Dua Alasan Pengingkaran Kaum Kafir dan Bantahan Terhadapnya – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Qalam ayat 46-47

Allah swt menyebutkan beberapa kemungkinan kaum kafir enggan untuk percaya terhadap risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw (baca: Risalah Alquran). Pertama, mereka berpikir bahwa untuk mengikuti kajian-kajian yang diadakan Rasul saw, mereka harus menyiapkan upah – yang kelak menjadi hutang bagi mereka – sebagai balasan atas kerja Rasul saw. Kedua, pengetahuan mereka terhadap hal-hal yang gaib sehingga mampu menyangkal kenabian Muhammad saw.

Dalam realitanya, kedua hujjah tersebut tidak pernah terbukti. Dalam menjalankan misi-Nya, Rasul saw tidak pernah mengutip upah sepeser pun. Justru beliau harus banyak berkorban baik harta maupun tenaga demi tegaknya risalah Islam. Pun begitu, Kaum Kafir Quraisy tidak pernah memiliki informasi tentang hal-hal gaib, sehingga tidak ada satu pun argumen yang bisa mereka gunakan untuk membantah kenabian Muhammad saw.

***

Namun, pada akhirnya, menurut Al-Maroghi Kaum Kafir Quraisy tetap enggan untuk mengikuti Rasul saw meskipun telah terbentang di hadapan mereka bantahan atas kemungkinan alasan atas keraguan mereka terhadap risalah yang dibawa oleh Alquran.

Fakta bahwa Nabi saw tidak pernah mengutip sepeserpun ujrah atas misi kenabiannya dan ketidaktahuannya Kafir Quraisy atas apa yang tertulis di lauhul mahfudz tidak terbantahkan. Tapi, kebodohan (jahl) dan keras kepala (‘inad) membuat mereka tetap jauh dari hidayah.

Menurut Buya Hamka kedua ayat ini adalah pertanyaan ingkar dari Allah swt atas fakta pengingkaran Kafir Quraisy. Tentu, Allah swt bukan tidak mengetahui hal ini sehingga perlu menanyakannya, akan tetapi lebih dimaksudkan menohok argumen yang mereka yakini.

***

Ada sejuta alasan untuk kita tidak mempercayai risalah Islam, tetapi ada berjuta argumen lainnya yang membantahnya, baik  dari ayat-ayat qauliyah seperti termaktub dalam Alquran dan Hadis, maupun ayat-ayat kauniyah yang terbentang dalam alam semesta ini.

Namun, kebodohan dan sikap keras kepala akan tetap membuat kita semakin jauh dari pintu hidayah. Na’udzubillah. []

Advertisements

Perhitungan Allah swt Kepada Kaum yang Mendustakan Ajaran Al-Qur’an – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Qalam ayat 44-45

Ilustrasi

Ketika menjalankan misi dakwahnya, Rasul saw seringkali mendapatkan resistensi dari orang-orang yang mendustakan risalah kenabian beliau. Ada yang mencap beliau gila. Ada juga yang meludahi beliau ketika hendak pergi ke masjid, dan mengencingi tempat salat beliau. Bahkan, beberapa pembesar Kaum Quraisy memprovokasi paman beliau untuk menghentikan dakwah keponakannya. Dan banyak intimidasi lainnya, yang tentu secara manusiawi membuat Nabi saw gelisah.

Namun, Allah swt, melalui ayat ini menegaskan bahwa urusan dengan orang-orang tersebut janganlah Nabi saw pusingkan. Percayakan perhitungannya kepada Allah swt, karena Allah swt telah menyiapkan azab dari arah yang mereka tidak duga.

Sekilas, memang azab ini tidak kelihatan karena bentuknya adalah ‘kenikmatan’ yang banyak dan kehidupan yang normal. Seakan tidak akan terjadi apa-apa dengan melakukan pembangkangan. Namun, semua itu hakikatnya adalah tipu daya yang melenakan. Karena sifatnya yang laten, mereka menjadi lengah, sehingga ketika azab Allah swt datang pada waktunya, mereka tidak memiliki persiapan sama sekali.

***

Prof. Maroghi melihat bahwa ayat ini adalah respon dari Allah swt untuk menghibur Nabi saw di saat tantangan yang datang bertubi-tubi saat mengemban tugas kenabian. Lebih jauh, Prof. Hamka menerangkan bahwa Rasul saw diperintahkan untuk terus berjuang, tanpa harus mengindahkan hinaan, cacian dan olokan dari kaum Kafir Quraisy. Allah swt telah menyiapkan perangkap (kaid) bagi mereka berupa nikmat yang banyak dan penangguhan azab yang membuat mereka lengah dan congkak; sampai pada satu saat azab datang di hadapan mereka.

