Apakah Ketakwaan Memanjangkan Umur? – Inspirasi Q.S. Nuh ayat 4

 

Para ulama berpendapat bahwa ketakwaan – dengan izin Allah – akan memanjangkan umur kita (Pinterest)

APAKAH ketakwaan dapat memanjangkan umur kita? Wallahu a’lam, hanya Allah yang mengetahui ajal seseorang. Yang pasti, tidak ada orang yang menemui ajalnya di pertengahan kehidupan; semua bertemu dengannya di ujung perjalanan. 

Namun, ada pelajaran menarik yang bisa kita ambil dari penggalan Q.S. Nuh ayat 4. Dalam ayat ini, terdapat cerita tentang Nabi Nuh a.s yang diutus ke dunia untuk memberikan peringatan kepada umatnya tentang azab yang akan menimpa mereka, jika mereka tidak beriman. 

Lalu, dijelaskan isi dari peringatan Nabi Nuh a.s kepada umatnya, yaitu: beribadah hanya kepada Allah s.w.t, bertakwa kepada-Nya, dan mentaati apa yang beliau a.s perintahkan. Sebagai imbalannya, Allah s.w.t akan mengampuni dosa-dosa mereka dan mengakhirkan ajal mereka pada waktu yang telah ditentukan. 

Poin terakhir memantik perdebatan para ulama tentang apakah memang ajal bisa diakhirkan? Artinya, apakah tiga ajaran utama Nabi Nuh a.s di atas – jika ditunaikan – diganjar dengan imbalan panjang umur? 

Padahal jelas-jelas beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi s.a.w menerangkan bahwasanya perkara ajal adalah hal yang sudah fixed, tidak bisa diganggu gugat. Misalnya, dalam Q.S. Yunus ayat 49: 

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya).

Di lain tempat, dalam hadits Rasul saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dikatakan: 

Dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mengiringi jenazah mengambil sesuatu kemudian menggariskannya ke tanah seraya berkata: “Tidaklah salah seorang diantara kalian melainkan telah ditakdirkan tempat tinggalnya di neraka dan di surga. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, tidakkah kita bersandar kepada apa yang telah ditakdirkan untuk kita dan kita tidak perlu berusaha? Rasul menjawab: Berusahalah, karena semua akan dimudahkan kepada apa yang telah digariskan untuknya. Adapun orang yang berbahagia maka dia akan dimudahkan jalannya untuk beramal seperti amalan orang yang berbahagia. Dan adapun orang yang sengsara maka dia akan dimudahkan jalannya untuk beramal seperti amalan orang yang sengsara.

Begitu juga dalam penggalan selanjutnya Q.S. Nuh ayat 4 juga terdapat pernyataan bahwa ajal Allah bila waktunya tiba – tidak ada yang mampu menahannya. Lalu kenapa Allah s.w.t menyampaikan bahwa ajal umat bertakwa akan diakhirkan sampai waktu yang telah ditetapkan? (wa yuakkhirkum ila ajalin musamma) Kita bisa menemukan jawabannya di penjelasan para ulama berikut.

Zamarkasyi seperti yang dikutip oleh Al-Maroghi mengatakan bahwa dalam konteks umat Nabi Nuh a.s ajal mereka bisa menempuh dua kemungkinan. Apabila mereka memilih untuk beriman, maka mereka bisa mencapai jatah maksimal yang Allah s.w.t berikan kepada mereka, yaitu 1.000 tahun. Akan tetapi, jika mereka tetap berada dalam kekufuran, di awal tahun ke-900, mereka akan dibinasakan. Dan itu yang terjadi ketika mereka binasa dengan wasilah banjir besar (topan) yang meluluntahkan seluruh makhluk hidup pada masa itu. Hanya mereka yang mengikuti Nabi Nuh a.s dalam kapalnya yang bisa selamat dari azab yang besar tersebut.  

Argumen bahwa ketakwaan dapat memanjangkan umur diperkuat dengan beberapa hadits Nabi s.a.w tentang hal ini seperti, 

“Silaturrahmi memanjangkan umur,”  

(H.R. Abu Ya’la).

“Tidak akan menolak qadha’ melainkan doa dan tidak akan menambahkan umur melainkan kebaikan.”  

(H.R. Tirmidzi)

“Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung tali silaturahmi.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa ketaatan kepada Allah s.w.t bisa mengantarkan kita pada umur maksimal yang Allah s.w.t telah berikan kepada kita. Jika kita memiliki jatah umur 60 tahun, maka ketakwaan akan membawa kita pada penghujung umur tersebut. 

Al-Maroghi berargumen tentang ini: 

Tidak diragukan pula, bahwa takwa dan taat juga mempunyai pengaruh yang demikian (memperpanjang umur), sebab kesucian ruh dan kebersihan raga, keamanan akan dipelihara, keutamaan diperoleh dan manfaat materi didapat.” 

Masalahnya, apakah panjang umur atau umur berkah yang harus kita harapkan? Mari kita diskusikan topik ini di pembahasan selanjutnya. Insya Allah. 

Wallahu a’lam. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s