hidup selamat dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat daripada orang kafir yang berjalan merangkak sambil menelungkup ke bumi karena tidak memiliki tujuan hidup.

Tafsir al-Qur’am terbitan Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa perjalanan hidup orang-orang kafir itu adalah perjalanan hidup menuju kesengsaraan dan penderitaan yang sangat. Mereka akan mudah tersesat dalam perjalanannya mengarungi samudera hidup di dunia fana ini, sedang di akhirat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebaliknya, orang-orang mukmin menempuh jalan yang baik dan lurus, yaitu jalan yang diridai Allah, tidak akan tersesat dalam perjalanan hidupnya di dunia ini dan pasti akan sampai kepada tujuan yang diinginkannya. Di akhirat nanti, mereka akan menempati surga yang penuh kenikmatan yang disediakan Allah bagi mereka yang bertakwa.(*)

Allah Maka Kuasa Terhadap Segala Sesuatu – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk (67, 20-21)

kabarmakkah.com

Sesungguhnya tidak ada satu orang pun yang menjadi penolong yang dapat menahan azab yang diturunkan oleh Allah swt jika Dia berkehendak, termasuk tuhannya orang-orang kafir. Hanya Allah swt lah – dengan sifat rahman-Nya – yang memiliki kuasa untuk melakukan itu semua.

Sesungguhnya tidak akan ada orang yang mampu mencegah ketika Allah swt berkendak untuk tidak menurunkan rezeki-Nya bagi umat manusia, termasuk tuhannya orang-orang kafir yang tidak memiliki kuasa sedikit pun. Allah swt – dengan sifat rahman-Nya – mencurahkan nikmat kepada setiap makhluk-Nya tanpa melihat apakah dia orang yang suka berbuat kebaikan atau orang yang suka berbuat maksiat, burung-burung di langit dan hewan-hewan di bumi. Semuanya merata mendapatkan nikmat dari-Nya.

Sayangnya, orang-orang kafir tetap dalam keadaan tertipu dan terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri dari kebenaran.

Menurut Al-Maroghi sesungguhnya mereka mengetahui itu semua dengan sebenar-benarnya, akan tetapi mereka tetap menyembah selain Dia. Perbuatan mereka ini tidak lain adalah pertentangan, kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran, dan yang menyebabkan mereka berani untuk berbuat seperti ini adalah bisikan setan yang menipu mereka, sehingga mereka menyangka bahwa tuhan-tuhan mereka akan memberi manfaat, menolak bencana dari mereka.

Dalam konteks modern, banyak manusia yang menuhankan ilmu pengetahuan. Mereka percaya, bahwasanya semakin canggih perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka semakin mereka tidak memerlukan kehadiran tuhan. Mereka yakin bahwasanya hal itu dapat menjauhkan mereka dari marabahaya yang selama ini ditakutkan oleh umat manusia seperti kelaparan dan bencana alam. Faktanya, iptek tetap tidak dapat mencegah manusia dari marabahaya berupa kelaparan akibat resesi ekonomi dan bencana alam.

Menurut Ar-Razi penyebab dari keengganan kaum kafir dalam menerima kebenaran ada dua: kekuatan yang berasal dari harta dan kekuasaan serta keyakinan bahwa berhala mereka (termasuk ilmu pengetahuan) dapat memberikan kebaikan dan mencegah dari semua kerusakan. Dan Allah swt menyanggah pendapat mereka ini dengan turunnya kedua ayat ini. (*)

Ulasan Kitab Tafsir: Surah al-Mulk ayat 16 – 19: Orang Kafir Tidak Dapat Menghindar Dari Azab Allah

hdwallpaperbackgrounds.net

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt memperlihatkan sifat tegas sekaligus rahmat-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya. Dia menunjukan bahwa Dia bisa menelan bumi dengan menggoncangkannya, atau mengirim badai yang disertai bebatuan sebagai balasan bagi orang-orang yang ingkar terhadap risalah-Nya, sebagaimana Dia melakukan hal-hal tersebut kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw. Namun, Dia pun menunjukan sifat rahmat-Nya ketika menjelaskan bahwa burung-burung dapat terbang untuk mencari rejeki, dan tidak terjatuh meskipun daya gravitasi senantiasa merongrongnya.