Perihal nikmat yang diberikan kepada kaum kafir di saat resistensi mereka yang kuat terhadap dakwah Nabi saw, Fakhruddin Ar-Razi berpendapat bahwa kebaikan (nikmat) tersebut besifat matanah (keras), karena efeknya yang dapat mendorong pada kerusakan. Model azab seperti ini – dinamakan juga istidraj – justru lebih berbahaya dari siksaan langsung, karena membuat orang terlena dan merasa tidak perlu untuk bertobat.

Menurut Hamka, kenikmatan yang mereka dapatkan akan membuat mereka semakin congkak dan besar kepala. Pembangkangan mereka kepada usaha dakwah Nabi saw semakin hari semakin besar karena mereka merasa aman atas apa yang mereka perbuat. Mereka tidak tahu, bahwa sesungguhnya Allah swt telah menyiapkan siksa yang sangat pedih dalam arah yang mereka tidak ketahui.  

Fakhruddin Ar-Razi mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah swt menegaskan Kemahakuasaan-Nya dalam bertindak, dan tidak ada satu pun yang bisa mencegah-Nya. Orang kafir boleh saja membuat makar yang sangat keras kepada dakwah Nabi saw, namun hal itu tidak sebanding dengan makar Allah swt terhadap mereka.

Nasib Orang Bertakwa dan Bermaksiat di Akhirat – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Qalam ayat 34 – 43 

pinterest

Ayat 34: Balasan bagi orang yang bertakwa

Dalam ayat ini Allah swt menegaskan bahwa balasan setimpal bagi orang-orang yang bertakwa selama hidup di dunia adalah surga yang dipenuhi kenikmatan.

Menurut Prof. Wahbah Zuhaili, kenikmatan yang akan didapat oleh para muttaqin di akhirat kelak wujudnya tidaklah sama dengan apa yang mereka temukan di dunia. Jika nikmat duniawi seringkali dinodai hal-hal yang kotor seperti hawa nafsu, nikmat ukhrowi tidaklah seperti itu. Dia berwujud murni dan hakiki, tak terkotori apapun.

Jadi, jangan anda bayangkan bahwa bidadari-bidadari cantik di surga sama seperti perempuan-perempuan binal nan seksi di dunia. Tidak sama sekali! Apa yang terjadi di akhirat termasuk kenikmatan yang disediakan tidaklah pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati manusia di dunia saat ini. 

Lalu siapakah muttaqin itu? Nasafi dalam Madarikut Tanzil menegaskan bahwa muttaqin adalah mereka yang menjauhi kesyirikan selama hidup di dunia. Mereka beriman sepenuhnya kepada Allah swt dan Nabi saw yang membawa risalah-Nya.

Dalam Alquran kata takwa diulang sebanyak 259 kali dengan segala derivasinya. Di antara sekian karakteristik orang-orang yang bertakwa seperti yang dijelaskan oleh Alquran antara lain: beriman kepada yang gaib, mendirikan salat dan berinfak; beriman kepada kitab-kitab Allah dan meyakini adanya akhirat; beriman kepada Allah swt, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, para nabi, memerdekakan budak, mendirikan salat, zakat, menepati janji dan sabar; berpuasa di bulan Ramadan; tidak silau dengan keindahan duniawi; selalu berbuat kebajikan, bersegera kepada ampunan Allah swt; selalu mengingat Allah swt dan memohon ampunan atas dosa-dosanya; bersabar saat diuji harta dan dirinya; menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup; dan menyebarkan dakwah.

Selanjutnya, orang yang bertakwa senantiasa menutup aurat; berzikir manakala ditimpa kebimbangan; menyuruh keluarga mendirikan salat dan bersabar mengerjakannya; tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan; menjaga pandangan mata dan kata-kata dalam berbicara; membawa kebenaran dan membenarkannya; menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji; dan selalu mengambil pelajaran dari Alquran.

Ayat 35-41: Balasan yang berbeda bagi orang yang bertakwa dan bermaksiat dan argumen-argumennya

Muqotil seperti yang dikutip oleh Fakhruddin Ar-Razi menerangkan bahwa ayat ini adalah respon ketika ada sebagian pembesar kafir Quraisy menghadap Nabi Muhammad saw dan berkata, “Di dunia Allah swt memberikan keutaman lebih tinggi kepada kami (kafir Quraisy) daripada umat Islam. Tentu, di akhirat kami akan mendapatkan posisi yang sama. Kalaupun tidak, minimal sama dengan apa yang kami dapatkan di dunia.”

Allah swt membantah pernyataan pembesar Quraisy tersebut dengan memberikan bantahan-bantahan dalam ayat-ayat selanjutnya, baik berdasarkan naqli (nas) maupun secara logika. Bantahan ini setidaknya membuat mereka berpikir atas batilnya pendapat mereka.

Pertama, Allah swt mengajukan pertanyaan ingkar yang bertujuan untuk menegasikan pendapat ngawur para pembesar kaum Quraisy dengan bersabda, “Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)?

