Agar Terhindar dari Kegelisahan dan Ketamakan – Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 35

DALAM Q.S. Al-Ma’arij ayat 19 – 21 diterangkan bahwa manusia memiliki kecenderungan bersikap halu; gelisah, sedih dan cepat mengeluh ketika diberikan kesulitan hidup; sebaliknya, dia akan tamak, tidak bersyukur dan bakhil tatkala dianugerahkan kelapangan. 

Keadaan ini diperkuat oleh Hadits Nabi s.a.w yang berbunyi, “Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut.”

“Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut.”

Dalam Tafsir Al-Kabir, Fakhruddin Ar-Razi menyimpulkan bahwa sifat halu’ melekat kepada manusia tatkala mereka terjangkit kebutaan visi terkait hidup di dunia. Ketika seseorang sudah menjadikan dunia sebagai tujuan utama, maka serta merta dia akan terkena penyakit ini. Dia akan lupa bahwa segala kesusahan dan kesenangan hidup semuanya kembali kepada ketentuan dari Allah, dan tugas kita adalah ridha terhadap qadha dan qadar-Nya.  

Continue reading

Jika Ibu Tidak Mengandung dan Melahirkanku …

Meskipun dalam Islam kita mengetahui bahwa rahmat Allah begitu luas dan meliputi segala sesuatu, namun hendaknya kita tetap menumbuhkan rasa takut akan azab-Nya yang begitu pedih seperti yang tergambar dalam dalil-dalil otoratif ajaran Islam. 

Perasaan ini akan membuat kita tetap waspada dan mawas diri untuk melangkah di muka bumi dan senantiasa merujuk pada panduan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan fatwa ulama dalam bersikap. 

Merasa aman akan azab Allah – dengan memiliki keyakinan berlebihan akan Rahmat-Nya – adalah tindakan yang tidak tepat, karena hal ini bisa jadi menjerumuskan kita pada pembangkangan terhadap syariat-Nya. 

Para sahabat Nabi dan ulama salaf menjadikan rasa takut (khauf) terhadap azab Allah sebagai pengingat agar membuat mereka senantiasa taat. 

Bahkan ketika taat sudah digapai perasaan ini tidak mereka hilangkan sebagai trigger agar tetap istiqomah dalam keadaan ini. 

Beberapa dari ulama salaf – saking takutnya akan azab Allah –  bahkan berucap, “Andaikan saja ibu saya tidak melahirkan saya (maka saya akan aman dari azab-Nya),” 

Yang lainnya berkata, “andaikan saya adalah sebuah pohon yang ditebang, dan buahnya dimakan – dan aku tidak pernah menjadi manusia (maka aku akan terbebas dari hisab)” 

Ungkapan ini menunjukan concern mereka bahwa setiap dari kita memiliki kemungkinan untuk merasakan pedihnya siksa neraka, maka adalah sebuah kewajiban untuk selalu mawas diri supaya tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang dapat memantik amarah Tuhan dan mengundang siksa-Nya. Wal-iyyadh billah. 

Menjaga Amanat Kehidupan – Kandungan Q.S. Al-Ma’arij ayat 32-33

ALLAH s.w.t telah menganugerahi kita kehidupan untuk kita gunakan sebaik-baiknya dengan beribadah kepada-Nya; menjalankan perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Beribadah adalah bentuk penunaian kita akan amanat yang dititipkan kepada setiap manusia di muka bumi (Lihat Q.S. Al-Ma’arij ayat 32-33). 

Maka tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh kecuali patuh akan apa yang telah ditetapkan oleh Allah melalui ajaran-ajaran agama yang dibawa oleh para nabi. Segala bentuk penyimpangan akan ketetapan-Nya adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat yang diemban, sehingga konsekuensi terburuk adalah kehidupan pedih di neraka seperti yang dijanjikan Tuhan.   

Tunduk akan ketetapan Tuhan harus menjadi visi setiap manusia beriman. Setiap gerak langkah harus diarahkan padanya. Supaya visi ini menjadi konkret maka, setiap insan wajib mengejawantahkannya dalam bentuk misi, yaitu semua apa yang mereka lakukan di muka bumi.

Apakah itu artinya sepanjang waktu kita harus menunaikan shalat? Mengingat itu adalah ibadah yang sangat penting? 

Tentu tidak. 

Allah Maha Baik. Dia menggariskan bahwa bentuk penyembahan kepada-Nya tidak terbatas pada ibadah-ibadah ritual berbentuk shalat, haji, zikir, tapi juga mencakup semua apa yang kita lakukan yang didasarkan pada ketakwaan kepada-Nya. 

Untuk itu, Hadits Nabi s.a.w. tentang niat menjadi penting dalam konteks ini. Ketika kita berangkat meninggalkan rumah – untuk berdagang, ngantor, mengajar – asal itu dilaksanakan secara halal dan diniatkan sebagai ibadah kepada-Nya, maka itu sudah termasuk menunaikan amanat kehidupan. 

Hal yang terlihat sepele dan menyenangkan – misalnya tidur, bercengkrama dengan keluarga, ngobrol dengan teman-teman – apabila didasari dengan niat yang benar, maka itupun sudah diganjar sebagai amal saleh. 

Sungguh indah bukan? 

Ajaran Islam yang sangat flexible ini tentu akan memudahkan manusia untuk hidup di muka bumi. Ini selaras dengan hadits Nabi saw yang berbunyi: 

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah pertengahan (yaitu tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat”.

