Cita-cita Saya berkaitan dengan Kajian Al-Qur’an

 

Saya bercita-cita untuk menjadi pengkaji Al-Qur’an sepanjang hayat (Pinterest)

SAYA ingin mempelajari serta memahami Al-Qur’an menjadi salah satu prioritas pekerjaan dalam hidup. Memang, sejak beberapa tahun yang lalu, saya jatuh cinta kepada kitab suci ini, melihat betapa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat dalam dan luas, dan saya pikir kandungan yang ada di dalamnya haruslah menjadi panduan hidup bagi setiap umat beriman. 

Bukan berarti sebelumnya saya tidak cinta Al-Qur’an, akan tetapi lebih pada kadar cinta saya pada kitab ini lebih meningkat dan mendalam karena model interaksi saya dengan kitab suci ini tidak lagi bak burung beo yang melafalkan ucapan orang lain, akan tetapi tidak tahu maknanya. Dengan membaca Al-Qur’an, menghafalnya serta melakukan penelusuran pustaka dari khazanah kitab turats yang ditulis oleh para ulama otoritatif saya melihat Al-Qur’an memiliki kandungan makna yang sangat indah dan mendalam. Cocok dan perlu untuk dijadikan panduan hidup. 

Bahkan di blog yang saya dedikasikan untuk merekam aktivitas interaksi saya dengan Al-Qur’an ini, saya pernah menulis bahwasanya kitab suci ini potensial untuk menjadi kitab how to utama bagi setiap muslim tentang bagaimana kita menikmati hidup dan menyelesaikan permasalahan yang ada di dalamnya, asal kita lebih kreatif dalam mendekati Al-Qur’an. Misalnya, kita tidak melulu fokus pada aspek struktural formal dari Al-Qur’an akan tetapi lebih melihat pada sisi humanistik dan empati terutama yang berkaitan dengan kehidupan keseharian kita di dunia, yang memang tidak akan pernah lekang dari masalah. 

Untuk itu, saya berpikiran untuk menginvestasikan sebagian waktu saya – selama ini saya menggunakan waktu selepas shalat shubuh dan maghrib – untuk mengkaji Al-Qur’an secara mendalam. Saya pikir agar usaha ini lebih sistematis, terarah dan membuahkan hasil yang bisa saya petik, maka saya harus menetapkan target interaksi saya dengan kitab suci yang diturunkan pada baginda Nabi saw ini. 

Pertama, saya pikir saya harus meneruskan proyek menulis dengan tajuk “ulasan kitab tafsir”. Proyek ini berfokus pada kajian setiap ayat Al-Qur’an secara runut dengan merujuk minimal pada lima kitab tafsir. Saya mengkaji sebuah surah, dari ayat ke ayat dengan membuka literatur kitab tafsir yang ditulis oleh para ulama otoritatif. 

Hasil dari proyek ini adalah ulasan kitab tafsir yang utuh dari ayat pertama sampai terakhir, dengan memiliki karakteristik keluasan pandangan para ulama tentang ayat yang sedang diulas. Sebisa mungkin, saya tidak terlalu banyak memasukkan pandangan pribadi saya dalam tulisan genre ini. Kalaupun ada, itu lebih kepada kesimpulan pribadi obyektif saya atas pendapat para ulama yang memang acap kali memiliki pendapat yang berbeda dalam menafsirkan kandungan Al-Qur’an. 

Kenapa demikian? Saya menyadari otoritas saya dalam kajian tafsir Al-Qur’an tidak begitu kuat. Saya tidak dididik secara khusus untuk menjadi seorang mufassir al-Qur’an sehingga – dalam pandangan obyektif dan subyektif saya – tidak memiliki otoritas dalam menafsirkan Al-Qur’an. 

Di proyek ini saya fokus menghadirkan keluasan penafsiran Al-Qur’an yang disajikan oleh para ulama sehingga bisa membuka wawasan saya dan para pembaca tentang kedalaman makna Al-Qur’an. 