Setelah itu, Alquran memberikan logical reasoning, yaitu sebuah pertanyaan tentang landasan rasional yang mendukung pernyataan bahwa kaum kafir sama-sama akan mendapatkan fadilah dari Allah swt dengan kaum yang bertakwa di akhirat kelak, sedangkan kita tahu bahwa keimanan kepada-Nya adalah sebuah kebenaran dan sebaliknya kesyirikan adalah sebuah kebatilan.

Secara logic, pandangan ini tentu tidak dapat diterima. Dalam nalar akal sehat kita akan mafhum bahwa kemuliaan hanya akan didapat bagi orang-orang yang melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.

Selanjutnya, Allah swt memberikan argumen naqli untuk membantah pernyataan kafir Quraisy ini dengan bersabda, “Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya? Bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu.”

Allah swt menanyakan apakah mereka memiliki kitab suci sendiri – yang mereka pelajari dan praktikan – sehingga mereka bisa berhukum semau gue, termasuk dengan ‘fatwa’ bahwa mereka akan mendapatkan keutumaan di akhirat kelak, meskipun tidak mengikuti syariat yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

Tentu yang menjadi landasan mereka tidak lain adalah asumsi dan hawa nafsu. Dalam hal ketaatan kepada Allah swt, misalnya, ketika mereka diajak kepada agama dan syariat Allah, kepada hal-hal yang Allah wajibkan dan meninggalkan hal-hal yang Allah haramkan, mereka menolak, dengan alasan cukup bagi mereka untuk menempuh apa yang telah dilaksanakan oleh nenek moyang mereka. Padahal Allah menegaskan dalam Alquran bahwa nenek moyang mereka tidak mengetahui apapun dan tidak mendapatkan petunjuk. Itu artinya, kaum kafir tidak memiliki landasan yang kuat dalam menjalankan syariat agama mereka.

Argumen selanjutnya yang dilontarkan Alquran untuk membantah pendapat kafir Quraisy adalah pertanyaan ingkar berupa perjanjian dengan Allah yang diikat dengan sumpah dan berlaku sampai hari kiamat yang membuat mereka sangat yakin akan pendapat mereka sehingga tidak mau menerima risalah dari Nabi Muhammad saw. Hal ini untuk menunjukan ‘ketakjuban’ Allah swt akan betapa keukeuh-nya mereka dengan pendapat yang mereka yakini, padahal beberapa argumen baik itu secara naqli maupun aqli tidak mendukung.

Terakhir, Allah swt menantang mereka untuk mendatangkan orang yang bisa menjamin kebenaran pendapat mereka, entah itu nabi, pembesar, ataupun ilmuwan dari kalangan mereka. Nyatanya mereka tidak memilikinya.

Menurut Nasafi, dari sini lengkaplah sudah bahwa kaum kafir Quraisy tidak memiliki kitab suci, sumpah yang diperkuat dengan janji Allah, dan teman yang bisa mengafirmasi pendapat batil mereka bahwasanya mereka akan hidup dengan nyaman di akhirat kelak, seperti halnya mereka dapatkan selama hidup di dunia.

Ayat 42-43: Orang kafir tidak mampu bersujud di akhirat kelak karena terbiasa dengan kekufuran selama hidup di dunia

Sudah menjadi pola dalam Alquran, bahwasanya setelah Allah menyeru untuk beriman dengan menghadirkan beberapa argumennya, Dia swt akan menjelaskan konsekuensi dari pilihan respon terhadap seruan tersebut. Manusia diberi kebebasan untuk memilih, akan tetapi diberikan juga gambaran konsekuensi atas pilihan tersebut.

Di penghujung penggalan Q.S. Al-Qalam ini, Allah swt menggambarkan keadaan kaum kafir yang akan menemui banyak kesulitan di akhirat kelak. Ketika tersibak dalam pandangan mereka pedihnya siksa neraka, mereka diminta untuk bersujud mengakui kesalahan pendapat mereka selama hidup di dunia. Mereka ingin bersujud karena takut akan siksaan yang akan mereka dapatkan, akan tetapi mereka tidak mampu melakukannya karena sudah terbiasa dengan kekufuran.

Menurut Fakhruddin Ar-Razi perintah bersujud ini bukanlah bentuk taklif, kewajiban yang harus ditaati, akan tetapi lebih pada penghinaan kepada mereka karena semasa hidup di dunia tidak mau untuk taat atas perintah Allah swt.   

Orang-orang kafir akan merasa menyesal karena mereka tidak mau bersujud (taat) atas perntah Tuhan selama hidup di dunia, padahal waktu itu mereka hidup dengan sejahtera tidak terhalang sesuatu apapun. Maka penyesalan tidaklah guna. Yang tersisa adalah kehinaan dan keterpurukan karena sisa hidup mereka di akhirat akan dipenuhi penderitaan yang tidak berujung. Wallahu a’lam. []  

Sumber kitab:

  1. Mafatih al-Ghayb, Muhammad ibn Umar Fakhr al-Din al-Razi.
  2. Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari.
  3. Madarikut Tanzil Wa Haqo’iqut Ta’wil, Imam Abul Barokat Abdulloh bin Ahmad bin Mahmud An-Nasafi.
  4. Tafsir al-Munir, Wahbah al-Zuhayli.
  5. Tafsir al-Azhar, Abdul Malik Karim Amrullah.  