Menunaikan amanat kehidupan tidak pernah sesederhana seperti apa yang ada dalam ajaran Islam. [] 

Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan

Ka’bah

DALAM salah satu ceramahnya, Gus Baha, salah satu ulama aswaja Indonesia populer saat ini, menceritakan sebuah hikayah yang berasal dari hadits Nabi s.a.w. Suatu hari, istri Nabi, Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha menawarkan makanan kepada Nabi, namun beliau berangkat ke masjid terlebih dahulu untuk menunaikan shalat. 

Saat kembali ke rumah, Rasul meminta makanan yang dijanjikan istrinya. Namun, Aisyah  mengatakan bahwa makanan tersebut telah habis, diberikan kepada peminta-minta yang datang ke rumah. Namun, Rasul s.a.w mengoreksi perkataan tersebut; bahwa makanan itu pada hakikatnya tidak habis, tapi bertambah saat diberikan kepada orang lain.

Cerita ini sengaja Gus Baha ungkapkan untuk menunjukan bahwa logika kenabian seringkali berbeda dengan kacamata logika rasional. Dengan bersedekah, apa yang berkurang, sejatinya abadi dan menjadi tabungan bagi kita di akhirat. 

Gus Baha pun menekankan pentingnya penggunaan logika kenabian dalam melihat fenomena kehidupan. Beliau tidak setuju apabila kita – sebagai mukmin – hanya mengandalkan logika rasional, yang dalam beberapa hal memang sering tidak selaras dengan ajaran Nabi.

Dalam pandangan saya, pemikiran ini mirip dengan apa yang sering dikampanyekan oleh Gus Hamid, putra salah satu pendiri Pesantren Gontor, yang menekankan urgensi memandang suatu hal dalam perspektif Islamic Worldview. Sudah mafhum bahwa kebenaran akan mengikuti cara pandang kita dalam melihat realitas. 

Saya sepakat kepada kedua ulama tersebut bahwa nilai-nilai Islam perlu dikejawantahan dalam kehidupan sehari-hari, baik yang bersifat private maupun public. Seorang mukmin, wajib menggunakan cara pandang ini dalam semua aspek kehidupan yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. 

Syukurnya, pandangan Islam yang disebutkan di atas bersifat sangat lentur, umum dan universal; tidak partikular dan kaku. Dalam hal bentuk pemerintahan, misalnya, Islam tidak menawarkan satu konsep baku, akan tetap menghadirkan nilai-nilai yang mungkin disematkan pada bentuk pemerintahan yang merupakan hasil eksplorasi manusia. Untuk itu, wajar kalau jumhur ulama di Indonesia, misalnya, melihat bahwa nilai-nilai Islam seperti ini bisa kompatibel dengan negara Indonesia yang berdasarkan ideologi Pancasila dan masyarakatnya yang majemuk.  

Mari kita bedah pernyataan ini lebih mendalam.  

Dalam hal kepemimpinan, Islam menawarkan karakter yang harus dimiliki seorang pemimpin. Merujuk pada hadits tentang ciri-ciri orang munafik, seorang pemimpin haruslah mereka yang siap berkata jujur, amanah dan tepat janji. Nilai-nilai ini sangat kompatibel dengan kondisi kepemimpinan di dunia, khususnya di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. 

Selama ini para pemimpin di negara-negara tersebut identik dengan kecurangan dan pengingkaran terhadap janji-janji kampanye. Seringkali apa yang disampaikan ketika masa kampanye tidak sesuai dengan realitas ketika sudah menduduki kursi kekuasaan. Walhasil masyarakat kecewa karena tidak mendapatkan kesejahteraan seperti yang dijanjikan oleh sistem pemerintahan demokratis. 

Sayangnya, integritas pemimpin yang sangat rendah seperti ini justru banyak ditemukan di negara-negara Muslim. Di Mesir, misalnya, pemerintahan transisi militer yang menjanjikan kehidupan bernegara yang demokratis justru mengkhianati janjinya dengan menghadirkan pemerintahan otoriter seperti sebelum masa Arab Spring. Di Lebanon, para penguasa sibuk dengan bagi-bagi kue kekuasaan, padahal rakyatnya sedang dihimpit kesulitan ekonomi. Di Indonesia pun, pemerintahan sekarang – yang menjadi harapan bagi semua orang karena latar belakang presiden yang berasal dari non-militer – justru lebih memilih cara-cara militeristik dalam membendung kritik-kritik dari pihak oposisi. Kondisi ini jauh berbeda dengan janji kampanye yang digulirkan presiden sebelum akhirnya terpilih selama dua periode kepemimpinan. 

Hadits tentang ciri-ciri orang munafik – yang selaras dengan ayat Al-Qur’an tentang karakter manusia beriman (lihat Q.S. Al-Ma’arij ayat 32) – sejatinya bukan nilai yang eksklusif untuk para pemimpin. Namun, hal ini bisa diterapkan sebagai sumber bagi norma kepemimpinan baik di dunia Islam maupun secara umum. Karenanya sifatnya yang universal, maka hal ini bisa diterapkan dalam berbagai bentuk sistem pemerintahan baik itu republik ataupun kerajaan. Hanya saja perlu ada komitmen oleh setiap Mukmin untuk senantiasa bersandar pada nilai-nilai keislaman dalam setiap langkah kehidupan mereka. Ini sebenarnya yang dimaksud dengan penerapan syariat Islam dari ranah yang paling kecil. Wallahu a’lam. []