Ketika catatan ini ditulis, saya baru merampungkan 1 – 2 surat secara utuh. Yang lainnya masih memiliki bolong-bolong dalam beberapa penggalan surat, sehingga belum bisa saya kompilasikan menjadi sebuah tulisan utuh satu surat. Kajian juz 30 telah telah saya rampungkan, dan sekarang sedang membahas surat keempat dari juz 29. 

Kajian juz 30 lebih memuat kandungan utama setiap surat, dan belum banyak memuat kutipan dari para mufassir, sehingga kedepannya, saya perlu mengulang ulasan surat-surat dalam juz tersebut, sehingga saya bisa menuliskan artikel utuh untuk setiap surat; tidak hanya sebatas pokok-pokok kandungan surat. 

Tentu saya bercita-cita bisa merampungkan semua surat dalam Al-Qur’an sebelum waktu saya habis. Meskipun begitu, saya sadar ini merupakan cita-cita yang sangat berat, bahkan mungkin tidak terukur, mengingat untuk merampungkan satu surat saja, seringkali saya memerlukan waktu satu tahun lebih. 

Tapi siapa tahu beberapa tahun ke depan saya diberikan waktu luang oleh Allah swt, sehingga bisa lebih memiliki waktu untuk menulis dan merampungkan semua surat. 

Kedua, saya ingin menulis secara bebas tentang banyak hal yang terinspirasi dari ayat-ayat Al-Qur’an yang sedang saya kaji. Bebas di sini bukan berarti liar, akan tetapi lebih tidak terikat pada pakem baku dalam menafsirkan Al-Qur’an. Tentunya saya tidak mau menamakan tulisan ini sebagai tafsir al-Qur’an tapi lebih pada tulisan yang terinspirasi dari ayat-ayat Al-Qur’an. 

Saya tidak mau mengkategorikan tulisan tersebut sebagai tafsir maudhu’i (tematis) karena tidak akan mengikut pakem model penafsiran tersebut yang memang memerlukan keilmuan Al-Qur’an yang sangat luas, bahkan lebih sulit dari model penulisan al-Qur’an secara tahlili atau ta’jizy. 

Untuk lebih memperkaya tulisan, saya ingin menuliskan beberapa hal dari teori dan praktik ilmu-ilmu sosial dan humaniora, sehingga tulisan tersebut bisa lebih kontekstual, kaya dan mutakhir. Saya ingin menghubungkan apa yang diulas dalam Al-Qur’an dengan apa yang telah dibahas oleh para ilmuwan ilmu sosial dan humaniora. 

Mengapa diulas dengan teori-teori ilmu soshum? Pertama, sudah banyak buku, paper, jurnal yang mengulas Al-Qur’an dari sisi sains. Bahkan ada beberapa sekolah yang khusus menjadikan integrasi sains dan Al-Qur’an sebagai isu utama praktik pendidikan mereka. Kedua, keilmuan saya terhadap sains tidak begitu banyak, karena memang tidak dididik secara formal dalam bidang ilmu tersebut, dan saya pun tidak begitu memiliki ketertarikan terhadap ilmu-ilmu alam. Sejak SD, saya lebih tertarik dengan bidang kajian ilmu-ilmu sosial. 

Ketiga, saya ingin menulis artikel-artikel yang terinspirasi dari ayat-ayat Al-Qur’an dengan menggunakan bahasa Inggris. Ini bertujuan untuk memperluas segmen pembaca, tidak hanya orang Indonesia saja. Selain itu, ini juga bisa menjadikan contoh bagaimana penguasaan bahasa Inggris bisa kita gunakan untuk menyebarkan syiar agama kita ke seluruh dunia. 

Saya berdoa, Allah swt bisa memudahkan dan mewjudkan cita-cita saya ini, dan mudah-mudahan juga diganjar sebagai amal saleh di hadapan Allah swt – tidak dikotori sikap ujub atau riya – dan menjadi legasi setelah saya meninggal. Amiin. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s