Ulasan Kitab Tafsir: Q.S. Al-Qalam Ayat 1 – 7: Nabi Muhammad saw tidaklah Gila Seperti yang Dituduhkan Kafir Quraisy

sumber: okezone.com

Ayat 1: Allah bersumpah dengan pena dan apa yang ditulisnya  

Para ulama berbeda pendapat tentang makna huruf “Nuun” yang ada di permulaan Q.S. Al-Qalam. Menurut Ibnu Hayyan, seperti yang dikutip oleh Wahbah az-Zuhaili, huruf ‘nuun’ adalah huruf asing yang tidak diketahui maknanya, kecuali oleh Allah swt. Tidak bisa dii’rabkan, meskipun ada yang berpendapat i’rabnya nasab karena menjadi maf’ul (obyek), atau datang sebelumnya sumpah.

Namun, masih menurut Wahbah az-Zuhaili, sebagian ulama berpendapat bahwa “nuun” bermakna tantangan atau peringatan akan pentingnya apa yang akan disampaikan dalam ayat-ayat setelahnya. Penafsiran ini juga lebih disukai oleh Al-Maroghi di mana dia mengatakan bahwa “nuun” adalah huruf tanbih (peringatan) yang diharapkan dapat menarik perhatian para pembaca untuk mempelajari lebih jauh apa yang ingin disampaikan.

Ar-Razi dalam tafsir al-Kabiir, mengutip pendapat ulama bahwa yang dimaksud dengan “nuun” adalah ikan paus yang memakan Yunus a.s. seperti yang tersurat dalam Q.S Ash Shaaffaat ayat 139-145. Namun, pendapat lain mengatakan bahwa “nuun” adalah tempat pena, di mana tinta disimpan di dalamnya. Inilah penafsiran yang disetujui oleh Hamka dalam kitabnya tafsir al-Azhar.

Namun, ada juga yang berpendapat bahwa huruf ini adalah lembaran di mana para malaikat menulis amalan di lauhul mahfudz. Yang lain berpendapat bahwa itu merupakan huruf terakhir dari kalimat “rahmaan” nya Allah swt.

Yang jelas, apapun pendapat para ulama, mereka memiliki argumen-nya masing-masing dan ini menunjukan bahwa hal ini bukanlah hal yang final karena tidak ada nash yang secara eksplisit menunjukan maknanya. Maka, kita kembalikan penafsiran yang sebenarnya kepada Ilmu Allah swt yang Maha Luas.

***

Isi dari penggalan ayat pertama Q.S. Al-Qalam ini adalah sumpah Allah dengan menggunakan pena yang digunakan untuk menulis. Pemilihan kata pena menunjukan akan keagungan benda ini dalam ajaran Islam.

Pena secara maknawi memiliki posisi penting dalam Islam.  Al-Maroghi berpendapat bahwa penggunaan diksi ini adalah untuk mendorong umat mendidik diri dan membangun peradaban supaya bisa menjadi umat terbaik (khair ummah).

Wahbah az-Zuhaili melihat bahwa pena yang dijadikan obyek sumpah oleh Allah swt menunjukan agungnya nikmat menulis sebagai salah satu nikmat terbesar dari Allah, setelah berpikir/berbicara/menejelaskan sebagai wasilah dalam membangun peradaban dan penyebaran ilmu pengetahuan di antara umat manusia dan tentunya menjadi kunci bagi kemajuan suatu bangsa.

Tentang keutamaan pena, disebutkan dalam satu riwayat hadits, bahwa makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah swt adalah pena yang memiliki fungsi menulis takdir yakni amal perbuatan, sebab-akibat, rezeki, dan ajal semenjak awal mula kehidupan sampai datangnya hari kiamat. Lalu setelah itu diciptakanlah “nuun” (tempat tinta).

Ayat 2: Rasulullah saw tidaklah gila seperti yang disangkakan

Sontak setelah Kaum Kafir Quraisy mendengar kabar kenabian dari Rasulullah saw, langsung menuduhnya sebagai orang gila. Lebih keji lagi, mereka menyebut nabi saw sebagai setan.

Tentu tuduhan tak berdasar ini membuat Rasul saw dirundung kesedihan, karena ajakan untuk bertauhid kepada-Nya, ternyata harus dibayar dengan fitnah yang keji.

Menurut Hamka turunnya ayat ini merupakan hiburan bagi Rasul saw yang sedang mendapatkan ujian yang cukup berat dalam masa-masa awal tugas kenabiannya.

