Keragaman Strategi Dakwah

Bahtera Nabi Nuh a.s. (Pinterest)

Inspirasi Al-Quran Surat Nuh ayat 5 – 9.

PERJUANGAN menyiarkan ajaran agama Islam memerlukan berbagai macam cara yang disesuaikan dengan konteks, karakteristik objek dakwah, dan timing yang tepat. Para rasul telah memberikan contoh tentang ini. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Nabi Nuh alaihissalam. 

Meskipun mendapatkan resistensi akut dari objek dakwahnya, Nuh tetap tidak berputus asa untuk menunaikan amanah indzar yang beliau dapat dari Allah s.w.t. Sebagaimana sudah diketahui tingkat penolakan kaum Nabi Nuh terhadap ajakan untuk kembali ke ajaran tauhid mencapai level paling tinggi, yaitu mereka tidak hanya menolak sama sekali untuk mendengarkan (ja’alū aṣābi’ahum fī āżānihim wastagsyau ṡiyābahum) tapi juga menyombongkan terhadap kebenaran (wa aṣarrụ wastakbarustikbārā). 

Tapi Nuh tidak mau berputus asa. Perjuangan dakwah harus dilanjutkan apapun resiko yang dihadapi. Paska penolakan dari kaumnya, Nuh menempuh cara lain agar roda perjalanan dakwah tetap berputar. Salah cara yang beliau lakukan adalah modifikasi strategi dakwah, yaitu dengan menggencarkan dakwah terang-terangan. Ketika ini tidak berhasil beliau menempuh jalan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Pun, ketika ini tidak membuah hasil beliau mencampur antara kedua strategi tersebut sesuai dengan konteks yang diperlukan.  

Cara ini juga yang dilakukan oleh para ulama di nusantara. Ketika dakwah tegas tidak begitu berhasil, mereka menggunakan pendekatan budaya yang implisit tapi lebih efektif. Memang hal ini masih menyisakan beberapa pekerjaan rumah yang belum selesai (seperti sinkretisme Islam dan Jawa dalam ajaran kejawen), tapi secara umum hal ini berhasil dalam proses islamisasi nusantara. 

Pun dengan strategi dakwah para ulama nusantara kontemporer. Mereka berbagi peran dalam menyiarkan ajaran Islam di bumi Indonesia. Ada yang melanjutkan langkah wali songo yang sangat sensitif dengan tradisi lokal, ada juga yang memilih jalur tegas dengan mengkritik praktik-praktik syirik yang masih ditemukan dalam tradisi tersebut. Hal ini sebenarnya sangat sehat apabila dilakukan dengan cara baik dan tidak terjerumus pada sikap takfiri. 

Sayangnya, beberapa orang tidak bisa melihat hal ini dengan jernih. Alih-alih melihat ini sebagai keragaman dalam strategi dakwah (yang memang dicontohkan oleh para rasul terdahulu), mereka lebih senang melihatnya dengan kacamata negatif. Walhasil, bibit-bibit permusuhan muncul ke permukaan dan membuang banyak energi yang seharusnya diarahkan pada langkah-langkah konstruktif dalam membawa bangsa ini menuju baldatun ṭayyibatuw wa rabbun gafụr. Wallahu a’lam. [] 

Penjelasan Tafsir Jalalain Q.S. Nuh ayat 1 – 4

2 thoughts on “Keragaman Strategi Dakwah

  1. Pingback: Mengingat Mati | Komunitas Al-Muhajirin

  2. Pingback: Tadabbur Penciptaan Alam Semesta | Komunitas Al-Muhajirin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s