Akhirnya Orang Kafir Bertemu dengan Janji Allah swt – Q.S. Al-Ma’arij ayat 36 – 44: Ulasan Kitab Tafsir

FRAGMEN selanjutnya dari Q.S. Al-Ma’arij (pada ayat 36 – 44) menjelaskan tentang pengingkaran kaum kafir terhadap risalah yang dibawa oleh dari Nabi saw dan bantahan Allah swt atas kontradiksi keyakinan mereka tentang hari akhir: di satu sisi mereka menolak eksistensi hari akhir, tapi di sisi lain mereka berharap untuk tetap masuk surga jika memang akhirat itu ada. 

Setelah itu digambarkan kondisi kaum kafir di hari akhir, di mana mereka bersiap untuk mendapatkan hal yang dijanjikan yaitu siksa pedih di neraka. Mereka tertunduk malu dan ketakutan mengingat azab pedih yang akan mereka dapatkan di alam akhirat. 

Continue reading

Afirmasi Negatif

Secara manusiawi, yang kita inginkan adalah afirmasi positif berupa dukungan dari berbagai pihak. (mindtools.com)

SERINGKALI kita tidak ngeh dengan cobaan cercaan, olok-olok, dan afirmasi negatif lainnya dari orang-orang di sekitar kita. Kita menganggap hal itu sesuatu yang menghambat dan memperlambat kita dalam meraih kesuksesan hidup. Orang-orang yang masuk dalam gerbong ini kita anggap tidak mendukung kita, dan cenderung ingin menjatuhkan. 

Secara manusiawi, yang kita inginkan adalah afirmasi positif berupa dukungan dari berbagai pihak. Pujian dan motivasi sangat kita tunggu. Dan itu yang membuat kita bangun ketika jatuh. Yang memberikan pencerahan di kegelapan hidup. 

Namun, mari kita kaji ulang. Tidak semua afirmasi negatif dari luar adalah bentuk ketidaksukaan orang-orang. Bisa jadi itu cara mereka dalam mencintai kita, supaya kita tetap melek dalam perjalanan panjang meraih kesuksesan hidup. 

Seringkali Ayah perlu berkata keras ketika anaknya berbuat salah. Atau sang guru menegur jika muridnya berbuat khilaf. “Semesta” seringkali memberikan kita jalan terjal dan ombak yang tinggi agar kita tetap waspada. 

Kiai saya punya cara unik dalam mendidik santri-santrinya. Seringkali beliau menggunakan kata-kata “kotor” seperti “goblok”, “bodoh”, dan kata-kata agresif lainnya untuk mengoreksi hal-hal yang tidak benar yang dilakukan santrinya. Meskipun perkataan tersebut terlihat tidak mendidik, tapi karena berangkat dari niat yang baik dan ikhlas, model pendidikan beliau berhasil melahirkan para pemimpin di negeri ini.  

Dalam pepatah Arab dikatakan, “teman kamu adalah yang membuatmu menangis, bukan membuatmu tertawa.” 

Allah swt pun demikian, tidak selamanya Dia mencintai dengan cara yang “baik”. Ada banyak sumpah dan ancaman yang Dia sampaikan dalam Al-Qur’an yang fungsinya agar kita tetap awas dan menghindari hal-hal yang Dia benci. 

Menurut saya, ancaman siksa kubur, neraka dan janji-janji Allah swt bagi orang kafir adalah bentuk kecintaan Dia pada umat manusia, agar waspada dan mengambil langkah preventif untuk tidak terjerumus pada jurang kehinaan baik di dunia maupun di akhirat. 

Kita telah diberikan akal sehat untuk meramu mana yang baik dan mana yang benar, dan melihat dengan jernih akan kemungkinan adanya kehidupan setelah kematian. Adanya afirmasi positif (surga) dan negatif (neraka) di akhirat dimaksudkan agar kita mampu berpikir tentang jalan mana yang hendak ditempuh. 

Tentu sangat manusiawi apabila telinga kita ramah dengan pujian, akan tetapi marilah kita mencoba mendengar hinaan dan cacian dan kita jadikan itu sebagai bumbu kehidupan yang dapat membuat hidup kita lebih berwarna. Wallahu a’lam. [] 

Orang Kafir di Alam Akhirat

Orang-orang kafir berlari menuju hari penghitungan amalan (Pinterest).

PADA akhirnya orang-orang yang mengingkari risalah agama menemukan janji yang Allah swt sampaikan melalui para rasul-Nya adalah sebuah kebenaran dan mereka harus siap menghadapi kemungkinan terburuk dari sikap pengingkaran ini. 

Janji itu benar adanya, dan mereka hanya bisa menyesalinya, meskipun mereka tahu bahwa penyesalan adalah hal yang sia-sia. 