Ayat ini yang menerangkan bahwasanya Nabi saw tidaklah gila seperti yang dituduhkan oleh kafir Quraisy. Bagaimana mungkin orang yang diberkati kedudukan yang tinggi di mata masyarakat saat itu karena memiliki akhlak dan pekerti yang luhur bisa disebut gila. Tentu, sifat gila tidak bisa disematkan pada orang yang memiliki karakteristik mulia seperti Rasul saw.

Al-Maroghi mengatakan kenikmatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah kenabian, keimanan, kebijaksanaan dan budi pekerti yang melekat dalam pribadi Rasul saw.

Dewasa ini, tuduhan miring tentang Nabi saw masih gencar dilancarkan oleh kaum kafir yang tidak suka dengan perkembangan dakwah Islam di dunia. Sebut saja misalnya kontroversi film besutan sutradara Yahudi penganut Kristen Koptik, Sam Bacile, “The Innocent of Muslims” yang menggambarkan Nabi saw sebagai sosok pria yang haus darah, penganut pedofilia, dan gila seks.

Cerita miring tentang Rasul saw sejatinya terbantahkan dengan narasi sirah nabawiyah yang menunjukan keagungan akhlak beliau saw.

Ayat 3: Kemenangan Umat Islam menjadi balasan setimpal atas pengorbanan Nabi saw

Ujian bertubi-tubi yang Rasul saw dapatkan ketika mengemban misi dakwah tidaklah berujung sia-sia. Allah swt membalasnya dengan kemenangan gemilang dan lestarinya risalah tauhid sampai detik ini.

Saat ini Islam menjadi salah satu agama besar di dunia, dan ajarannya meresap dalam setiap relung sanubari penganutnya. Dalam survei The 2015 Global Attitudes dari Pew Research Center, ditemukan bahwa umat Islam termasuk yang paling komitmen dalam menjalankan ajaran mereka.

Tentunya menyebarnya ajaran Islam menjadikan pahala yang tak pernah berhenti bagi Rasul saw, karena beliau saw menjadi wasilah distribusi hidayah bagi umat Islam di seluruh dunia. Menurut Hamka, perjalanan sejarah peradaban umat Islam yang cukup lama dan gemilang menjadi balasan setimpal atas pengorbanan Nabi saw dalam menjalankan misi kerasulan.

Ayat 4: Keagungan Akhlak Rasul saw

Bantahan Allah swt terhadap tudingan Kafir Quraisy diperkuat dengan penjelasan dalam ayat ini, di mana Rasul saw dianugerahi sifat mulia oleh-Nya. Sekali lagi, mana mungkin, orang yang memiliki perangai agung disematkan sifat “gila” dan “setan” terhadapnya. Otomatis, tuduhan ini menjadi terbantahkan.

Dalam beberapa redaksi hadits, diketahui bagaimana keluhuran akhlak Rasul saw; seperti tidak pernah mengatakan “huss” atau menghardik / memukul pembantu, perempuan, dan anak kecil. Beliau saw hanya memukul dalam kondisi peperangan.

Menurut  Wahbah az-Zuhaili, dalam pribadi Rasul saw terkumpul ragam pekerti agung seperti rasa malu, kedermawanan, kebijaksanaan, kelembutan, pemaaf, dan akhlak baik lainnya. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Q.S. A’raf (199), “jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”

Keluhuran akhlak menjadi inti daripada agama Islam. Bahkan, sebagian ulama menyandingkan agama dengan akhlak. Dalam sebuah hadits masyhur diriwayatkan bahwa Rasul Saw diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak. Para ulama berpendapat bahwasanya makna akhlak di sini adalah agama.

Aisyah Ra ketika ditanya oleh sahabat tentang keperibadian/akhlak Rasul Saw, beliau Ra menyatakan bahwa akhlak Rasul Saw adalah al-Qur’an. Padahal kita tahu bahwasanya al-Qur’an adalah rujukan utama dalam beragama. Maka dapat dikatakan bahwa salah inti esensial dari agama itu adalah akhlak.

Menurut Hamka, salah satu kunci keberhasilan dakwah Rasul saw adalah kesanggupan menahan hati dalam menerima celaan dan makian yang semena-mena dari orang-orang yang tidak paham. Perbuatan tercela dibalas dengan kebaikan, sehingga tidak jarang banyak orang kafir menjemput hidayahnya dengan wasilah akhlak Rasul saw yang mulia.

Ayat 5 – 7: Siapa sebenarnya yang gila?

Kaum kafir – dari dulu sampai sekarang – merasa yakin akan kebenaran langkah mereka dalam mengingkari eksistensi Allah swt. Mereka melabeli kaum beragama sebagai orang gila, fanatik, barbar, bahkan teroris. Seperti halnya yang dilakukan oleh Kaum Kafir Quraisy terhadap misi kenabian yang dijalankan oleh Rasul saw. Mereka mencap beliau saw sebagai gila, setan bahkan dukun / tukang sihir.

