Inti Ajaran Nabi Nuh a.s.

Komunitas Al-Muhajirin

Apabila disebut nama Nuh a.s ingatan akan otomatis tertuju pada kisah penduduk bumi yang dihancurkan dengan azab banjir besar (taufan) sebagai ganjaran atas pembangkangan mereka kepada seruan sang nabi. Diceritakan bahwa hanya segelintir orang yang selamat, yaitu mereka yang mau mendengarkan ajakan untuk naik bahtera Nabi Nuh a.s (Noah’s Ark). Kelompok ini disebut-disebut menjadi nenek moyang semua manusia yang hidup pada masa sekarang. 

Cerita ini sangat populer di kalangan masyarakat Muslim – juga di komunitas Yahudi dan Nasrani – karena memang termaktub dalam kitab suci dan sering divisualisasikan dalam bentuk buku cerita atau komik. Saya sendiri membaca cerita ini dari buku kumpulan kisah Nabi dan Rasul yang tersedia di perpustakaan sekolah SD. Dengan visualisasi yang menarik ala buku anak-anak, buku ini berhasil membangkitkan imajinasi saya tentang kehidupan manusia di awal-awal penciptaan menurut versi kitab suci. 

Dalam keterangan Al-Qur’an, Nabi Nuh a.s adalah salah satu manusia terpilih yang diberikan amanat untuk menyampaikan risalah tauhid kepada penduduk bumi. Nama beliau banyak disebutkan di dalam surat-surat Al-Qur’an seperti dalam surat Al-Ankabut, al-A’raf, surat Yunus, surat Huud, juga surat al-Anbiya dan tentunya Q.S. Nuh.  Dalam Q.S. Annisa ayat 163, Allah s.w.t bersabda,  

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (Q.S. Annisa:163). 

Uniknya, cerita inti tentang Nabi Nuh a.s tidak disebutkan dalam Q.S. Nuh itu sendiri, akan tetapi terselip di surat-surat lain seperti kisah bahtera Nabi Nuh a.s. Dalam Q.S. Huud ayat 42, 

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir".

Kisah tentang banjir besar tertulis di Q.S. Al-Ankabut ayat 14 – 15, 

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.
Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia.  

Menurut Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, setiap penggalan cerita tentang Nabi Nuh a.s yang tersebar dalam beberapa surat datang dengan maksud tertentu. Q.S. Nuh berfokus pada tujuan kenabian Nuh a.s dan inti dari ajarannya, sedangkan dalam surat-surat yang lain dimuat secara detail tentang kisah beliau a.s dan konsistensi pembangkangan kaumnya. 

Dalam catatan ulama tafsir, umat Nabi Nuh a.s pada awalnya menyembah Allah s.w.t. Namun, dalam fase sejarah selanjutnya, mereka beralih pada paganisme. Tuhan-tuhan mereka bernama Wadd, Suwa, Yagus, Ya’uq, dan Nasr, yang dahulunya adalah orang-orang saleh di komunitas mereka. Saat mereka meninggal, masyarakat membuat patung-patung sebagai bentuk penghormatan pada mereka, yang pada fase selanjutnya bertransformasi menjadi sesembahan. 

Dari kondisi sosial seperti ini Nabi Nuh a.s hadir dengan memikul amanat kerasulan yang mana ajaran utamanya dapat dirangkum menjadi tiga poin seperti yang dijelaskan dalam Q.S. Nuh ayat 1 – 4. 

Beribadah kepada Allah s.w.t 

Seperti yang disampaikan di atas, umat Nabi Nuh a.s menyembah berhala yang merupakan representasi orang-orang saleh yang telah meninggal. Pada awalnya, patung tersebut dibuat untuk mengenang mereka dan untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Akan tetapi, seiring dengan pergantian zaman, mereka tidak menyembah Allah sama sekali dan beralih menyembah patung-patung. Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa nama berhala mereka adalah: Wadd, Suwa, Yagus, Ya’uq, dan Nasr. Allah s.w.t berfirman dalam Q.S. Nuh ayat 23,

Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr".

Titah pertama yang dibebankan kepada Nabi Nuh a.s adalah memurnikan akidah umat dengan kembali menyembah Allah s.w.t dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain, termasuk berhala-berhala tersebut.  

Perintah beribadah dimulai dengan kewajiban untuk menyembah Allah s.w.t dan tidak menyekutukan-Nya. Tidak berhenti di sini, mereka juga diwajibkan untuk menjalankan semua yang diperintahkan oleh Tuhan dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya entah itu berupa ritual ibadah maupun etika dalam bermuamalah. 

Menurut Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi ibadah bukan hanya tentang konsep ketuhanan akan tetapi juga mencakup hal-hal yang berkaitan dengan syariat seperti tata cara menyembah Tuhan dan ajaran tentang apa yang diwajibkan dan yang dilarang.  

Bertakwa Kepada Allah s.w.t

Perintah beribadah diiringi dengan kewajiban untuk bertakwa kepada Allah s.w.t. Menurut Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi yang dimaksud dengan bertakwa kepada Allah adalah takut kepada Dzat-Nya dan siksaan-Nya. Rasa takut ini akan menggerakkan diri untuk menjalankan semua perintah-Nya dan sebisa mungkin menjauhi apa yang dilarang. Dalam hal ini, ketakwaan adalah bentuk preventif supaya Allah s.w.t tidak sampai menimpakan siksa-Nya karena perilaku yang sering menyimpang dari ajaran-Nya. 

Meskipun dasar dari ketakwaan adalah ketakutan, tapi pada dasarnya ia mengandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, dan sabar. Takwa adalah pelaksanaan dari iman dan amal saleh. Bahkan, dalam kata takwa terkandung juga arti berani. Itu yang disampaikan oleh Hamka ketika membedah makna takwa dalam Tafsir Al-Azhar. 

Taat Kepada Nabi Nuh a.s. 

Nabi Nuh a.s adalah rasul yang diutus oleh Allah s.w.t ke muka bumi untuk memberi peringatan kepada umat manusia yang telah menyimpang dari fitrah menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Semua perintah dari Tuhan sampai ke hadapan manusia dengan perintah rasul-rasul-Nya, untuk itu ketakwaan kepada Allah mencakup juga ketaatan kepada rasul-rasul-Nya dan apa yang disampaikan oleh mereka. 

Tiga inti ajaran Nabi Nuh a.s tersebut disampaikan dengan jelas kepada kaumnya sepanjang perjalanan dakwah beliau selama kurang lebih 900 tahun. Sayangnya, ajakan untuk kembali kepada Allah s.w.t tidak disambut dengan baik oleh kaum Nabi Nuh sehingga hal ini memantik permintaan beliau untuk membinasakan mereka di muka bumi. Doa Nabi Nuh a.s terdokumentasikan dalam Q.S. Nuh ayat 26 dan 27,  

'Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan keturunan selain anak-anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir'. []

2 thoughts on “Inti Ajaran Nabi Nuh a.s.

  1. Pingback: Apakah Ketakwaan Memanjangkan Umur? – Inspirasi Q.S. Nuh ayat 4 | Komunitas Al-Muhajirin

  2. Pingback: Penjelasan Tafsir Jalalain: Q.S. Nuh ayat 1 – 4 | Komunitas Al-Muhajirin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s