Beberapa dari mereka bergumam, “andai saja saya dulu adalah sebutir debu (maka tidak usah saya bersusah payah menghadapi konsekuensi siksa neraka yang pedih dan tidak berujung).” 

andai saja saya dulu adalah sebutir debu (maka tidak usah saya bersusah payah menghadapi konsekuensi siksa neraka yang pedih dan tidak berujung).

Di antara gambaran tentang kondisi orang kafir di alam akhirat tergambar dalam pengujung Q.S. Al-Ma’arij: 

Orang-orang kafir bangkit dari kubur dan bergegas lari menuju hari penghitungan amal (yaumul hisab). Mereka berlari kencang, sebagaimana dulu – semasa hidup di dunia – lari kepada tuhan-tuhan palsu mereka, menjauhi risalah kebenaran.  

Tentu saja pandangan mereka tertunduk hina, karena tahu apa yang akan mereka hadapi dalam fase kehidupan selanjutnya di alam akhirat. Mereka diliputi ketakutan akan siksa neraka, akan tetapi tidak ada yang bisa menolongnya, bahkan orang-orang terdekat yang dulu sering melindunginya ketika masih hidup di dunia. 

Yang semakin membuat hati mereka bersedih adalah fakta bahwasanya dulu mereka pernah mendapatkan kabar tentang hal ini, tapi mereka menolak untuk mengakuinya. Mereka pernah memiliki kesempatan untuk terhindar dari azab neraka, tetapi mereka memutuskan untuk tidak mengambilnya. 

Hari yang penuh dengan kegetiran ini (yaumul qiyamah) pernah dijanjikan oleh Allah swt bagi orang-orang seperti mereka, yang menolak eksistensi Tuhan dan hari akhir, yang tidak mau menerima syariat Allah tegak di muka bumi. Sayangnya, hati mereka terlalu gelap untuk menerima kebenaran ini. 

Saat itu penyesalan tidak ada gunanya, dan padi siap untuk dituai. Kebaikan akan mendapatkan ketenangan, sedangkan keburukan akan menghasilkan siksa yang pedih. Wallahu a’lam [] 

Di Balik Ancaman Siksa Neraka

Ancaman siksa neraka adalah bentuk kecintaan Allah swt untuk mengingatkan umat manusia agar beriman dan bertakwa (jokowarino.id)

SAYA melihat ancaman yang Allah swt sampaikan di dalam Al-Qur’an berupa gambaran siksa pedih di neraka bagi mereka yang tidak mau percaya dengan risalah-risalah agama (baca: orang-orang kafir) adalah bentuk kecintaan Allah swt kepada umat manusia. 

Ini bisa dilihat dari tafsiran beberapa ayat tentang sikap yang hendaknya Rasul saw lakukan ketika menghadapi cemoohan dan resistensi dari kaum kafir. Ketika penolakan semakin kentara, alih-alih melawan, Allah swt justru memerintahkan Rasul saw untuk tidak perlu ambil pusing, tetapi fokus pada tugas dakwah yang diemban. 

Q.S. Al-Ma’arij ayat 42 menggambarkan hal ini dengan baik, 

Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka,

Beberapa ulama ahli tafsir mengatakan bahwa pembiaran ini adalah bentuk penangguhan siksa bagi kaum kafir, di mana mereka akan terlena dalam kekufuran sampai datang hari yang dijanjikan. Dalam menafsirkan ayat ini, Syekh Abu Bakr Jabir Al Jazairi melihat sikap ini adalah bentuk “ancaman” tersembunyi dari Allah swt bagi kaum kafir, sehingga mereka terlena dalam kubangan kekufuran sampai tiba saat hari pembalasan. 

Begitu juga dengan Al-Maraghi yang melihat bahwa instruksi untuk membiarkan kaum Kafir – alih-alih melawan mereka – adalah suatu cara di mana Allah swt menghinakan mereka supaya tetap berada dalam kekufuran sampai tiba hari pembalasan. Dalam beberapa ayat hal ini dinamakan istidraj. 

Dari penjelasan di atas kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa gambaran tentang siksa pedih di neraka yang banyak diulas dalam Al-Qur’an tidak lain adalah bentuk kecintaan Allah swt kepada umat manusia, supaya mereka tersadar dari awal, sehingga akan lekas berlari menuju pada kebaikan. Bak seorang ibu yang mengingatkan anak-anak nya, peringatan Allah swt dalam Al-Qur’an adalah bentuk kecintaan kepada kita agar tidak terjerumus pada siksa neraka. Wallahu a’lam. [] 

Munafik

Orang munafik selalu berkata yang tidak sesuai dengan apa yang diyakini dan dilakukan. (Pinterest)

Disclaimer: 
Tulisan ini tidak bermaksud menuduh seseorang atau kelompok secara khusus, akan tetapi lebih merupakan peringatan secara umum. 

