Akhlak Agung Baginda Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Komunitas Al-Muhajirin 

Ada perbedaan mendasar antara sikap Kanjeng Nabi Muhammad s.a.w dengan nabi-nabi lainnya yang diutus oleh Allah s.w.t terhadap resistensi yang dihadapi dari kaumnya. Nabi Muhammad lebih bersikap untuk menahan diri dan tidak dengan mudah menggunakan previlege-nya untuk membinasakan mereka di muka bumi. Hal ini berbeda dengan beberapa senior beliau, yang lebih memilih untuk meminta Allah s.w.t agar melenyapkan mereka di muka bumi. 

Saat Baginda Rasul dan para sahabat meminta suaka kepada Bani Tsaqif, suku yang paling berpengaruh di Thaif pada masa itu, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak terduga. Alih-alih mendapatkan perlindungan, mereka justru harus menemui intimidasi lain berupa cacian, hujatan dan lemparan batu yang melukai mereka, termasuk Rasul. 

Pada awalnya, Rasul melihat bahwa penduduk Thaif sangat terbuka dan berada di kawasan nir-konflik. Saat itu, kondisi umat Muslim yang masih minoritas sangat mengkhawatirkan. Mereka terus mendapatkan ancaman dari suku Quraisy yang mayoritas masih kafir. Apalagi backing utama kegiatan dakwah Rasul baru saja meninggal, yakni paman Rasul tercinta, Abu Thalib bin Abdul Muthallib. Maka, Rasul berinisiatif untuk mencari suaka ke daerah yang lebih aman demi keselamatan umat Islam. 

Continue reading

Penjelasan Tafsir Jalalain: Q.S. Nuh ayat 1 – 4

Kerasulan Nuh a.s. 

  1. Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”,
  2. Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,
  3. (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku,
  4. niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”.
1. (Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, dengan memerintahkan, berilah peringatan) dengan memperingatkan (kepada kaummu sebelum datang kepada mereka) jika mereka tetap tidak mau beriman (azab yang pedih) siksaan yang menyakitkan di dunia dan akhirat.

Allah s.w.t mengutus Nabi Nuh a.s dan memerintahkannya untuk memberi peringatan kepada kaumnya tentang siksaan yang sangat pedih baik di dunia maupun di akhirat, jika mereka tidak mau beriman. 

Dalam Tafsir Showi dijelaskan bahwa Nabi Nuh a.s diutus oleh Allah s.w.t kepada seluruh penduduk bumi yang hidup pada masa itu. Beliau hidup di tengah-tengah mereka selama 950 tahun – yang diketahui sebagai waktu terlama masa hidup manusia sepanjang sejarah. Nuh mendapatkan tugas khusus untuk mengoreksi kondisi sosial masyarakat yang mulai melenceng dari ajaran nenek moyang mereka, Adam a.s. Diketahui, saat itu umat manusia, untuk pertama kalinya, terperangkan dalam jurang syirik. 

Continue reading

Inti Ajaran Nabi Nuh a.s.

Komunitas Al-Muhajirin

Apabila disebut nama Nuh a.s ingatan akan otomatis tertuju pada kisah penduduk bumi yang dihancurkan dengan azab banjir besar (taufan) sebagai ganjaran atas pembangkangan mereka kepada seruan sang nabi. Diceritakan bahwa hanya segelintir orang yang selamat, yaitu mereka yang mau mendengarkan ajakan untuk naik bahtera Nabi Nuh a.s (Noah’s Ark). Kelompok ini disebut-disebut menjadi nenek moyang semua manusia yang hidup pada masa sekarang. 

Cerita ini sangat populer di kalangan masyarakat Muslim – juga di komunitas Yahudi dan Nasrani – karena memang termaktub dalam kitab suci dan sering divisualisasikan dalam bentuk buku cerita atau komik. Saya sendiri membaca cerita ini dari buku kumpulan kisah Nabi dan Rasul yang tersedia di perpustakaan sekolah SD. Dengan visualisasi yang menarik ala buku anak-anak, buku ini berhasil membangkitkan imajinasi saya tentang kehidupan manusia di awal-awal penciptaan menurut versi kitab suci. 

Continue reading