Tentang Kesendirian di Alam Akhirat: Hanya Amal Saleh yang Mampu Menyelamatkan Kita

Ilustrasi kesendirian/Pinterest.

@syahruzzaky

Ketika hidup di dunia, banyak orang-orang terlibat membantu kita. Saat kecil, kita sangat tergantung dengan uluran tangan orang tua – entah itu orang tua biologis, maupun orang dewasa yang berperan sebagai pengasuh di rumah-rumah sosial. Kita tidak bisa hidup tanpa bantuan mereka. 

Guru-guru di sekolah membantu kita untuk mempersiapkan diri menuju fase kemandirian. Mereka melatih kita untuk membaca dan menulis – skill yang sangat fundamental untuk bertahan hidup. Selain itu, di sekolah kita belajar berinteraksi dengan orang lain – hal yang harus kita lakukan di sisa hidup kita, apabila ingin bertahan hidup. 

Sayangnya, sekolah tidak benar-benar membuat kita mandiri. Semandiri-mandirinya orang – bahkan orang yang mempraktekan hikikomori di Jepang – tetap membutuhkan orang lain untuk bisa melanjutkan hidup. Di dunia kerja, misalnya, kita bergantung dengan rekan kita dari divisi penjualan, agar produk yang kita kembangkan bisa terjual dengan baik di masyarakat. Bahkan, eksistensi masyarakat secara keseluruhan sebagai konsumen produk kita sangat membantu kita untuk bisa terus hidup. 

Kalau ada orang yang berseloroh dia dapat hidup mandiri, karena memiliki banyak uang yang dihasilkan hasil jerih payah kerjanya, maka itu adalah omong kosong. Orang terkaya di Indonesia, Bambang Hartono, pemilik Bank BCA dan perusahaan rokok Djarum, sangat bergantung pada karyawan-karyawannya – yang bekerja tak kenal lelah untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang dari hari ke hari membuat dia semakin kaya. Lucunya, kehidupan Hartono juga ditentukan oleh seorang penarik becak, yang sedang mengisap rokok Djarum Coklat di pojok jalan, di saat menunggu datangnya penumpang. Padahal sang penarik becak harus berjuang keras untuk bisa makan dalam sehari. Sungguh ironis. 

Maka sungguh tepat ketika Aristoteles menyimpulkan bahwa manusia itu adalah zoon politicon, makhluk yang membutuhkan sosialisasi untuk bisa bertahan hidup. Faktanya, tidak ada manusia yang benar-benar bisa hidup sendirian. Kalaupun ada, dia tetap harus meminta bantuan alam sekitarnya. 

Hal ini sangat kontras dengan kehidupan yang akan kita hadapi di akhirat. Di sana, tak ada satu orang pun yang bisa membantu kita, kecuali diri kita sendiri (melalui amal saleh yang kita kumpulkan selama hidup di dunia). 

Bahkan, orang-orang yang kita anggap dekat pun (mis., orang tua, anak, istri, sahabat karib) tidak bisa membantu kita. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Semua orang berubah menjadi egois, karena memikirkan apakah mereka akan hidup dengan penuh kebahagiaan atau kesengsaraan di fase kedua kehidupan berikutnya (alam akhirat). 

***

Menyadari bahwa dirinya tidak akan selamat dari azab neraka, orang kafir membuat penawaran dengan Allah swt. Mereka ingin membuat penebusan dosa dengan memberikan jaminan, yaitu  anak-anak mereka, isteri dan saudara mereka, kaum famili yang terbiasa melindungi mereka, bahkan seluruh umat manusia yang pernah ada. Sebagai imbalan, mereka berharap bisa selamat dari azab neraka yang pedih. Hal ini seperti yang terdokumentasikan dalam Q.S. Al-Ma’arij ayat 11 – 15: 

“… Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” 

Q.S. Al-Ma’arij ayat 11 – 14

Tentu saja jaminan itu tidak dapat diterima. Allah swt terang-terangan menyatakan tidak. Dia swt berfirman,

Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak,

Q.S. Al-Ma’arij ayat 15


“pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”

Q.S. Abbasa ayat 34 – 37 

Bahkan seperti yang disinggung dalam artikel tentang Ulasan Kitab Tafsir Q.S. Al-Ma’arij bagian pertama, Fakhruddin Ar-Razi menyatakan bahwa kebijaksanaan mewajibkan Allah s.w.t untuk tidak mencegah datangnya azab bagi orang-orang kafir.  

Begitulah, di alam akhirat, hanya amalan kita – yang diliputi rahmannya Allah – yang bisa menyelamatkan kita dari azab neraka. Tidak ada koneksi dalam, atau hal lainnya yang bisa kita sogok seperti di dunia. Wallahu a’lam. []

Condong, 18 Juni 2020

06:28

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s