Dalam penggalan ayat ini, Allah swt menantang mereka untuk melihat kelak di hari kiamat siapakah yang sebenarnya mendapatkan ujian gila; Rasul saw atau justru mereka sendiri.

Di beberapa tempat dalam al-Quran (seperti yang tersurat dalam Q.S. Al-Mulk ayat 9 – 11), dijelaskan pada akhirnya, kaum kafir akan menyadari bahwa merekalah yang tersesat; dan menyesali atas apa yang mereka ingkari selama hidup di dunia.

Menurut Wahbah az-Zuhaili, yang dimaksud dengan kesesatan dalam penggalan ayat 7 adalah sesat dalam hal agama dan akidah, sedangkan makna hidayah adalah hidayah agama.

***

Hamka menilai ayat ini merupakan janji Allah swt akan kemenangan orang-orang yang tertindas. Sejarah perjuangan nabi, rasul dan para pelanjutnya, selalu diliputi keadaan lemah, miskin, tertindas, dan tidak memiliki kekuasaan.

Para penentang mereka selalu memiliki kekuasaan yang digunakan untuk berbuat kezaliman terhadap jalan dakwah mereka, namun pada akhirnya Allah swt selalu memberikan kemenangan pada orang-orang yang tertindas.

Inilah juga yang terlihat dalam kemenangan umat Islam di Perang Badar.

Menurut Hamka, ayat ini ingin memberikan petunjuk bahwa kebenaran akan menang, dan kezaliman tidak akan bertahan lama. Saya kira penafsirannya bisa dibuat dengan konteks yang berbeda-beda.

***

Penggalan terakhir dalam ayat ketujuh menyisakan cerita yang menarik. Di sini, Allah swt menantang mereka untuk melihat kelak di hari kiamat siapakah yang sebenarnya mendapatkan ujian gila; Rasul saw atau justru mereka sendiri. Namun, Allah swt menggarisbawahi bahwasa satu-satunya Dzat yang mengetahui hal ini hanyalah Dia semata dengan sifatnya yang Maha Mengetahui dan Maha Memberi Petunjuk.

Jangan sampai – dengan dalih ayat ini – kini terperangkap pada kebiasaan mencap sesat pada kelompok lain yang memiliki pemahaman keagamaan yang berbeda dalam tataran furu’iyyah. Wallahu a’lam. [*]

Cemoohan terhadap Datangnya Hari Kiamat – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk 25-27

Dan mereka berkata: “Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?”

Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.

Ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka) inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.

DALAM ayat sebelumnya Allah swt menyatakan bahwasanya manusia – di kehidupan setelah kematian – akan berkumpul di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka selama hidup di dunia. Dalam ayat ini, Dia swt menceritakan tentang pertanyaan dari Kaum Kafir Quraisy yang menantang Nabi saw untuk memberi tahu mereka kapan janji tentang hari kiamat itu akan tiba. Allah swt memerintahkan Rasul saw untuk menjawab bahwasanya beliau saw hanya bertugas untuk menyampaikan risalah ini sebagai bentuk peringatan, sedangkan Dzat Yang Maha Mengetahui tentang hal ini hanyalah Allah swt.

Nyatanya, wajah kaum kafir tetap saja berubah pecat dan bingung ketika janji Allah tersebut benar-benar datang mendekati mereka. Dengan nada mengolok-olok, para malaikat penunggu neraka bertanya kepada mereka, “Inkah apa yang engkau minta supaya segera datang menimpa kalian?”

Menurut Ar-Razi yang dimaksudkan dengan janji di sini adalah hari kiamat dan azab yang meliputinya. Sedangkan menurut Tontowi makna janji dalam ayat ini adalah kebangkitan setelah kematian, hisab – perhitungan amal umat manusia selama hidup di dunia dan balasan atas itu semua baik berupan surga maupun neraka.

Menurut Nasafi pertanyaan ini bukanlah usaha untuk menemukan kebenaran tentang hari kiamat, akan tetapi lebih cenderung pada olokan sekaligus cemoohan akan kebenaran yang Rasul saw bawa. Bagaimana tidak? Seorang Qusaisy – yang tidak memiliki status sosial yang tinggi – dari kota Mekkah membawa kabar tentang hari kiamat dan nilai-nilai lainnya yang mendobrak tatanan nilai setempat yang sudah mapan, hal ini tentunya – dalam pandangan kaum kafir – sebagai sebuah kegilaan belaka yang patut mendapatkan olokan dan cemoohan.

Tentu saja Nabi Muhammad SAW tidaklah mengetahui persis kapan kiamat akan tiba. Itu merupakan domain Allah SWT. Pengetahuan tentang suatu kejadian, tidak mesti harus tahu kapan kejadian tersebut akan datang. Dalam konsep Islam tidak pernah dikenal kabar sahih tentang waktu eksak kedatangan hari kiamat. Yang ada adalah berita tentang tanda-tanda hari kiamat sebagai bentuk peringatan kepada umat manusia untuk terus berbenah dan memperbaiki diri. Hal ini berbeda dengan beberapa sekte keagamaan yang seringkali membuat ramalan dan prediksi tentang hari kiamat, yang mana sampai detik ini belum terbukti adanya.