Al-Mulk 16 dan 17: Kuasa Allah untuk Mendatangkan Azab Bagi Kaum yang Ingkar

Dalam ayat-ayat di atas Allah swt memperingati manusia bahwasanya Dia sangat Maha Kuasa untuk mengguncangkan bumi dengan gempa yang sangat besar dan/atau mengirim badai yang disertai batu pada mereka secara tiba-tiba. Hal tersebut adalah bentuk peringatan bagi kaum kafir yang merasa nyaman dengan kekufurannya dan yakin bahwasanya mereka tidak akan mendapatkan bencana. Kelak mereka akan sadar bahwasanya pembangkangan ini mengandung konsekuensi yang pedih. Padahal, tercatat dalam sejarah, Dia swt melakukan hal serupa pada kaum-kaum terdahulu yang tidak mau menerima risalah yang dibawa oleh para rasul-Nya.

Menurut Al-Maroghi dan Jalaluddin & Jalaluddin bentuk peringatan atau ancaman yang pertama adalah goncangan bumi/gempa seperti yang menimpa Qorun yang menelan seluruh hartanya. Sedangkan ancaman yang kedua adalah badai yang disertai batuan kecil seperti yang menimpa Kaum Luth, dan ketika itu baru sadar akan dahsyat-Nya hukuman Tuhan, namun sayangnya penyesalan tidak akan bermanfaat ketika azab sudah menimpa.

Dalam beberapa ayat lain, Allah swt memberikan peringatan serupa kepada orang-orang kafir seperti dalam Q.S. Al-An’am (6/65), “Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”.

Atau dalam Q.S. Al-Isra’ (17/68), “Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu.”

Ar-Razi melihat bahwasanya pernyataan “Allah yang di langit” tidak mungkin untuk ditafsirkan secara tekstual berdasarkan penampakan ayat, karena eksistensi Allah di langit menunjukan bahwasanya langit meliputi-Nya dari segala sisi, maka Allah lebih kecil dari langit, dan langit lebih kecil dari ‘Arsy, dan keadaan Allah lebih kecil bila dibandingkan dengan ‘Arsy adalah suatu hal yang mustahil dalam kesepakatan Ahli Islam. Dalam ayat lain Allah swt bersabda, “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Bila merujuk pada ayat ini, kalau saja Allah swt berada di langit maka dia menjadi Penguasa bagi diri-Nya, dan ini adalah suatu hal yang mustahil. Maka kita mengetahui bahwasanya ayat ini harus ditakwil dari zahirnya.

Untuk diketahui bahwa perdebatan tentang “Di mana Allah bersemayam?” telah menjadi bahan perdebatan antara para ahli kalam dari dulu sampai sekarang.

Dalam kedua penggalan ayat tersebut, Allah swt menakut-nakuti para kaum kafir dengan memberikan contoh dan bukti. Salah satunya adalah apa yang menimpa kaum-kaum sebelum Nabi Muhammad saw.

Ayat 18: Hukuman untuk Kaum Terdahulu

Dalam beberapa ayat al-Quran, Allah swt telah menunjukan bukti bahwasanya Dia telah menghukum kaum yang tidak mau menerima risalah-Nya. Di antaranya adalah Qorun yang ditenggelamkan beserta hartanya, Kaum Luth yang diserbu badai disertai bebatuan, kaum Nuh yang telah ditenggelamkan banjir mahadahsyat, kaum Syuaib yang telah dibinasakan dengan petir, serta Fir’aun dan kaumnya telah ditenggelamkan di Laut Merah.

Hal ini untuk menunjukan bahwasanya Allah Mahabenar dengan semua peringatannya tentang turunnya azab bagi orang-orang yang ingkar kepada-Nya.

Untuk menunjukan kuasa-Nya, Allah swt memperlihatkan salah satu ayat-Nya, yaitu burung yang dapat terbang meskipun hal itu harus melawan gaya gravitasi.

Ayat 19: Burung-burung yang Beterbangan Sebagai Bentuk Kuasa-Nya

Al-Maroghi berkata, “Apakah mereka lalai akan Kuasa Kami dan tidak melihat burung-burung yang beterbangan di atas mereka. Terkadang burung-burung itu mengembangkan sayapnya ketika terbang dan kadang mengatupkannya. Tidak ada yang menahan burung-burung itu di udara ketika beterbangan dan melayang-layang dari kejauhan dan daya tarik bumi, meski bertentangan dengan tabiat organismenya yang berat. Selain dari keluasan rahmat pencipta-Nya yang telah menciptakannya dalam berbagai bentuk dan karakteristik. Dia-lah yang mengetahui dan mengajarkan kepadanya gerakan-gerakan yang dapat membantunya untuk belari di udara menempuh jarak yang jauh guna mendapatkan makanan dan mencari rejeki.

