Mengingat Mati

 

Mengingat kematian adalah sarana agar kita tetap waras dalam menghadapi gemerlap kehidupan dunia (Pinterest).

GEMERLAP dunia seringkali membuat umat manusia lupa bahwasanya ada kehidupan yang lebih penting, lama dan signifikan dari apa yang mereka temui sekarang, yaitu alam akhirat. 

Manusia yang terlena dengan kehidupan dunia, akan terbuai, hilang kesadaran, seakan-akan dibius oleh morfin dan tidak mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang semu. 

Lupakan mereka yang tidak percaya dengan kehidupan akhirat, karena sepayah kita menasihati dia, itu semua tidak akan berguna. Hanya hidayah Allah yang bisa menyelamatkan dia. 

Mari kita hanya tengok kehidupan saudara-saudara seiman. Mereka percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Namun meski komitmen ini telah diucapkan, tipu daya dunia seringkali berhasil membuat mereka hilang kesadaran. 

Sebagian umat beriman (bisa jadi itu termasuk kita di dalamnya), konsisten meninggalkan kewajiban yang telah Allah swt tetapkan sebagai konsekuensi komitmen keimanan kita. Berapa juta umat Islam yang meninggalkan shalat lima waktu dalam sehari; berapa banyak orang-orang kaya yang enggan mengeluarkan kewajiban zakat; berapa anak yang tidak mau menghormati kedua orang tuanya; dan sebagainya dan yang lainnya. 

Sebagian dari kita – sekeras apapun peringatan yang kita baca dari Al-Qur’an dan al-Hadits – tetap saja mengerjakan perbuatan-perbuatan tercela; korupsi, curang, zina, zalim dan perbuatan-perbuatan keji lainnya. 

Segelintir umat muslim tidak mampu untuk menahan godaan menumpuk-numpuk harta, berkerja siang dan malam, mengeluarkan semua sumber daya yang dimiliki untuk mendapatkan kenikmatan duniawi, akan tetapi melupakan kerja-kerja ukhrowi. 

Kondisi seperti ini yang menjangkit sebagian umat beriman (mungkin bisa jadi kita masuk di dalamnya) seakan-akan menunjukan kita ragu akan hadirnya ajal; seakan-akan kita akan hidup di dunia ini selamanya. 

Dalam Q.S. Nuh ayat 2 – 4, Allah swt mengingatkan, 

Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (2)
(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, (3)
niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui". (4) 

Mengomentari ayat ini – terutama penghujung ayat keempat – Al-Maroghi menyatakan bahwa ini adalah celaan dari Allah swt, mengapa manusia begitu cinta dunia dan binasa karenanya serta berpaling dari perintah-perintah agama dan larangan-larangan-Nya sehingga mereka itu seakan-akan dalam hal ini telah meragukan kematian. 

Memang, komitmen keimanan telah diucapkan, tapi ini tidak mampu membuat kita tetap sadar dan waras bahwa kehidupan dunia hanya permainan semata: tidak ada yang terlalu serius di dalamnya. 

“Dan kehidupan dunia tak lain adalah permainan dan senda gurau.” Allah swt mengingatkan dalam penggalan QS. Al-An’am: 32. 

“Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” Allah swt melanjutkan dalam lanjutan ayat tersebut. [] 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s