Yang menarik, dalam ayat ini Allah swt menggunakan diksi “yaquluna” yang merupakan fi’il mudhori’. Menurut Ar-Razi hal ini menunjukan masa depan. Namun, bisa juga menunjukan masa lalu karena ada kata “kaanuu” (wa kaanuu yaquuluuna) yang tidak ditulis eksplisit di sini.

Dua waktu yang terkandung dalam makna ayat ini menunjukan bahwa dalam sejarah umat manusia akan selalu ada orang-orang yang mengolok-olok eksistensi hari kiamat dan azab serta nikmat yang ada di dalamnya meskipun telah diberitahukan kepada mereka peringatan-peringatan dari Tuhan melalui para Nabi-Nya. Dewasa ini, di beberapa belahan dunia – terutama negara-negara Barat – mayoritas masyarakatnya tidak mempercayai hal ini, bahkan seringkali menjadi bahan guyonan bagi mereka.

Kecongkakan kaum kafir ternyata hanya sebatas lip service. Dalam ayat 27, Allah swt menggambarkan bagaimana wajah mereka tetap saja pucat tatkala Dia swt menepati janjinya di hari kiamat. Apa yang mereka dustakan dan menjadi bahan olokan, ternyata benar adanya! Walhasil, kesombongan berubah menjadi kegetiran dan penyasalan yang tak berguna. “… Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (Q.S. 39: 47-48).

Menurut Prof. Wahbah Az-Zuhaili, ayat 27 merupakan jawaban atas pertanyaan olokan kafir Quraisy (dan tentunya kaum kafir yang datang setelah mereka) yang termaktub dalam ayat 25. Kaum ‘Aad – yang hidup jauh sebelum Kaum Kafir Quraisy – juga pernah melakukan tantangan yang sama. Dengan pongahnya mereka menjawab ajakan dakwah Nabi Hud AS seraya berkata, “… “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.” (Q.S. 46: 22). (*)

 

Berangkat dan Pergi ke Muara yang Sama – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al Mulk Ayat 24

Katakanlah: “Dialah Yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nya-lah kamu kelak dikumpulkan”.

Allah swt telah menciptakan manusia ke bumi ini beserta seperangkat fasilitasnya, sehingga ras ini bisa bertahan hidup dan berkembang. Pada awalnya, umat manusia berasal dari satu gen yang sama – yaitu Nabi Adam AS – namun karena seiring dengan berkembangnya waktu dan kompleksnya kehidupan mereka terus berkembang, menyebar ke seluruh penjuru bumi, hingga iklim dan udara membuat mereka berbeda baik dari segi bahasa, warna kulit, ras, agama dan budaya. Namun, di penghujung dunia kelak, mereka akan dikumpulkan pada Dzat yang sama untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka kerjakan di dunia.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwasanya Allah swt telah menciptakan umat manusia dari satu sumber. Lalu setelah itu, mereka menyebar ke seluruh penjuru dunia dan berkembang menjadi berbagai ras, suku, agama, bahasa dan budaya yang berbeda. Namun melalui ayat ini, Allah swt mengingatkan bahwasanya suatu saat – di padang mahsyar – mereka akan dikumpulkan lagi untuk sebuah pertanggungjawaban.

Menurut Buya Hamka beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan manusia dalam beberapa ras, suku, agama, bahasa dan budaya adalah pengaruh iklim dan cuaca, sehingga manusia perlu beradaptasi dengannya. Kesadaran akan realitas ini (baca: semua manusia berasal dari sumber yang sama) menjadi landasan atas ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia) yang mendampingi ukhuwah diniyah (persaudaraan seagama). Bahwasanya kita kalau tidak bisa menjadi saudara seakidah, maka kita adalah saudara sebagai sesama manusia yang berasal dari sumber yang sama: Nabi Adam AS dan Nabi Nuh AS. Lalu, kenapa manusia masih sering bertengkar satu sama lain?

Tonthowi memaknai dzara’a sebagai al-iktsar minal maujud. Bahwasanya Allah swt menciptakan manusia, setelah itu menyebarkannya ke seluruh penjuru negeri, lalu mengembangbiakannya sehingga populasinya semakin banyak seperti yang kita lihat sekarang dan pada akhirnya mengembalikan mereka kepada pangkuan-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Menurut ar-Razi ayat ini sekaligus penekanan atas permulaan dari surat al-Mulk yang menyatakan bahwasanya Allah swt menciptakan manusia untuk menguji siapa di antara mereka yang paling baik amalannya. Bahwasanya manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka kerjakan di muka bumi.