Al-Maroghi melanjutkan, “Sesungguhnya Allah swt Maha Mengetahui segala sesuatu, hal yang lembut maupun yang besar. Dia mengetahui bagaimana Dia harus menciptakanya menurut sunnah-sunnah yang Dia ketahui faidahnya bagi hamba-hamba-Nya.”

Buya Hamka, mengutip filosof Pakistan kenamaan, Allamah Muhammad Iqbal mengatakan bahwasanya fenomena tentang keseimbangan alam seperti contoh di atas adalah akibat dari Sifat Rahman dari Allah swt, sebagaimana dalam firman-Nya dalam Q.S. Al-An’am (6/12), “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.” (*)

Al-Mulk 15: Menjemput Rezeki

(15. Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.)

Syukur alhamdulillah, dan ini memang bentuk kuasa-Nya, bahwasanya Dia menciptakan bumi mudah untuk digarap. Dalam pemaknaan kata “dzalula: mudah” ada beberapa pendapat seperti yang ditulis oleh Ar-Razi;

Pertama, bahwasanya Allah swt tidak menjadikan bumi keras seperti gurun yang membuat kita susah untuk berjalan di atasnya.

Kedua, Allah swt menjadikan bumi lembut sehingga memungkinkan untuk digali, dan dibangun bangunan di atasnya. Kalau misalnya keras, maka akan sangat sulit untuk mengolahnya.

Ketiga, Kalau misalnya keras seperti batu, atau seperti emas dan besi, maka akan panas ketika musim panas, dan sangat dingin ketika musim dingin, dan hal ini akan sulit untuk ditanami.

Keempat, Allah swt membentangkan bumi ini dengan mengontrol pergerakan udaranya, sehingga, meskipun pada hakikatnya selalu bergerak dan berputar,  dia akan tetap terkontrol.

Ayat ini menganjurkan kita untuk meninggalkan rumah ke tempat kerja, entah itu kantor, lapak, ladang, hutan atau yang lainnya dengan maksud menjemput rezeki yang memang telah disiapkan oleh Allah swt.

Para ahli tafsir berselisih pendapat ketika menafsirkan kata “manakib”. Ada yang mengartikan gunung-gunung, pelosok-pelosok, pinggir-pinggir, dan ujung-ujungnya. Dalam konteks dunia modern saat ini – menurut hemat saya – tentu hal itu bisa ditafsirkan sebagai macam-macam lapangan pekerjaan yang memiliki medan berbeda-beda. Bisa jadi kantor untuk para pekerja kantoran, lapak untuk para pedagang, ladang untuk para petani, bahkan bisa juga rumah untuk mereka yang bergerak dalam bidang internet marketing. Yang penting, untuk menjemput rezekinya, kita harus bergerak dan terus berusaha.  

Apabila kondisi kampung kita tidak kondusif untuk menjemput rezeki-Nya, maka kita dianjurkan untuk pergi merantau, mencarinya di tempat lain, yang memang masih merupakan bumi Allah yang mudah untuk digarap.

Namun tentunya hal ini harus dibarengi dengan sikap tawakkal kepada Allah swt. Usaha harus tetap dibarengi dengan tawakkal, karena pada hakikatnya semua rezeki itu adalah milik Allah. Hal ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan oleh Umar Bin Khattab RA ”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

Ibnu Katsir mengatakan, “bepergianlah semau kamu di seluruh penjuru bumi dengan berbagai macam pekerjaan dan perdagangan, dan ketahuilah bahwasanya usaha kamu akan sia-sia, kecuali Allah swt. memudahkan urusanmu.”

(… Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.)

Ar-Razi menulis, “Kehidupan dunia yang dipenuhi rezeki dari-Nya adalah kehidupan orang yang tahu bahwasanya tempat kembali-Nya adalah Allah swt, yakin bahwa perjalanan-Nya adalah menuju Allah.”

Penggalan ayat ini, pada hakikatnya, merupakan peringatan untuk menjauhi kekufuran dan kemaksiatan, baik di kala sendiri maupun di depan umum. Keselamatan kita di dunia merupakan kehendak dan rahmat-Nya, dan kalau saja Dia berkehendak maka bisa saja Dia membalikkan keadaan; seketika menurunkan hujan yang merusak dari awan yang dipaksa atas kehendak-Nya.