Dalam Al-Qur’an terminologi munafik ditujukan pada sifat dan kondisi yang bermacam-macam. Salah satunya adalah mereka yang secara zahir telah menunjukkan keimanan, akan tetapi secara batin masih terbersit keraguan atas risalah nubuwwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. 

Ketika menjelaskan Q.S. Al-Ma’arij ayat 36 – 37, Fakhruddin Ar-Razi mengutip pendapat dari Abu Muslim yang mengatakan bahwa secara zahir ayat tersebut berbicara tentang karakteristik orang munafik, yang mana mereka hidup di sekitar Rasul saw, duduk dalam majelis beliau, dan mengikuti ceramahnya dengan saksama. 

Secara luaran mereka mengaku beriman, tapi secara batin, mereka menolak risalah kenabian. Bahkan mereka menjadikan hal itu sebagai olokan dan candaan di warung kopi. 

Allah swt merespons fenomena ini dengan ayat lainnya dalam Q.S. Ali-Maidah ayat 41 yang berbunyi,

Wahai Rasul (Muhammad)! Janganlah engkau disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, “Kami telah beriman,” padahal hati mereka belum beriman; …

Orang-orang munafik berkumpul dan bergaul dengan orang-orang beriman. Mereka berpakaian seperti halnya orang beriman, melaksanakan shalat, berpuasa, dan merayakan kemenangan di dua hari raya umat Islam. 

Secara kasat mata, tidak ada yang bisa membantah bahwa mereka memang termasuk golongan orang beriman. Namun, apabila kita melihat lebih jeli lagi, dalam perilaku mereka terdapat kebencian mendalam terhadap risalah agama Islam. Pada zaman Nabi saw, mereka berkumpul dalam majelis keilmuan Rasul, mendengarkan ceramah Rasul dengan rutin dan saksama. Tapi di sisi lain, mereka mencemooh dan mengejeknya

Ketika Rasul saw berbicara tentang konsep surga dan syarat-syarat yang harus ditempuh untuk mencapainya, mereka tertawa. Mereka berujar, kalaupun surga itu ada, maka mereka yang akan pertama kali memasukinya, sebelum umat Nabi Muhammad. 

Kalaulah mungkin kita membandingkan fenomena tersebut dengan apa yang kita lihat sekarang, maka akan terlihat relevansinya. Dewasa ini, banyak orang mengaku beriman; mereka shalat, berpuasa, menunaikan zakat, dan pergi ke baitullah, tapi sikap mereka menentang ajaran Islam disebarkan di muka bumi. 

Mereka mengolok-olok konsep-konsep dasar ajaran Islam. Ketika Islam mengajarkan konsep surga dan neraka, misalnya, salah satu dari mereka mengatakan, “Lebih baik saya masuk neraka, di sana saya akan bertemu dengan artis-artis Hollywood yang kemungkinan besar masuk neraka.” 

Sebagian lain berkata, “Memang surga itu ada? Memang di surga ada bidadari? Kalau memang ada, tentu lebih cantik dengan bidadari yang ada di dunia sekarang!” 

Na’udzubillah. 

Orang-orang munafik ini, enggan konsep-konsep Islam ada di ruang publik. Mereka menolak negara memastikan bahwa umat Islam mendapatkan haknya untuk memakan makanan halal. Mereka melihat ketika negara mengurus haji, perayaan ibadah, membangun sarana ibadah dan madrasah dan kebijakan-kebijakan yang merawat eksistensi agama, mereka berkata, “Sangat tidak elok bagi pemerintah menggunakan pajak untuk membiayai kegiatan-kegiatan keagamaan. Saya merasa rugi membayar pajak ketika digunakan untuk hal-hal seperti ini!” 

Tatkala negara memakmurkan ajaran dan tradisi Islam mereka bilang, “Pemerintah kok aneh. Agama lokal dibiarkan, sedangkan agama impor (Islam) dirawat dan disebarkan,” 

Ya, mereka shalat, tapi sangat membenci ketika ajaran agama Islam menyebar di muka bumi, dan menjadikan konsep-konsep dasar agama Islam (yang bagi mereka tidak masuk akal) sebagai bahan olokan. 

Saya menjadi teringat ucapan Kiai saya yang mengatakan, “Segala sesuatu yang dilakukan dengan meninggalkan agama adalah proses pemurtadan parsial yang berujung pada permurtadan total,” Wallahu a’lam. Na’udzubillah. 

Semoga Allah swt melindungi kita dari karakter orang-orang munafik ini. []