Lalu muncul pertanyaan, “Apakah mungkin manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar?” Jawaban atas pertanyaan ini telah saya ulas dalam bagian lain dari blog ini. Sebagai tambahan, Ar-Razi menyatakan bahwasanya sangat mungkin Allah swt mengumpulkan seluruh umat manusia yang telah diciptakan-Nya di Padang Mahsyar kelak sebagaimana hal yang mungkin Dia menciptakan seluruh umat manusia kemarin, sekarang dan esok hari. Bagi-Nya itu adalah perkara yang mudah.

Semoga kita dikumpulkan di Padang Mahsyar kelak dan dihisab sebagai orang-orang yang beruntung. Aamiin. (*)

Penciptaan Manusia dan Fasilitas Saluran-saluran Ilmu Pengetahuan – Ulasan Kitab Tafsir – Q.S. Al-Mulk ayat 23

merdeka.com

Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.

Ayat ini menggambarkan berbagai macam nikmat yang Allah swt anugerahkan kepada makhluk-makhluk-Nya berupa penciptaan dari tiada menjadi ada dan fasilitas-fasilitas yang mengikutinya berupa pendengaran, penglihatan dan hati/akal. Namun sayangnya, banyak sekali di antara kita yang tidak mau bersyukur atas penciptaan ini dengan tidak menggunkan fasilitas-fasilitas tersebut sesuai dengan fungsinya.

Redaksi ayat ini terdapat dalam beberapa ayat al-Qur’an yang lain seperti dalam Q.S. An-Nahl ayat 78, Al-Mu’minun ayat 78 dan As-Sajdah ayat 9. Pola ayat-ayat tersebut hampir sama, yaitu bahwasanya manusia sedikit sekali yang bersyukur atas nikmat pendengaran, penglihatan dan hati/akal yang Allah swt anugerahkan kepada mereka.

Allah swt mengecam kekufuran ini dalam Q.S. Al-A’raf ayat 179 dan menggambarkan mereka sebagai calon penghuni neraka jahannam dan mereka bak binatang ternak (karena tidak mau memanfaatkan anugerah tersebut dengan benar) bahkan lebih sesat dari binatang.

Beberapa ahli tafsir menjelaskan bahwasanya melalui ayat ini Allah swt ingin menegaskan bahwasanya nasib manusia berada dalam gengaman-Nya karena penciptaannya pun merupakan sepenuhnya campur tangan Sang Maha Pencipta. Allah swt adalah Dzat yang satu-satunya memiliki kuasa untuk menciptakan manusia, maka tidak ada celah sedikit pun bagi manusia untuk menyombongkan diri atas apa yang dimilikinya.

Mengenai fungsi hakiki dari tiga anugerah di atas, Al-Maroghi berpendapat bahwasanya pendengaran merupakan alat untuk mendengarkan nasihat-nasihat, sedangkan penglihatan untuk melihat indahnya ciptaan Tuhan. Terakhir, hati harus digunakan untuk bertafakkur atas kehebatan ciptaan-Nya sehingga manusia bisa mengambil manfaat dari proses kontemplasi ini.

Buya Hamka melihat bahwasanya dua nikmat yang pertama (pendengaran dan penglihatan) merupakan wasilah yang menjadi penghubung antara manusia dengan dunia luar sedangkan hati/akal merupakan alat untuk mengolah informasi sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan yang membuat hidup manusia lebih berarti.

Informasi ini memberitahu kita tentang saluran-saluran ilmu pengetahuan yang dikenal dalam tradisi Islam. Yang pertama, pendengaran dan penglihatan membawa kita pada pintu gerbang empirisme di mana kita bisa mendengarkan dan melihat hal-hal yang kasat mata.

Namun, dua saluran itu saja tidak cukup. Dalam Islam dikenal juga ‘afidah’ yang bermakna akal atau hati. Saluran ini berfungsi untuk mengolah data yang didapat oleh indra pendengaran dan penglihatan. Dengan akal, manusia dapat mengonstruksi informasi tersebut menjadi informasi yang rasional, sedangkan hati membawa manusia pada kebajikan di mana etika sains sangat dijunjung dalam melakukan tindak-tutur ilmiah.

Hal ini juga mengafirmasi bahwasanya banyak ilmu yang datang dengan wasilah hati, yang mana dalam tradisi Islam seringkali disebut sebagai ilmu laduni. Ketika hati penuh dengan kebersihan, maka bisa saja Allah swt menganugerahkan ilmu kepada orang tersebut sebagai salah satu nikmat-Nya.

Perangkat, metode dan proses ini menjadi wasilah bagi setiap insan untuk bertransformasi dari keadaan bodoh (jahl) mejadi tahu (‘ilm). Itu artinya, perjalanan menuntut ilmu dalam tradisi Islam selamanya bersifat sakral dan erat kaitannya dengan ibadah/penghambaan kepada Allah swt. Maka dari sini timbulah etika dalam menuntut ilmu seperti banyak tertulis dalam berbagai literatur Islam. Wallahu a’lam. (*)